Posted in #NovemberNgeblog, Blog, Uncategorized

#Day 22 : Apa yang Kamu Rindukan?

Nothing is ever really lost to us as long as we remember it.
– L.M. MontgomeryThe Story Girl –

Tadi sore saya jalan-jalan lagi sama teman-teman SMA saya. Akhir-akhir ini kami memang semakin sering jalan-jalan, penyebabnya, karena salah satu teman saya sebentar lagi akan ikut suaminya ke Jakarta dan tinggal di sana. Dan, sebelum dia benar-benar pergi, paling tidak kami ingin mengukir beberapa memori yang sedikit banyak bisa selalu mengingatkan ia pada teman-temanya di Malang. Hal yang menyenangkan dari berkumpul dengan teman-teman lama adalah ketika kita berusaha mengingat cerita-cerita lucu dan manis saat kita masih sekolah dulu, menertawakannya, dan saling mengingatkan tentang hal-hal yang mungkin kita lewatkan dan tidak kita ingat lagi. Nostalgia bahasa Indonesianya, hehe. Setiap kami bernostalgia, kami jadi ingat hal-hal apa saja yang membuat kami kembali rindu pada masa-masa ketika kami sekolah dulu, dari yang paling konyol, sampai yang benar-benar membuat kami menangis haru dan menyadari, ternyata hal-hal tersebut telah lama berlalu.

Sumber
Sumber

Kalau lagi sendirian di kamar, dan membuka foto-foto lama saya juga sering berfikir, betapa cepatnya waktu berlalu. Bertahun-tahun lalu, kamar saya selalu dipenuhi tumpukan buku dan kertas yang baru saya bereskan ketika saya akan berangkat sekolah. Sekarang, jangankan buku, kertas penuh tulisan pun jarang saya lihat, ada juga kertas bon dan kuitansi, hehe. Meskipun sepele, hal tersebut kadang saya rindukan, buku-buku dan kertas yang berserakan itu seperti sebuah kenangan tersendiri bagi saya, sebuah bagian dalam memori saya yang membuat saya ingat masa-masa sekolah dan kuliah saya dulu, masa di mana saya belajar mati-matian, dan hasilnya, nilai saya tetap pas-pas an… *curhat*

Di dunia ini, ada banyak hal yang saya rindukan. Meskipun menurut beberapa orang hal-hal tersebut mungkin adalah hal yang sepele, tapi bukankah setiap orang punya hal yang dirindukan, yang mungkin hal tersebut tidak bisa kita dapatkan atau temui lagi.

Sumber
Sumber

Dari kecil saya sering menaiki angkot ketika berangkat dan pulang sekolah. Hal ini merupakan didikan Ibu saya agar saya menjadi pribadi yang mandiri. Alasan lainnya, karena saat itu Ayah saya sedang kuliah lagi di kota lain, dan Ibu saya terlalu sibuk dengan urusan rumah tangga dan mengurusi adik saya yang masih bayi, apalagi kondisi keuangan kami waktu itu nggak terlalu bagus untuk menyewa mobil antar jemput sekolah. Jaman dulu, masih jarang penculikan, lagipula mana ada yang mau menculi anak hitam, ceking, dan banyak makan seperti saya. Karena itulah Ibu saya tega membiarkan anaknya berangkat dan pulang sendiri. Alhasil, sejak kelas 1 SD, saya sudah terbiasa naik angkot ketika berangkat dan pulang sekolah. Hal yang paling saya rindukan saat menaiki angkot adalah ketika saya duduk di pojok belakang angkot di dekat jendela dan tertiup angin. Angin sejuk yang berhembus dari jendela ketika angkot berjalan itu seolah-olah membuat rasa lelah saya akibat jalan kaki di tengah terik matahari menuju jalan raya untuk mencegat angkot hilang. Saat itu sekolah saya cukup jauh dari jalan besar. Karena angin yang sejuk itu juga, saya sering ketiduran dan baru bangun di terminal terakhir, untung jarak rumah saya dan terminal cukup dekat. Jadi ada beberapa Bapak angkot yang  bersedia mengantarkan saya ke rumah. Mungkin karena saya sering ketiduran setiap naik angkot, salah satu sopir angkot yang hafal sama muka saya, selalu membangunkan saya ketika angkot  sampai di depan gang rumah. Untung sopir-sopir angkot tersebut baik, kalau nggak, mungkin saat ini saya sudah jadi kernet Bus antar pulau :D. Sekarang, saya nggak bisa naik angkot lagi. Bukannya sombong, tapi saya cepat mabuk kalau naik kendaraan, jenis apapun itu, jangankan naik kendaraan, naik lift saja saya pusing. Kayaknya saya nggak bakat jadi orang kaya, karena kendaraan yang membuat saya nggak mabuk hanya kereta, sepeda, sepeda motor, gerobak, becak, dan bendi, hehe.

Saya juga rindu makan sepiring nasi hangat, lodeh terong, ikan pindang goreng, sambal terasi uleg, dan tempe goreng buatan Ibu saya yang sering saya makan ketika sekolah dulu. Paduan menu tersebut sudah lama tidak saya nikmati semenjak saya lulus kuliah, dan Ibu saya sibuk di Kantin di kantornya, Jujur, kalau disuruh masak menu-menu tersebut sendiri saya nggak bisa, jadi saya selalu ngiler setiap membayangkan menu tersebut. Bahkan ketika menulis ini, lidah saya seperti merasakan gurihnya kuah santan lodeh dan pedasnya sambal terasi yang berpadu dengan nasi hangat. Menu tersebut selalu mengingatkan saya pada laparnya perut saya sepulang sekolah. Dulu, saya bersekolah di sebuah Madrasah Aliyah di dekat rumah saya, karena jaraknya hanya 300 meter dari rumah, saya selalu berjalan kaki setiap berangkat dan pulang sekolah. Mungkin karena dasarnya saya suka makan, jarak 300 meter saja sudah cukup membuat perut saya lapar. Dan saya selalu kalap setiap melihat menu kece tersebut tersaji di atas meja makan, rasanya Allah seperti sedang memberi saya hidangan dari surga sebagai hadiah karena saya menghindari makan Mie Ayam di sekolah (Fyi, saya penggemar berat Mie Ayam) bersama teman-teman, dan lebih memilih makan bersama keluarga saya di rumah. Meskipun sebenarnya, alasan saya makan di rumah adalah karena uang saku saya seminggu habis gara-gara membeli pulsa. Maklum, waktu itu HP barang baru, jadi saya cukup boros menggunakan pulsanya. 😀

Hal lain yang saya rindukan adalah ketika berangkat ke masjid bersama teman-teman sekamar waktu saya kuliah dulu. Dulu, saya berkuliah di sebuah Universitas Islam Negeri di Malang, yang kebetulan mewajibkan mahasiswanya untuk tinggal di ma’had (asrama) selama setahun untuk memperdalam ilmu agama. Setiap sebelum subuh, kami sudah dibangunkan Mbak-Mbak pengurus, dan antri berwudhu di tengah dinginnya kota Malang. Yang paling membuat kangen adalah ketika terhipnotis dengan hamparan bintang di pagi buta yang saya lihat begitu saya keluar dari pintu asrama saat akan berangkat ke masjid bersama teman-teman saya. Seperti taburan berlian, bintang-bintang di langit tersebut seperti memayungi kami, anak-anak manusia yang memenuhi panggilan Tuhan sementara yang lain masih lelap dalam tidurnya. Sepanjang jalan dari ma’had ke masjid, kepala saya nggak berhenti mendongak ke atas. Teman saya yang hafal dengan kelakuan udik saya itu, selalu menuntun saya, agar saya tidak kesandung kerikil atau batu. Tidak hanya waktu subuh, saat Maghrib juga selalu saya rindukan. Saat di mana kami bergegas menuju masjid sambil menghitung sudah berapa kali kidung Asmaul Husna dilantunkan muadzin sebagai panduan kapan iqomah dikumandangkan. Kalau iqomah berkumandang dan kami masih di jalan, kami spontan mengangkat bawahan mukena kami, dan setengah berlari menuju masjid di tengah hiruk pikuk mahasiswa yang baru pulang kuliah. Saya juga rindu melewati Bulan ramadhan di ma’had. Rindu pada mie instan setengah matang yang dimasak dengan air termos untuk santapan sahur karena kami malas ke luar. Juga pada seporsi lalapan ayam bakar atau ayam krispi, yang hampir setiap buka kami makan karena tidak ada pilihan yang lebih baik dan lebih murah lagi. Dan pada kantuk yang rajin menyerang kami saat kami mengkuti ta’lim (kajian) setiap sehabis shalat subuh di masjid.

Dulu, saya selalu bilang, masa-masa SMA saya adalah masa yang paling menyenangkan dan tidak terlupakan dari masa yang pernah saya miliki seumur hidup saya. Tapi, kalau dipikir-pikir sekarang, setiap masa dalam hidup saya ternyata punya bagian-bagian yang tidak bisa saya lupakan karena terlalu indah atau pahitnya. Dan, bagian-bagian itulah yang selalu mengingatkan saya pada masa lalu dan sejarah kehidupan saya.

Jadi, hal apakah yang paling kamu rindukan saat ini? 🙂

Buat, kamu yang sedang merindukan masa kecil kamu, sepertinya kutipan di bawah pas banget. Enjoy…

Sumber
Sumber

 

 

Tulisan ini disponsori event:

novemberngeblog

 

 

Posted in #NovemberNgeblog, Blog, Uncategorized

#Day 20 : Dirgahayu, Saya.

Hari ini saya resmi memasuki angka 25 Tahun dalam hidup saya. Itu artinya sudah 9131 hari saya ada di dunia ini, dan saya nggak sendiri, menurut Mbah Google, ada sekitar 398.000 bayi yang lahir pada 20 November 1988. Saya harap, nggak semua dari 398.000 bayi tersebut yang sifatnya sama kayak saya, bisa hancur dunia, hahaha.

Mungkin karena sifat narsis dan sok seleb saya yang overdosis, seharian ini bawaan saya curiga saja sama teman-teman saya, semua tingkah mereka terlihat aneh, saya juga sudah siap tempur seandainya saya dikerjai hari ini. Alhamdulillah, ternyata tidak terjadi apa-apa sampai detik ini. Saya aja yang kepede-an dan negative thinking sama orang-orang, hehe.

Dari dulu saya selalu membayangkan, ketika umur 25 nanti bagaimana hidup saya, dan sudah jadi apa saya? Kalau cara berfikir saya masih sama seperti cara berfikirnya Vani Laila Fitriani beberapa tahun lalu, mungkin saya menganggap saya yang saat ini gagal. Cuma jadi guru TK, masih jadi jomblowati sejati, tabungan kembang kempis, kemana-mana masih naik motor, dan masih setia ngeblog saja belum jadi penulis best seller. Untung saya sudah tobat dan kembali ke jalan yang benar, hehe. Yang jelas, hari ini saya bersyukur, masih dikasih nafas, dikasih keluarga yang baik, teman-teman yang setia dalam suka dan duka, pekerjaan yang insya Allah berkah, dan segaris keriput yang menandakan bukan saatnya lagi saya jadi perempuan dewasa yang sok jadi ABG dan masih sering melankolis serta galau dalam menghadapi permasalahan yang saya alami.  25 tahun untuk saya adalah awal bagi seseorang untuk memulai babak baru kehidupan yang lebih baik lagi, karena waktu seperempat abad bukan waktu yang sedikit untuk berguru dan belajar pada kehidupan. Kayak yang banyak orang bilang, menjadi tua itu pasti tapi menjadi dewasa itu pilihan. Harapan saya sih, saya nggak hanya tua, tapi juga menjadi pribadi yang jauh jauh lebih dewasa dari sebelumnya. Insya Allah… 🙂

Sumber
Sumber

Oh iya, waktu lihat Google Doodle hari ini, ternyata ada tokoh terkenal yang tanggal lahirnya sama dengan saya, namanya Selma Ottilia Lovisa Lagerlöf. Beliau adalah penulis buku anak-anak asal Swedia yang pernah mendapatkan Nobel Sastra pada tahun 1909, dan beliau juga merupakan penulis perempuan yang pertama kali mendapatkan Nobel dalam bidang sastra (sumber). Kerennya, Selma Lagerlöf ini mantan guru yang pensiun dini demi fokus dengan kegiatan menulisnya. Kira-kira saya bisa nggak ya jadi kayak beliau? hehe. Karena itulah, Google Doodle hari ini memajang ilustrasi gambar anak-anak untuk memperingati hari lahir beliau. Dan, karena kebetulan saya punya akun Google+ hari ini saya juga punya Google Doodle pribadi yang khusus disiapkan Google untuk saya, hahaha. Padahal semua pengguna Google+ pasti dapat ini kalau mereka ulang tahun. Tapi, khusus hari ini, biarkan saya sombong dan berbangga diri, cuma ini sih yang bisa dibanggain dalam hidup saya *curhat* 😀

Terima kasih mbah Google, tahu aja hari ulang tahun cucunya :P
Terima kasih mbah Google, tahu aja hari ulang tahun cucunya 😛

Tiba-tiba saya jadi penasaran, Kira-kira pada waktu saya lahir 25 tahun yang lalu, hal apa saja ya yang saat itu terjadi di dunia? Setahu saya, kalau nggak salah tahun 1988 adalah tahun diselenggarakannya Olimpiade musim panas di Korea Selatan. Waktu itu Korean Wave  belum sedahsyat sekarang, kalau dulu Korean Wave sudah booming, bisa dipastikan, TVRI jadi televisi terpopuler abad ini, soalnya waktu itu saluran televisi hanya TVRI saja, hehe. Setelah baca-baca artikel di Google, saya jadi tahu, ternyata pada tanggal 20 November di tahun-tahun yang berbeda, telah terjadi banyak peristiwa bersejarah. Misalnya: Pada tanggal 20 November 1917, Inggris mengkampanyekan Perang Dunia Pertama lewat serangannya ke Jerman, di Cambrai, Perancis. Karena itulah serangan ini disebut Battle of Cambrai. Meskipun berhasil dipukul mundur oleh pasukan Jerman, tapi pertempuran tersebut memakan waktu kurang lebih selama 12 hari dan berakhir pada 7 Desember 1917. Selanjutnya, pada tanggal 20 November 1947, Ratu Elizabeth, yang pada saat itu masih menjadi putri, menikah dengan  Letnan Philip Mountbatten dan mendapat gelar Duke dan Duchess of Edinburgh. Pernikahan tersebut diselenggarakan di Westminster Abbey di London, Inggris. Kalau saya lahir di Inggris, mungkin saya ikut diundang dalam ulang tahunpesta pernikahan Ratu Elizabeth hari ini ya? 😀

Sedangkan, pada tanggal 20 November 1979, 200 Muslim Sunni mengadakan revolusi di Masjidil Haram di Mekkah, lebih dari ribuan jamaah haji menjadi sandera, dan ratusan lainnya bersama dengan para militan menjadi korban dalam baku tembak di halaman masjid. Revolusi tersebut dipimpin oleh Juhayman al-Otaybi yang menginginkan kerajaan Saudi kembali ke jalan Islam yang benar, menurutnya, pada waktu itu budaya Barat terlalu dalam mempengaruhi setiap aspek kehidupan di Saudi Arabia. Dengan bantuan pemerintah dan tentara Pakistan, akhirnya revolusi tersebut bisa dihentikan setelah berlangsung selama 2 minggu. Juhayman al-Otaybi sendiri akhirnya ditangkap, diadili, dan dihukum mati. Peristiwa ini terkenal dengan sebutan Grand Mosque Seizure, dan benar-benar menggoyahkan dunia Islam pada saat itu. Karena, Masjidil Haram merupakan tempat ibadah yang paling penting, suci dan bersejarah bagi umat Islam. Dan, pada Tanggal 20 November 1985. Perusahaan Microsoft milik Bill Gates meluncurkan Microsoft Windows 1.0 untuk pertama kalinya. Microsoft Windows 1.0 merupakan versi awal Windows yang diluncurkan, kesukesannya diikuti oleh Windows 2.0 yang diluncurkan 2 tahun kemudian. Jadi kepikiran deh, seandainya saya minta diskon untuk install Windows 8 kira-kira bakal dikasih nggak ya sama Bill Gates, kan tanggal lahirnya sama dengan tanggal pertama kali dirilisnya Windows, hehe. *ngarep*

Terakhir, peristiwa bersejarah lainnya terjadi pada tanggal 20 November 1988. Saat itu seorang bayi imut nan lucu dilahirkan tanpa bidan (bidannya masih di jalan, tapi saya sudah nggak sabar untuk keluar, akhirnya saya memutuskan untuk mem-brojol-kan diri :D) di sebuah rumah kuno di pesisir utara Jawa di sebuah kota kecil bernama Pekalongan. Peristiwa tersebut merupakan peristiwa bersejarah untuk kedua orang tua bayi tersebut karena ini kedua kalinya sang istri melahirkan. Harapannya, bayi mereka akan tumbuh sehat tidak seperti kakaknya yang harus meninggalkan dunia lebih cepat karena sakit kuning. Bayi tersebut awalnya diberi nama Va’ni Laila Fitriani, tapi karena kesalahan juru ketik di kantor administrasi saat membuat akte kelahiran, nama bayi tersebut menjadi Vani Laila Fitriani. (Rasanya, saya pengin memberi bingkisan pada juru ketik tersebut, karena meskipun artinya bagus, tapi saya nggak membayangkan harus memiliki tanda koma di atas nama saya seumur hidup, hehe). Beberapa bulan setelah kelahiran bayi tersebut, pada awal tahun 1989 terjadilah bencana Banjir Bandang yang bersejarah di daerah Pekalongan dan kota-kota di sekitarnya, banjir tersebut berasal dari kali Comal yang melintasi kota Pekalongan. Bahkan konon saking dahsyatnya banjir tersebut, sebuah desa di kota Pemalang yang bertetangga dengan Pekalongan benar-benar tenggelam, sehingga para penduduknya memutuskan untuk mengungsi ke lokasi yang baru dan membangun desa mereka lagi. Nah, pada saat peristiwa banjir bandang tersebut, karena terlalu tingginya air yang tidak memungkinkan Ibu si bayi menggendong anaknya ketika berjalan ke pengungsian. Si Ibu akhirnya memutuskan untuk menaruh anaknya di dalam sebuah ember besar dan mengapungkannya di tengah banjir. Sejak mendengar cerita tragis itu dari Neneknya beberapa tahun lalu, si bayi yang mulai beranjak dewasa curiga, jangan-jangan dia tertukar saat banjir bandang tersebut, sehingga ia tumbuh tidak secantik Ibunya ataupun sepintar Ayahnya, hehe *korban sinetron*

Pada dasarnya, setiap hari dalam hidup kita adalah hari terjadinya peristiwa-peristiwa bersejarah yang patut kita monumenkan dalam fikiran kita, selama setiap hari itu kita isi dengan hal-hal yang bermanfaat bagi kita, orang-orang di sekitar kita dan kehidupan kita sendiri. Jadi apa sejarahmu? 🙂

Oh iya, waktu lagi iseng browsing saya nemu situs lucu ini. Di situs ini, sejarah kelahiran kita diprediksi secara ilmiah, menurut mereka sih, menurut saya lucu banget, haha. Dan, akhirnya, di umur 25 tahun ini cuma satu harapan saya. Saya menjadi orang yang lebih baik lagi dari sebelumnya. Aamiin.. Itu tadi harapan ya, kalau keinginan sih, buanyaakk.. hehe

Dirgahayu, saya. 🙂

Every year on your birthday, you get a chance to start new.
– Sammy Hagar –

Tulisan ini disponsori event :

novemberngeblog