#Day 20 : Dirgahayu, Saya.

Hari ini saya resmi memasuki angka 25 Tahun dalam hidup saya. Itu artinya sudah 9131 hari saya ada di dunia ini, dan saya nggak sendiri, menurut Mbah Google, ada sekitar 398.000 bayi yang lahir pada 20 November 1988. Saya harap, nggak semua dari 398.000 bayi tersebut yang sifatnya sama kayak saya, bisa hancur dunia, hahaha.

Mungkin karena sifat narsis dan sok seleb saya yang overdosis, seharian ini bawaan saya curiga saja sama teman-teman saya, semua tingkah mereka terlihat aneh, saya juga sudah siap tempur seandainya saya dikerjai hari ini. Alhamdulillah, ternyata tidak terjadi apa-apa sampai detik ini. Saya aja yang kepede-an dan negative thinking sama orang-orang, hehe.

Dari dulu saya selalu membayangkan, ketika umur 25 nanti bagaimana hidup saya, dan sudah jadi apa saya? Kalau cara berfikir saya masih sama seperti cara berfikirnya Vani Laila Fitriani beberapa tahun lalu, mungkin saya menganggap saya yang saat ini gagal. Cuma jadi guru TK, masih jadi jomblowati sejati, tabungan kembang kempis, kemana-mana masih naik motor, dan masih setia ngeblog saja belum jadi penulis best seller. Untung saya sudah tobat dan kembali ke jalan yang benar, hehe. Yang jelas, hari ini saya bersyukur, masih dikasih nafas, dikasih keluarga yang baik, teman-teman yang setia dalam suka dan duka, pekerjaan yang insya Allah berkah, dan segaris keriput yang menandakan bukan saatnya lagi saya jadi perempuan dewasa yang sok jadi ABG dan masih sering melankolis serta galau dalam menghadapi permasalahan yang saya alami.  25 tahun untuk saya adalah awal bagi seseorang untuk memulai babak baru kehidupan yang lebih baik lagi, karena waktu seperempat abad bukan waktu yang sedikit untuk berguru dan belajar pada kehidupan. Kayak yang banyak orang bilang, menjadi tua itu pasti tapi menjadi dewasa itu pilihan. Harapan saya sih, saya nggak hanya tua, tapi juga menjadi pribadi yang jauh jauh lebih dewasa dari sebelumnya. Insya Allah… 🙂

Oh iya, waktu lihat Google Doodle hari ini, ternyata ada tokoh terkenal yang tanggal lahirnya sama dengan saya, namanya Selma Ottilia Lovisa Lagerlöf. Beliau adalah penulis buku anak-anak asal Swedia yang pernah mendapatkan Nobel Sastra pada tahun 1909, dan beliau juga merupakan penulis perempuan yang pertama kali mendapatkan Nobel dalam bidang sastra (sumber). Kerennya, Selma Lagerlöf ini mantan guru yang pensiun dini demi fokus dengan kegiatan menulisnya. Kira-kira saya bisa nggak ya jadi kayak beliau? hehe. Karena itulah, Google Doodle hari ini memajang ilustrasi gambar anak-anak untuk memperingati hari lahir beliau. Dan, karena kebetulan saya punya akun Google+ hari ini saya juga punya Google Doodle pribadi yang khusus disiapkan Google untuk saya, hahaha. Padahal semua pengguna Google+ pasti dapat ini kalau mereka ulang tahun. Tapi, khusus hari ini, biarkan saya sombong dan berbangga diri, cuma ini sih yang bisa dibanggain dalam hidup saya *curhat* 😀

Terima kasih mbah Google, tahu aja hari ulang tahun cucunya :P

Terima kasih mbah Google, tahu aja hari ulang tahun cucunya 😛

Tiba-tiba saya jadi penasaran, Kira-kira pada waktu saya lahir 25 tahun yang lalu, hal apa saja ya yang saat itu terjadi di dunia? Setahu saya, kalau nggak salah tahun 1988 adalah tahun diselenggarakannya Olimpiade musim panas di Korea Selatan. Waktu itu Korean Wave  belum sedahsyat sekarang, kalau dulu Korean Wave sudah booming, bisa dipastikan, TVRI jadi televisi terpopuler abad ini, soalnya waktu itu saluran televisi hanya TVRI saja, hehe. Setelah baca-baca artikel di Google, saya jadi tahu, ternyata pada tanggal 20 November di tahun-tahun yang berbeda, telah terjadi banyak peristiwa bersejarah. Misalnya: Pada tanggal 20 November 1917, Inggris mengkampanyekan Perang Dunia Pertama lewat serangannya ke Jerman, di Cambrai, Perancis. Karena itulah serangan ini disebut Battle of Cambrai. Meskipun berhasil dipukul mundur oleh pasukan Jerman, tapi pertempuran tersebut memakan waktu kurang lebih selama 12 hari dan berakhir pada 7 Desember 1917. Selanjutnya, pada tanggal 20 November 1947, Ratu Elizabeth, yang pada saat itu masih menjadi putri, menikah dengan  Letnan Philip Mountbatten dan mendapat gelar Duke dan Duchess of Edinburgh. Pernikahan tersebut diselenggarakan di Westminster Abbey di London, Inggris. Kalau saya lahir di Inggris, mungkin saya ikut diundang dalam ulang tahunpesta pernikahan Ratu Elizabeth hari ini ya? 😀

Sedangkan, pada tanggal 20 November 1979, 200 Muslim Sunni mengadakan revolusi di Masjidil Haram di Mekkah, lebih dari ribuan jamaah haji menjadi sandera, dan ratusan lainnya bersama dengan para militan menjadi korban dalam baku tembak di halaman masjid. Revolusi tersebut dipimpin oleh Juhayman al-Otaybi yang menginginkan kerajaan Saudi kembali ke jalan Islam yang benar, menurutnya, pada waktu itu budaya Barat terlalu dalam mempengaruhi setiap aspek kehidupan di Saudi Arabia. Dengan bantuan pemerintah dan tentara Pakistan, akhirnya revolusi tersebut bisa dihentikan setelah berlangsung selama 2 minggu. Juhayman al-Otaybi sendiri akhirnya ditangkap, diadili, dan dihukum mati. Peristiwa ini terkenal dengan sebutan Grand Mosque Seizure, dan benar-benar menggoyahkan dunia Islam pada saat itu. Karena, Masjidil Haram merupakan tempat ibadah yang paling penting, suci dan bersejarah bagi umat Islam. Dan, pada Tanggal 20 November 1985. Perusahaan Microsoft milik Bill Gates meluncurkan Microsoft Windows 1.0 untuk pertama kalinya. Microsoft Windows 1.0 merupakan versi awal Windows yang diluncurkan, kesukesannya diikuti oleh Windows 2.0 yang diluncurkan 2 tahun kemudian. Jadi kepikiran deh, seandainya saya minta diskon untuk install Windows 8 kira-kira bakal dikasih nggak ya sama Bill Gates, kan tanggal lahirnya sama dengan tanggal pertama kali dirilisnya Windows, hehe. *ngarep*

Terakhir, peristiwa bersejarah lainnya terjadi pada tanggal 20 November 1988. Saat itu seorang bayi imut nan lucu dilahirkan tanpa bidan (bidannya masih di jalan, tapi saya sudah nggak sabar untuk keluar, akhirnya saya memutuskan untuk mem-brojol-kan diri :D) di sebuah rumah kuno di pesisir utara Jawa di sebuah kota kecil bernama Pekalongan. Peristiwa tersebut merupakan peristiwa bersejarah untuk kedua orang tua bayi tersebut karena ini kedua kalinya sang istri melahirkan. Harapannya, bayi mereka akan tumbuh sehat tidak seperti kakaknya yang harus meninggalkan dunia lebih cepat karena sakit kuning. Bayi tersebut awalnya diberi nama Va’ni Laila Fitriani, tapi karena kesalahan juru ketik di kantor administrasi saat membuat akte kelahiran, nama bayi tersebut menjadi Vani Laila Fitriani. (Rasanya, saya pengin memberi bingkisan pada juru ketik tersebut, karena meskipun artinya bagus, tapi saya nggak membayangkan harus memiliki tanda koma di atas nama saya seumur hidup, hehe). Beberapa bulan setelah kelahiran bayi tersebut, pada awal tahun 1989 terjadilah bencana Banjir Bandang yang bersejarah di daerah Pekalongan dan kota-kota di sekitarnya, banjir tersebut berasal dari kali Comal yang melintasi kota Pekalongan. Bahkan konon saking dahsyatnya banjir tersebut, sebuah desa di kota Pemalang yang bertetangga dengan Pekalongan benar-benar tenggelam, sehingga para penduduknya memutuskan untuk mengungsi ke lokasi yang baru dan membangun desa mereka lagi. Nah, pada saat peristiwa banjir bandang tersebut, karena terlalu tingginya air yang tidak memungkinkan Ibu si bayi menggendong anaknya ketika berjalan ke pengungsian. Si Ibu akhirnya memutuskan untuk menaruh anaknya di dalam sebuah ember besar dan mengapungkannya di tengah banjir. Sejak mendengar cerita tragis itu dari Neneknya beberapa tahun lalu, si bayi yang mulai beranjak dewasa curiga, jangan-jangan dia tertukar saat banjir bandang tersebut, sehingga ia tumbuh tidak secantik Ibunya ataupun sepintar Ayahnya, hehe *korban sinetron*

Pada dasarnya, setiap hari dalam hidup kita adalah hari terjadinya peristiwa-peristiwa bersejarah yang patut kita monumenkan dalam fikiran kita, selama setiap hari itu kita isi dengan hal-hal yang bermanfaat bagi kita, orang-orang di sekitar kita dan kehidupan kita sendiri. Jadi apa sejarahmu? 🙂

Oh iya, waktu lagi iseng browsing saya nemu situs lucu ini. Di situs ini, sejarah kelahiran kita diprediksi secara ilmiah, menurut mereka sih, menurut saya lucu banget, haha. Dan, akhirnya, di umur 25 tahun ini cuma satu harapan saya. Saya menjadi orang yang lebih baik lagi dari sebelumnya. Aamiin.. Itu tadi harapan ya, kalau keinginan sih, buanyaakk.. hehe

Dirgahayu, saya. 🙂

Every year on your birthday, you get a chance to start new.
– Sammy Hagar –

Tulisan ini disponsori event :

novemberngeblog

Advertisements

#Day 17 : Surat Terbuka Untuk Mbak F

Buat Mbak F ,
Di Mbethek City

Masih ingat pertemuan kita bertujuh 10 tahun lalu di awal Agustus. Kita, entah kenapa, tiba-tiba ngumpul jadi satu karena Imut tiba-tiba ngajakin kita yang sebelumnya nggak pernah kenal satu sama lainnya untuk nemenin dia nembak cowok cakep tetangganya yang kebetulan satu sekolah sama kita. Aneh memang, kok kamu, mbak Jangkung, Menyun, dan mbak Meti mau nemenin kami. Kalau aku sama Kajol palsu jelas, kami memang dulu satu SMP sama Imut, tapi kalian? Mungkin ini yang namanya jodoh. Kata artikel yang pernah aku baca, ada satu saat dalam hidup kita di mana kita bertemu dengan orang-orang yang satu frekuensi sama kita, yang entah dari sisi mananya bisa nyambung dan klop banget sama kita. Mungkin itu yang kita alami 1 Agustus tahun 2003 lalu. Setelah itu kita nyebut diri kita Pasukan 7, gara-gara waktu itu di sekolah sedang ada audisi besar-besaran untuk memilih anak-anak kelas 1 yang akan dijadikan pasukan 45 untuk upacara kemerdekaan 17 Agustus, karena kita bertujuh, jadilah nama itu. Sedikit maksa emang, hehe

Sejak itu kamu, aku, Imut, mbak Jangkung, Menyun, mbak Meti dan Kajol KW, kemana-mana barengan. Walaupun aku pernah kalian anak tirikan waktu habis sakit tipus selama sebulan, aku tetap betah main sama kalian. Padahal waktu itu, aku nggak tahu alasan sebenarnya kalian menganak tirikan aku. Baru dari Kajol KW aku tahu alasan kamu dan teman-teman jauhin aku. Kalau dipikir-pikir itu masalah sepele. Padahal kalau waktu itu kalian ngomong langsung, aku nggak bakal mikir yang jelek-jelek sama kalian. Tapi, terimakasih ya, sejak kejadian itu aku nggak gengsi lagi untuk minta maaf kalau aku ada salah sama kalian. Dan karena mungkin cuma kalian yang mau temenan sama aku, dengan bermodalkan muka tembok aku balik lagi ngumpul sama kalian.

Eh, Mbak F, meskipun kemana-mana bertujuh, nggak tahu kenapa aku merasa paling dekat sama kamu. Mungkin karena aura kamu yang bikin semua orang nyaman di dekat kamu, nggak heran teman kamu banyak dan menyebar di segala penjuru Malang Raya, hehe. Selain itu, kamu tahu semua kebusukanku, jadi aku harus selalu berada di sampingmu untuk memastikan kamu nggak akan menyebarkan aibku ke orang lain.. 😀

Dan mungkin, karena terlalu dekat sama kamu. Aku jadi orang yang paling shock dan merasa dikhianati waktu kamu cerita kamu akan menikah tahun lalu. Sama siapa kamu nikah, dan bagaimana rencana pernikahan itu muncul di otak kamu aku nggak pernah tahu. Padahal kita selalu berbagi banyak hal. Yang menyebalkan lagi, aku yang paling akhir tahu daripada teman-teman kamu yang lain. Tapi, sudahlah, sebenci-bencinya aku sama kamu, aku nggak bisa jauh-jauh sama kamu. Dan dengan berat hati, aku terpaksa merestui pernikahan kamu (padahal tanpa restuku juga kamu tetap nikah, hehe, iya, aku lebay!).

Aku tahu betul kalau setiap pertemuan itu pasti ada perpisahan. Tapi tetap saja, aku masih berat untuk menerima kalau kamu bakal ikut suami kamu ke Jakarta. Bukannya apa, kalau aku mau utang pulsa, aku harus utang ke siapa? (Hehe, bercanda…)

Makanya, kemarin waktu kita ngumpul bertiga sama Menyun aja (yang lain entah kemana karena sudah terlalu sibuk sama urusannya masing-masing), aku ngajuin permintaan yang sedikit memberatkan kamu, aku minta dicarikan calon suami sama kamu sebelum kamu benar-benar pergi ke Jakarta. Hehe, iya, itu modus saja, untuk sedikit menunda kepergian kamu ke Jakarta. Kamu tahu kan aku susah banget dekat sama kaum Adam karena sifat pemaluku yang overdosis ini. Jadi, ya, selamat mencari laki-laki cerewet yang mau sama aku yang pendiam ini, karena aku sangsi ada yang begitu, haha.

Maaf ya nduk, karena jujur, aku penginnya kamu di Malang aja. Ntar, kalau aku sudah nikah, kita bisa tetanggaan, barengan ke pasar, antar anak ke sekolah, saling pinjam peralatan dapur dan bahan masakan, dan tetap kumpul-kumpul sama pasukan 7 di waktu luang kita. Kayak cerpen yang pernah aku tulis dulu, yang membuat kita bertujuh ketawa-ketiwi membayangkan seperti apa kita 10 tahun lagi.

Tapi aku nggak boleh egois, sekalipun ibaratnya kita ini sehati, segila, sekonyol, senyablak, seramai, semenyebalkan, dan semlohay (eehh :D), kamu tetap punya hidupmu sendiri di mana aku nggak mungkin terus ikut campur di dalamnya, aku pun begitu. Ada saatnya kamu sama aku beda jurusan dan jalur, sebagaimana selama ini kita berbeda dalam setiap keputusan yang kita ambil dalam hidup kita. Lagipula, aku tahu, kamu pasti bosen lihat mukaku yang kayak Dian Sastro (boleh deh penonton lempar botol, hehe) ini setiap hari selama 10 tahun. Aku juga bosen lihat muka cantik kamu, malah aku seneng karena setelah ini sainganku dalam hal muka berkurang, haha.

Kalau kamu berangkat nanti, jangan lupa ya SMS aku, jangan kayak kemarin, tiba-tiba udah di Jakarta aja. Aku pengen antar kamu ke stasiun. Biar kayak di film-film India favoritmu, ada adegan kejar-kejarannya, tapi biar Menyun aja yang ngejar kereta kamu nanti, hehe. Tetap jadi mbak F yang keren, nyablak, dan tegar ya. Sekalipun kata orang Ibu Kota lebih kejam daripada Ibu Tiri, jangan khawatir, jadilah Ibu Tirinya Ibu Kota, biar dia nggak berani macam-macam sama kamu. Kalau kamu capek, marah, benci, lelah, dan sedih, kamu harus tahu nomer IM3 sejuta umat punyaku ini nggak akan pernah berganti, telfon aku, atau minimal SMS, biar lega hati kamu. Jaga diri ya. Jangan melankolis lagi, kita tahu seberapa kuat kamu.

Terima kasih sudah jadi tempat sampah, tembok, kasur dan dokter pribadi aku selama 10 tahun belakangan. Jangan khawatir soal Ibu dan Bapakmu, aku janji, aku bakal rajin minta duit ke mereka, eh, mengunjungi mereka maksudnya. Aku akan pastikan mereka selalu sehat.

Selamat jalan, jangan lupa pesan terakhirku. Carikan aku calon suami sebelum berangkat ke Jakarta! *teteup*

Peluk Cium,
Vani Sastrowardoyo
di Bukit Hijau

Partner in Crime

Partner in Crime

Growing apart doesn’t change the fact that for a long time we grew side by side; our roots will always be tangled. I’m glad for that.

– Ally CondieMatched –

Tulisan ini disponsori event :

novemberngeblog

#Day 16 : Mama

Ibu saya (saya manggilnya Mama), adalah seorang Ibu-Ibu yang paling heboh yang pernah saya kenal. Segala hal yang menurut kami semua kecil, selalu jadi hal besar yang membuat dunia seolah-olah kiamat buat beliau. Semua orang yang kenal beliau pasti tahu betul sifat heboh beliau ini. Satu contoh, bertahun-tahun lalu, saat kami masih tinggal di kampung belakang perumahan tempat kami tinggal sekarang, Mama pernah buat heboh sekampung karena mencari adik laki-laki saya yang saat itu berusia 5 tahun yang tak kunjung pulang, berbagai spekulasi pun mencuat, ada yang bilang diculik, dijual, makin heboh lah mamah saya saat itu. Lucunya, tepat adzan Isya’ dengan wajah lugunya, adik saya pulang dengan wajah bingung karena banyak orang di depan rumah, ternyata, selama ini dia cuma main PS di rumah temannya yang beda satu gang dengan rumah kami. Jadilan semalaman adik saya diceramahi dari A-Z. Dan kalau penceramahnya Mamah, bisa dipastikan dia nggak bisa tidur dengan tenang. Ya, peristiwa di atas memang patut dihebohkan. Tapi, ada banyak kisah lain selama 24 tahun hidup saya ini yang lebih absurd tapi membuat Mama heboh setengah mati. Contoh lain, tahun lalu, ketika saya menerima gaji pertama saya, dengan entengnya adik bungsu saya bercerita ke Mama kalau saya baru saja menghabiskan satu juta rupiah lebih untuk sebuah HP yang baru saya beli, padahal HP tersebut hanya berharga 200 ribuan. Tanpa bertanya Mama langsung bereaksi heboh dan menceramahi saya, padahal waktu itu adik saya sedang bercanda. Setelah beliau tenang baru saya jelaskan yang sebenarnya. Mungkin inilah kenapa penyakit darah tinggi beliau kambuh, hal-hal kecil selalu dipikirkan, bahkan hal gak penting seperti jalan cerita sebuah sinetron pun selalu beliau hebohkan. Segala hal selalu beliau hadapi dengan kehebohan.

Mamah dan Ayah in action 😀

Saya juga punya cerita lain yang lebih lucu tentang kehebohan Mama saya ini. Bulan lalu, rumah saya dilanda kehebohan lagi, aktor utamanya tidak lain tidak bukan adalah ayam jago peliharaan Mama yang terobsesi untuk jadi burung. Ayam ini unik, sekalipun tidak bisa terbang, dia selalu mencoba meluncur dari atap kandangnya dan mengepakkan sayapnya, hasilnya sudah jelas, mana ada ayam bisa terbang. Nah, barusan, ayam ini mulai bereksperimen lagi, kali ini dari atap saung di belakang rumah kami. Tapi sayang, belum sempat ia mengepakkan sayapnya, Mama saya langung mengusir dia agar kembali ke kandang. Mungkin karena kaget, bukannya kembali ke ke kandang si jago malah meluncur (atap saung kami menurun) terbang melewati pagar beton dan hilang entah kemana. Yang pertama kali terlintas di pikiran Mama, ayam itu pasti hanyut di sungai, karena tepat di belakang rumah kami ada sebuah sungai kecil yang alirannya cukup deras, jadilah seisi rumah heboh karena teriakan Mama yang menginstruksikan kami mencari si jago ke kebun singkong tetangga di sebelah rumah, sungai, bahkan ke kampung seberang. Tetangga sebelah kami bahkan sampai bingung dan ikut membantu karena kehebohan Mama yang buat rame sekomplek. Ternyata, si jago ditemukan di kebun singkong sebelah rumah. Alhamdulillah, pada akhirnya si jago berhasil kembali dikandangkan setelah 30 menit lebih di kepung 5 orang.

Ya, bahkan seekor jago pun bisa buat Mama heboh seperti kehilangan anaknya. Kalo saya, akan saya biarkan saja si jago terbang kemanapun yang ia mau, entar kalau lapar juga balik ke rumah, kalau nggak balik, ya beli lagi. Masih banyak hal lain yang lebih pantas untuk dipikirkan daripada si jago yang baru 2 bulan menghuni rumah kami. Mama saya sebenarnya orang yang logis dan berfikir kritis, beliau juga mengajarkan anak-anaknya untuk tidak memandang orang dengan sebelah mata sebanyak apapun kekurangan mereka. Satu kelemahan beliau hanyalah emosinya yang labil. Bahkan biarpun banyak yang bilang Mama saya cerewetnya tingkat dewa, tapi sifat yang itu saya kategorikan sebagai kelebihan beliau. Percaya nggak percaya, karena kecerewetan Mamah, kantin beliau di kampus justru ramai dan banyak pelanggannya. Mungkin itu daya tarik Mama saya. hehe

Karena emosinya yang labil inilah dari kecil saya nggak pernah akur sama beliau. Setiap bulan ada saja yang membuat beliau “murka” sama saya dan yang membuat saya ngambek ngomong sama beliau. Kalau dilihat, saya sama beliau memang tidak seperti Ibu dan anak kebanyakan. Meskipun dari lahir beliau tidak pernah absen dalam merawat dan membesarkan saya, tapi sikap kaku beliau dan kegengsian saya membuat hubungan kami tidak semesra hubungan Ibu-anak yang dimiliki orang lain. Saya jarang sekali memeluk dan mencium tangan beliau sejak saya lulus SD. Paling sering setahun sekali, hanya saat lebaran saja, hehe. Saya memang anak durhaka.

A mother is the truest friend we have, when trials heavy and sudden fall upon us; when adversity takes the place of prosperity; when friends desert us; when trouble thickens around us, still will she cling to us, and endeavor by her kind precepts and counsels to dissipate the clouds of darkness, and cause peace to return to our hearts.

– Washington Irving –

Tapi selama 6 bulan belakangan ini, banyak sekali kejadian yang membuat saya menyadari arti Mamah yang sebenarnya untuk saya. Lagi-lagi, hehe, beberapa bulan lalu saya mendapatkan musibah yang benar-benar memutar balikkan dunia saya. Waktu sesaat setelah kejadian saya sempat nangis sekencang-kencangnya (itu tangisan terkencang dalam hidup yang pernah saya alami *serius*) di depan ICU. Saat itu hanya ada Mamah di samping saya, tanpa babibu beliau langsung memeluk saya dan mendekap tubuh saya yang berguncang. Beliau tak henti mengusap kepala saya sambil berkata “nggak apa-apa… nggak apa-apa.” Itu pelukan pertama kami sejak saya meninggalkan bangku SD. Meskipun pada waktu itu saya merasa dunia saya akan runtuh, tapi pelukan ibu saya seperti tangan kekar Atlas yang berusaha sekuat tenaga menyangga atap bumi agar tidak runtuh, saya merasa aman dan terlindungi, saya merasa ada kekuatan besar yang menyangga tubuh saya saat itu. Beberapa minggu kemudian, setelah shalat maghrib berjamaah, saya sungkem dan meminta maaf pada beliau. Hal yang nggak pernah saya lakukan kecuali pada saat lebaran saja.

Sejak itu, hubungan kami membaik. Meskipun ya, namanya Ibu sama anak perempuannya, kami masih sering berargumen dan berdebat, hehe. Tapi saya nggak berani sekurang ajar dahulu. Karena saya tahu, di lubuk hati Mama yang terdalam beliau punya kasih dan maaf yang tak terhitung jumlahnya untuk anak dan keluarganya. Saya nggak mau menyakiti beliau lagi, setelah segala hal yang telah beliau lakukan untuk saya selama ini. Jadi ingat peribahasa klasik yang dulu sering saya dengar saat saya masih sekolah,

Kasih anak sepanjang galah, kasih Ibu sepanjang jalan

10 jempol untuk pembuat peribahasa itu. Tapi buat saya, kasih Mama saya tidak hanya sepanjang jalan, karena ada yang namanya jalan buntu. Buat saya, kasih Mama saya sepanjang hidup, dunia akhirat, bahkan mungkin kalau setelah akhirat ada kehidupan lagi, kasih sayang Mama saya sepanjang kehidupan itu dan kehidupan-kehidupan berikutnya. Tak terbatas.

Tulisan ini disponsori event :

novemberngeblog