Posted in #NovemberNgeblog, Blog, Uncategorized

#Day 20 : Dirgahayu, Saya.

Hari ini saya resmi memasuki angka 25 Tahun dalam hidup saya. Itu artinya sudah 9131 hari saya ada di dunia ini, dan saya nggak sendiri, menurut Mbah Google, ada sekitar 398.000 bayi yang lahir pada 20 November 1988. Saya harap, nggak semua dari 398.000 bayi tersebut yang sifatnya sama kayak saya, bisa hancur dunia, hahaha.

Mungkin karena sifat narsis dan sok seleb saya yang overdosis, seharian ini bawaan saya curiga saja sama teman-teman saya, semua tingkah mereka terlihat aneh, saya juga sudah siap tempur seandainya saya dikerjai hari ini. Alhamdulillah, ternyata tidak terjadi apa-apa sampai detik ini. Saya aja yang kepede-an dan negative thinking sama orang-orang, hehe.

Dari dulu saya selalu membayangkan, ketika umur 25 nanti bagaimana hidup saya, dan sudah jadi apa saya? Kalau cara berfikir saya masih sama seperti cara berfikirnya Vani Laila Fitriani beberapa tahun lalu, mungkin saya menganggap saya yang saat ini gagal. Cuma jadi guru TK, masih jadi jomblowati sejati, tabungan kembang kempis, kemana-mana masih naik motor, dan masih setia ngeblog saja belum jadi penulis best seller. Untung saya sudah tobat dan kembali ke jalan yang benar, hehe. Yang jelas, hari ini saya bersyukur, masih dikasih nafas, dikasih keluarga yang baik, teman-teman yang setia dalam suka dan duka, pekerjaan yang insya Allah berkah, dan segaris keriput yang menandakan bukan saatnya lagi saya jadi perempuan dewasa yang sok jadi ABG dan masih sering melankolis serta galau dalam menghadapi permasalahan yang saya alami.  25 tahun untuk saya adalah awal bagi seseorang untuk memulai babak baru kehidupan yang lebih baik lagi, karena waktu seperempat abad bukan waktu yang sedikit untuk berguru dan belajar pada kehidupan. Kayak yang banyak orang bilang, menjadi tua itu pasti tapi menjadi dewasa itu pilihan. Harapan saya sih, saya nggak hanya tua, tapi juga menjadi pribadi yang jauh jauh lebih dewasa dari sebelumnya. Insya Allah… 🙂

Sumber
Sumber

Oh iya, waktu lihat Google Doodle hari ini, ternyata ada tokoh terkenal yang tanggal lahirnya sama dengan saya, namanya Selma Ottilia Lovisa Lagerlöf. Beliau adalah penulis buku anak-anak asal Swedia yang pernah mendapatkan Nobel Sastra pada tahun 1909, dan beliau juga merupakan penulis perempuan yang pertama kali mendapatkan Nobel dalam bidang sastra (sumber). Kerennya, Selma Lagerlöf ini mantan guru yang pensiun dini demi fokus dengan kegiatan menulisnya. Kira-kira saya bisa nggak ya jadi kayak beliau? hehe. Karena itulah, Google Doodle hari ini memajang ilustrasi gambar anak-anak untuk memperingati hari lahir beliau. Dan, karena kebetulan saya punya akun Google+ hari ini saya juga punya Google Doodle pribadi yang khusus disiapkan Google untuk saya, hahaha. Padahal semua pengguna Google+ pasti dapat ini kalau mereka ulang tahun. Tapi, khusus hari ini, biarkan saya sombong dan berbangga diri, cuma ini sih yang bisa dibanggain dalam hidup saya *curhat* 😀

Terima kasih mbah Google, tahu aja hari ulang tahun cucunya :P
Terima kasih mbah Google, tahu aja hari ulang tahun cucunya 😛

Tiba-tiba saya jadi penasaran, Kira-kira pada waktu saya lahir 25 tahun yang lalu, hal apa saja ya yang saat itu terjadi di dunia? Setahu saya, kalau nggak salah tahun 1988 adalah tahun diselenggarakannya Olimpiade musim panas di Korea Selatan. Waktu itu Korean Wave  belum sedahsyat sekarang, kalau dulu Korean Wave sudah booming, bisa dipastikan, TVRI jadi televisi terpopuler abad ini, soalnya waktu itu saluran televisi hanya TVRI saja, hehe. Setelah baca-baca artikel di Google, saya jadi tahu, ternyata pada tanggal 20 November di tahun-tahun yang berbeda, telah terjadi banyak peristiwa bersejarah. Misalnya: Pada tanggal 20 November 1917, Inggris mengkampanyekan Perang Dunia Pertama lewat serangannya ke Jerman, di Cambrai, Perancis. Karena itulah serangan ini disebut Battle of Cambrai. Meskipun berhasil dipukul mundur oleh pasukan Jerman, tapi pertempuran tersebut memakan waktu kurang lebih selama 12 hari dan berakhir pada 7 Desember 1917. Selanjutnya, pada tanggal 20 November 1947, Ratu Elizabeth, yang pada saat itu masih menjadi putri, menikah dengan  Letnan Philip Mountbatten dan mendapat gelar Duke dan Duchess of Edinburgh. Pernikahan tersebut diselenggarakan di Westminster Abbey di London, Inggris. Kalau saya lahir di Inggris, mungkin saya ikut diundang dalam ulang tahunpesta pernikahan Ratu Elizabeth hari ini ya? 😀

Sedangkan, pada tanggal 20 November 1979, 200 Muslim Sunni mengadakan revolusi di Masjidil Haram di Mekkah, lebih dari ribuan jamaah haji menjadi sandera, dan ratusan lainnya bersama dengan para militan menjadi korban dalam baku tembak di halaman masjid. Revolusi tersebut dipimpin oleh Juhayman al-Otaybi yang menginginkan kerajaan Saudi kembali ke jalan Islam yang benar, menurutnya, pada waktu itu budaya Barat terlalu dalam mempengaruhi setiap aspek kehidupan di Saudi Arabia. Dengan bantuan pemerintah dan tentara Pakistan, akhirnya revolusi tersebut bisa dihentikan setelah berlangsung selama 2 minggu. Juhayman al-Otaybi sendiri akhirnya ditangkap, diadili, dan dihukum mati. Peristiwa ini terkenal dengan sebutan Grand Mosque Seizure, dan benar-benar menggoyahkan dunia Islam pada saat itu. Karena, Masjidil Haram merupakan tempat ibadah yang paling penting, suci dan bersejarah bagi umat Islam. Dan, pada Tanggal 20 November 1985. Perusahaan Microsoft milik Bill Gates meluncurkan Microsoft Windows 1.0 untuk pertama kalinya. Microsoft Windows 1.0 merupakan versi awal Windows yang diluncurkan, kesukesannya diikuti oleh Windows 2.0 yang diluncurkan 2 tahun kemudian. Jadi kepikiran deh, seandainya saya minta diskon untuk install Windows 8 kira-kira bakal dikasih nggak ya sama Bill Gates, kan tanggal lahirnya sama dengan tanggal pertama kali dirilisnya Windows, hehe. *ngarep*

Terakhir, peristiwa bersejarah lainnya terjadi pada tanggal 20 November 1988. Saat itu seorang bayi imut nan lucu dilahirkan tanpa bidan (bidannya masih di jalan, tapi saya sudah nggak sabar untuk keluar, akhirnya saya memutuskan untuk mem-brojol-kan diri :D) di sebuah rumah kuno di pesisir utara Jawa di sebuah kota kecil bernama Pekalongan. Peristiwa tersebut merupakan peristiwa bersejarah untuk kedua orang tua bayi tersebut karena ini kedua kalinya sang istri melahirkan. Harapannya, bayi mereka akan tumbuh sehat tidak seperti kakaknya yang harus meninggalkan dunia lebih cepat karena sakit kuning. Bayi tersebut awalnya diberi nama Va’ni Laila Fitriani, tapi karena kesalahan juru ketik di kantor administrasi saat membuat akte kelahiran, nama bayi tersebut menjadi Vani Laila Fitriani. (Rasanya, saya pengin memberi bingkisan pada juru ketik tersebut, karena meskipun artinya bagus, tapi saya nggak membayangkan harus memiliki tanda koma di atas nama saya seumur hidup, hehe). Beberapa bulan setelah kelahiran bayi tersebut, pada awal tahun 1989 terjadilah bencana Banjir Bandang yang bersejarah di daerah Pekalongan dan kota-kota di sekitarnya, banjir tersebut berasal dari kali Comal yang melintasi kota Pekalongan. Bahkan konon saking dahsyatnya banjir tersebut, sebuah desa di kota Pemalang yang bertetangga dengan Pekalongan benar-benar tenggelam, sehingga para penduduknya memutuskan untuk mengungsi ke lokasi yang baru dan membangun desa mereka lagi. Nah, pada saat peristiwa banjir bandang tersebut, karena terlalu tingginya air yang tidak memungkinkan Ibu si bayi menggendong anaknya ketika berjalan ke pengungsian. Si Ibu akhirnya memutuskan untuk menaruh anaknya di dalam sebuah ember besar dan mengapungkannya di tengah banjir. Sejak mendengar cerita tragis itu dari Neneknya beberapa tahun lalu, si bayi yang mulai beranjak dewasa curiga, jangan-jangan dia tertukar saat banjir bandang tersebut, sehingga ia tumbuh tidak secantik Ibunya ataupun sepintar Ayahnya, hehe *korban sinetron*

Pada dasarnya, setiap hari dalam hidup kita adalah hari terjadinya peristiwa-peristiwa bersejarah yang patut kita monumenkan dalam fikiran kita, selama setiap hari itu kita isi dengan hal-hal yang bermanfaat bagi kita, orang-orang di sekitar kita dan kehidupan kita sendiri. Jadi apa sejarahmu? 🙂

Oh iya, waktu lagi iseng browsing saya nemu situs lucu ini. Di situs ini, sejarah kelahiran kita diprediksi secara ilmiah, menurut mereka sih, menurut saya lucu banget, haha. Dan, akhirnya, di umur 25 tahun ini cuma satu harapan saya. Saya menjadi orang yang lebih baik lagi dari sebelumnya. Aamiin.. Itu tadi harapan ya, kalau keinginan sih, buanyaakk.. hehe

Dirgahayu, saya. 🙂

Every year on your birthday, you get a chance to start new.
– Sammy Hagar –

Tulisan ini disponsori event :

novemberngeblog

Advertisements
Posted in #NovemberNgeblog, Blog, Uncategorized

#Day 10 : Generasi Patah Hati

Selamat hari pahlawan Indonesia!

68 tahun lalu pada hari ini, terjadi pertempuran besar antara Indonesia dan Belanda yang pertama sejak kemerdekaan Indonesia diproklamasikan. Pada saat itu, tentara sekutu mengeluarkan ultimatum kepada rakyat Indonesia di Surabaya untuk menyerahkan diri dan sejata mereka pada sekutu paling lambat jam 06.00 pagi pada tanggal 10 November 1945 sebelum sekutu menghancurkan kota Surabaya. Ultimatum ini dikeluarkan Belanda sebagai bentuk kemarahan mereka atas kematian salah satu Jenderal mereka bernama A.W.S Mallaby karena pertempuran sebelumnya. Mendengar ini, bukannya gentar, masyarakat Indonesia justru marah dan merasa terhina. Pada 10 November pagi, tentara sekutu yang diboncengi Belanda pun melancarkan serangan yang diawali dengan meledakkan gedung-gedung pemerintahan di Surabaya lewat serangan udara, sebanyak 30.000 tentara, infanteri, tank, dan kapal terbang dikerahkan untuk meluluh lantakkan Surabaya. Rakyat yang geram kotanya diserang ikut bergabung bersama tentara, petani, buruh, santri dan para kyai untuk bersatu mempertahankan kota Surabaya. Perlawanan rakyat yang semula tak teratur, semakin lama semakin terkoordinasi di bawah kobaran semangat yang tak hentinya disuntikkan para tokoh muda seperti Bung Tomo dan para kyai seperti KH. Hasyim Asyari. Meskipun akhirnya Surabaya jatuh ke tangan sekutu, tetapi pertempuran yang semula diperkirakan hanya akan berlangsung selama 3 hari oleh tentara sekutu itu, ternyata menghabiskan waktu selama 3 minggu. Pertempuran besar ini sampai sekarang diperingati sebagai hari pahlawan untuk mengenang perjuangan para tentara, rakyat sipil, pemuda dan para santri yang tewas pada pertempuran tersebut.

Sumber
   Sumber

Sejarah lengkapnya bisa dibaca di sini. Saya sempat meneteskan air mata ketika membaca kembali sejarah perjuangan rakyat Indonesia pada saat itu, karena membayangkan bagaimana rakyat Indonesia di tengah permasalahan yang mereka hadapi setelah Indonesia memutuskan merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945 justru bersemangat dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia dengan segala kebatasan yang mereka miliki. Membaca dan berkaca lagi pada sejarah kemerdekaan bangsa dan membandingkan dengan keadaan masyarakat Indonesia pada saat ini membuat saya pesimis dan patah hati. Kalau dulu para pemuda berbondong-bondong berjuang mempertahankan negara mereka, pemuda sekarang malah berbondong-bondong mengikuti tawuran demi ego dan eksistensi mereka sendiri. Kalau dulu para santri dan kyai sibuk mengobarkan api semangat perjuangan masyarakat Indonesia. Santri dan kyai sekarang terlalu sibuk mengkafirkan saudara sesama muslim dan nggak berhenti bersengketa soal siapa yang pertama kali melihat hilal awal dan akhir Ramadhan. Dan, kalau dulu para buruh bersatu bahu membahu dalam mempertahankan kota Surabaya bersama tentara Indonesia, buruh jaman sekarang malah bahu membahu dalam merazia buruh lain yang nggak mau ikut berdemo menuntut kenaikan upah yang lebih tinggi dari PNS golongan III D. Belum soal korupsi yang bukannya mati malah bertumbuh sumbur seperti lumut di musim hujan, soal anggota DPR yang nggak habis-habisnya terlibat dalam skandal, kemiskinan yang merajalela, pendidikan yang tidak merata, pembangunan yang tidak teratur, jalanan yang macet, impor yang nggak masuk akal, ekonomi yang kembang kempis, perkosaan, perampokan, pembunuhan, dan sederet permasalahan lainnya yang setiap pagi sudah disajikan pada kita dalam bentuk berita di media-media cetak dan elektronik. Kalau dipikir-pikir, nasib negara kita ibarat telur di ujung tanduk di atas pohon kelapa yang tumbuh di tepi jurang Grand Canyon. Siap-siap saja untuk terjun bebas.

Su
Sumber

Pernah dengar lagu “Generasi Patah Hati” nya Sheila on 7? Lirik lagu tersebut benar-benar menggambarkan perasaan saya dan mungkin juga perasaan banyak orang yang peduli sama nasib bangsa ini di masa yang akan datang. Kalau ada yang belum pernah dengar, liriknya kurang lebih seperti ini,

Tawa lepasmu adalah tangisanku
Kelakuanmu adalah deritaku
Kebodohan ini harus segera diakhiri
Sebelum aku benar-benar mati

Aku generasi yang patah hati
Terlahir dengan kondisi dunia yang seperti ini
Aku generasi yang patah hati
Aku harus belajar tersenyum sebelum
Membunuh sebelum membunuh rasa takutku

Perut buncitmu kurusnya bayi mereka

Rumah mewahmu keringat mereka
Kebodohan ini harus segera diakhiri
Sebelum kita benar-benar mati

Aku generasi yang patah hati
Terlahir dengan kondisi dunia yang seperti ini
Aku generasi yang patah hati
Aku harus belajar tersenyum sebelum membunuh
Sebelum membunuh rasa takutku

Ku bekerja siang dan malam
Agar istriku bahagia
Smoga kelak anak kita hidup selayaknya
Aku siap tuk lupakan mimpi ego mudaku
Aku siap tuk lupakan
Aku akan perjuangkan masa depan anakku
Aku akan perjuangkan

Miris kan? Tapi jangan sampai kita jadi generasi yang patah hati lalu move on dari permasalahan bangsa ini dan membiarkan bangsa kita terpuruk lebih dalam lagi. Walaupun sekarang kita hidup di era modern dan bermartabat, di mana perang bukan lagi satu-satunya solusi untuk menciptakan perdamaian, kita tetap bisa berjuang untuk menjadikan Indonesia tempat yang lebih nyaman lagi bagi anak cucu kita nanti. Caranya? Banyak. Dimulai dari hal-hal yang kecil saja. Misalnya,

  1. Tepat Waktu 
    Saya sering dengar celetukan “Biasalah jam karet, Indonesia gitu,” yang sering saya dengar jika saya sedang menunggu sesuatu. Harusnya hal seperti ini bukan hal yang bisa dimaklumi apalagi dibanggakan. Meskipun sepele dan sering diabaikan, mengghargai waktu sama halnya dengan menghargai diri kita sendiri, karena berarti kita telah memanfaatkan waktu yang kita miliki dengan sebaik-baiknya sehingga segala tugas dan kewajiban yang kita punya dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Coba lihat Jepang, Amerika, atau Inggris. Negara-negara tersebut terkenal dengan kebiasaan mereka dalam menghargai waktu. Hasilnya, negara tersebut kita kenal dengan julukan negara maju bahkan adidaya.
  2. Mentaati peraturan lalu lintas 
    Meskipun bisa dikategorikan juga sebagai hal yang sepele, hal ini juga sering sekali kita abaikan. Dari pengalaman pribadi saya saja nih. saya sering sekali menemui anak muda (anak tua juga sih, hehe) yang tidak memakai helm tapi berani keliaran di jalan, belum cara mereka mengendarai kendaraan seolah-olah jalanan adalah sirkuit pribadi mereka. Kalau mereka sendiri yang jadi korban sih masalah mereka, tapi kalau orang lain? Percaya sama saya, nabrak orang itu nggak enak, dunia akhirat panjang urusannya. Dan, tahukah Anda berapa kecepatan maksimal kendaraan jika berkendara di dalam kota? 40 km/jam. Iya segitu, yang lucu  saya sering kena klakson dan makian gara-gara berkendara tidak lebih dari 40 km/jam, padahal mereka yang salah karena berkendara di atas 40 km/jam. Mentaati peraturan ada hubungannya juga lho dengan memajukan bangsa, karena dari kedisiplinan kita dalam mentaati peraturan, kita akan terlatih untuk berdisiplin dalam hal lainnya, termasuk dalam belajar dan bekerja. Karena disiplin itu sifat dasar yang butuh dilatih setiap saat dan setiap waktu.
  3. Membuang Sampah di Tempatnya
    Hal ini juga sering diabaikan, hanya karena malas dan enggan mencari tempat sampah, kita kadang membuang sampah di sembarang tempat. Padahal, dari kebiasaan kecil ini, dampak yang ditimbulkan bisa sangat besar dan merugikan. Lihat banjir di Jakarta, keruhnya sungai di dekat tempat tinggal Anda, kotornya jalanan yang Anda lewati. Itu semua berawal dari satu sampah kecil yang dibuang banyak orang secara berjamaah. Padahal kalau banjir siapa yang rugi? Tapi kita sibuk menyalahkan pemerintah yang katanya kurang peduli lah, kurang respon lah dan hal-hal omong kosong lainnya. Kalau kita ingin bangsa kita maju, mulai sekarang buanglah sampah pada tempatnya. Kalau nggak menemukan tempat sampah, masukkan sampah ke dalam kantong atau tas untuk sementara, begitu menemukan tempat sampah baru dibuang deh, sederhana.
  4. Cinta Produk dalam Negeri
    Entah kutukan atau anugerah, kita ini terlahir sebagai bangsa yang begitu menghargai suatu barang jika ada label tulisan asing bertengger di atasnya. Apakah itu tas, sepatu, baju, mobil, perhiasan, parfum sampai beras pun selalu akan berharga lebih mahal daripada produk lokal yang kualitasnya sama atau bahkan lebih baik, jika produk tersebut berasal dari luar negeri. Mungkin karena kebiasaan turun menurun bangsa kita ini, produk palsu dan KW justru merajalela di negeri ini. Padahal di Jepang, yang terkenal dengan kekuatan ekonominya, produk lokal berharga lebih mahal jika dijual di negeri sendiri, kok begitu? Karena mereka begitu menghargai produk negara mereka sendiri. Pernah dengar merek Lea, Polygon, Polytron, Tomkins, Bucherri, Excelso, Casablanca dan CFC (California Fried Chicken)? Tahukah Anda kalau produk-produk yang saya sebutkan itu adalah produk asli Indonesia? Keren kan? 🙂
Sumber
Sumber

Dan masih banyak lagi hal kecil lainnya yang bisa kita lakukan untuk negeri ini. Nggak perlu lah kita ngajak Amerika perang atau tiba-tiba kita menyerang Malaysia untuk menunjukkan rasa cinta kita pada bangsa ini. Mulai dari diri sendiri saja lalu mulai dari hal-hal kecil di sekitar kita. Yang pelajar, mulai belajar yang rajin, kurangi tawuran. Yang Mahasiswa mulai inovatif dan mandiri, kurangi demo dan pacarannya. Yang sudah bekerja, selalu disiplin dalam segal hal, jangan gampang ngeluh atau putus asa. Yang duduk di pemerintahan, jangan sampai terlena apalagi sampai khilaf, jabatan nggak dibawa mati, amalan semasa hidup yang kita bawa. Dan yang hidup, jangan patah semangat, mari kita berjuang untuk para pahlawan yang sudah meninggalkan kita untuk selama-lamanya. Jangan sampai perjuangan mereka menjadi sia-sia hanya karena kita menjadi generasi patah hati yang pesimis akan nasib bangsa kita di masa depan.

Oh iya, satu lagi. Untuk mas-mas dan mbak-mbak jurnalis yang hobi menulis berita tentang kebobrokan bangsa ini. Coba deh cari berita lain yang lebih memotivasi, seperti prestasi-prestasi anak muda Indonesia, atau program-program pemerintah yang sudah berhasil, untuk mengimbangi berita-berita nggak enak yang beredar. Jangan malah ikut-ikutan jadi penyebab munculnya generasi patah hati. Bisa terjun bebas negara kita, naudzubillahi min dzaliik…

 

Inilah Negaramu. Hargai kekayaan alamnya, hargai sumberdaya alamnya, hargai sejarah dan romantisme masa lalunya sebagai sebuah warisan suci, untuk anak dan cucumu. Jangan biarkan manusia-manusia egois dan serakah menguasai negaramu, menguliti kecantikannya, kekayaannya atau keromantisannya.
– Theodore Roosevelt –

 

 

Tulisan ini disponsori event :

novemberngeblog

Posted in Blog, Uncategorized

Nostalgia Nostalgila

Sebelumnya saya mau mengucapkan selamat hari raya Idul Adha buat teman-teman yang merayakan. Semoga pengorbanan dan keikhlasan kita diberkahi dan menjadi tabungan amal untuk di akhirat nanti. Aamiin.

Hari ini saya masih libur, kebijakan Yayasan tempat saya bernaung. Seneng sih, karena libur saya sedikit lebih panjang daripada orang lain. Tapi percuma juga, karena cuma saya yang libur di rumah, yang lain sudah kembali ke aktifitasnya masing-masing. Alhasil dari senin lalu saya sukses menyandang gelar babu paling rajin se-Malang raya, karena rajinnya saya membersihkan rumah dengan total demi mengisi liburan yang kelewat panjang dan membosankan ini, hehe..

Pagi ini, saya yang lagi nganggur karena semua kerjaan rumah sudah beres akhirnya terpaksa melihat TV dan acara pagi harinya yang rata-rata seragam. Yang sedang menayangkan infotainment, temanya hampir sama, mereka memberitakan para artis yang berkurban atau aktivitas Shalat Ied-nya yang tetap tidak lepas dari kamera. Yang menayangkan berita, hampir semua isinya tentang Akil Muchtar atau U-19. Yang menayangkan sinetron juga, isinya azab, perselingkuhan, dan kekejaman semua. Membosankan.

Setelah beberapa menit olahraga jempol pakai remot, akhirnya saya menemukan salah satu stasiun TV yang sedang menayangkan sebuah video klip dari sebuah boyband tahun 90-an yang sudah lama tidak saya lihat. Televisi tersebut menayangkan video klip lagu All Rise-nya Blue (Btw, sudah bubarkah boyband ini saudara-saudara?). Entah kenapa, lagu tersebut seperti mengingatkan saya lagi pada masa-masa muda saya dulu (iya, saya akui saya sudah tua, hiks…). Setelah melihat video klip tersebut, saya langsung membongkar folder-folder musik lagu barat yang sudah lama tidak saya buka. Jujur saja, beberapa tahun belakangan saya sedang terbawa arus Korean Wave dan lebih sering mengikuti perkembangan musik Negeri Ginseng tersebut daripada musik pribumi atau barat. Jadi, ada beberapa folder musik di laptop saya yang punya banyak sarang laba-laba di sana sini, hehe. Dari folder yang sudah lama tidak saya buka tersebut, saya kembali memainkan lagu-lagu lawas yang sering saya dengar jaman dulu. Dan lagi-lagi, lagu-lagu itu mengantarkan saya pada beberapa kejadian yang dulu pernah saya alami. Seperti mesin waktu, lagu-lagu tersebut seolah-olah membawa saya lagi ke masa lalu saya yang manis, yang hampir saya lupakan karena terlalu pahitnya dunia nyata begitu saya lulus kuliah ini (curhat ceritanya, hehe). Mungkin ini ya yang disebut nostalgia.

Partners in Crime Jaman Kuliah..
Partners in Crime Jaman Kuliah..

Ngomong-ngomong soal nostalgia, beberapa hari lalu saya ketemu teman-teman SMA saya. Bukan reuni, karena kami masih rutin bertemu setiap ada kesempatan, meskipun, ya, seiring berjalannya waktu, peserta pertemuan ini tidak seramai dahulu. Pertemuan kami kali ini dalam rangka menjenguk salah satu teman yang baru saja melahirkan sekaligus merayakan hilangnya masa lajang seorang teman lain yang baru saja menikah bulan lalu. Setiap bertemu mereka saya selalu ingat umur saya yang tak muda lagi, tapi entah kenapa, pertemuan kami selalu memberikan energi yang membahagiakan bagi saya. Mungkin karena setiap bertemu teman-teman saya itu, saya seperti dibawa untuk mengingat kembali kejadian-kejadian lucu jaman kami sekolah dulu. Kadang saya suka diam mendengarkan mereka ngobrol panjang lebar soal masa SMA kami dan berfikir betapa cepatnya waktu berlalu. Sepertinya baru kemarin kami ketawa-ketiwi di lapangan sekolah menunggu guru Olahraga kami yang killer-nya tujuh turunan, atau ketika kami duduk-duduk di lorong kelas menunggu hujan reda sambil membicarakan tentang kegiatan kami hari itu, dan tiba-tiba saja kami kini sudah jadi manusia dewasa dengan perubahan kami masing-masing. Ada si tomboy yang kini sudah punya anak balita. Si cantik yang akhirnya melepas masa lajangnya setelah berulang kali gagal dalam percintaan. Si Imut yang tetap berwajah imut meskipun sekarang sudah memiliki bayi yang nggak kalah imut. Si cuek yang sekarang malah jadi perempuan paling nurut sama suaminya dibanding yang lain. Si jangkung banyak omong yang sudah jarang ngomong lagi. Si gugup yang hobi demam panggung dan kini justru menjadi guru yang setiap hari konser di depan murid-muridnya. Sampai si kutu buku yang kini justru jadi Don Juan keren ahli fotografi. Sedangkan saya, hemm.. Saya rasa saya tetap seperti dahulu, tetap ceroboh dan bodoh, hehe..

Muka-Muka Jadul Penuh Dosa, haha.. Miss you reekk.. :)
Muka-Muka Jadul Penuh Dosa, haha.. Miss you rek.. 🙂

Sebenarnya saya bukan tipe orang yang hobi “nengok” ke belakang, mengingat-ingat atau meratapi kejadian yang sudah berlalu. Tapi, kadang saya merindukan masa-masa yang sudah berlalu itu. Saya jadi ingat salah satu kutipan dari Oscar Wilde tentang masa lalu,

No man is rich enough to buy back his past

Saya berfikir hal yang sama dengan Om Wilde, masa lalu itu mahal harganya, dan nggak ada satu orang pun yang mampu membeli masa lalunya, meskipun masa lalu tidak semuanya manis sih, ada yang asem bahkan pahit juga. Tapi kalau saya pribadi, lebih senang mengenang yang manis dan dijadikan penyemangat, sedangkan yang pahit dijadikan guru dan pelajaran, agar kita tidak jatuh di lubang yang sama dua kali. Dan, bagaimanapun masa lalu kita, sepahit atau semanis apapun itu, nggak ada salahnya kan kalau sekali-kali kita mengingatnya, bukankah kita yang sekarang lahir karena adanya masa lalu kita? 🙂

Oh iya, waktu nulis ini saya ditemani lagu-lagu nya Westlife. Yah, meskipun boyband keren itu sudah “almarhum” tapi lagu-lagunya nggak habis dimakan jaman. Ini lho bedanya musik yang berkualitas, sama yang, ehemm.. itu deh.. hehe