Melawan Lupa

Jumpa lagi…
Jumpa Vani kembali…
ya di sini…
Jumpa Vani kembali…

(dibaca dengan nada lagunya Maisy. Anak tahun 90an pasti tahu banget deh sama Kakak Maisy Ci Luk Ba yang mmmuuuuaaahhh itu, hehe)

Akhir-akhir ini kita pasti sering mendengar kalimat yang saya jadikan judul di atas. Entah itu dalam bentuk meme atau ocehan-ocehan di media sosial. Kalimat di atas sering kita jumpai digunakan untuk mengkritisi kinerja Bapak Presiden dan para pejabat pemerintah kita yang terhormat. Tujuannya untuk mengingatkan pemimpin kita sama janji-janji mereka dulu waktu kampanye, yang agak sedikit dilupakan (sedikit lho ya, gak banyak, Bapak-Bapak itu pasti ingatlah sama janji mereka, hehe). Tapi tulisan saya ini bukan untuk mengkritisi pemerintah kita kok. Tulisan ini untuk mengkritisi saya sendiri, hehe…

Semua orang yang kenal baik sama saya pasti tahu betapa “pelupa” adalah salah satu sifat saya yang banyak merugikan orang dan diri saya sendiri. Dan parahnya, penyakit pikun saya ini nggak serta merta datang waktu umur saya menjelang 30 tahun ini. Dari jaman masih ABG saya sudah mengidap penyakit konyol nan menyebalkan ini. Nah, sesuai dengan judul tulisan saya, akhir-akhir ini saya sedang berusaha menghilangkan imej tukang pikun yang sudah saya sandang selama bertahun-tahun..

Ada beberapa kejadian aneh bin ajaib yang saya alami gara-gara penyakit lupa saya ini. Pernah waktu Aliyah (SMA) saya marah sama teman-teman saya karena menyembunyikan kaca mata saya. Isi tas sudah saya bongkar, laci meja sendiri sampai laci meja teman sebangku sudah saya geledah tapi kaca mata tersebut tidak juga saya temukan. Saya sampai capek sendiri. Sampai akhirnya teman saya bingung kenapa saya marah-marah sambil bongkar-bongkar tas, waktu saya bilang saya lagi cari kacamata, dengan muka bingung dan melongo sambil menunjuk muka saya dia bilang, “Nah, yang kamu pake itu apa?”
Yak benar saudara-saudara. Kacamata yang saya cari-cari itu ternyata dari tadi sudah saya pakai. Kurang absurd apa coba. Separah itu pikun saya. Saya juga pernah cari-cari helm yang sudah saya pakai (iya, saking pikunnya saya nggak kerasa udah pake helm seberat itu), cari kunci yang sudah saya pegang, lupa taruh motor dan naik motor orang di parkiran gara-gara warnanya sama kayak motor saya, sampai saya lupa harus nurunin Ibu saya di mana. Soal nurunin ibu saya ceritanya begini, jadi Ibu saya minta saya untuk mengantar beliau ke kantor Ayah saya karena ada rapat Dharma Wanita, bukannya saya antar ke kantor Ayah, saya malah nurunin Ibu saya di depan sekolah adik saya yang kebetulan ada di samping kantor Ayah, waktu itu saya ingetnya lagi bawa adik saya, bukan Ibu saya. Dan Ibu saya cuma bisa geleng-geleng kepala lihat kelakuan anak gadisnya yang sudah mulai nyicil pikun ini.

ID-1001447831

Menurut berbagai sumber terpercaya (dari Google lebih tepatnya), ada beberapa hal yang membuat seseorang pikun, faktor utamanya umur, bisa juga karena kurang olahraga, kurang asupan gizi untuk otak, stres atau depresi, kurang mengasah otak, kurang tidur, dan mengkonsumsi alkohol dan narkoba.Dalam kasus saya mungkin penyebabnya adalah kurang olahraga, kurang mengasah otak dan stres atau depresi. Walaupun kelihatannya sehat, cerdas dan ceria, saya ini tipe orang yang mudah stres. Kalau sudah kena masalah, daripada menceritakan dan membaginya ke orang lain, saya simpan sendiri masalah itu sampai stres sendiri. Saya juga tipe orang yang super duper malas olahraga, bahkan untuk sekedar jalan kaki ke warung terdekat pun malasnya ampun-ampunan. Kalau soal mengasah otak, jangan ditanya lagi. Saya mending asah pisau daripada asah otak. Hehe..

Mungkin hal-hal tersebut yang menyebabkan penyakit lupa saya tak kunjung menghilang. Sampai-sampai teman saya pernah menyarankan saya untuk mulai minum multivitamin otak untuk mengurangi kadar kepikunan saya. Sebenarnya saya sudah mulai melakukan beberapa hal untuk melawan penyakit lupa ini. Seperti misalnya, saya selalu menyimpan barang-barang di tempatnya masing-masing, sehingga mudah ditemukan. Saya selalu mencatat hal-hal yang akan saya lakukan hari ini, atau barang yang akan saya beli. Saya juga sering latihan menghitung uang tanpa kalkulator, mengingat tanggal-tanggal dan nomor-nomor telepon yang penting tanpa melihat catatan. Setiap pagi saya bangun lebih pagi dari alarm ponsel saya dan mulai menghafal surat-surat pendek di Al Quran.

Sedikit banyak hal-hal tersebut mengurangi kepikunan saya walaupun tidak serta merta melenyapkannya. Kayaknya otak saya bekerja di luar kendali saya, dia memilih apa yang ingin dia ingat dan apa yang ingin dilupakan. Lucunya yang harus diingat malah dilupakan, yang gak seharusnya diingat malah disimpan.. 😀

Kalau menurut berbagai sumber terpercaya (mbah Google lagi), ada beberapa tips agar kita tidak mudah lupa, yaitu:

  • Aktif secara mental.
    Mungkin maksudnya adalah mengasah otak. Seperti membaca buku, mengisi TTS, main catur, membaca buku atau mengerjakan sesuatu yang membuat kita mengoptimalkan fungsi otak kita.
  • Rutin bersosialisasi.
    Dengan rutin bersosialisasi mungkin akan membantu kita untuk lebih terbuka dengan sekitar dan mengurangi stres dengan cara berbagi dan berkomunikasi dengan orang-orang di sekeliling kita
  • Jadilah terorganisasi.
    Hal ini sama dengan yang sudah saya lakukan. Menyimpan barang di tempat yang sama, mencatat berbagai hal yang mudah kita lupa, dan menata barang-barang sesuai urutan agar mudah kita ingat.
  • Tidur yang cukup.
    Kalau soal ini saya jagonya. Saya hobi tidur. Jadi di antara semua tips, tips yang satu ini mungkin yang paling mudah saya lakukan. Tidurlah paling tidak 7 jam sehari agar otak kita cukup beristirahat dan kembali optimal saat bangun nanti.
  • Olahraga Secara Rutin.
    Olahraga secara rutin akan membuat aliran darah dan oksigen menuju otak lancar. Katanya, suplai oksigen yang cukup ke otak akan membantu mengoptimalkan fungsi otak dan membantu pertumbuhan sel-sel baru dalam otak

Sepertinya selain yang sudah saya lakukan, saya juga harus mulai mengikuti tips-tips yang saya tulis ulang di atas. Bayangan kalau tua nanti saya tiba-tiba nyasar dan nggak bisa pulang ke rumah sendiri selalu membuat saya takut. Saya nggak kebayang kalau masih umur segini saya udah pikun bagaimana waktu tua nanti. Saya nggak mau jadi pikun seumur hidup. Dan semoga setelah tulisan ini penyakit lupa saya sedikit demi sedikit berkurang dan semakin membaik. Biar nantinya nggak lupa lagi kalau punya blog yang harus selalu diisi, ngakunya blogger tapi jarang ngeblog, hehe..

Aamiin Allahumma Aamiin… 🙂

Mau Pilih yang Mana?

Iya. Tulisan ini tentang pemilu. jangan bosen ya, walaupun sebenarnya saya sendiri juga bosen karena sudah beberapa hari ini setiap blogwalking, artikel yang saya baca isinya tentang pemilu semua. Tapi, sekali-sekali ikut arus boleh dong? Karena memang pemilu hal yang paling relevan untuk dibahas saat ini. Menurut saya sih, menurut kamu? 🙂

Pemilu kali ini pemilu ke dua saya. Jadi, sudah 2 kali saya memilih wakil rakyat dan calon presiden. Pemilu lalu saya absen memilih caleg, karena saya merasa tidak ada satupun foto caleg yang terpampang yang saya kenal. Walaupun beberapa wajah terlihat familiar karena poster wajah mereka tersebar di sepanjang jalan, tapi saya nggak kenal mereka dan tidak tahu visi dan misi mereka. Daripada saya nyesel memilih orang yang nggak saya kenal, saya memilih untuk golput, hehe. Walaupun saya tidak memilih wakil rakyat, waktu itu saya tetap memilih capres. Meskipun capres yang saya pilih tidak menang, paling tidak saya puas dengan pilihan saya, karena saat itu saya sering membaca visi misi beliau dan opini-opini yang beliau kemukakan di televisi. Untuk pemilu kali ini saya galau, antara memilih atau golput. Karena jujur, saya skeptis sama semua calon wakil rakyat dan calon presiden yang ada. Walaupun saya belum tahu visi dan misi para caleg itu, tapi banyak hal yang membuat rasa simpati saya hilang terhadap mereka. Mulai dari pemasangan alat peraga kampanye dan poster yang tidak memperdulikan tata kota dan lingkungan sampai kampanye-kampanye licik yang berbau hura-hura atau keagamaan yang ujung-ujungnya duit juga. Ibarat makan buah simalakama, kalau saya memilih dan calon tersebut menang, lalu ketika menjadi anggota DPR dia terlibat korupsi, saya bakal menyesal tujuh turunan karena memilih orang yang menjadi salah satu penyebab hancurnya negara saya. Sedangkan kalau saya memilih untuk tidak memilih alias golput, saya juga menyesal kalau nantinya calon yang terpilih ternyata tidak amanah, karena suara saya yang berharga tidak saya gunakan untuk memilih calon lain yang lebih amanah. Repot kan?

Pada pilkada yang diadakan di kota saya tahun lalu pun saya mengalami kebingungan yang sama. Walaupun salah satu calon adalah tetangga saya sendiri, tapi karena beda RW, saya juga nggak terlalu mengenal beliau. Setelah mendengar peran beliau terhadap lingkungan di sekitar tempat tinggal kami dari mulut Ayah saya sendiri. Saya akhirnya menetapkan hati dan memilih beliau. Semoga pilihan saya tepat, karena akhir-akhir ini saya merasa beliau terlalu peduli pada partainya daripada warganya, apa karena musim kampanye ya? Wallahu a’lam. Dan, pada pilkada tahun lalu, saya sempat dibuat mikir oleh pendapat teman saya yang kebetulan terpaksa memilih golput karena tidak sempat ke TPS akibat kesibukannya (alasan konyol memang, hehe). Katanya,
” Aku pasrah ae wis, sopo sing menang wis ditakdirne Allah dadi walikota.” Yang artinya, saya pasrah saja, siapa yang menang sudah takdirnya jadi walikota. Waktu itu saya sempat ketawa, tapi setelah saya pikir baik-baik, ada benarnya juga. Selain faktor usaha seperti kampanye, dan doa. Para calon pemimpin kita juga harus punya faktor penentu kemenangan lainnya, yaitu takdir. Mau kampanye semahal apapun atau sampai harus menjual jiwa ke iblis kayak di film-filmnya tante Suzanna. Kalau belum takdirnya jadi pemimpin ya nggak akan jadi pemimpin. Dan pola pikir itu terus saya pakai sebagai pembenaran atas sikap golput saya tahun ini.

Sampai kemarin, nggak sengaja saya baca tulisan tentang takdir ini. Dalam tulisan tersebut dijelaskan bahwa takdir bukanlah jalan cerita yang tidak bisa diubah. Ada faktor usaha dan doa di dalamnya. Kalau dikaitkan dengan pemilu. Ada faktor pemilih untuk memilih para pemimpin tersebut agar memenangkan kursi pemerintahan. Jadi, kalau saya memilih pasrah dan tidak memilih, maka jalan hidup seseorang akan berubah karena pilihan saya itu. Misalnya, seharusnya karena pilihan saya, seseorang baik hati menjadi caleg, tetapi karena saya golput, calon lain yang tak baik hati malah yang menang. Atau sebaliknya. Karena tulisan itu saya jadi kepikiran, dan galaulah saya. Apa tahun ini saya harus memilih atau tetap setia pada kegolputan saya? Ada yang bilang, kalau bingung harus memilih siapa, tanyakan pada hati nurani kita (bukan nama partai loh ya, hehe). Tapi, saya nggak pernah percaya sama hati. Hati saya busuk sih, banyak nodanya, hehe. Dan, menurut saya, satu-satunya tempat bertanya terbaik adalah Allah. Sebagaimana firman Allah dalam Surat Al-Anfal ayat 49 yang artinya,

“…Sesungguhnya orang-orang yang menyerahkan segala urusan mereka kepada Allah dengan penuh keimanan dan harapan, serta menyandarkan diri hanya kepada Allah, niscaya Dia akan mencukupkan segala kebutuhan dan memenangkan atas musuh-musuh mereka. Sesungguhnya Allah Mahakuat kekuasaan-Nya dan Mahabijaksana dalam pemeliharaan-Nya.”

Saya pribadi sih percaya sama janji Allah. Lagian, masalah memilih wakil rakyat buat saya bukanlah hal yang sepele kan? Karena menyangkut masa depan ratusan juta rakyat Indonesia. Jadi nggak ada salahnya kan kalau sebelum memilih kita berdoa dulu, kalau perlu shalat istikharah juga. Istikharah bukan untuk memilih jodoh saja, memilih wakil rakyat juga bisa pakai istikharah jika memang diperlukan. Saya juga sepertinya akan berdoa dulu sebelum berangkat ke TPS tanggal 9 April nanti. Kalaupun tidak ada satupun caleg yang pas di hati saya, saya tetap akan mencoblos gambar partainya. Karena menurut sumber terpercaya, suara yang masuk jika kita mencoblos partai, akan dibagi rata untuk caleg-caleg dengan suara terendah, pasrah sama kebijakan partai istilahnya.

Memilih untuk tidak memilih alias golput memang pilihan, dan hak setiap individu, tapi buat saya itu bukanlah solusi. Bagaimanapun, kita harus menggunakan hak suara yang kita miliki untuk memenuhi kewajiban kita pada negara, karena sekecil apapun itu, sebagai warga negara yang baik kita harus memberikan kontribusi yang berarti untuk negara tercinta, selain bayar pajak tentunya, hehe

Dan kemarin, saya nemu status yang agak mencerahkan nih di timeline FB saya,

“Sebisa mungkin jgn golput ya (^D^ ) Kalo dia nantinya lupa akan visi & misinya, itu urusan dia dg Tuhan. Intinya pergunakan hak kita dg baik”

Wallahu a’lam. Last but not least, say no to golput. Gunakan hak pilih kita dengan baik, demi masa depan bangsa.. 🙂 (Sebagai informasi, saya bukan duta KPU ya, cuma anaknya KPPS Kecamatan, hehe)

Sedikit Demi Sedikit Lama-Lama Menjadi Bukit

Pernah dengar pepatah di atas? Kalau nggak pernah dengar, kebangetan deh, hehe. Kita semua yang lahir dan besar di bumi Indonesia tercinta ini pasti sering atau paling tidak, pernah mendengar pepatah tersebut sejak kita masih anak-anak. Kata orang, anak-anak itu seperti spon, mereka mudah menyerap apa yang mereka lihat dan dengar. Mungkin karena itu juga sejak kecil kita sudah mendengar pepatah di atas dari para orang tua dan guru kita. Harapannya, kalau kita besar nanti kita akan jadi manusia yang hemat dan rajin menabung. Pertanyaannya, apakah harapan orang tua dan guru-guru kita sudah kita wujudkan?

Dalam kasus saya, hemmm… agak gagal sepertinya, hehe. Untuk dibilang boros, menurut saya, saya tidak terlalu boros juga. Malah aya kadang suka mikir lama di depan rak barang di supermarket hanya karena membandingkan berapa banyak isi dan seberapa murah harga sebuah barang yang ingin saya beli. Misalnya, walaupun biasanya saya memakai produk sampo A, ketika belanja saya bisa saja membeli produk sampo B hanya karena isinya lebih banyak dibanding A yang berharga sama, atau ada selisih harga yang meskipun tipis menurut saya ttetap berarti di antara kedua sampo tersebut. Lebih ke pelit sebenarnya ya? hehe. Jangan salahkan saya, ini hasil didikan Ibu saya. Tapi, untuk dibilang hemat, saya juga tidak masuk kategori tersebut. Karena saya sering sekali membeli barang hanya karena tergiur diskon padahal saya tidak benar-benar membutuhkannya. Dan seringkali, setiap sepulang belanja saya selalu menekuri kebodohan saya, walaupun suatu saat nanti hal itu saya lakukan lagi. Maklum, manusia, kapoknya kapok sambal, hehe. Meskipun hemat tidak, boros pun tidak, saya tetap orang yang paling tidak bisa membiarkan uang nganggur lama-lama di dompet saya apalagi kalau harus ditabung. Padahal waktu kecil, Ibu saya sering membelikan saya celengan. Tapi, celengan tersebut tidak pernah bertahan lama, 2 atau 3 bulan selanjutnya saya selalu punya alasan untuk memecah atau membelah celengan-celengan saya.

Kebiasaan malas menabung ini saya lalui selama hampir 24 tahun kehidupan saya. Sampai tahun lalu saya mengalami hal yang membuat saya mengerti betapa pentingnya memiliki tabungan. Saya mengalami kecelakaan lalu lintas, walaupun bukan saya yang terluka, tetapi orang tua saya harus mengeluarkan banyak uang karena peristiwa kecelakaan tersebut. Waktu itu saya menyesal, kenapa uang-uang yang pernah saya dapat sejak dulu tidak pernah sekalipun saya tabungkan, kalau saya ada tabungan, meskipun sedikit, paling tidak saya bisa bantu orang tua saya. Yang membuat saya bersyukur sekaligus terharu, meskipun saya tidak pernah menyimpan uang, ternyata diam-diam Ibu saya menyisihkan sebagian uang belanjanya dan disimpan secara khusus untuk biaya pernikahan saya kelak. Dan, uang itulah yang digunakan untuk menutup biaya kecelakaan dan peristiwa-peristiwa pahit yang mengikutinya. Sejak itu saya sadar betapa pentingnya memiliki tabungan. Walaupun agak terlambat, saya pun mulai menabung tahun lalu. Sebenarnya saya sudah lama memiliki sebuah rekening di Bank. Tapi, karena ada ATM nya, fungsi rekening itu tak ubahnya seperti dompet untuk saya. Uang yang ada di dalamnya jarang menginap lebih dari 1 bulan, hehe. Jadi, saya memilih menabung dengan cara kuno, yaitu memakai celengan, dan ikut koperasi. Dan selama setahun belakangan, saya benar-benar merasakan manfaat memiliki tabungan. Prioritas hidup saya lebih terarah, dan saya pun lebih bijak dalam menggunakan uang yang saya dapatkan. Yah, hitung-hitung mempersiapkan bekal menghadapi hari tua.

Kalau dikasih tua sih, kalau besok mati gimana?
Kebetulan nggak sengaja saya baca kutipan yang menurut saya cukup menohok di bawah ini,

Pertanyaan lagi nih, sudah siapkah bekal untuk akhirat kita nanti?

Kalau pertanyaan ini saya tanyakan ke diri saya sendiri, jawabannya pasti masih di awang-awang. Mana pede saya dengan bekal sesedikit ini menghadap Allah dan mempertanggung jawabkan kinerja saya sebagai manusia di hadapan Nya. Tapi maut bukan kita yang tentukan, siap tidak siap, suka tidak suka, kita harus punya bekal untuk menghadapi Allah di akhirat nanti. Menabung di dunia memang penting, tetapi yang paling penting adalah menabung untuk bekal kita di akhirat nanti. Caranya? Ya, seperti yang bisa kita baca dari kutipan di atas, yaitu dengan beramal dan beribadah. Kelihatannya sepele ya? Tapi kedua itu belum tentu bisa kita lakukan sepenuhnya. Saya sendiri, jujur saja suka mikir panjang kalau mau sedekah. Bahkan mikir untuk beli komik aja lebih cepat daripada mikir untuk sedekah atau tidak. Don’t try this at home ya pemirsa, sifat kikir itu namanya, hehe.

Narsis Sebelum Berangkat

Sebagai guru TK yang baik, sudah menjadi kewajiban saya untuk mengenalkan aktivitas menabung dan sedekah sejak dini kepada anak didik saya. Harapannya sih, jangan sampai gedenya kayak saya, pelit dan kikir. Dan kebetulan hari ini, sekolah saya mengadakan kegiatan bakti sosial ke sebuah panti asuhan untuk mengenalkan pentingnya menyisihkan uang kita untuk orang-orang yang lebih membutuhkan  ke anak-anak. Apalagi beberapa hari lalu kota tetangga saya ikut terkena dampak bencana letusan Gunung Kelud. Jadi dalam bulan ini ada dua kegiatan bakti sosial yang mereka ikuti. Namanya anak-anak, kegiatan apapun, asal itu keluar sekolah pasti selalu menumbuhkan semangat lebih di dalam diri mereka. Dan sejak beberapa minggu lalu mereka nggak berhenti bertanya tentang kapan kami semua akan mengunjungi panti asuhan. Melihat antusiasme anak-anak, saya jadi malu, kenapa saya masih mikir panjang kalau mau bersedekah atau beramal.

مَّثَلُ الَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنبُلَةٍ مِّاْئَةُ حَبَّةٍ وَاللهُ يُضَاعِفُ لِمَن يَشَآءُ وَاللهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ {261}

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Mahaluas (karuniaNya) lagi Maha Mengetahui.” (Al-Baqarah; 261)

Padahal, dalam Al Quran dan hadits, Allah sudah menjanjikan banyak kebaikan pada orang-orang yang rajin beramal dan bersedekah. Tapi, kenapa ya, kok rasanya masih ada rasa enggan untuk mengeluarkan sedekah. Kalau mau dilihat secara ilmu ekonomi, uang yang kita sedekahkan sebenarnya nggak hilang. Suatu saat nanti uang itu akan kembali lagi pada kita, entah dalam bentuk pahala atau bentuk uang lagi, yang jelas Allah akan melipat gandakan uang kita lebih dari yang kita butuhkan. Kalah canggih deh Mbah-Mbah dukun yang hobi iklan di Majalah Posm* itu, hehe.

Tapi, itu kalau kita ikhlas beramalnya, kalau tidak? Wallahu’alam..

Kita pasti sering dengar tentang kisah-kisah keajaiban sedekah kan? Dari kisah-kisah tersebut saja sebenarnya kita bisa belajar. Salah satu yang saya lihat dan tahu sendiri adalah kisah tetangga saya yang kebetulan sekarang menjabat sebagai Walikota di kota saya. Jadi ceritanya, beliau terlahir dari keluarga miskin, sehingga sejak kecil beliau sudah terbiasa bekerja apa saja demi mendapat sesuap nasi. Suatu ketika beliau mencoba berbisnis tetes tebu yang jaman dulu belum begitu dimanfaatkan banyak orang. Karena keuletannya akhirnya perusahaan beliau menjadi salah satu perusahaan tetes tebu tersukses di kota saya. Sejak menjadi orang kaya dan berpunya, bukannya lupa, beliau malah hobi bersedekah. Dan wallahu’alam, meskipun se Malang Raya tahu sekaya apa beliau dan sesering apa beliau bersedekah, banyak orang yang heran bagaimana bisa beliau tetap kaya meskipun sedekahnya bisa samppai milyaran dalam sebulan. Dari kisah yang saya ceritakan saja kita bisa tahu, bahwa dengan bersedekah bukannya miskin, kita malah tambah kaya, entah itu kaya harta atau pahala. Yang jelas hidup kita akan terasa lebih bermakna.

Kesimpulannya. Entah itu untuk bekal di hari tua atau bekal untuk akhirat kita, mari mulai membangun bukit kita sedikit demi sedikit. Mulai tentukan prioritas, dan Insya Allah, dengan itu semua kita bisa jadi manusia yang sukses dunia dan akhiratnya, aamiin Allahumma aamiiin… 🙂