Ingat Mati

Kata orang Maut, Jodoh dan Rezeki adalah rahasia Allah yang telah ditentukan waktunya sejak sebelum kita dilahirkan. Kalau Jodoh dan Rezeki masih bisa diusahakan dan diubah, lain halnya dengan kematian, datangnya pasti dan tak bisa diubah, waktunya? Hanya Allah yang tahu, kapan waktunya ajal menjemput kita. Yang bisa kita lakukan hanyalah berdoa, agar saat kematian menjemput kita nantinya, kita sedang dalam keadaan yang baik, di tempat yang baik dan sedang melakukan hal yang baik, sehingga kita bisa dijemput dalam keadaan khusnul khotimah, dan meninggalkan kebaikan untuk orang-orang yang kita tinggalkan. Aamiin Allahumma aamiin…

Sebab saya membahas kematian adalah karena cerita dari salah seorang Bunda di sekolah yang tadi pagi saya dengar. Jadi, Bunda yang saya sebut sebelumnya ini, tidak biasanya pagi ini datang terlambat. Ketika saya bertanya kok tumben beliau datang terlambat, beliau bercerita bahwa salah seorang saudara sepupu suaminya yang kebetulan tinggal di Malang juga mendadak meninggal sebelum shalat Subuh. Penyebab kematiannya diduga akibat serangan jantung, padahal saudara Bunda tersebut tidak memiliki riwayat penyakit jantung sama sekali. Beliau ditemukan pingsan di kamar mandi oleh istrinya yang saat itu sedang menunggu suaminya untuk shalat Subuh berjamaah. Berhubung suaminya tak juga keluar dari kamar mandi, sang istri pun langsung membuka paksa pintu kamar mandi dan menemukan suaminya dalam keadaan tak sadarkan diri. Inna lillahi wa inna ilaihi raaji’un…

Siangnya, cerita ini kami bahas lagi setelah selesai mengajar. Kami semua tertegun. Terutama para Bunda yang sudah memiliki suami. Masing-masing mengkhawatirkan dan membayangkan jika kejadian tersebut menimpa mereka, ditinggal meninggal suami tiba-tiba, padahal tidak sakit dan tidak mengalami kecelakaan. Apalagi, Bunda yang saudaranya meninggal tadi bercerita anak istri almarhum yang ditinggalkan shock dan terguncang atas kepergian almarhum yang tiba-tiba tersebut. Saya yang mendengar cerita tersebut ikut terharu dan merinding, merinding dalam artian membayangkan seandainya saya berada di posisi keluarga almarhum yang ditinggalkan tiba-tiba tersebut. Saya nggak tahu apa saya bisa melewati itu, walaupun sebelumnya saya pernah dihadapkan pada sebuah kejadian yang serupa tapi bedanya saya yang menjadi perantara malaikat maut (suatu saat nanti, kisah ini akan saya ceritakan di blog kalau saya sudah siap mental). Tapi tetap saja, setiap kematian pasti meninggalkan keharuan dan kesedihan pada kisahnya. Pun dari cerita kematian almarhum saudara salah satu Bunda di sekolah tempat saya mengajar ini, dari cerita ini kami kembali menyadari betapa pentingnya posisi keluarga kami yang ketiadaannya akan menciptakan lubang di hati kami masing-masing.

Datangnya maut seseorang di sekitar kita sebenarnya adalah pembelajaran dari Allah untuk orang-orang yang masih hidup di sekitarnya? Lho kok bisa? Iya, dari kematian seseorang kita tahu, bahwa maut tidak bisa kita prediksi datangnya, begitu waktunya tiba, sampai ke lubang semut pun kita tak mampu menghindarinya. Saya jadi kepikiran, sedang apakah saya saat kematian menjemput saya nanti, apakah saya dalam keadaan khusnul khotimah, dan apa saja yang sudah saya berikan pada orang-orang di sekitar saya sebelum kematian menjemput saya? Apakah saya meninggalkan manfaat, atau malah aib? Apa yang akan saya alami setelah orang-orang meninggalkan saya sendirian berkalang tanah? Tanpa lampu, dan tanpa apapun. Apa saya mampu menjawab pertanyaan Munkar dan Nakir? Entah kenapa pertanyaan-pertanyaan tersebut senantiasa muncul setiap saya mendengar berita kematian seseorang.

Sebenarnya pertanyaan tersebut tidak akan muncul jika seseorang siap menghadapi kematian. Berarti saya belum siap dong? Iya, betul, saya belum siap mati, karena setelah saya hitung-hitung, dosa saya masih lebih banyak daripada kebaikan yang sudah saya lakukan, hehe. Lalu, apa yang harus kita lakukan agar kita siap menghadapi kematian yang setiap saat bisa tiba-tiba datang menjemput kita? Kalau pertanyaan ini boleh saya jawab, jawabannya cuma satu, jangan takut pada kematian, tapi takutlah pada Allah yang memiliki kematian itu. Kalau kita takut pada Allah, secara otomatis kita akan senantiasa melakukan semua hal yang diperintahkan oleh Allah dan menjauhi setiap hal yang dilarang Nya. Kalau itu semua sudah kita lakukan, maka hilanglah rasa takut kita pada kematian malah kita akan menyambut kematian dengan tangan terbuka dan penuh keihklasan. Itu kata saya, kalau kata orang lain yang lebih meyakinkan dari segi pengalaman dan keilmuan daripada saya (hehe) bagaimana? Izinkan saya mengutip penuh artikel yang saya baca di sini. Menurut artikel yang saya baca tersebut, ada 4 cara agar kita bisa ikhlas menjemput datangnya maut, yaitu :

1. Mempunyai bekal akhirat yang banyak
Inilah salah satu cara agar Anda bisa mudah menjemput kematian dengan ikhlas. Orang yang punya bekal, ia akan siap bila dijemput kapanpun, sebaliknya orang yang tak punya bekal dan persiapan, ia akan selalu mengalami rasa ketakutan. Oleh sebab itu, dunia merupakan ladang tempat bercocok tanam pahala dan amal perbuatan. Akhirat setelah kita mengalami kematian merupakan tempat kita memanen hasil dari apa yang sudah kita tanam tersebut.

2. Menyelesaikan segala urusan di dunia
Jangan banyak perkara dengan hubungan sesama manusia yang berdampak pada perbuatan dosa dan kemaksiatan, terlebih yang hubungannya dengan silaturahim, karena itu akan membuat Anda sulit menjemput kematian dengan ikhlas. Setiap kita dianjurkan untuk menjadi seorang pemaaf serta selalu membiasakan diri minta maaf atas kesalahan-kesalahan. Dengan demikian diharapkan saat ajal menjemput kita, ajal itu datang menjemput dengan mudah dan ikhlas, tanpa ada beban kesalahan dengan orang lain.

3. Meningkatkan keimanan dan ketakwaan
Kunci utama untuk bisa menjemput kematian dengan mudah adalah terletak pada kekuatan keimanan yang kita miliki kepada Allah dan Rasul-Nya. Keimanan yang kuat akan melahirkan sifat diri yang mantap dan selalu percaya bahwa Allah Sang Maha dari segala Maha. Kita hanya lah makhluk yang lemah dan selalu berada di bawah kehendak yang Maha Kuasa.

4. Memiliki keluarga yang sakinah
Anak yang shaleh serta keluarga yang memiliki nilai keimanan yang kuat akan membuat kita bisa menjemput kematian dengan ikhlas. Tak ada yang perlu kita khawatirkan jika telah meninggalkan anak-anak dan istri sholehah. Keluarga sakinah yang selalu menjaga nilai-nilai robbani perlu Anda bangun untuk kebahagiaan Anda, baik di dunia maupun akhirat. Inilah aset warisan paling berharga yang akan kita rasakan manfaatnya meskipun kita sudah meninggal.

Cara lain agar kita bisa menjemput kematian dengan keihlasan adalah dengan senantiasa mengingat kematian tersebut. Alkisah, suatu hari sahabat Umar bin Khattab duduk bersama Rasulullah SAW. Kemudian datanglah seorang sahabat Anshar. Seraya memberi salam ia berkata: “Wahai Rasulullah, mukmin yang seperti apa yang paling utama?”. Beliau menjawab:”Yang paling baik akhlaknya”. Sahabat itu bertanya lagi: “Mukmin seperti apakah yang paling cerdas?” Beliau menjawab: “Muslim yang paling cerdas adalah yang paling banyak mengingat kematian dan yang paling baik mempersiapkan diri untuk sesudah kematian itu, mereka itulah orang-orang yang cerdas” (diriwayatkan oleh Imam al-Qurtubi dalam al-Tadzkirah fi Ahwal al-Mauta wa Umuri al-Akhirah). Tujuan mengingat kematian adalah agar kita berfikir ulang ketika akan melakukan suatu hal yang nantinya justru akan mempersulit kita menjawab pertanyaan Munkar dan Nakir. Rasulullah SAW bersabda: “Perbanyaklah olehmu mengingat-ingat kepada sesuatu yang melenyapkan segala macam kelazatan, yaitu kematian.” (HR. Turmudzi). Menurut Imam al-Qurtubi, hadist Nabi SAW tersebut merupakan nasihat sekaligus peringatan. Bahwasanya mengingat mati itu perintah, sebab orang yang teringat kematian dengan sebenarnya pasti akan mengurangi sifat-sifat tamaknya terhadap dunia dan mencegah manusia berangan-angan yang tak berujung dan melakukan hal yang sia-sia. Wallahu a’lam bish shawwab.

Jadi, sudah siapkah kita menghadapi kematian? Kalau saya, belum. Hehe. Tapi setelah menulis dan memposting tulisan ini, saya harus siap dan harus menyiapkan diri. Karena bukan kematian yang menunggu kita, kitalah yang menunggu kematian.

“The fear of death follows from the fear of life. A man who lives fully is prepared to die at any time.”
(Mark Twain)

Advertisements

Mau Pilih yang Mana?

Iya. Tulisan ini tentang pemilu. jangan bosen ya, walaupun sebenarnya saya sendiri juga bosen karena sudah beberapa hari ini setiap blogwalking, artikel yang saya baca isinya tentang pemilu semua. Tapi, sekali-sekali ikut arus boleh dong? Karena memang pemilu hal yang paling relevan untuk dibahas saat ini. Menurut saya sih, menurut kamu? 🙂

Pemilu kali ini pemilu ke dua saya. Jadi, sudah 2 kali saya memilih wakil rakyat dan calon presiden. Pemilu lalu saya absen memilih caleg, karena saya merasa tidak ada satupun foto caleg yang terpampang yang saya kenal. Walaupun beberapa wajah terlihat familiar karena poster wajah mereka tersebar di sepanjang jalan, tapi saya nggak kenal mereka dan tidak tahu visi dan misi mereka. Daripada saya nyesel memilih orang yang nggak saya kenal, saya memilih untuk golput, hehe. Walaupun saya tidak memilih wakil rakyat, waktu itu saya tetap memilih capres. Meskipun capres yang saya pilih tidak menang, paling tidak saya puas dengan pilihan saya, karena saat itu saya sering membaca visi misi beliau dan opini-opini yang beliau kemukakan di televisi. Untuk pemilu kali ini saya galau, antara memilih atau golput. Karena jujur, saya skeptis sama semua calon wakil rakyat dan calon presiden yang ada. Walaupun saya belum tahu visi dan misi para caleg itu, tapi banyak hal yang membuat rasa simpati saya hilang terhadap mereka. Mulai dari pemasangan alat peraga kampanye dan poster yang tidak memperdulikan tata kota dan lingkungan sampai kampanye-kampanye licik yang berbau hura-hura atau keagamaan yang ujung-ujungnya duit juga. Ibarat makan buah simalakama, kalau saya memilih dan calon tersebut menang, lalu ketika menjadi anggota DPR dia terlibat korupsi, saya bakal menyesal tujuh turunan karena memilih orang yang menjadi salah satu penyebab hancurnya negara saya. Sedangkan kalau saya memilih untuk tidak memilih alias golput, saya juga menyesal kalau nantinya calon yang terpilih ternyata tidak amanah, karena suara saya yang berharga tidak saya gunakan untuk memilih calon lain yang lebih amanah. Repot kan?

Pada pilkada yang diadakan di kota saya tahun lalu pun saya mengalami kebingungan yang sama. Walaupun salah satu calon adalah tetangga saya sendiri, tapi karena beda RW, saya juga nggak terlalu mengenal beliau. Setelah mendengar peran beliau terhadap lingkungan di sekitar tempat tinggal kami dari mulut Ayah saya sendiri. Saya akhirnya menetapkan hati dan memilih beliau. Semoga pilihan saya tepat, karena akhir-akhir ini saya merasa beliau terlalu peduli pada partainya daripada warganya, apa karena musim kampanye ya? Wallahu a’lam. Dan, pada pilkada tahun lalu, saya sempat dibuat mikir oleh pendapat teman saya yang kebetulan terpaksa memilih golput karena tidak sempat ke TPS akibat kesibukannya (alasan konyol memang, hehe). Katanya,
” Aku pasrah ae wis, sopo sing menang wis ditakdirne Allah dadi walikota.” Yang artinya, saya pasrah saja, siapa yang menang sudah takdirnya jadi walikota. Waktu itu saya sempat ketawa, tapi setelah saya pikir baik-baik, ada benarnya juga. Selain faktor usaha seperti kampanye, dan doa. Para calon pemimpin kita juga harus punya faktor penentu kemenangan lainnya, yaitu takdir. Mau kampanye semahal apapun atau sampai harus menjual jiwa ke iblis kayak di film-filmnya tante Suzanna. Kalau belum takdirnya jadi pemimpin ya nggak akan jadi pemimpin. Dan pola pikir itu terus saya pakai sebagai pembenaran atas sikap golput saya tahun ini.

Sampai kemarin, nggak sengaja saya baca tulisan tentang takdir ini. Dalam tulisan tersebut dijelaskan bahwa takdir bukanlah jalan cerita yang tidak bisa diubah. Ada faktor usaha dan doa di dalamnya. Kalau dikaitkan dengan pemilu. Ada faktor pemilih untuk memilih para pemimpin tersebut agar memenangkan kursi pemerintahan. Jadi, kalau saya memilih pasrah dan tidak memilih, maka jalan hidup seseorang akan berubah karena pilihan saya itu. Misalnya, seharusnya karena pilihan saya, seseorang baik hati menjadi caleg, tetapi karena saya golput, calon lain yang tak baik hati malah yang menang. Atau sebaliknya. Karena tulisan itu saya jadi kepikiran, dan galaulah saya. Apa tahun ini saya harus memilih atau tetap setia pada kegolputan saya? Ada yang bilang, kalau bingung harus memilih siapa, tanyakan pada hati nurani kita (bukan nama partai loh ya, hehe). Tapi, saya nggak pernah percaya sama hati. Hati saya busuk sih, banyak nodanya, hehe. Dan, menurut saya, satu-satunya tempat bertanya terbaik adalah Allah. Sebagaimana firman Allah dalam Surat Al-Anfal ayat 49 yang artinya,

“…Sesungguhnya orang-orang yang menyerahkan segala urusan mereka kepada Allah dengan penuh keimanan dan harapan, serta menyandarkan diri hanya kepada Allah, niscaya Dia akan mencukupkan segala kebutuhan dan memenangkan atas musuh-musuh mereka. Sesungguhnya Allah Mahakuat kekuasaan-Nya dan Mahabijaksana dalam pemeliharaan-Nya.”

Saya pribadi sih percaya sama janji Allah. Lagian, masalah memilih wakil rakyat buat saya bukanlah hal yang sepele kan? Karena menyangkut masa depan ratusan juta rakyat Indonesia. Jadi nggak ada salahnya kan kalau sebelum memilih kita berdoa dulu, kalau perlu shalat istikharah juga. Istikharah bukan untuk memilih jodoh saja, memilih wakil rakyat juga bisa pakai istikharah jika memang diperlukan. Saya juga sepertinya akan berdoa dulu sebelum berangkat ke TPS tanggal 9 April nanti. Kalaupun tidak ada satupun caleg yang pas di hati saya, saya tetap akan mencoblos gambar partainya. Karena menurut sumber terpercaya, suara yang masuk jika kita mencoblos partai, akan dibagi rata untuk caleg-caleg dengan suara terendah, pasrah sama kebijakan partai istilahnya.

Memilih untuk tidak memilih alias golput memang pilihan, dan hak setiap individu, tapi buat saya itu bukanlah solusi. Bagaimanapun, kita harus menggunakan hak suara yang kita miliki untuk memenuhi kewajiban kita pada negara, karena sekecil apapun itu, sebagai warga negara yang baik kita harus memberikan kontribusi yang berarti untuk negara tercinta, selain bayar pajak tentunya, hehe

Dan kemarin, saya nemu status yang agak mencerahkan nih di timeline FB saya,

“Sebisa mungkin jgn golput ya (^D^ ) Kalo dia nantinya lupa akan visi & misinya, itu urusan dia dg Tuhan. Intinya pergunakan hak kita dg baik”

Wallahu a’lam. Last but not least, say no to golput. Gunakan hak pilih kita dengan baik, demi masa depan bangsa.. 🙂 (Sebagai informasi, saya bukan duta KPU ya, cuma anaknya KPPS Kecamatan, hehe)

Sedikit Demi Sedikit Lama-Lama Menjadi Bukit

Pernah dengar pepatah di atas? Kalau nggak pernah dengar, kebangetan deh, hehe. Kita semua yang lahir dan besar di bumi Indonesia tercinta ini pasti sering atau paling tidak, pernah mendengar pepatah tersebut sejak kita masih anak-anak. Kata orang, anak-anak itu seperti spon, mereka mudah menyerap apa yang mereka lihat dan dengar. Mungkin karena itu juga sejak kecil kita sudah mendengar pepatah di atas dari para orang tua dan guru kita. Harapannya, kalau kita besar nanti kita akan jadi manusia yang hemat dan rajin menabung. Pertanyaannya, apakah harapan orang tua dan guru-guru kita sudah kita wujudkan?

Dalam kasus saya, hemmm… agak gagal sepertinya, hehe. Untuk dibilang boros, menurut saya, saya tidak terlalu boros juga. Malah aya kadang suka mikir lama di depan rak barang di supermarket hanya karena membandingkan berapa banyak isi dan seberapa murah harga sebuah barang yang ingin saya beli. Misalnya, walaupun biasanya saya memakai produk sampo A, ketika belanja saya bisa saja membeli produk sampo B hanya karena isinya lebih banyak dibanding A yang berharga sama, atau ada selisih harga yang meskipun tipis menurut saya ttetap berarti di antara kedua sampo tersebut. Lebih ke pelit sebenarnya ya? hehe. Jangan salahkan saya, ini hasil didikan Ibu saya. Tapi, untuk dibilang hemat, saya juga tidak masuk kategori tersebut. Karena saya sering sekali membeli barang hanya karena tergiur diskon padahal saya tidak benar-benar membutuhkannya. Dan seringkali, setiap sepulang belanja saya selalu menekuri kebodohan saya, walaupun suatu saat nanti hal itu saya lakukan lagi. Maklum, manusia, kapoknya kapok sambal, hehe. Meskipun hemat tidak, boros pun tidak, saya tetap orang yang paling tidak bisa membiarkan uang nganggur lama-lama di dompet saya apalagi kalau harus ditabung. Padahal waktu kecil, Ibu saya sering membelikan saya celengan. Tapi, celengan tersebut tidak pernah bertahan lama, 2 atau 3 bulan selanjutnya saya selalu punya alasan untuk memecah atau membelah celengan-celengan saya.

Kebiasaan malas menabung ini saya lalui selama hampir 24 tahun kehidupan saya. Sampai tahun lalu saya mengalami hal yang membuat saya mengerti betapa pentingnya memiliki tabungan. Saya mengalami kecelakaan lalu lintas, walaupun bukan saya yang terluka, tetapi orang tua saya harus mengeluarkan banyak uang karena peristiwa kecelakaan tersebut. Waktu itu saya menyesal, kenapa uang-uang yang pernah saya dapat sejak dulu tidak pernah sekalipun saya tabungkan, kalau saya ada tabungan, meskipun sedikit, paling tidak saya bisa bantu orang tua saya. Yang membuat saya bersyukur sekaligus terharu, meskipun saya tidak pernah menyimpan uang, ternyata diam-diam Ibu saya menyisihkan sebagian uang belanjanya dan disimpan secara khusus untuk biaya pernikahan saya kelak. Dan, uang itulah yang digunakan untuk menutup biaya kecelakaan dan peristiwa-peristiwa pahit yang mengikutinya. Sejak itu saya sadar betapa pentingnya memiliki tabungan. Walaupun agak terlambat, saya pun mulai menabung tahun lalu. Sebenarnya saya sudah lama memiliki sebuah rekening di Bank. Tapi, karena ada ATM nya, fungsi rekening itu tak ubahnya seperti dompet untuk saya. Uang yang ada di dalamnya jarang menginap lebih dari 1 bulan, hehe. Jadi, saya memilih menabung dengan cara kuno, yaitu memakai celengan, dan ikut koperasi. Dan selama setahun belakangan, saya benar-benar merasakan manfaat memiliki tabungan. Prioritas hidup saya lebih terarah, dan saya pun lebih bijak dalam menggunakan uang yang saya dapatkan. Yah, hitung-hitung mempersiapkan bekal menghadapi hari tua.

Kalau dikasih tua sih, kalau besok mati gimana?
Kebetulan nggak sengaja saya baca kutipan yang menurut saya cukup menohok di bawah ini,

Pertanyaan lagi nih, sudah siapkah bekal untuk akhirat kita nanti?

Kalau pertanyaan ini saya tanyakan ke diri saya sendiri, jawabannya pasti masih di awang-awang. Mana pede saya dengan bekal sesedikit ini menghadap Allah dan mempertanggung jawabkan kinerja saya sebagai manusia di hadapan Nya. Tapi maut bukan kita yang tentukan, siap tidak siap, suka tidak suka, kita harus punya bekal untuk menghadapi Allah di akhirat nanti. Menabung di dunia memang penting, tetapi yang paling penting adalah menabung untuk bekal kita di akhirat nanti. Caranya? Ya, seperti yang bisa kita baca dari kutipan di atas, yaitu dengan beramal dan beribadah. Kelihatannya sepele ya? Tapi kedua itu belum tentu bisa kita lakukan sepenuhnya. Saya sendiri, jujur saja suka mikir panjang kalau mau sedekah. Bahkan mikir untuk beli komik aja lebih cepat daripada mikir untuk sedekah atau tidak. Don’t try this at home ya pemirsa, sifat kikir itu namanya, hehe.

Narsis Sebelum Berangkat

Sebagai guru TK yang baik, sudah menjadi kewajiban saya untuk mengenalkan aktivitas menabung dan sedekah sejak dini kepada anak didik saya. Harapannya sih, jangan sampai gedenya kayak saya, pelit dan kikir. Dan kebetulan hari ini, sekolah saya mengadakan kegiatan bakti sosial ke sebuah panti asuhan untuk mengenalkan pentingnya menyisihkan uang kita untuk orang-orang yang lebih membutuhkan  ke anak-anak. Apalagi beberapa hari lalu kota tetangga saya ikut terkena dampak bencana letusan Gunung Kelud. Jadi dalam bulan ini ada dua kegiatan bakti sosial yang mereka ikuti. Namanya anak-anak, kegiatan apapun, asal itu keluar sekolah pasti selalu menumbuhkan semangat lebih di dalam diri mereka. Dan sejak beberapa minggu lalu mereka nggak berhenti bertanya tentang kapan kami semua akan mengunjungi panti asuhan. Melihat antusiasme anak-anak, saya jadi malu, kenapa saya masih mikir panjang kalau mau bersedekah atau beramal.

مَّثَلُ الَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنبُلَةٍ مِّاْئَةُ حَبَّةٍ وَاللهُ يُضَاعِفُ لِمَن يَشَآءُ وَاللهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ {261}

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Mahaluas (karuniaNya) lagi Maha Mengetahui.” (Al-Baqarah; 261)

Padahal, dalam Al Quran dan hadits, Allah sudah menjanjikan banyak kebaikan pada orang-orang yang rajin beramal dan bersedekah. Tapi, kenapa ya, kok rasanya masih ada rasa enggan untuk mengeluarkan sedekah. Kalau mau dilihat secara ilmu ekonomi, uang yang kita sedekahkan sebenarnya nggak hilang. Suatu saat nanti uang itu akan kembali lagi pada kita, entah dalam bentuk pahala atau bentuk uang lagi, yang jelas Allah akan melipat gandakan uang kita lebih dari yang kita butuhkan. Kalah canggih deh Mbah-Mbah dukun yang hobi iklan di Majalah Posm* itu, hehe.

Tapi, itu kalau kita ikhlas beramalnya, kalau tidak? Wallahu’alam..

Kita pasti sering dengar tentang kisah-kisah keajaiban sedekah kan? Dari kisah-kisah tersebut saja sebenarnya kita bisa belajar. Salah satu yang saya lihat dan tahu sendiri adalah kisah tetangga saya yang kebetulan sekarang menjabat sebagai Walikota di kota saya. Jadi ceritanya, beliau terlahir dari keluarga miskin, sehingga sejak kecil beliau sudah terbiasa bekerja apa saja demi mendapat sesuap nasi. Suatu ketika beliau mencoba berbisnis tetes tebu yang jaman dulu belum begitu dimanfaatkan banyak orang. Karena keuletannya akhirnya perusahaan beliau menjadi salah satu perusahaan tetes tebu tersukses di kota saya. Sejak menjadi orang kaya dan berpunya, bukannya lupa, beliau malah hobi bersedekah. Dan wallahu’alam, meskipun se Malang Raya tahu sekaya apa beliau dan sesering apa beliau bersedekah, banyak orang yang heran bagaimana bisa beliau tetap kaya meskipun sedekahnya bisa samppai milyaran dalam sebulan. Dari kisah yang saya ceritakan saja kita bisa tahu, bahwa dengan bersedekah bukannya miskin, kita malah tambah kaya, entah itu kaya harta atau pahala. Yang jelas hidup kita akan terasa lebih bermakna.

Kesimpulannya. Entah itu untuk bekal di hari tua atau bekal untuk akhirat kita, mari mulai membangun bukit kita sedikit demi sedikit. Mulai tentukan prioritas, dan Insya Allah, dengan itu semua kita bisa jadi manusia yang sukses dunia dan akhiratnya, aamiin Allahumma aamiiin… 🙂