Posted in #NovemberNgeblog, Blog, Uncategorized

#Day 10 : Generasi Patah Hati

Selamat hari pahlawan Indonesia!

68 tahun lalu pada hari ini, terjadi pertempuran besar antara Indonesia dan Belanda yang pertama sejak kemerdekaan Indonesia diproklamasikan. Pada saat itu, tentara sekutu mengeluarkan ultimatum kepada rakyat Indonesia di Surabaya untuk menyerahkan diri dan sejata mereka pada sekutu paling lambat jam 06.00 pagi pada tanggal 10 November 1945 sebelum sekutu menghancurkan kota Surabaya. Ultimatum ini dikeluarkan Belanda sebagai bentuk kemarahan mereka atas kematian salah satu Jenderal mereka bernama A.W.S Mallaby karena pertempuran sebelumnya. Mendengar ini, bukannya gentar, masyarakat Indonesia justru marah dan merasa terhina. Pada 10 November pagi, tentara sekutu yang diboncengi Belanda pun melancarkan serangan yang diawali dengan meledakkan gedung-gedung pemerintahan di Surabaya lewat serangan udara, sebanyak 30.000 tentara, infanteri, tank, dan kapal terbang dikerahkan untuk meluluh lantakkan Surabaya. Rakyat yang geram kotanya diserang ikut bergabung bersama tentara, petani, buruh, santri dan para kyai untuk bersatu mempertahankan kota Surabaya. Perlawanan rakyat yang semula tak teratur, semakin lama semakin terkoordinasi di bawah kobaran semangat yang tak hentinya disuntikkan para tokoh muda seperti Bung Tomo dan para kyai seperti KH. Hasyim Asyari. Meskipun akhirnya Surabaya jatuh ke tangan sekutu, tetapi pertempuran yang semula diperkirakan hanya akan berlangsung selama 3 hari oleh tentara sekutu itu, ternyata menghabiskan waktu selama 3 minggu. Pertempuran besar ini sampai sekarang diperingati sebagai hari pahlawan untuk mengenang perjuangan para tentara, rakyat sipil, pemuda dan para santri yang tewas pada pertempuran tersebut.

Sumber
   Sumber

Sejarah lengkapnya bisa dibaca di sini. Saya sempat meneteskan air mata ketika membaca kembali sejarah perjuangan rakyat Indonesia pada saat itu, karena membayangkan bagaimana rakyat Indonesia di tengah permasalahan yang mereka hadapi setelah Indonesia memutuskan merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945 justru bersemangat dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia dengan segala kebatasan yang mereka miliki. Membaca dan berkaca lagi pada sejarah kemerdekaan bangsa dan membandingkan dengan keadaan masyarakat Indonesia pada saat ini membuat saya pesimis dan patah hati. Kalau dulu para pemuda berbondong-bondong berjuang mempertahankan negara mereka, pemuda sekarang malah berbondong-bondong mengikuti tawuran demi ego dan eksistensi mereka sendiri. Kalau dulu para santri dan kyai sibuk mengobarkan api semangat perjuangan masyarakat Indonesia. Santri dan kyai sekarang terlalu sibuk mengkafirkan saudara sesama muslim dan nggak berhenti bersengketa soal siapa yang pertama kali melihat hilal awal dan akhir Ramadhan. Dan, kalau dulu para buruh bersatu bahu membahu dalam mempertahankan kota Surabaya bersama tentara Indonesia, buruh jaman sekarang malah bahu membahu dalam merazia buruh lain yang nggak mau ikut berdemo menuntut kenaikan upah yang lebih tinggi dari PNS golongan III D. Belum soal korupsi yang bukannya mati malah bertumbuh sumbur seperti lumut di musim hujan, soal anggota DPR yang nggak habis-habisnya terlibat dalam skandal, kemiskinan yang merajalela, pendidikan yang tidak merata, pembangunan yang tidak teratur, jalanan yang macet, impor yang nggak masuk akal, ekonomi yang kembang kempis, perkosaan, perampokan, pembunuhan, dan sederet permasalahan lainnya yang setiap pagi sudah disajikan pada kita dalam bentuk berita di media-media cetak dan elektronik. Kalau dipikir-pikir, nasib negara kita ibarat telur di ujung tanduk di atas pohon kelapa yang tumbuh di tepi jurang Grand Canyon. Siap-siap saja untuk terjun bebas.

Su
Sumber

Pernah dengar lagu “Generasi Patah Hati” nya Sheila on 7? Lirik lagu tersebut benar-benar menggambarkan perasaan saya dan mungkin juga perasaan banyak orang yang peduli sama nasib bangsa ini di masa yang akan datang. Kalau ada yang belum pernah dengar, liriknya kurang lebih seperti ini,

Tawa lepasmu adalah tangisanku
Kelakuanmu adalah deritaku
Kebodohan ini harus segera diakhiri
Sebelum aku benar-benar mati

Aku generasi yang patah hati
Terlahir dengan kondisi dunia yang seperti ini
Aku generasi yang patah hati
Aku harus belajar tersenyum sebelum
Membunuh sebelum membunuh rasa takutku

Perut buncitmu kurusnya bayi mereka

Rumah mewahmu keringat mereka
Kebodohan ini harus segera diakhiri
Sebelum kita benar-benar mati

Aku generasi yang patah hati
Terlahir dengan kondisi dunia yang seperti ini
Aku generasi yang patah hati
Aku harus belajar tersenyum sebelum membunuh
Sebelum membunuh rasa takutku

Ku bekerja siang dan malam
Agar istriku bahagia
Smoga kelak anak kita hidup selayaknya
Aku siap tuk lupakan mimpi ego mudaku
Aku siap tuk lupakan
Aku akan perjuangkan masa depan anakku
Aku akan perjuangkan

Miris kan? Tapi jangan sampai kita jadi generasi yang patah hati lalu move on dari permasalahan bangsa ini dan membiarkan bangsa kita terpuruk lebih dalam lagi. Walaupun sekarang kita hidup di era modern dan bermartabat, di mana perang bukan lagi satu-satunya solusi untuk menciptakan perdamaian, kita tetap bisa berjuang untuk menjadikan Indonesia tempat yang lebih nyaman lagi bagi anak cucu kita nanti. Caranya? Banyak. Dimulai dari hal-hal yang kecil saja. Misalnya,

  1. Tepat Waktu 
    Saya sering dengar celetukan “Biasalah jam karet, Indonesia gitu,” yang sering saya dengar jika saya sedang menunggu sesuatu. Harusnya hal seperti ini bukan hal yang bisa dimaklumi apalagi dibanggakan. Meskipun sepele dan sering diabaikan, mengghargai waktu sama halnya dengan menghargai diri kita sendiri, karena berarti kita telah memanfaatkan waktu yang kita miliki dengan sebaik-baiknya sehingga segala tugas dan kewajiban yang kita punya dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Coba lihat Jepang, Amerika, atau Inggris. Negara-negara tersebut terkenal dengan kebiasaan mereka dalam menghargai waktu. Hasilnya, negara tersebut kita kenal dengan julukan negara maju bahkan adidaya.
  2. Mentaati peraturan lalu lintas 
    Meskipun bisa dikategorikan juga sebagai hal yang sepele, hal ini juga sering sekali kita abaikan. Dari pengalaman pribadi saya saja nih. saya sering sekali menemui anak muda (anak tua juga sih, hehe) yang tidak memakai helm tapi berani keliaran di jalan, belum cara mereka mengendarai kendaraan seolah-olah jalanan adalah sirkuit pribadi mereka. Kalau mereka sendiri yang jadi korban sih masalah mereka, tapi kalau orang lain? Percaya sama saya, nabrak orang itu nggak enak, dunia akhirat panjang urusannya. Dan, tahukah Anda berapa kecepatan maksimal kendaraan jika berkendara di dalam kota? 40 km/jam. Iya segitu, yang lucu  saya sering kena klakson dan makian gara-gara berkendara tidak lebih dari 40 km/jam, padahal mereka yang salah karena berkendara di atas 40 km/jam. Mentaati peraturan ada hubungannya juga lho dengan memajukan bangsa, karena dari kedisiplinan kita dalam mentaati peraturan, kita akan terlatih untuk berdisiplin dalam hal lainnya, termasuk dalam belajar dan bekerja. Karena disiplin itu sifat dasar yang butuh dilatih setiap saat dan setiap waktu.
  3. Membuang Sampah di Tempatnya
    Hal ini juga sering diabaikan, hanya karena malas dan enggan mencari tempat sampah, kita kadang membuang sampah di sembarang tempat. Padahal, dari kebiasaan kecil ini, dampak yang ditimbulkan bisa sangat besar dan merugikan. Lihat banjir di Jakarta, keruhnya sungai di dekat tempat tinggal Anda, kotornya jalanan yang Anda lewati. Itu semua berawal dari satu sampah kecil yang dibuang banyak orang secara berjamaah. Padahal kalau banjir siapa yang rugi? Tapi kita sibuk menyalahkan pemerintah yang katanya kurang peduli lah, kurang respon lah dan hal-hal omong kosong lainnya. Kalau kita ingin bangsa kita maju, mulai sekarang buanglah sampah pada tempatnya. Kalau nggak menemukan tempat sampah, masukkan sampah ke dalam kantong atau tas untuk sementara, begitu menemukan tempat sampah baru dibuang deh, sederhana.
  4. Cinta Produk dalam Negeri
    Entah kutukan atau anugerah, kita ini terlahir sebagai bangsa yang begitu menghargai suatu barang jika ada label tulisan asing bertengger di atasnya. Apakah itu tas, sepatu, baju, mobil, perhiasan, parfum sampai beras pun selalu akan berharga lebih mahal daripada produk lokal yang kualitasnya sama atau bahkan lebih baik, jika produk tersebut berasal dari luar negeri. Mungkin karena kebiasaan turun menurun bangsa kita ini, produk palsu dan KW justru merajalela di negeri ini. Padahal di Jepang, yang terkenal dengan kekuatan ekonominya, produk lokal berharga lebih mahal jika dijual di negeri sendiri, kok begitu? Karena mereka begitu menghargai produk negara mereka sendiri. Pernah dengar merek Lea, Polygon, Polytron, Tomkins, Bucherri, Excelso, Casablanca dan CFC (California Fried Chicken)? Tahukah Anda kalau produk-produk yang saya sebutkan itu adalah produk asli Indonesia? Keren kan? 🙂
Sumber
Sumber

Dan masih banyak lagi hal kecil lainnya yang bisa kita lakukan untuk negeri ini. Nggak perlu lah kita ngajak Amerika perang atau tiba-tiba kita menyerang Malaysia untuk menunjukkan rasa cinta kita pada bangsa ini. Mulai dari diri sendiri saja lalu mulai dari hal-hal kecil di sekitar kita. Yang pelajar, mulai belajar yang rajin, kurangi tawuran. Yang Mahasiswa mulai inovatif dan mandiri, kurangi demo dan pacarannya. Yang sudah bekerja, selalu disiplin dalam segal hal, jangan gampang ngeluh atau putus asa. Yang duduk di pemerintahan, jangan sampai terlena apalagi sampai khilaf, jabatan nggak dibawa mati, amalan semasa hidup yang kita bawa. Dan yang hidup, jangan patah semangat, mari kita berjuang untuk para pahlawan yang sudah meninggalkan kita untuk selama-lamanya. Jangan sampai perjuangan mereka menjadi sia-sia hanya karena kita menjadi generasi patah hati yang pesimis akan nasib bangsa kita di masa depan.

Oh iya, satu lagi. Untuk mas-mas dan mbak-mbak jurnalis yang hobi menulis berita tentang kebobrokan bangsa ini. Coba deh cari berita lain yang lebih memotivasi, seperti prestasi-prestasi anak muda Indonesia, atau program-program pemerintah yang sudah berhasil, untuk mengimbangi berita-berita nggak enak yang beredar. Jangan malah ikut-ikutan jadi penyebab munculnya generasi patah hati. Bisa terjun bebas negara kita, naudzubillahi min dzaliik…

 

Inilah Negaramu. Hargai kekayaan alamnya, hargai sumberdaya alamnya, hargai sejarah dan romantisme masa lalunya sebagai sebuah warisan suci, untuk anak dan cucumu. Jangan biarkan manusia-manusia egois dan serakah menguasai negaramu, menguliti kecantikannya, kekayaannya atau keromantisannya.
– Theodore Roosevelt –

 

 

Tulisan ini disponsori event :

novemberngeblog

Advertisements
Posted in #NovemberNgeblog, Review, Uncategorized

#Day 07 : The Help : Ketika Para Pembantu Angkat Bicara

Untuk memudahkan saya dalam mengisi event #NovemberNgeblog dan menambah variasi bacaan di blog ini, setiap satu minggu sekali pada bulan ini, saya akan membuat satu ulasan tentang film-film yang pernah saya lihat. Harap maklum, karena kadang otak saya agak macet, jadi saya mencoba mencari bahasan yang nggak terlalu butuh banyak bahan dan sumber. Sebenarnya ini juga bisa dikategorikan alibi atas kemampetan ide saya, hehe. Maaf…

Sumber
Sumber

The Help adalah film yang diangkat dari sebuah novel karya  Kathryn Stockett berjudul sama yang terbit pada tahun 2009. Film ini mengambil latar belakang tahun 1960 an pada masa hak sipil di Amerika Serikat. Pada masa itu rasisme dan kesetaraan hak antara kulit hitam dan kulit putih menjadi isu penting dan sensitif. Mengambil latar belakang tempat di sebuah kota kecil bernama Jackson di Missisipi, Amerika Serikat, film ini menunjukkan betapa bagaimana keadaan sosial masyarakant Amerika pada saat itu. Apalagi, di Jackson, orang kulit hitam dan kulit putih hidup berdampingan, tetapi tidak seharmonis yang terlihat. Ketidak adilan dan sikap rasisme masih terlihat jelas, terlihat dari kebanyakan orang kulit hitam yang berprofesi sebagai pembantu dan pengasuh di rumah orang-orang kulit putih.

Film ini bercerita tentang kisah dua orang pembantu berkulit hitam bernama Aibileen Clark (Viola Davis) dan Minny Jackson (Octavia Spencer) yang berteman dan bertetangga. Aibileen adalah seorang pembantu dan pengasuh anak-anak kulit putih yang baru-baru ini kehilangan anak laki-laki satu-satunya. Aibileen bekerja pada seorang wanita kulit putih bernama Elizabeth (Ahna O’Reilly), yang tidak cukup mahir dalam hal menjadi Ibu rumah tangga dan lebih sering mengabaikan anaknya, sehingga anaknya Mae Mobley lebih dekat dengan Aibileen daripada Ibunya sendiri. Sedangkan Manny bekerja sebagai pembantu dan perawat Ibu seorang perempuan yang aktif dalam kegiatan sosial di lingkungannya dan menjadi ketua perkumpulan para perempuan di tempat ia tinggal, bernama Hilly Holbrook (Bryce Dallas Howard). Hilly dikenal sebagai orang yang ambisius, cerewet dan matrealistis, sehingga hanya Minny yang mau bekerja untuknya.

Kisah ini bermula dari kepulangan Eugene Pheelan (Emma Stone), yang baru saja menyelesaikan kuliahnya di Universitas Missisipi. Tidak seperti kebanyakan perempuan di kotanya yang kuliah untuk mencari suami, Eugene yang lebih dikenal dengan nama kecilnya yaitu Skeeter, memilih untuk tetap single dan mengejar karir impiannya untuk menjadi seorang jurnalis di sebuah media besar di New York. Sebagai batu loncatan, ia bekerja di sebuah koran lokal di Jackson, dan mendapat tugas mengisi sebuah kolom tentang “Tanya Jawab Soal Masalah Rumah Tangga” yang ditinggalkan kolumnisnya. Karena satu-satunya pembantu yang dia miliki yang bernama Constantine tidak tinggal lagi di rumahnya, Skeeter memutuskan untuk meminta izin pada Elizabeth, temannya, untuk mengizinkan Aibileen menjawab pertanyaan yang diajukan para pembaca kolomnya. Dari pertemuannya yang intens dengan Aibileen, Skeeter merasakan ketidak adilan dan kesemenaan-menaan yang dilakukan oleh teman-temannya terhadap para pembantu mereka. Dimulai dengan program “Toilet Khusus Pembantu” yang dicanangkan sahabatnya sendiri, Hilly Holbrook. Hilly percaya, program ini akan mencegah penularan penyakit orang kulit hitam ke orang kulit putih dengan cara membuatkan toilet khusus untuk pembantu yang cenderung tidak layak dan sempit. Sejak itu Skeeter memutuskan untuk menulis sebuah buku tentang kehidupan para pembantu yang menghabiskan seumur hidup mereka untuk merawat anak-anak kulit putih.

Awalnya Skeeter mengalami kesulitan dalam mencari narasumber bukunya. Karena kebanyakan pembantu menolak karena takut dipecat dan disiksa jika mereka menceritakan pengalaman hidup mereka. Aibileen menjadi pembantu pertama yang setuju untuk menjadi narasumber ketika Aibileen mendengar rencana Hilly dan programnya yang cenderung rasis. Aibileen khawatir, anak yang ia asuh akan tumbuh seperti orang tuanya, jika ia tidak berbuat sesuatu. Awalnya Minny juga menolak menjadi narasumber, tetapi ketika ia dipecat Hilly hanya karena ia terpaksa memakai toilet milik majikannya di kala hujan badai sebab toilet yang dibuat khusus untuknya di letakkan di halaman luar, Minny pun memutuskan untuk menceritakan semua pengalaman pahitnya menjadi seorang pembantu. Selain itu, minny juga ingin membalas dendam pada Hilly yang semena-mena dan meracuni fikiran semua orang di lingkungannya agar ia tidak diterima bekerja di manapun, sehingga ia terpaksa mengeluarkan anaknya dari sekolah dan membuatnya bekerja sebagai pembantu. Tapi berkat bantuan Aibileen, Minny pun mendapatkan pekerjaan di rumah Celia Foote (Jessica Chastain) seorang wanita cantik yang naif yang dianggap musuh oleh Hilly hanya karena ia dianggap merebut dan menikahi mantan pacar Hilly.

Skeeter lalu mulai menulis konsep bukunya dengan cerita-cerita Minny dan Aibileen di dalamnya. Ketika ia mengirimkan cerita itu pada editornya di New York, Skeeter diminta untuk menambahkan cerita dari narasumber-narasumber lainnya agar bukunya lebih valid dan layak dibaca. Skeeter kebingungan karena tidak ada satu pun pembantu yang bersedia membagi cerita mereka selain Aibileen dan Manny. Tetapi, karena tertembaknya salah satu aktivis Hak Sipil orang kulit hitam, dan ditangkapnya teman sesama pembantu Manny, karena tidak sengaja menemukan cincin emas milik Hilly di bawah sofa ketika membersihkan rumah dan menjualnya untuk membiayai kuliah anak kembarnya. Banyak pembantu yang menawarkan diri untuk berbagi kisah mereka dan ditulis oleh Skeeter, di mana  kisah-kisah tersebut semakin membuka mata Skeeter pada realitas kehidupan sosial masyarakat kulit hitam dan kulit putih di kotanya. Singkat cerita (dan sengaja nggak saya beritahu detailnya karena nggak seru kalau nggak nonton sendiri), buku yang ditulis Skeeter cukup sukses dan menjadi kontroversi di lingkungannya. Dan, akhirnya Skeeter pun mncapai mimpinya untuk bekerja sebagai seorang jurnalis di New York.

Tadinya saya kira, film ini disadur dari sebuah novel yang benar-benar ditulis pada tahun 1960 an. Tapi ternyata novel ini ditulis di jaman modern di mana rasisme bukan lagi isu sensitif dan kontroversial. Meskipun begitu, Sutradara Tate Taylor berhasil mengemas cerita saduran ini dengan baik dan sederhana. Karena jujur, awalnya saya nggak terlalu tertarik ketika melihat judul dan poster film tersebut, saya kira film ini akan semelankolis the Color Purple (Filmnya sebenarnya bagus, saya aja yang gak suka liat film yang mengekspos penderitaan orang, terlalu kejam, hehe), atau film-film berlatar belakang Era Hak Sipil lainnya. Tapi ternyata, gaya penuturan dan penceritaan yang manusiawi serta sederhananya justru mampu membuat saya betah duduk manis di depan layar selama 146 menit tanpa sedikitpun merasa bosan. Meskipun alurnya lambat dan letoy untuk ukuran penggemar film action atau thriller seperti saya, tapi hal tersebut justru menjadi daya tarik sendiri, karena saya jadi tidak seperti sedang melihat film, tapi seperti sedang membaca buku bergerak. Pesan film ini sederhana, bahwa siapapun, selama mereka memiliki keberanian untuk mengatakan kebenaran. Mereka adalah pahlawan. Meskipun tidak dalam skala besar, tapi paling tidak, mereka adalah pahlawan bagi jiwa mereka sendiri, jiwa yang butuh ditenangkan karena kekalutan akibat keraguan.

Ada satu kutipan yang jadi favorit saya di film ini. Yaitu, kalimat yang diucapkan Constantine (pembantu masa kecil Skeeter) pada Skeeter ketika ia remaja,

Every day you’re not dead in the ground, when you wake up in the morning, you’re gonna have to make some decisions. Got to ask yourself this question: “Am I gonna believe all them bad things them fools say about me today?” You hear me today? “Am I gonna believe all them bad things them fools say about me today? You hear me today?” All right? As for your mama, she didn’t pick her life. It picked her. But you, you’re gonna do something big with yours. You wait and see.
(Setiap hari kamu tidak mati di tanah, ketika kamu bangun di pagi hari, kamu akan harus membuat beberapa keputusan. Tanyakan pada dirimu sendiri pertanyaan ini; “Apa aku akan mempercayai setiap ucapan buruk yang mereka, orang-orang bodoh itu katakan padaku hari ini? Apa aku akan mempercayai setiap ucapan buruk yang mereka, orang-orang bodoh itu katakan padaku hari ini? Kamu mendengarkanku hari ini” Oke? Kalau soal ibumu, dia tidak memilih hidupnya. Hidup yang memilihnya. Tapi kamu, suatu hari nanti, kamu akan melakukan hal yang hebat pada dirimu sendiri. Tunggu dan saksikanlah.)

 

 

 

Tulisan ini disponsori event :

novemberngeblog

Posted in #NovemberNgeblog, Blog, Uncategorized

#Day 04 : Hilangnya Empati

Empathy is really the opposite of spiritual meanness. It’s the capacity to understand that every war is both won and lost. And that someone else’s pain is as meaningful as your own.
– Barbara Kingsolver –

Tadi pagi, TK tempat saya mengajar mengadakan kirab drumband dalam rangka memperingati Tahun Baru Hijriah yang jatuh pada tanggal 5 November besok. Namanya anak-anak, apalagi hampir semuanya berumur di bawah 5 tahun, kirab ini seperti jadi motivator utama mereka untuk bangun pagi, bahkan salah satu anak didik saya yang bernama Abi bilang, kalau dia bangun jam 4 pagi ini, lalu berangkat sekolah pagi-pagi karena takut ditinggal Bunda-Bunda katanya. Lucu… 🙂

Jujur, buat anak-anak hal ini memang menyenangkan, tapi buat kami para Bunda, hal ini menegangkan. Dari rumah saya sudah minum banyak air, karena saya tahu, tanpa mikrofon dan megafone, menemani anak-anak kirab sama halnya dengan konser lagu cadas di hadapan penonton yang pakai headset dan sedang mendengarkan lagu cadas juga, jarang didengarkan, hehe..

Kembali ke soal kirab tadi. Mungkin karena para peserta kirab adalah anak-anak imut nan lucu dengan membawa alat drumband yang kadang lebih besar dari badan mereka sendiri, otomatis kirab tersebut langsung menjadi bahan tontonan menarik bagi para penduduk di sekitar TK saya. Sebagai informasi, letak TK tempat saya mengajar berada di lingkungan perumahan yang notabene pagar rumahnya tinggi-tinggi dan senantiasa sepi. Karena dengan sengaja kirab kami melewati perumahan tersebut, jadilah para penghuninya keluar untuk sekedar melihat bahkan ada yang mengambil gambar. Saya akui, kirab kami memang menarik (narsis, hehe) dan jarang sekali, jadi wajar saja banyak orang yang penasaran melihat tingkah lucu anak-anak. Teorinya sama seperti pepatah ada gula ada semut, di mana ada hal yang menarik, di situ pasti ada keramaian. Kalau soal kirab, pawai, karnaval, konser, atau kampanye yang jadi bahan tontonan sih, saya akui memang hal-hal tersebut memang menarik. Tapi kalau musibah atau bencana?

Saya sering sekali mendengar dan membaca berita, tentang bagaimana lokasi terjadinya musibah atau bencana tidak ubahnya seperti lokasi pariwisata, di mana orang berbondong-bondong melihat dengan alasan penasaran. Masih ingat kan dengan peristiwa jebolnya Tanggul Situ Gintung di Jakarta beberapa tahun lalu? Saat kejadian, saya sedang melihat televisi bersama keluarga dan saya mengetahui kejadian tersebut dari running news sebuah televisi swasta. Paginya, hampir semua saluran televisi menayangkan peristiwa tersebut serta memutar video-video amatir yang didapat pada waktu kejadian. Saya masih ingat betapa bergetarnya hati saya saat itu, perasaan yang sama yang saya rasakan saat melihat video amatir peristiwa Tsunami Aceh dahulu. Yang menyebalkan, beberapa hari setelah kejadian, lokasi bencana di Situ Gintung banyak didatangi orang, hal ini menyebabkan tim relawan dan keluarga korban jengah dan geram, karena bukannya membantu, para “wisatawan” dadakan itu justru menghambat proses evakuasi dan mengambil gambar-gambar yang katanya akan diupload di Facebook (sumber). Begitu pun dengan lokasi bencana Lumpur Lapindo Sidoarjo di Porong. Setiap mudik atau ke luar kota, saya pasti  melewati jalan raya Porong – Sidoarjo, dari jalan tersebut saya bisa melihat langsung tanggul yang senantiasa ditinggikan untuk mencegah luberan lumpur ke jalan raya yang langsung bersisian dengan lokasi. Pernah suatu ketika, ketika saya pulang dari Surabaya pada siang yang terik membara, hehe. Saya melihat sekelompok orang berpayung menaiki tangga tanggul yang dibangun dari pasir dan tanah, saya kira mereka para pekerja yang bertugas meninggikan tanggul, tapi melihat high heels dan baju mentereng mereka, saya jadi tahu mereka itu “turis” dalam negeri yang ingin melihat langsung semburan lumpur Lapindo. Padahal setahu saya, dan kalau tidak salah di sana memang dipasang peringatan, agar para “penonton” tidak berlama-lama berada di sana, karena tanggul buatan tersebut cenderung rapuh. Jadi kalau bisa, tanggul tersebut tidak untuk dilewati. Saya jadi heran, kenapa hal yang menjadi sumber kesedihan orang, menjadi bahan tontonan dan hiburan bagi orang lain? Dimana letak rasa empati mereka, kita, saya?

Sumber
Sumber

Soal ini saya pernah mengalami sendiri. Beberapa bulan lalu saya pernah terlibat dalam sebuah kecelakaan mobil di mana korbannya adalah Ibu-Ibu setengah baya. Dalam keadaan kalut dan galau, saya berusaha menolong Ibu tersebut bersama Ibu saya dan seorang Ibu-Ibu lain yang mau berbaik hati menolong. Di tengah rasa panik, perasaan saya makin tidak karuan ketika melihat di sekeliling saya orang-orang terutama Bapak-Bapak hanya bisa melihat dan meneriaki kami, tidak ada seorang pun yang menolong kami bertiga, padahal darah ibu itu tidak berhenti mengalir. Saya bahkan sempat marah dan emosi, ketika seorang perempuan muda hanya bisa berteriak dan menangis tanpa bisa berbuat apa-apa, saya kesal karena hal tersebut hanya akan menimbulkan kepanikan. Waktu itu saya langsung melotot ke perempuan muda itu, karena untuk meneriakinya pun saya nggak mampu. Akhirnya, setelah beberapa mobil yang lewat hanya berlalu saja tanpa mau berhenti menolong kami, datanglah Kakek-Kakek pengendara becak motor yang menolong kami dan membantu saya membawa Ibu tersebut ke rumah sakit terdekat. Perasaaan saya saat itu sama geramnya dengan para korban bencana Situ Gintung ketika melihat orang-orang hanya mengunjungi lokasi bencana tanpa sedikitpun berkontribusi bahakan cenderung menghambat. Kalau hati terdiri atas daging dan darah, saya rasa hati orang-orang tersebut terdiri dari batu dan kerikil. Keras.

Dalam ilmu psikologi, hal ini dikenal dengan istilah desensitisasi (desensitization) atau hilangnya sensitivitas moral-emosional ketika melihat problem sosial, dalam hal ini bencana, musibah dan kecelakaan. Hilangnya sensitivitas kemanusiaan ini muncul dan kian menguat ketika masyarakat terbiasa dihadapkan perilaku menyimpang dan peristiwa kekerasan sehingga terjadi kekebalan dalam perasaannya. Mereka tidak lagi peka melihat penyimpangan dan penderitaan (emotionally and morally insensitive) (sumber).

Saya sih awam soal psikologi. Jadi hal yang saya sebutkan di atas, sama sekali nggak  saya mengerti. Saya pribadi memang cenderung melankolis, saya cepat terharu dan emosional setiap ada teman atau kawan yang bercerita tentang masalahnya. Jangankan begitu, lihat adegan Nobita yang hampir mati di salah satu film Doraemon pun saya menangis. Jadi, saya benar-benar tidak habis pikir bagaimana perasaan orang bisa sekaku itu ketika melihat musibah di hadapannya. Tapi kalau dipikir-pikir, perilaku menyimpang kebanyakan masyarakat kita ini mungkin akibat peristiwa yang banyak terjadi di antara kita juga. Seringkali kita menemukan, orang-orang di luar sana yang senantiasa mengatasnamakan bencana alam untuk menggalang dana besar-besaran, padahal dana tersebut justru tidak digunakan sebagaimana mestinya. Ada juga soal kisah TKW bernama Darsem yang menjadi terpidana mati dan terancam dihukum pancung, setelah selamat dari hukuman tersebut dan kembali ke Indonesia, salah satu TV swasta berhasil mengumpulkan sumbangan untuk Darsem sebesar 1,2 M. Setelah itu muncul berita bahwa Darsem justru berfoya-foya dengan uang sumbangan yang didapatnya, padahal sebelumnya dia pernah berjanji akan menggunakan uang tersebut untuk hal yang bermanfaat. Nah, peristiwa semacam ini nih, yang menjadi sebab hilangnya rasa empati masyarakat kita. Niat baik sebagian orang, disalah gunakan sebagian yang lainnya, akibatnya, rasa kemanusiaan dalam diri manusia pun terkikis dan terjadi kekebalan empati pada perasaannya.

Sumber
Sumber

Dan, hal ini nggak boleh kita lestarikan. Bagaimanapun kita, manusia, diciptakan sebagai mahluk sosial, di mana hubungan sosial dengan manusia lainnya memiliki peranan penting. Jangan sampai hilangnya rasa empati dari diri kita, menjadikan kita manusia anti sosial, yang betah hidup sebagai penonton, tanpa mau berbuat sesuatu ketika melihat kemalangan di depannya. Saya pribadi percaya, apa yang kita tanam, hasilnya pun kita sendiri yang merasakan. Jika kita menanam kebaikan, suatu saat nanti, tidak menutup kemungkinan, kita juga akan menerima kebaikan dari orang lain. Jadi, apa kita mau jadi Yue Yue, si gadis cilik asal Cina yang tertabrak truk di jalanan yang ramai, tapi tidak ada seorang pun yang mau menolongnya?

Tulisan ini disponsori oleh event:

novemberngeblog