Hijrah

Selamat Tahun Baru Hijriah..

Hehe,
Iya, ini postingan pertama saya setelah berbulan-bulan lamanya vakum. Alasan utamanya males (hehe), alasan lainnya karena saya lebih aktif di dunia nyata dan di sosial media lain termasuk di blog saya yang satu lagi, yang memang diperuntukkan untuk curhatan-curhatan alay saya yang tidak disarankan untuk dikonsumsi publik demi terjaganya keseimbangan dunia (apaan sih… :p).

Ini jujur ya, saya sebenernya niat banget mau nulis di blog ini, tapi tiap buka laptop saya selalu berhasil dibelokkan ke situs-situs lain. Dan sekarang, mumpung malesnya lagi absen nih, saya sempet-sempetin mampir untuk nulis lagi. Selain itu ada satu topik yang sangat-sangat ingin saya bahas yang kebetulan juga momennya bertepatan dengan tahun baru Hijriah (walalupun sudah masuk tengah bulan Muharram hitungannya masih tahun baru lah ya…)

Untuk yang beragama Islam pasti tahulah cerita turun menurun tentang sejarah tahun Hijriah. Cerita tentang proses hijrahnya umat muslim di Mekah menuju ke Madinah untuk menyelamatkan orang-orang Mekah yang muslim dari kekejaman kaum kafir Quraisy.

hijrah /hij·rah /1n perpindahan Nabi Muhammad saw. bersama sebagian pengikutnya dari Mekah ke Medinah untuk menyelamatkan diri dan sebagainya dari tekanan kaum kafir Quraisy, Mekah; 2v berpindah atau menyingkir untuk sementara waktu dari suatu tempat ke tempat lain yang lebih baik dengan alasan tertentu (keselamatan, kebaikan, dan sebagainya);

Berdasarkan kutipan arti hijrah dari KBBI di atas, hijrah bisa juga berarti berpindah dari suatu tempat ke tempat lain yang lebih baik. Belakangan, kata hijrah juga digunakan sebagai istilah untuk menyebut perubahan sikap dan penampilan seorang muslim menjadi lebih syar’i. Intinya, hijrah adalah suatu keadaan di mana seseorang berpindah dari hal yang kurang baik menuju atau menjadi hal yang lebih baik, wallahu’alam.

Ngomong-ngomong soal berubah, beberapa bulan lalu dunia maya dan hiburan cukup heboh atas perubahan seorang artis perempuan muda yang sebelumnya berhijab menjadi tidak berhijab lagi setelah bercerai dengan suaminya, tidak usah saya sebut namanya ya, saya yakin pasti semua tahulah siapa, hehe. Di lain sisi, ada seorang aktor sinetron yang merubah penampilannya 180 derajat menjadi seorang ikhwan bercelana cekak dan berjenggot tebal. Nggak perlu sebut nama juga ya, pasti tahulah… 🙂

Dan, bisa diprediksi betapa gaduhnya dunia maya setelah perubahan pada kedua orang tersebut. Di Instagram artis perempuan yang tak lagi berhijab itu, bisa kita baca komentar-komentar yang pedasnya berlevel, mulai level sopan yang halus, sampai level penuh sensor yang brutal. Kadang saya yang cuma baca saja ikutan merinding. Lalu bagaimana dengan aktor sinetron yang sekarang jadi ikhwan itu? Saya kira saya akan baca komentar yang sedikit berbeda di instagram aktor tersebut, ternyata sama saja. Ada yang komentar aktor tersebut kenal aliran sesat lah, terlalu fanatik lah, sampai ada yang menyebut kata teroris. Subhanallah ya, repot sekali jadi selebriti, serba salah. Tapi, ya begitulah efek penyalah gunaan media sosial, banyak orang yang merasa media sosial adalah tempat mereka berpendapat tanpa batas bahkan melewati batas kesopanan karena mereka nggak bertemu orang yang mereka komentari secara langsung.

Kembali ke soal hijrah, kalau menurut Anda, dari perubahan yang dialami aktor dan artis itu, mana yang termasuk kategori hijrah berdasarkan definisi hijrah yang sebelumnya saya sebutkan?

Pasti semua menjawab, perubahan aktor sinetron itulah yang termasuk kategori hijrah. Karena saya pun berpendapat seperti itu. Berarti perubahan si artis perempuan bukan hijrah dong? Berarti si artis tersebut tidak berubah menjadi lebih baik?

Menurut saya yang awam dan terbatas ini, selama itu didefinisikan manusia batasan baik dan buruk itu tipis, cuma soal persepsi. Hanya Allah yang Maha Tahu yang mampu menunjukkan mana yang baik dan buruk. Dan saya nggak mau bilang perubahan si artis perempuan itu adalah perubahan yang tidak baik. Karena setiap perubahan seseorang pasti melalui proses pemikiran yang panjang dan pertimbangan yang matang, dan setiap proses pasti memiliki cerita yang nggak semua orang mampu dan mau memahaminya. Kita nggak tahu, apa yang membuat si artis perempuan itu sampai berani melepas hijabnya dan berpenampilan seperti dulu sebelum ia berhijab. Soal ini, saya punya cerita tentang tetangga saya yang diceritakan Ibu pada saya. Bahkan sampai sekarang kalau Ibu saya ketemu dengan beliau Ibu saya selalu menyesal.

Jadi ceritanya, tetangga saya tersebut seorang muslim. Entah bagaimana ceritanya beliau menikah dengan laki-laki Tionghoa yang non muslim dan memiliki anak. Sampai suaminya meninggal dan anaknya dewasa, si Ibu tetangga saya ini tetap beragama Islam, meskipun anaknya mengikuti agama Bapaknya. Singkat cerita, Ibu ini memiliki masalah ekonomi yang cukup berat, sampai ia harus berhutang ke sana sini, keluarganya tidak banyak membantu karena mereka pun juga tergolong tidak mampu. Sedangkan keluarga suaminya pun tidak mungkin dimintai tolong karena ketika suaminya menikah dengan beliau, keluarga besarnya tidak pernah mengganggap beliau sebagai bagian dari mereka. Mungkin karena terlalu beratnya masalah ini untuk ditanggung sendiri beliau datang ke rumah, mengunjungi Ibu saya untuk sekedar ngobrol dan mencari solusi. Kebetulan saat itu rumah saya sedang dibangun, jadi Ibu saya tidak pernah fokus ketika tetangga saya tersebut datang ke rumah untuk sekedar curhat. Mungkin karena melihat Ibu saya yang sedang repot, beliau mendatangi salah satu tokoh agama di tempat saya tinggal. Tokoh agama di tempat saya ini orangnya unik, kalau boleh saya mengibaratkan nih, karakter tokoh agama tersebut mirip karakter Haji Muhiddin di sinetron Tukang Bubur Naik Haji. Nah, bisa dibayangkan kan reaksi apa yang didapatkan tetangga saya yang sedang mencari solusi dari tokoh agama di tempat saya tinggal tersebut. Berminggu-minggu kemudian, Ibu saya tidak pernah lagi mendengar kabar dari tetangga saya itu. Ibu saya kira masalahnya sudah selesai. Ternyata beberapa bulan kemudian, tetangga saya tersebut sudah berpindah agama mengikuti agama mendiang suaminya. Usut punya usut, ketika masa galau, salah seorang tetangga saya yang non muslim mendatangi beliau dan menawarkan dirinya untuk menjadi teman curhat. Tetangga yang non muslim ini bahkan mengajak teman-teman satu tempat peribadahannya untuk membantu Ibu itu lepas dari masalahnya. Merasa berhutang budi pada tetangga non muslim saya dan teman-temannya serta teringat pada kebaikan suaminya dulu, Ibu itupun berpindah agama. Mendengar kabar tersebut, Ibu saya langsung menyesal, kenapa ia tidak terlalu peduli saat Ibu itu meminta bantuan pada beliau. Ibu saya juga bercerita, saat masa-masa kegalauannya, Ibu itu pernah mengungkit kalau ia ingin balas budi pada suaminya, tapi ia tidak ingin berpindah agama hanya karena balas budinya tersebut. Ibu saya menyesal, seharusnya ia lebih tanggap dan segera merangkul Ibu itu untuk meringankan masalahnya.

Inti cerita saya di atas sih kurang lebih seperti ini. Sebelum menghakimi perubahan seseorang ada baiknya kita lihat dulu proses berubahnya orang tersebut. Setiap orang pasti memiliki cerita di balik perubahan drastis mereka. Seperti artis perempuan dan tetangga saya yang berpindah keyakinan itu. Bisa saja, proses perubahan tersebut terjadi justru karena kita, orang-orang di sekeliling mereka yang tahunya hanya berkomentar dan menghakimi. Saya juga memiliki satu contoh lagi berubahnya seseorang karena kurangnya empati orang-orang di sekitarnya.

Ceritanya kurang lebih sama dengan si artis perempuan di atas. Salah satu teman saya di Facebook yang juga seorang penulis dan anak dari penulis novel-novel Islami, tiba-tiba merubah penampilannya dari yang dulu berhijab menjadi tidak berhijab. Dari status-status, puisi, cerpen dan novel yang dia tulis (kebetulan saya salah seorang penggemar tulisannya), terlihat betapa rapuhnya dia. Rapuh di sini bukan lemah atau tak berdaya ya, lebih ke kondisi psikis dan mentalnya. Apalagi dia tumbuh di keluarga broken home dan juga menjadi korban kekerasan Ayah kandungnya. Sebelum melepas hijabnya, di laman media-media sosialnya ia banyak mendapat kritikan dan hujatan tentang pakaian dan tulisannya yang tidak se-syar’i pakaian dan tulisan Ibunya yang kebetulan berjibab panjang dan lebar. Akhirnya, karena satu dan lain hal, ia memutuskan melepas hijabnya. Keputusan yang tentunya banyak mengundang komentar-komentar yang lebih “menghancurkan” lagi. Sebagai pembaca tulisan-tulisannya saya ikut patah hati. Meskipun saya tahu, ia mungkin lebih bahagia tanpa hijab karena menjadi dirinya sendiri, tapi tetap saja. Kadang saya berharap saya ada untuk jadi teman curhat dia bahkan sebelum pikiran untuk melepas hijab itu terlintas di pikirannya, siapa tahu saya bisa membuat dia berubah pikiran. Tapi apa daya, saya cuma penggemar tulisan-tulisannya. Dan saya cuma berharap yang terbaik saja untuk dia.

Terakhir, “Hijrah” juga bisa berarti meninggalkan segala macam bentuk kemaksiatan dan kemungkaran, baik dalam perasaan, perkataan dan perbuatan.Sudahkan kita berhijrah? Mulai dari yang kecil saja. Berhenti berfikir dan berkomentar buruk terhadap orang lain misalnya. Entah itu si aktor sinetron, artis perempuan, tetangga yang berpindah keyakinan, atau bahkan penulis favorit saya. Mereka semua mengalami perubahan yang melewati proses berpikir dan menimbang. Perubahan itu mungkin tidak sesuai dengan apa yang kita yakini, tapi bukan berarti kita memiliki hak untuk melontarkan komentar yang tidak pantas. Setiap orang memiliki kesempatan untuk berubah dan berkembang menjadi lebih baik lagi. Beberapa harus mundur beberapa langkah untuk bisa berubah menjadi lebih baik lagi. Beberapa bisa langsung berubah tanpa harus melewati fase tersebut. Wallahu’alam bish shawab.

Semoga tahun ini kita menjadi pribadi yang lebih baik dari tahun lalu, aamiin Allahumma aamiin…

#Day 20 : Dirgahayu, Saya.

Hari ini saya resmi memasuki angka 25 Tahun dalam hidup saya. Itu artinya sudah 9131 hari saya ada di dunia ini, dan saya nggak sendiri, menurut Mbah Google, ada sekitar 398.000 bayi yang lahir pada 20 November 1988. Saya harap, nggak semua dari 398.000 bayi tersebut yang sifatnya sama kayak saya, bisa hancur dunia, hahaha.

Mungkin karena sifat narsis dan sok seleb saya yang overdosis, seharian ini bawaan saya curiga saja sama teman-teman saya, semua tingkah mereka terlihat aneh, saya juga sudah siap tempur seandainya saya dikerjai hari ini. Alhamdulillah, ternyata tidak terjadi apa-apa sampai detik ini. Saya aja yang kepede-an dan negative thinking sama orang-orang, hehe.

Dari dulu saya selalu membayangkan, ketika umur 25 nanti bagaimana hidup saya, dan sudah jadi apa saya? Kalau cara berfikir saya masih sama seperti cara berfikirnya Vani Laila Fitriani beberapa tahun lalu, mungkin saya menganggap saya yang saat ini gagal. Cuma jadi guru TK, masih jadi jomblowati sejati, tabungan kembang kempis, kemana-mana masih naik motor, dan masih setia ngeblog saja belum jadi penulis best seller. Untung saya sudah tobat dan kembali ke jalan yang benar, hehe. Yang jelas, hari ini saya bersyukur, masih dikasih nafas, dikasih keluarga yang baik, teman-teman yang setia dalam suka dan duka, pekerjaan yang insya Allah berkah, dan segaris keriput yang menandakan bukan saatnya lagi saya jadi perempuan dewasa yang sok jadi ABG dan masih sering melankolis serta galau dalam menghadapi permasalahan yang saya alami.  25 tahun untuk saya adalah awal bagi seseorang untuk memulai babak baru kehidupan yang lebih baik lagi, karena waktu seperempat abad bukan waktu yang sedikit untuk berguru dan belajar pada kehidupan. Kayak yang banyak orang bilang, menjadi tua itu pasti tapi menjadi dewasa itu pilihan. Harapan saya sih, saya nggak hanya tua, tapi juga menjadi pribadi yang jauh jauh lebih dewasa dari sebelumnya. Insya Allah… 🙂

Oh iya, waktu lihat Google Doodle hari ini, ternyata ada tokoh terkenal yang tanggal lahirnya sama dengan saya, namanya Selma Ottilia Lovisa Lagerlöf. Beliau adalah penulis buku anak-anak asal Swedia yang pernah mendapatkan Nobel Sastra pada tahun 1909, dan beliau juga merupakan penulis perempuan yang pertama kali mendapatkan Nobel dalam bidang sastra (sumber). Kerennya, Selma Lagerlöf ini mantan guru yang pensiun dini demi fokus dengan kegiatan menulisnya. Kira-kira saya bisa nggak ya jadi kayak beliau? hehe. Karena itulah, Google Doodle hari ini memajang ilustrasi gambar anak-anak untuk memperingati hari lahir beliau. Dan, karena kebetulan saya punya akun Google+ hari ini saya juga punya Google Doodle pribadi yang khusus disiapkan Google untuk saya, hahaha. Padahal semua pengguna Google+ pasti dapat ini kalau mereka ulang tahun. Tapi, khusus hari ini, biarkan saya sombong dan berbangga diri, cuma ini sih yang bisa dibanggain dalam hidup saya *curhat* 😀

Terima kasih mbah Google, tahu aja hari ulang tahun cucunya :P

Terima kasih mbah Google, tahu aja hari ulang tahun cucunya 😛

Tiba-tiba saya jadi penasaran, Kira-kira pada waktu saya lahir 25 tahun yang lalu, hal apa saja ya yang saat itu terjadi di dunia? Setahu saya, kalau nggak salah tahun 1988 adalah tahun diselenggarakannya Olimpiade musim panas di Korea Selatan. Waktu itu Korean Wave  belum sedahsyat sekarang, kalau dulu Korean Wave sudah booming, bisa dipastikan, TVRI jadi televisi terpopuler abad ini, soalnya waktu itu saluran televisi hanya TVRI saja, hehe. Setelah baca-baca artikel di Google, saya jadi tahu, ternyata pada tanggal 20 November di tahun-tahun yang berbeda, telah terjadi banyak peristiwa bersejarah. Misalnya: Pada tanggal 20 November 1917, Inggris mengkampanyekan Perang Dunia Pertama lewat serangannya ke Jerman, di Cambrai, Perancis. Karena itulah serangan ini disebut Battle of Cambrai. Meskipun berhasil dipukul mundur oleh pasukan Jerman, tapi pertempuran tersebut memakan waktu kurang lebih selama 12 hari dan berakhir pada 7 Desember 1917. Selanjutnya, pada tanggal 20 November 1947, Ratu Elizabeth, yang pada saat itu masih menjadi putri, menikah dengan  Letnan Philip Mountbatten dan mendapat gelar Duke dan Duchess of Edinburgh. Pernikahan tersebut diselenggarakan di Westminster Abbey di London, Inggris. Kalau saya lahir di Inggris, mungkin saya ikut diundang dalam ulang tahunpesta pernikahan Ratu Elizabeth hari ini ya? 😀

Sedangkan, pada tanggal 20 November 1979, 200 Muslim Sunni mengadakan revolusi di Masjidil Haram di Mekkah, lebih dari ribuan jamaah haji menjadi sandera, dan ratusan lainnya bersama dengan para militan menjadi korban dalam baku tembak di halaman masjid. Revolusi tersebut dipimpin oleh Juhayman al-Otaybi yang menginginkan kerajaan Saudi kembali ke jalan Islam yang benar, menurutnya, pada waktu itu budaya Barat terlalu dalam mempengaruhi setiap aspek kehidupan di Saudi Arabia. Dengan bantuan pemerintah dan tentara Pakistan, akhirnya revolusi tersebut bisa dihentikan setelah berlangsung selama 2 minggu. Juhayman al-Otaybi sendiri akhirnya ditangkap, diadili, dan dihukum mati. Peristiwa ini terkenal dengan sebutan Grand Mosque Seizure, dan benar-benar menggoyahkan dunia Islam pada saat itu. Karena, Masjidil Haram merupakan tempat ibadah yang paling penting, suci dan bersejarah bagi umat Islam. Dan, pada Tanggal 20 November 1985. Perusahaan Microsoft milik Bill Gates meluncurkan Microsoft Windows 1.0 untuk pertama kalinya. Microsoft Windows 1.0 merupakan versi awal Windows yang diluncurkan, kesukesannya diikuti oleh Windows 2.0 yang diluncurkan 2 tahun kemudian. Jadi kepikiran deh, seandainya saya minta diskon untuk install Windows 8 kira-kira bakal dikasih nggak ya sama Bill Gates, kan tanggal lahirnya sama dengan tanggal pertama kali dirilisnya Windows, hehe. *ngarep*

Terakhir, peristiwa bersejarah lainnya terjadi pada tanggal 20 November 1988. Saat itu seorang bayi imut nan lucu dilahirkan tanpa bidan (bidannya masih di jalan, tapi saya sudah nggak sabar untuk keluar, akhirnya saya memutuskan untuk mem-brojol-kan diri :D) di sebuah rumah kuno di pesisir utara Jawa di sebuah kota kecil bernama Pekalongan. Peristiwa tersebut merupakan peristiwa bersejarah untuk kedua orang tua bayi tersebut karena ini kedua kalinya sang istri melahirkan. Harapannya, bayi mereka akan tumbuh sehat tidak seperti kakaknya yang harus meninggalkan dunia lebih cepat karena sakit kuning. Bayi tersebut awalnya diberi nama Va’ni Laila Fitriani, tapi karena kesalahan juru ketik di kantor administrasi saat membuat akte kelahiran, nama bayi tersebut menjadi Vani Laila Fitriani. (Rasanya, saya pengin memberi bingkisan pada juru ketik tersebut, karena meskipun artinya bagus, tapi saya nggak membayangkan harus memiliki tanda koma di atas nama saya seumur hidup, hehe). Beberapa bulan setelah kelahiran bayi tersebut, pada awal tahun 1989 terjadilah bencana Banjir Bandang yang bersejarah di daerah Pekalongan dan kota-kota di sekitarnya, banjir tersebut berasal dari kali Comal yang melintasi kota Pekalongan. Bahkan konon saking dahsyatnya banjir tersebut, sebuah desa di kota Pemalang yang bertetangga dengan Pekalongan benar-benar tenggelam, sehingga para penduduknya memutuskan untuk mengungsi ke lokasi yang baru dan membangun desa mereka lagi. Nah, pada saat peristiwa banjir bandang tersebut, karena terlalu tingginya air yang tidak memungkinkan Ibu si bayi menggendong anaknya ketika berjalan ke pengungsian. Si Ibu akhirnya memutuskan untuk menaruh anaknya di dalam sebuah ember besar dan mengapungkannya di tengah banjir. Sejak mendengar cerita tragis itu dari Neneknya beberapa tahun lalu, si bayi yang mulai beranjak dewasa curiga, jangan-jangan dia tertukar saat banjir bandang tersebut, sehingga ia tumbuh tidak secantik Ibunya ataupun sepintar Ayahnya, hehe *korban sinetron*

Pada dasarnya, setiap hari dalam hidup kita adalah hari terjadinya peristiwa-peristiwa bersejarah yang patut kita monumenkan dalam fikiran kita, selama setiap hari itu kita isi dengan hal-hal yang bermanfaat bagi kita, orang-orang di sekitar kita dan kehidupan kita sendiri. Jadi apa sejarahmu? 🙂

Oh iya, waktu lagi iseng browsing saya nemu situs lucu ini. Di situs ini, sejarah kelahiran kita diprediksi secara ilmiah, menurut mereka sih, menurut saya lucu banget, haha. Dan, akhirnya, di umur 25 tahun ini cuma satu harapan saya. Saya menjadi orang yang lebih baik lagi dari sebelumnya. Aamiin.. Itu tadi harapan ya, kalau keinginan sih, buanyaakk.. hehe

Dirgahayu, saya. 🙂

Every year on your birthday, you get a chance to start new.
– Sammy Hagar –

Tulisan ini disponsori event :

novemberngeblog

#Day 11 : 4 Alasan Saya untuk Tetap Merasa Bahagia

Man only likes to count his troubles; he doesn’t calculate his happiness.

– Fyodor DostoyevskyNotes from Underground –

Akhir tahun seperti ini selalu melelahkan untuk saya yang seorang guru ini. Meskipun saya hanya seorang guru Taman Kanak-Kanak, tapi karena standarisasi yang ditetapkan DIKNAS tentang pendidikan Anak Usia Dini membuat pekerjaan akhir tahun saya seperti tumpukan gunung es di alaska. Belum lah mengerjakan rapot akhir semester, rapot tema, rencana kegiatan harian, rencana kegiatan mingguan, program tahunan, program semester, buku bantu penilaian harian, sampai penilaian semester. Sebenarnya beberapa pekerjaan tersebut sudah saya cicil dari jauh-jauh hari, tapi karena, entah mengapa libur akhir tahun sekaligus akhir semester tampaknya semakin dekat saja, pekerjaan-pekerjaan tersebut rasanya seperti makin sulit untuk diselesaikan. Sampai saking lelahnya, kemarin saya sempat kepikiran, ini TK atau kampus sih? Haha

Mungkin ada yang nggak percaya dengan apa yang saya sampaikan di atas. Saya pun masih tidak percaya, bahwa dibalik kesederhanaan pekerjaan seorang guru TK, ada pekerjaan-pekerjaan administratif semacam ini yang harus saya selesaikan. Salahkan DIKNAS dan programnya yang aneh! hehe. Tapi, meskipun begitu, saya tetap optimis semuanya bisa saya selesaikan tepat waktu. Karena saya berpedoman pada kalimat salah seorang teman Ibu saya yang saya dengar ketika saya sedang dilanda kegalauan tingkat tinggi beberapa bulan lalu. Saat itu beliau berkata,

Sudah, nggak apa-apa, masalah, selama terjadi di dunia pasti bisa selesai. Kecuali kalau sudah di akhirat…

Dan, sampai sekarang kata-kata tersebut selalu jadi pegangan saya setiap menghadapi suatu masalah baik kecil maupun besar. Tapi saya tetap manusia biasa yang kadang merasa stress dan lelah, ups, koreksi, yang selalu merasa stress dan lelah, hehe. Namanya manusia biasa, saya pasti ngeluh soal tugas akhir tahun yang bejibun ini. Bahkan saya sempat nyeletuk ke salah satu teman saya untuk membiarkan saya tidur saja dan membangunkan saya di awal tahun depan. Rasanya saya ingin semuanya selesai tepat pada waktunya, tapi saya enggan melewati prosesnya, hehe, egois memang.

Perasaan yang menganggu saya ini saya sebut sebagai MALAS.

Meskipun rasa malas saya ini sedang pada level tertingginya. Saya nggak bisa membiarkan hal ini terjadi. Malas itu soal kebiasaan, kalau saya sudah membiasakan diri saya untuk malas, suatu saat nanti, rasa malas itu akan datang kembali di saat yang tidak dibutuhkan. Begitu kan kelakuan si malas? Datang tak dijemput, pulang nunggu diusir. Dan untuk mengusir rasa malas saya yang menuju akut ini, biasanya saya mencari alasan-alasan untuk tetap merasa optimis, semangat dan bahagia di kehidupan saya. Saya memang begini, suka kerja sendiri. Lagipula, kalau bukan saya sendiri siapa lagi yang mampu memotivasi saya? Pak Mario Teguh? Maaf, saya nggak ada duit buat bayar beliau, hehe. *pelit*

Dan, inilah alasan-alasan kenapa saya merasa hidup saya membahagiakan,

1. ) Saya masih bisa makan 3 kali sehari bahkan lebih

Bisa makan 3 kali sehari itu anugerah lho. Coba lihat anak-anak jalanan, para pemulung, pengemis sampai pengamen. Bisa makan sehari sekali saja merupakan suatu keberuntungan bagi mereka, apalagi makan 3 kali sehari seperti saya, kita? Harusnya itu menjadi lebih daripada sekedar keberuntungan. Saya baru sadar betapa enaknya bisa makan normal saat saya sakit beberapa tahun lalu, waktu itu saya nggak boleh makan apapun kecuali makanan yang lunak. Ini mungkin yang orang sebut, adanya baru terasa ketika tiadanya, hehe (kata-kata karangan saya sendiri sebenarnya, maaf ;p).

2.) Saya tidur di atas kasur yang empuk

Ada yang bilang, tidur selama 8 jam sehari baik untuk keseimbangan dan kesehatan tubuh. Dan (menurut saya) untuk bisa tidur dengan nyenyak selama 8 jam sehari, dibutuhkan kasur yang empuk dan nyaman. Saya pernah merasakan sendiri, kalau tidur malam saya kurang nyenyak, pagi harinya saya seperti zombie yang haus darah, uring-uringan mulu bawaannya. Atau kalau masih kurang percaya, coba lihat Bapak Presiden kita tercinta, menggalau terus kan di media? Itu karena tidurnya tidak nyaman dan nyenyak. hehe *peace*

3.) Saya tinggal di rumah yang nyaman

Walaupun rumah saya bisa dikategorikan sebagai rumah MeWah atau Mepet saWah atau dekat dengan sawah, tapi tetap saja, rumah ini tempat saya kembali dari segala macam aktivitas saya yang menguras energi. Dan, meskipun atap kamar saya terbuat dari seng yang setiap siang menjelma jadi sauna pribadi, tapi paling tidak saya masih dilindungi dari sinar matahari langsung dan air hujan. Bagaimanapun juga, rumahku kan istanaku.. 🙂

4.) Saya dilahirkan sebagai Vani Laila Fitriani

102_0315

Narsis Tanpa Batas, hehe

Saya selalu membayangkan apa jadinya kalau saya dilahirkan sebagai Julia Perezz atau Zaskia Gotik, atau minimal Angelina Jolie lah. Mungkin saya nggak bisa bertemu dan kenal dengan Ibu saya yang cerewet tapi selalu ada untuk saya; Ayah saya yang kaku tapi rasa cintanya pada saya nggak bisa diukur dengan apapun; Adik-adik saya yang menyebalkan tapi ngangenin; Sahabat-sahabat saya yang adanya waktu saya sedih saja, waktu senang mereka ngabur; Bunda-Bunda yang jadi guru kehidupan tanpa tanda jasa; Anak-Anak yang celetukan dan kenakalan justru jadi sumber utama senyuman saya; Dan ribuan orang yang lalu lalang dalam hidup saya yang hadirnya meninggalkan jejak dan cerita yang tak bisa dihargai dengan apapun di dunia ini. Walaupun saya terlahir egois, pemalas, pelupa, konyol, kaku, minderan, kuper, kadang bodoh kadang cerdas, pendendam, dan hobi putus asa. Tapi saya bahagia jadi diri saya.

Meskipun di atas sudah saya jabarkan 4 alasan saya untuk tetap merasa bahagia di 25 tahun kehidupan saya yang rumit dan sok drama ini. Tapi ada satu alasan lagi yang membuat saya merasa hidup saya nggak susah-susah amat. Alasan itu adalah, BERSYUKUR. Kalau kita sudah bisa bersyukur terhadap segala hal yang terjadi dan kita alami dalam kehidupan kita, maka segala hal bisa kita lalui dengan mudah. Ini bukan sekedar teori, saya sudah merasakan sendiri. Atau kalau masih sangsi, mulai sekarang cobalah bersyukur dari hal-hal yang kecil, misalnya, mulailah bersyukur bahwa setiap pagi Allah masih sudi menganugerahi kita nafas dan denyut jantung untuk melewati satu hari lagi.

Harapannya sih, nggak hanya saya yang bisa menemukan alasan-alasan untuk tetap merasa bahagia dalam hidup ini. Mari menjadi orang-orang bahagia yang senantiasa tersenyum dalam menghadapi dunia! Jadi, apa alasan Anda untuk tetap merasa bahagia? 🙂

Tulisan ini disponsori event :

novemberngeblog