Ingat Mati

Kata orang Maut, Jodoh dan Rezeki adalah rahasia Allah yang telah ditentukan waktunya sejak sebelum kita dilahirkan. Kalau Jodoh dan Rezeki masih bisa diusahakan dan diubah, lain halnya dengan kematian, datangnya pasti dan tak bisa diubah, waktunya? Hanya Allah yang tahu, kapan waktunya ajal menjemput kita. Yang bisa kita lakukan hanyalah berdoa, agar saat kematian menjemput kita nantinya, kita sedang dalam keadaan yang baik, di tempat yang baik dan sedang melakukan hal yang baik, sehingga kita bisa dijemput dalam keadaan khusnul khotimah, dan meninggalkan kebaikan untuk orang-orang yang kita tinggalkan. Aamiin Allahumma aamiin…

Sebab saya membahas kematian adalah karena cerita dari salah seorang Bunda di sekolah yang tadi pagi saya dengar. Jadi, Bunda yang saya sebut sebelumnya ini, tidak biasanya pagi ini datang terlambat. Ketika saya bertanya kok tumben beliau datang terlambat, beliau bercerita bahwa salah seorang saudara sepupu suaminya yang kebetulan tinggal di Malang juga mendadak meninggal sebelum shalat Subuh. Penyebab kematiannya diduga akibat serangan jantung, padahal saudara Bunda tersebut tidak memiliki riwayat penyakit jantung sama sekali. Beliau ditemukan pingsan di kamar mandi oleh istrinya yang saat itu sedang menunggu suaminya untuk shalat Subuh berjamaah. Berhubung suaminya tak juga keluar dari kamar mandi, sang istri pun langsung membuka paksa pintu kamar mandi dan menemukan suaminya dalam keadaan tak sadarkan diri. Inna lillahi wa inna ilaihi raaji’un…

Siangnya, cerita ini kami bahas lagi setelah selesai mengajar. Kami semua tertegun. Terutama para Bunda yang sudah memiliki suami. Masing-masing mengkhawatirkan dan membayangkan jika kejadian tersebut menimpa mereka, ditinggal meninggal suami tiba-tiba, padahal tidak sakit dan tidak mengalami kecelakaan. Apalagi, Bunda yang saudaranya meninggal tadi bercerita anak istri almarhum yang ditinggalkan shock dan terguncang atas kepergian almarhum yang tiba-tiba tersebut. Saya yang mendengar cerita tersebut ikut terharu dan merinding, merinding dalam artian membayangkan seandainya saya berada di posisi keluarga almarhum yang ditinggalkan tiba-tiba tersebut. Saya nggak tahu apa saya bisa melewati itu, walaupun sebelumnya saya pernah dihadapkan pada sebuah kejadian yang serupa tapi bedanya saya yang menjadi perantara malaikat maut (suatu saat nanti, kisah ini akan saya ceritakan di blog kalau saya sudah siap mental). Tapi tetap saja, setiap kematian pasti meninggalkan keharuan dan kesedihan pada kisahnya. Pun dari cerita kematian almarhum saudara salah satu Bunda di sekolah tempat saya mengajar ini, dari cerita ini kami kembali menyadari betapa pentingnya posisi keluarga kami yang ketiadaannya akan menciptakan lubang di hati kami masing-masing.

Datangnya maut seseorang di sekitar kita sebenarnya adalah pembelajaran dari Allah untuk orang-orang yang masih hidup di sekitarnya? Lho kok bisa? Iya, dari kematian seseorang kita tahu, bahwa maut tidak bisa kita prediksi datangnya, begitu waktunya tiba, sampai ke lubang semut pun kita tak mampu menghindarinya. Saya jadi kepikiran, sedang apakah saya saat kematian menjemput saya nanti, apakah saya dalam keadaan khusnul khotimah, dan apa saja yang sudah saya berikan pada orang-orang di sekitar saya sebelum kematian menjemput saya? Apakah saya meninggalkan manfaat, atau malah aib? Apa yang akan saya alami setelah orang-orang meninggalkan saya sendirian berkalang tanah? Tanpa lampu, dan tanpa apapun. Apa saya mampu menjawab pertanyaan Munkar dan Nakir? Entah kenapa pertanyaan-pertanyaan tersebut senantiasa muncul setiap saya mendengar berita kematian seseorang.

Sebenarnya pertanyaan tersebut tidak akan muncul jika seseorang siap menghadapi kematian. Berarti saya belum siap dong? Iya, betul, saya belum siap mati, karena setelah saya hitung-hitung, dosa saya masih lebih banyak daripada kebaikan yang sudah saya lakukan, hehe. Lalu, apa yang harus kita lakukan agar kita siap menghadapi kematian yang setiap saat bisa tiba-tiba datang menjemput kita? Kalau pertanyaan ini boleh saya jawab, jawabannya cuma satu, jangan takut pada kematian, tapi takutlah pada Allah yang memiliki kematian itu. Kalau kita takut pada Allah, secara otomatis kita akan senantiasa melakukan semua hal yang diperintahkan oleh Allah dan menjauhi setiap hal yang dilarang Nya. Kalau itu semua sudah kita lakukan, maka hilanglah rasa takut kita pada kematian malah kita akan menyambut kematian dengan tangan terbuka dan penuh keihklasan. Itu kata saya, kalau kata orang lain yang lebih meyakinkan dari segi pengalaman dan keilmuan daripada saya (hehe) bagaimana? Izinkan saya mengutip penuh artikel yang saya baca di sini. Menurut artikel yang saya baca tersebut, ada 4 cara agar kita bisa ikhlas menjemput datangnya maut, yaitu :

1. Mempunyai bekal akhirat yang banyak
Inilah salah satu cara agar Anda bisa mudah menjemput kematian dengan ikhlas. Orang yang punya bekal, ia akan siap bila dijemput kapanpun, sebaliknya orang yang tak punya bekal dan persiapan, ia akan selalu mengalami rasa ketakutan. Oleh sebab itu, dunia merupakan ladang tempat bercocok tanam pahala dan amal perbuatan. Akhirat setelah kita mengalami kematian merupakan tempat kita memanen hasil dari apa yang sudah kita tanam tersebut.

2. Menyelesaikan segala urusan di dunia
Jangan banyak perkara dengan hubungan sesama manusia yang berdampak pada perbuatan dosa dan kemaksiatan, terlebih yang hubungannya dengan silaturahim, karena itu akan membuat Anda sulit menjemput kematian dengan ikhlas. Setiap kita dianjurkan untuk menjadi seorang pemaaf serta selalu membiasakan diri minta maaf atas kesalahan-kesalahan. Dengan demikian diharapkan saat ajal menjemput kita, ajal itu datang menjemput dengan mudah dan ikhlas, tanpa ada beban kesalahan dengan orang lain.

3. Meningkatkan keimanan dan ketakwaan
Kunci utama untuk bisa menjemput kematian dengan mudah adalah terletak pada kekuatan keimanan yang kita miliki kepada Allah dan Rasul-Nya. Keimanan yang kuat akan melahirkan sifat diri yang mantap dan selalu percaya bahwa Allah Sang Maha dari segala Maha. Kita hanya lah makhluk yang lemah dan selalu berada di bawah kehendak yang Maha Kuasa.

4. Memiliki keluarga yang sakinah
Anak yang shaleh serta keluarga yang memiliki nilai keimanan yang kuat akan membuat kita bisa menjemput kematian dengan ikhlas. Tak ada yang perlu kita khawatirkan jika telah meninggalkan anak-anak dan istri sholehah. Keluarga sakinah yang selalu menjaga nilai-nilai robbani perlu Anda bangun untuk kebahagiaan Anda, baik di dunia maupun akhirat. Inilah aset warisan paling berharga yang akan kita rasakan manfaatnya meskipun kita sudah meninggal.

Cara lain agar kita bisa menjemput kematian dengan keihlasan adalah dengan senantiasa mengingat kematian tersebut. Alkisah, suatu hari sahabat Umar bin Khattab duduk bersama Rasulullah SAW. Kemudian datanglah seorang sahabat Anshar. Seraya memberi salam ia berkata: “Wahai Rasulullah, mukmin yang seperti apa yang paling utama?”. Beliau menjawab:”Yang paling baik akhlaknya”. Sahabat itu bertanya lagi: “Mukmin seperti apakah yang paling cerdas?” Beliau menjawab: “Muslim yang paling cerdas adalah yang paling banyak mengingat kematian dan yang paling baik mempersiapkan diri untuk sesudah kematian itu, mereka itulah orang-orang yang cerdas” (diriwayatkan oleh Imam al-Qurtubi dalam al-Tadzkirah fi Ahwal al-Mauta wa Umuri al-Akhirah). Tujuan mengingat kematian adalah agar kita berfikir ulang ketika akan melakukan suatu hal yang nantinya justru akan mempersulit kita menjawab pertanyaan Munkar dan Nakir. Rasulullah SAW bersabda: “Perbanyaklah olehmu mengingat-ingat kepada sesuatu yang melenyapkan segala macam kelazatan, yaitu kematian.” (HR. Turmudzi). Menurut Imam al-Qurtubi, hadist Nabi SAW tersebut merupakan nasihat sekaligus peringatan. Bahwasanya mengingat mati itu perintah, sebab orang yang teringat kematian dengan sebenarnya pasti akan mengurangi sifat-sifat tamaknya terhadap dunia dan mencegah manusia berangan-angan yang tak berujung dan melakukan hal yang sia-sia. Wallahu a’lam bish shawwab.

Jadi, sudah siapkah kita menghadapi kematian? Kalau saya, belum. Hehe. Tapi setelah menulis dan memposting tulisan ini, saya harus siap dan harus menyiapkan diri. Karena bukan kematian yang menunggu kita, kitalah yang menunggu kematian.

“The fear of death follows from the fear of life. A man who lives fully is prepared to die at any time.”
(Mark Twain)

#Day 18 : Untuk Apa Kita Berdo’a?

Prayer is not asking. It is a longing of the soul. It is daily admission of one’s weakness. It is better in prayer to have a heart without words than words without a heart.
– Mahatma Gandhi

 

Untuk apakah kita berdo’a?

Beberapa hari belakangan pertanyaan itu bersliweran di otak saya setelah saya silang pendapat dengan seorang teman berhari-hari lalu. Ceritanya, teman saya itu sedang nggak suka pada dirinya sendiri yang akhir-akhir ini jarang berdo’a, setiap sehabis shalat dia langsung ngluyur (melipir) tanpa meluangkan sedikit waktu untuk meminta kepada Allah. Alasannya, dia merasa nggak pantas meminta terlalu banyak, dia merasa apa yang dia miliki sudah cukup, dan dia nggak ingin “membebani” Allah dengan berbagai permintaannya yang bermacam-macam. Saya yang sering berdo’a dalam setiap kesempatan yang saya punya pun merasa sedikit tersinggung, karena saya juga nggak lebih baik dari dia. Saya merasa seolah-olah saya ini mahluk tak tahu diri yang berdosa banyak tapi masih punya nyali untuk minta banyak hal sama Allah. Debatlah kami.

Tapi setelah hari itu saya mikir, salah ya kalau saya minta sama Allah? Meskipun saya selalu ingin setiap do’a saya dikabulkan oleh Allah. Tapi saya tahu diri, Gusti Allah bukan drive thru nya Mc Donald yang setiap doa langsung siap saji. Gusti Allah melihat unsur usaha, keikhlasan, dan kepasrahan dalam setiap do’a umatnya. Dan saya juga tahu, nggak semua do’a yang saya ucapkan itu nantinya baik untuk saya, karena saya tahu dan mengimani, bahwa Allah tahu mana yang terbaik dan mana yang tidak untuk umatnya. Kalau nggak meminta kepada Allah, Tuhan yang menciptakan saya, saya minta ke siapa lagi?

Buat saya pribadi. Do’a bukan hanya media saya untuk meminta kepada Allah. Do’a juga bisa jadi salah satu cara saya untuk bebincang dan curhat sama Allah selain lewat ibadah lainnya. Saya pun tidak hanya berdo’a ketika sehabis shalat saja. Karena saya seorang guru TK, untuk membiasakan anak-anak saya hafalan do’a sehari-hari, saya pun harus menghafal do’a sehari-hari, supaya saya nggak mendadak hafalan setiap mau mengajari mereka. Jadi setiap sebelum dan setelah makan, keluar dan masuk rumah, keluar masuk kamar mandi, sebelum dan sesudah tidur, masuk dan keluar masjid, sampai melepas dan memakai pakaian pun, saya selalu berusaha untuk berdo’a. Yang begitu masuk kategori do’a kan? Isi d’oa saya selama ini juga standar saja, bukan minta uang 1 miliar, mobil mewah, rumah sebesar istana, atau suami secakep Dude Harlino. Meskipun saya tahu sah-sah saja saya meminta hal-hal itu, tapi saya masih ingat dosa dan meminta hal yang menurut saya, saya butuhkan saja. Terus, salah ya kalau saya berdo’a begitu?

Kembali lagi ke pertanyaan di atas. Sebenarnya, untuk apakah kita berdo’a?

Menurut Abû Al-Qasim Al-Naqsabandî dalam kitab syarah Al-Asmâ’u al-Husnâ pengertian doa terbagi dalam beberapa aspek, yaitu:

1.) Do’a dalam pengertian “Ibadah.” Seperti dalam Al-Quran surah Yûnûs ayat 106.

Artinya: “Dan janganlah kamu beribadah, kepada selain Allah, yaitu kepada sesuatu yang tidak dapat mendatangkan manfaat kepada engkau dan tidak pula mendatangkan madarat kepada engkau.”

Maksud kata berdo’a di atas adalah ber-“ibadah” (menyembah). Yaitu jangan menyembah selain daripada Allah, yakni sesuatu yang tidak memberikan manfaat dan tidak pula mendatangkan madarat kepadamu.

2.) Do’a dalam pengertian “Istighatsah” (memohon bantuan dan pertolongan). Seperti dalam Al-Quran surah Al-Baqarah ayat 23 dibawah ini.

Artinya: “Dan berdo’alah kamu (mintalah bantuan) kepada orang-orang yang dapat membantumu.”

Maksud kata “berdo’a” (wad’u) dalam ayat ini, adalah “Istighatsah” (meminta bantuan, atau pertolongan). Yaitu mintalah bantuan atau pertolongan dari orang-orang yang mungkin dapat membantu dan memberikan pertolongan kepada kamu.

3.) Do’a dalam pengertian “permintaan” atau “permohonan.” Seperti dalam Al-Quran surah Al-Mu’minûn ayat 60 dibawah ini.

Artinya: “Mohonlah (mintalah) kamu kepada-Ku, pasti Aku perkenankan (permintaan) kamu itu.”

Maksud kata “Do’a” (ud’ûnî) dalam ayat ini adalah, “memohon” atau “meminta.” Yaitu, mohonlah (mintalah) kepada Aku (Allah) nisscaya Aku (Allah) akan perkenankan permohonan (permintaan) kamu itu.

4.) Do’a dalam pengertian “percakapan”. Seperti dalam Al-Quran surah Yûnûs ayat 10 dibawah ini.

Artinya: “Do’a (percakapan) mereka di dalamnya (surga), adalah Subhânakallâhumma (Mahasuci Engkau wahai Tuhan).”

5.) Do’a dalam pengertian “memanggil.” Seperti firman Allah dalam Al-Quran dibawah ini.

Artinya: “Pada hari, dimana la mendoa (memanggil) kamu.”

Maksud kata “do’a” (yad’û) dalam ayat ini adalah “memanggil.” Yaitu, pada suatu hari, dimana la (Tuhan) menyeru (memanggil) kamu.

6.) Do’a dalam pengertian “memuji.” Seperti dalam Al-Quran surah Al-Isrâ’ ayat 110 dibawah ini.

Artinya: “Katakanlah olehmu hai Muhammad: berdo’alah (pujilah) akan Allah atau berdo’alah (pujilah), akan Ar-Rahmân (Maha penyayang).”

Maksud kata “do’a ” (qulid’û) dalam ayat ini adalah “memuji”. Yaitu, pujilah olehmu Muhammad akan Allah atau pujilah olehmu Muhammad akan Al-Rahmân.

Dari penjelasan panjang di atas, dapat kita simpulkan bahwa fungsi do’a adalah, untuk meminta, berharap, berbicara, memuji, memanggil dan beribadah kepada Allah. Selain itu, isi doa tidak semata tentang permintaan dan permohonan saja, di dalamnya juga ada puji-pujian kepada Allah sebagai bentuk rasa syukur kita kepada-Nya. Hal tersebut bisa kita lihat dalam kidung-kidung doa setiap agama, di dalamnya pasti terdapat puji-pujian kepada Tuhannya masing-masing. Sedangkan dalam Islam sendiri, kita senantiasa dianjurkan untuk mengawali doa kita dengan membaca surat Al Fatihah, karena di dalamnya, selain mengandung permohonan dan harapan, juga ada puji-pujian kepada Allah SWT.

Prof. Dr. Komaruddin Hidayat, dosen UIN Jakarta pernah menuliskan dalam salah satu artikelnya, bahwa ketika berdoa kepada Tuhan, beban seseorang akan menjadi ringan karena telah dibagi dengan Dia Yang Maha Agung yang di tangan-Nya tergenggam semesta ini. Dengan mengadu dan membuka diri di hadapan- Nya,doa akan mengalirkan energi Ilahi, sehingga seseorang akan memperoleh kekuatan baru dan berlipat ibarat kita recharging baterai yang sudah lemah. Ketika seseorang berdoa dengan sungguh-sungguh, dia tengah melakukan channeling dengan gelombang energi semesta sehingga semesta akan berpihak kepadanya. Dari pendapat di atas kita dapat menyimpulkan, bahwa do’a juga dapat menjadi perantara kita dalam meringankan beban hidup yang kita miliki, do’a bisa berperan sebagai obat hati kita, di mana kita memasrahkan segala kesulitan yang kita alami dengan mencurahkan semua perasaan kita kepada Allah. Mungkin karena itu, kebanyakan orang berdo’a hanya ketika ia mendapatkan kesusahan dan kesulitan dalam hidupnya, dan ketika hidup mereka baik-baik saja mereka lupa berdo’a dan bersyukur. Meskipun begitu, tidak berdo’a sama sekali hanya karena merasa tidak susah dan tidak pantas juga tidak lebih baik daripada orang-orang yang berdoa kepada Allah hanya ketika susah saja, dalam salah satu hadits pernah disebutkan bahwa Allah murka terhadap orang yang tidak pernah berdo’a kepadanya,

Barangsiapa tidak (pernah) berdo’a kepada Allah maka Allah murka kepadanya. (HR. Ahmad)

Allah juga tidak suka kepada orang-orang yang hanya bisa berdo’a dan meminta tanpa pernah berusaha,

Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.(QS. Ar Ra’du, 11)

Jadi, setelah baca sana sini, dan mikir ke sana kemari, saya pun sampai pada suatu kesimpulan untuk apa saya berdoa. Saya berdoa, untuk lebih dekat dengan Allah, Tuhan dan pencipta saya. Sama seperti halnya kita ingin mengenal seseorang lebih dekat untuk menjadikannya teman atau kekasih. Saya ingin Allah ada di setiap kesusahan dan kebahagiaan yang saya alami di dunia ini. Meskipun saya tahu, Allah pasti senantiasa ada untuk umat-Nya yang membutuhkan.

Semoga kita tidak termasuk orang-orang yang lalai dan lupa untuk berdo’a kepada Allah. Wallahu’alam bish shawwab.

 

 

Sumber bacaan: Di sini, di sini, dan di sini.

 

 

Tulisan ini disponsori event:

novemberngeblog

 

Kesalah Kaprahan Kisah Pelacur yang Masuk Surga Karena Seekor Anjing

Pernah dengar salah satu kisah yang pernah diceritakan Kanjeng Nabi Muhammad SAW tentang seorang pelacur yang masuk surga karena memberi minum seorang anjing yang kehausan?

Inti dari kisah ini sebenarnya adalah, Allah menyukai hambanya yang memiliki sifat kasih sayang ke semua mahluknya, BUKAN tentang “seorang pelacur pun bisa masuk surga apalagi kita yang dosanya begini aja.” Kutipan sebelumnya saya kutip dari seseorang yang saya kenal. Kenapa saya menggunakan huruf besar pada kata “bukan” di atas? Saya hanya ingin menegaskan saja, karena akhir-akhir ini saya sering mendengar kisah tentang pelacur ini disalah kaprahkan. Kisah ini seolah-olah dijadikan pembenaran pada setiap hal yang bertentangan dengan syariat Islam. Misalnya saja, tahun lalu kita semua pasti sudah mendengar kehebohan tentang video asusila Luna Maya, Ariel dan Cut Tary. Saat itu di setiap jejaring sosial pasti kita banyak menemukan opini yang membela dan menggugat mereka, begitupun di akun Facebook saya. Saat itu banyak status tentang peristiwa ini yang menghiasi halaman dinding saya. Ada salah satu status yang membuat saya agak tidak “nyaman”, yang ditulis salah satu teman kuliah saya, kalau tidak salah kurang lebih statusnya berbunyi seperti ini (maaf kalau salah kutip, sudah lama soalnya) “Kenapa semua mencela Luna Maya, lupakah kalian pada kisah tentang Pelacur yang masuk surga karena memberi minum seekor anjing?” Rasa tidak nyaman saya muncul karena saya menganggap kisah ini dipelintir sedemikian rupa sehingga seolah-olah hal yang dilakukan Luna Maya bukanlah hal yang besar sehingga patut dimaklumi dan di”maaf”kan. Waktu itu saya gatal ingin mengomentari status tersebut, tapi berhubung ilmu saya masih cetek (sampai sekarang pun masih), saya tidak memiliki argumen yang cukup kuat untuk menyanggah pernyataan beliau yang menyetir kisah tersebut.

Maha baik Allah. Sabtu pagi kemarin saya menemukan jawaban dari pergulatan batin saya (agak lebay dikit biar keren, hehe) tentang kisah pelacur ini. Pagi kemarin kebetulan sedang diadakan Tabligh Akbar di sebuah Masjid di kota saya, penceramahnya seorang Imam masjid yang khusus didatangkan dari Madinah (maaf, saya lupa mencatat nama beliau). Saat itu beliau berceramah tentang faedah memiliki rahmat kasih sayang di hati kita sebagaimana rahmat kasih sayang yang dimiliki Rasulullah SAW. Beliau mengambil kisah seorang pemuda jahat yang seumur hidupnya melakukan perbuatan yang diharamkan Allah. Tiba-tiba pemuda tersebut menjadi pemuda sholeh yang senantiasa tunduk pada perintah Allah dan menghabiskan sebagian besar waktunya di masjid untuk beribadah. Perubahan drastis pemuda ini membuat seorang pemuda lain kagum sehingga ia pun bertanya pada pemuda tersebut mengapa tiba-tiba ia menjadi begitu sholeh. Pemuda mantan penjahat tersebut pun menjawab, suatu hari ia merasa begitu lapar dan haus, tapi di rumahnya hanya ada khamr (minuman keras), sehingga ia memutuskan untuk keluar mencari makanan, di tengah jalan ia menemukan seekor anjing yang kehausan, lalu ia memutuskan untuk memberi minum anjing tersebut. Sesampainya di rumah ia langsung tertidur dan begitu bangun ia tiba-tiba tidak ingin menyentuh khamr atau berbuat tercela lagi. Kenapa bisa begitu? Menurut sang imam, hal ini terjadi karena pemuda tersebut mendapat rahmat kasih sayang. Sebagaimana yang disebutkan dalam salah satu hadits di sirah nabawiyah yaitu, “Orang yang memiliki kasih sayang akan mendapatkan kasih sayang Allah”, dan bentuk kasih sayang Allah pada pemuda yang menunjukkan kasih sayangnya kepada seekor anjing tersebut adalah berupa hidayah untuk meninggalkan perbuatan tercela yang selama ini ia lakukan dan kembali ke jalan yang diridhoi Allah.

Lalu, apa hubungannya kisah pemuda di atas dengan kisah pelacur yang masuk surga? Masih menurut imam tersebut, sama dengan kisah pemuda mantan penjahat itu, Allah tidak serta merta memaafkan dosa-dosa pelacur tersebut dan memasukkannya ke surga, Allah memberi pelacur tersebut hidayah agar tidak lagi melakukan dosa-dosa yang pernah ia lakukan sebagai bentuk kasih sayang Allah padanya karena telah menyayangi mahluk Allah yang lain. Jadi, kisah ini dibuat untuk mengingatkan manusia betapa pentingnya memiliki sifat kasih sayang sebagaimana sifat kasih sayang yang dimiliki Rasulullah di hati kita, tidak hanya sayang pada keluarga atau teman, tetapi juga kasih sayang pada setiap mahluk ciptaan Allah termasuk alam semesta dan seisinya. Kesimpulannya, kisah ini bukan tentang memaklumi dan mewajarkan sebuah dosa. Karena bagaimanapun, amal perbuatan kitalah yang menentukan nasib kita di hari akhir kelak.
“Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada tubuh, rupa luaran dan harta kamu, tetapi melihat kepada hati dan amalan kamu” (Riwayat Muslim)