Melawan Lupa

Jumpa lagi…
Jumpa Vani kembali…
ya di sini…
Jumpa Vani kembali…

(dibaca dengan nada lagunya Maisy. Anak tahun 90an pasti tahu banget deh sama Kakak Maisy Ci Luk Ba yang mmmuuuuaaahhh itu, hehe)

Akhir-akhir ini kita pasti sering mendengar kalimat yang saya jadikan judul di atas. Entah itu dalam bentuk meme atau ocehan-ocehan di media sosial. Kalimat di atas sering kita jumpai digunakan untuk mengkritisi kinerja Bapak Presiden dan para pejabat pemerintah kita yang terhormat. Tujuannya untuk mengingatkan pemimpin kita sama janji-janji mereka dulu waktu kampanye, yang agak sedikit dilupakan (sedikit lho ya, gak banyak, Bapak-Bapak itu pasti ingatlah sama janji mereka, hehe). Tapi tulisan saya ini bukan untuk mengkritisi pemerintah kita kok. Tulisan ini untuk mengkritisi saya sendiri, hehe…

Semua orang yang kenal baik sama saya pasti tahu betapa “pelupa” adalah salah satu sifat saya yang banyak merugikan orang dan diri saya sendiri. Dan parahnya, penyakit pikun saya ini nggak serta merta datang waktu umur saya menjelang 30 tahun ini. Dari jaman masih ABG saya sudah mengidap penyakit konyol nan menyebalkan ini. Nah, sesuai dengan judul tulisan saya, akhir-akhir ini saya sedang berusaha menghilangkan imej tukang pikun yang sudah saya sandang selama bertahun-tahun..

Ada beberapa kejadian aneh bin ajaib yang saya alami gara-gara penyakit lupa saya ini. Pernah waktu Aliyah (SMA) saya marah sama teman-teman saya karena menyembunyikan kaca mata saya. Isi tas sudah saya bongkar, laci meja sendiri sampai laci meja teman sebangku sudah saya geledah tapi kaca mata tersebut tidak juga saya temukan. Saya sampai capek sendiri. Sampai akhirnya teman saya bingung kenapa saya marah-marah sambil bongkar-bongkar tas, waktu saya bilang saya lagi cari kacamata, dengan muka bingung dan melongo sambil menunjuk muka saya dia bilang, “Nah, yang kamu pake itu apa?”
Yak benar saudara-saudara. Kacamata yang saya cari-cari itu ternyata dari tadi sudah saya pakai. Kurang absurd apa coba. Separah itu pikun saya. Saya juga pernah cari-cari helm yang sudah saya pakai (iya, saking pikunnya saya nggak kerasa udah pake helm seberat itu), cari kunci yang sudah saya pegang, lupa taruh motor dan naik motor orang di parkiran gara-gara warnanya sama kayak motor saya, sampai saya lupa harus nurunin Ibu saya di mana. Soal nurunin ibu saya ceritanya begini, jadi Ibu saya minta saya untuk mengantar beliau ke kantor Ayah saya karena ada rapat Dharma Wanita, bukannya saya antar ke kantor Ayah, saya malah nurunin Ibu saya di depan sekolah adik saya yang kebetulan ada di samping kantor Ayah, waktu itu saya ingetnya lagi bawa adik saya, bukan Ibu saya. Dan Ibu saya cuma bisa geleng-geleng kepala lihat kelakuan anak gadisnya yang sudah mulai nyicil pikun ini.

ID-1001447831

Menurut berbagai sumber terpercaya (dari Google lebih tepatnya), ada beberapa hal yang membuat seseorang pikun, faktor utamanya umur, bisa juga karena kurang olahraga, kurang asupan gizi untuk otak, stres atau depresi, kurang mengasah otak, kurang tidur, dan mengkonsumsi alkohol dan narkoba.Dalam kasus saya mungkin penyebabnya adalah kurang olahraga, kurang mengasah otak dan stres atau depresi. Walaupun kelihatannya sehat, cerdas dan ceria, saya ini tipe orang yang mudah stres. Kalau sudah kena masalah, daripada menceritakan dan membaginya ke orang lain, saya simpan sendiri masalah itu sampai stres sendiri. Saya juga tipe orang yang super duper malas olahraga, bahkan untuk sekedar jalan kaki ke warung terdekat pun malasnya ampun-ampunan. Kalau soal mengasah otak, jangan ditanya lagi. Saya mending asah pisau daripada asah otak. Hehe..

Mungkin hal-hal tersebut yang menyebabkan penyakit lupa saya tak kunjung menghilang. Sampai-sampai teman saya pernah menyarankan saya untuk mulai minum multivitamin otak untuk mengurangi kadar kepikunan saya. Sebenarnya saya sudah mulai melakukan beberapa hal untuk melawan penyakit lupa ini. Seperti misalnya, saya selalu menyimpan barang-barang di tempatnya masing-masing, sehingga mudah ditemukan. Saya selalu mencatat hal-hal yang akan saya lakukan hari ini, atau barang yang akan saya beli. Saya juga sering latihan menghitung uang tanpa kalkulator, mengingat tanggal-tanggal dan nomor-nomor telepon yang penting tanpa melihat catatan. Setiap pagi saya bangun lebih pagi dari alarm ponsel saya dan mulai menghafal surat-surat pendek di Al Quran.

Sedikit banyak hal-hal tersebut mengurangi kepikunan saya walaupun tidak serta merta melenyapkannya. Kayaknya otak saya bekerja di luar kendali saya, dia memilih apa yang ingin dia ingat dan apa yang ingin dilupakan. Lucunya yang harus diingat malah dilupakan, yang gak seharusnya diingat malah disimpan.. 😀

Kalau menurut berbagai sumber terpercaya (mbah Google lagi), ada beberapa tips agar kita tidak mudah lupa, yaitu:

  • Aktif secara mental.
    Mungkin maksudnya adalah mengasah otak. Seperti membaca buku, mengisi TTS, main catur, membaca buku atau mengerjakan sesuatu yang membuat kita mengoptimalkan fungsi otak kita.
  • Rutin bersosialisasi.
    Dengan rutin bersosialisasi mungkin akan membantu kita untuk lebih terbuka dengan sekitar dan mengurangi stres dengan cara berbagi dan berkomunikasi dengan orang-orang di sekeliling kita
  • Jadilah terorganisasi.
    Hal ini sama dengan yang sudah saya lakukan. Menyimpan barang di tempat yang sama, mencatat berbagai hal yang mudah kita lupa, dan menata barang-barang sesuai urutan agar mudah kita ingat.
  • Tidur yang cukup.
    Kalau soal ini saya jagonya. Saya hobi tidur. Jadi di antara semua tips, tips yang satu ini mungkin yang paling mudah saya lakukan. Tidurlah paling tidak 7 jam sehari agar otak kita cukup beristirahat dan kembali optimal saat bangun nanti.
  • Olahraga Secara Rutin.
    Olahraga secara rutin akan membuat aliran darah dan oksigen menuju otak lancar. Katanya, suplai oksigen yang cukup ke otak akan membantu mengoptimalkan fungsi otak dan membantu pertumbuhan sel-sel baru dalam otak

Sepertinya selain yang sudah saya lakukan, saya juga harus mulai mengikuti tips-tips yang saya tulis ulang di atas. Bayangan kalau tua nanti saya tiba-tiba nyasar dan nggak bisa pulang ke rumah sendiri selalu membuat saya takut. Saya nggak kebayang kalau masih umur segini saya udah pikun bagaimana waktu tua nanti. Saya nggak mau jadi pikun seumur hidup. Dan semoga setelah tulisan ini penyakit lupa saya sedikit demi sedikit berkurang dan semakin membaik. Biar nantinya nggak lupa lagi kalau punya blog yang harus selalu diisi, ngakunya blogger tapi jarang ngeblog, hehe..

Aamiin Allahumma Aamiin… 🙂

Welcome 2015, Welcome New Me!! :)

pizap.com14210718855111

Yieyyy… Finally. Setelah vakum sekian lamanya, akhirnya saya bisa ngeblog lagi. Dan lagi-lagi takjub, karena ternyata walaupun vakum begitu lamanya, masih saja ada yang sudi mengunjungi blog kumuh nan sederhana ini, jadi pingin nangis deh, terharu… T.T

Selama vakum ngeblog, banyak hal yang terjadi dalam hidup saya. Dari yang paling membuat dunia saya terbolak-balik, sampai yang membuat saya terbang terombang ambing. Pokoknya banyak cerita yang kalau saya tulis semuanya di sini nggak mungkin selesai sehari, hehe, agak lebay sedikit boleh dong? Yang jelas, Insya Allah, mulai hari ini saya rajin ngeblog lagi, karena kembali aktif ngeblog adalah salah satu resolusi tahun baru saya. 🙂

Oh iya, selamat tahun baru 2015 ya teman-teman.
Semoga, tahun ini kita semua menjadi orang yang lebih baik lagi daripada tahun lalu. Aamiin Allahumma Aamiin…

Terakhir. Terimakasih banyak yang sudah meninggalkan komentar dan membagi tulisan-tulisan dari blog saya. Sedikit banyak saya merasa dihargai dan termotivasi untuk lebih rajin ngeblog lagi. Terimakasih. Dan postingan pertama saya di tahun ini semoga jadi pembuka dan pionir hadirnya postingan-postingan lain yang lebih bermanfaat dan menginspirasi (eciehhh…) hehe, aamiin.

Mau Pilih yang Mana?

Iya. Tulisan ini tentang pemilu. jangan bosen ya, walaupun sebenarnya saya sendiri juga bosen karena sudah beberapa hari ini setiap blogwalking, artikel yang saya baca isinya tentang pemilu semua. Tapi, sekali-sekali ikut arus boleh dong? Karena memang pemilu hal yang paling relevan untuk dibahas saat ini. Menurut saya sih, menurut kamu? 🙂

Pemilu kali ini pemilu ke dua saya. Jadi, sudah 2 kali saya memilih wakil rakyat dan calon presiden. Pemilu lalu saya absen memilih caleg, karena saya merasa tidak ada satupun foto caleg yang terpampang yang saya kenal. Walaupun beberapa wajah terlihat familiar karena poster wajah mereka tersebar di sepanjang jalan, tapi saya nggak kenal mereka dan tidak tahu visi dan misi mereka. Daripada saya nyesel memilih orang yang nggak saya kenal, saya memilih untuk golput, hehe. Walaupun saya tidak memilih wakil rakyat, waktu itu saya tetap memilih capres. Meskipun capres yang saya pilih tidak menang, paling tidak saya puas dengan pilihan saya, karena saat itu saya sering membaca visi misi beliau dan opini-opini yang beliau kemukakan di televisi. Untuk pemilu kali ini saya galau, antara memilih atau golput. Karena jujur, saya skeptis sama semua calon wakil rakyat dan calon presiden yang ada. Walaupun saya belum tahu visi dan misi para caleg itu, tapi banyak hal yang membuat rasa simpati saya hilang terhadap mereka. Mulai dari pemasangan alat peraga kampanye dan poster yang tidak memperdulikan tata kota dan lingkungan sampai kampanye-kampanye licik yang berbau hura-hura atau keagamaan yang ujung-ujungnya duit juga. Ibarat makan buah simalakama, kalau saya memilih dan calon tersebut menang, lalu ketika menjadi anggota DPR dia terlibat korupsi, saya bakal menyesal tujuh turunan karena memilih orang yang menjadi salah satu penyebab hancurnya negara saya. Sedangkan kalau saya memilih untuk tidak memilih alias golput, saya juga menyesal kalau nantinya calon yang terpilih ternyata tidak amanah, karena suara saya yang berharga tidak saya gunakan untuk memilih calon lain yang lebih amanah. Repot kan?

Pada pilkada yang diadakan di kota saya tahun lalu pun saya mengalami kebingungan yang sama. Walaupun salah satu calon adalah tetangga saya sendiri, tapi karena beda RW, saya juga nggak terlalu mengenal beliau. Setelah mendengar peran beliau terhadap lingkungan di sekitar tempat tinggal kami dari mulut Ayah saya sendiri. Saya akhirnya menetapkan hati dan memilih beliau. Semoga pilihan saya tepat, karena akhir-akhir ini saya merasa beliau terlalu peduli pada partainya daripada warganya, apa karena musim kampanye ya? Wallahu a’lam. Dan, pada pilkada tahun lalu, saya sempat dibuat mikir oleh pendapat teman saya yang kebetulan terpaksa memilih golput karena tidak sempat ke TPS akibat kesibukannya (alasan konyol memang, hehe). Katanya,
” Aku pasrah ae wis, sopo sing menang wis ditakdirne Allah dadi walikota.” Yang artinya, saya pasrah saja, siapa yang menang sudah takdirnya jadi walikota. Waktu itu saya sempat ketawa, tapi setelah saya pikir baik-baik, ada benarnya juga. Selain faktor usaha seperti kampanye, dan doa. Para calon pemimpin kita juga harus punya faktor penentu kemenangan lainnya, yaitu takdir. Mau kampanye semahal apapun atau sampai harus menjual jiwa ke iblis kayak di film-filmnya tante Suzanna. Kalau belum takdirnya jadi pemimpin ya nggak akan jadi pemimpin. Dan pola pikir itu terus saya pakai sebagai pembenaran atas sikap golput saya tahun ini.

Sampai kemarin, nggak sengaja saya baca tulisan tentang takdir ini. Dalam tulisan tersebut dijelaskan bahwa takdir bukanlah jalan cerita yang tidak bisa diubah. Ada faktor usaha dan doa di dalamnya. Kalau dikaitkan dengan pemilu. Ada faktor pemilih untuk memilih para pemimpin tersebut agar memenangkan kursi pemerintahan. Jadi, kalau saya memilih pasrah dan tidak memilih, maka jalan hidup seseorang akan berubah karena pilihan saya itu. Misalnya, seharusnya karena pilihan saya, seseorang baik hati menjadi caleg, tetapi karena saya golput, calon lain yang tak baik hati malah yang menang. Atau sebaliknya. Karena tulisan itu saya jadi kepikiran, dan galaulah saya. Apa tahun ini saya harus memilih atau tetap setia pada kegolputan saya? Ada yang bilang, kalau bingung harus memilih siapa, tanyakan pada hati nurani kita (bukan nama partai loh ya, hehe). Tapi, saya nggak pernah percaya sama hati. Hati saya busuk sih, banyak nodanya, hehe. Dan, menurut saya, satu-satunya tempat bertanya terbaik adalah Allah. Sebagaimana firman Allah dalam Surat Al-Anfal ayat 49 yang artinya,

“…Sesungguhnya orang-orang yang menyerahkan segala urusan mereka kepada Allah dengan penuh keimanan dan harapan, serta menyandarkan diri hanya kepada Allah, niscaya Dia akan mencukupkan segala kebutuhan dan memenangkan atas musuh-musuh mereka. Sesungguhnya Allah Mahakuat kekuasaan-Nya dan Mahabijaksana dalam pemeliharaan-Nya.”

Saya pribadi sih percaya sama janji Allah. Lagian, masalah memilih wakil rakyat buat saya bukanlah hal yang sepele kan? Karena menyangkut masa depan ratusan juta rakyat Indonesia. Jadi nggak ada salahnya kan kalau sebelum memilih kita berdoa dulu, kalau perlu shalat istikharah juga. Istikharah bukan untuk memilih jodoh saja, memilih wakil rakyat juga bisa pakai istikharah jika memang diperlukan. Saya juga sepertinya akan berdoa dulu sebelum berangkat ke TPS tanggal 9 April nanti. Kalaupun tidak ada satupun caleg yang pas di hati saya, saya tetap akan mencoblos gambar partainya. Karena menurut sumber terpercaya, suara yang masuk jika kita mencoblos partai, akan dibagi rata untuk caleg-caleg dengan suara terendah, pasrah sama kebijakan partai istilahnya.

Memilih untuk tidak memilih alias golput memang pilihan, dan hak setiap individu, tapi buat saya itu bukanlah solusi. Bagaimanapun, kita harus menggunakan hak suara yang kita miliki untuk memenuhi kewajiban kita pada negara, karena sekecil apapun itu, sebagai warga negara yang baik kita harus memberikan kontribusi yang berarti untuk negara tercinta, selain bayar pajak tentunya, hehe

Dan kemarin, saya nemu status yang agak mencerahkan nih di timeline FB saya,

“Sebisa mungkin jgn golput ya (^D^ ) Kalo dia nantinya lupa akan visi & misinya, itu urusan dia dg Tuhan. Intinya pergunakan hak kita dg baik”

Wallahu a’lam. Last but not least, say no to golput. Gunakan hak pilih kita dengan baik, demi masa depan bangsa.. 🙂 (Sebagai informasi, saya bukan duta KPU ya, cuma anaknya KPPS Kecamatan, hehe)