Pada Saatnya Nanti

Pada saatnya nanti,
kita akan berjalan bersisian,
saling mengisi ruang di antara jari masing-masing,
memandang lepas pantai tempat kita berpisah,
aku dan kamu,
hanya kita dan dua pasang jejak di pasir putih,

Pada saatnya nanti,
ruang fikiran kita akan saling menyatu mimpi,
dan saat kita bermimpi,
akan ada ribuan bunga menghampar,
menyediakan ruang untuk kita tersenyum,
hanya kita,
dan harum di sekeliling yang menghiasi.

Pada saatnya nanti,
aku dan kamu tak lagi asing,
akan kita ulangi lagi kisah bodoh yang lalu,
akan kita ceritakan lagi senyum pahit dan manis yang dulu,
akan kita katakan lagi semua yang sempat dilupa,
kita akan sama-sama tergelak,
menertawakan kecanggungan yang lalu,
kita akan sama-sama mengisak,
kisah yang tak berawal tapi berakhir itu,
kita akan menguntai,
setiap sisi-sisi tak terucap dahulu.

Pada saatnya nanti,
hanya ada kita,
aku dan kamu,
dan kisah singkat kita.

Sampai ombak menghapus jejaknya,
sampai angin meniup harumnya.
Sampai saat itu,
ya, akan aku teruskan,
sampai saat itu, bahkan setelah itu,
ya, aku tetap sama, begitupun hatiku.
Jaga baik-baik…

A Memoir of Love ( I wish It’ll also mine)

images

Malam ini,

aku membayangkan kita berdua menua,
dengan banyak keriput di ujung mata dan bibir kita,
karena kita banyak tersenyum.
Berdua kita duduk berjemur setiap fajar,
menjadi saksi diawalinya hari di atas kursi rotan kita,
kamu menyeruput kopi pahitmu, aku menyesap teh manisku.
Berdua mengenang pahit manis cerita kita, anak-anak kita dan nantinya akan hadir cucu-cucu dalam cerita kita.
Ah, begitu cepat waktu berlalu…
Pasti akan kulihat banyak serat-serat putih di antara rambut yang kau banggakan.
Akankah perasaan kamu tetap sama?
Seandainya nanti kulitku tak sekencang saat pertama kita bertemu, akan begitu banyak perubahan pada diriku yang mungkin tak kau sukai.
Tapi, bukankan itu seninya menjadi tua? Seolah-olah setiap keriput kita memiliki kisahnya masing-masing..
Masihkah nanti kita bersama?
Menggandeng tangan masing-masing,
berbagi ketakutan yang mengikuti masa-masa terakhir kita, berbagi keberanian menghadapi dunia dan hidup yang makin menua.
Membayangkan saja membuatku meneteskan air mata. Haru bukan sedih,
andai hidup kita yang tulis, sungguh aku tak ingin ada akhirnya. Tapi buku ini bukan milik kita…

Yang aku tahu pasti,
malam ini kita masih bersama, berbagi cerita lewat mata kita masing-masing, yang telah jadi saksi betapa waktu tak kenal kata lambat.
Memang tak ada yang abadi bukan? Tapi akan kupastikan, mimpi kita akan abadi dalam khayal kita, selamanya.
Begitu bukan, sayang?

Tribute to OS.Saepurrohman and EuisMunawaroh, Who still in love till now,
we love you both forever always 🙂