Melawan Lupa

Jumpa lagi…
Jumpa Vani kembali…
ya di sini…
Jumpa Vani kembali…

(dibaca dengan nada lagunya Maisy. Anak tahun 90an pasti tahu banget deh sama Kakak Maisy Ci Luk Ba yang mmmuuuuaaahhh itu, hehe)

Akhir-akhir ini kita pasti sering mendengar kalimat yang saya jadikan judul di atas. Entah itu dalam bentuk meme atau ocehan-ocehan di media sosial. Kalimat di atas sering kita jumpai digunakan untuk mengkritisi kinerja Bapak Presiden dan para pejabat pemerintah kita yang terhormat. Tujuannya untuk mengingatkan pemimpin kita sama janji-janji mereka dulu waktu kampanye, yang agak sedikit dilupakan (sedikit lho ya, gak banyak, Bapak-Bapak itu pasti ingatlah sama janji mereka, hehe). Tapi tulisan saya ini bukan untuk mengkritisi pemerintah kita kok. Tulisan ini untuk mengkritisi saya sendiri, hehe…

Semua orang yang kenal baik sama saya pasti tahu betapa “pelupa” adalah salah satu sifat saya yang banyak merugikan orang dan diri saya sendiri. Dan parahnya, penyakit pikun saya ini nggak serta merta datang waktu umur saya menjelang 30 tahun ini. Dari jaman masih ABG saya sudah mengidap penyakit konyol nan menyebalkan ini. Nah, sesuai dengan judul tulisan saya, akhir-akhir ini saya sedang berusaha menghilangkan imej tukang pikun yang sudah saya sandang selama bertahun-tahun..

Ada beberapa kejadian aneh bin ajaib yang saya alami gara-gara penyakit lupa saya ini. Pernah waktu Aliyah (SMA) saya marah sama teman-teman saya karena menyembunyikan kaca mata saya. Isi tas sudah saya bongkar, laci meja sendiri sampai laci meja teman sebangku sudah saya geledah tapi kaca mata tersebut tidak juga saya temukan. Saya sampai capek sendiri. Sampai akhirnya teman saya bingung kenapa saya marah-marah sambil bongkar-bongkar tas, waktu saya bilang saya lagi cari kacamata, dengan muka bingung dan melongo sambil menunjuk muka saya dia bilang, “Nah, yang kamu pake itu apa?”
Yak benar saudara-saudara. Kacamata yang saya cari-cari itu ternyata dari tadi sudah saya pakai. Kurang absurd apa coba. Separah itu pikun saya. Saya juga pernah cari-cari helm yang sudah saya pakai (iya, saking pikunnya saya nggak kerasa udah pake helm seberat itu), cari kunci yang sudah saya pegang, lupa taruh motor dan naik motor orang di parkiran gara-gara warnanya sama kayak motor saya, sampai saya lupa harus nurunin Ibu saya di mana. Soal nurunin ibu saya ceritanya begini, jadi Ibu saya minta saya untuk mengantar beliau ke kantor Ayah saya karena ada rapat Dharma Wanita, bukannya saya antar ke kantor Ayah, saya malah nurunin Ibu saya di depan sekolah adik saya yang kebetulan ada di samping kantor Ayah, waktu itu saya ingetnya lagi bawa adik saya, bukan Ibu saya. Dan Ibu saya cuma bisa geleng-geleng kepala lihat kelakuan anak gadisnya yang sudah mulai nyicil pikun ini.

ID-1001447831

Menurut berbagai sumber terpercaya (dari Google lebih tepatnya), ada beberapa hal yang membuat seseorang pikun, faktor utamanya umur, bisa juga karena kurang olahraga, kurang asupan gizi untuk otak, stres atau depresi, kurang mengasah otak, kurang tidur, dan mengkonsumsi alkohol dan narkoba.Dalam kasus saya mungkin penyebabnya adalah kurang olahraga, kurang mengasah otak dan stres atau depresi. Walaupun kelihatannya sehat, cerdas dan ceria, saya ini tipe orang yang mudah stres. Kalau sudah kena masalah, daripada menceritakan dan membaginya ke orang lain, saya simpan sendiri masalah itu sampai stres sendiri. Saya juga tipe orang yang super duper malas olahraga, bahkan untuk sekedar jalan kaki ke warung terdekat pun malasnya ampun-ampunan. Kalau soal mengasah otak, jangan ditanya lagi. Saya mending asah pisau daripada asah otak. Hehe..

Mungkin hal-hal tersebut yang menyebabkan penyakit lupa saya tak kunjung menghilang. Sampai-sampai teman saya pernah menyarankan saya untuk mulai minum multivitamin otak untuk mengurangi kadar kepikunan saya. Sebenarnya saya sudah mulai melakukan beberapa hal untuk melawan penyakit lupa ini. Seperti misalnya, saya selalu menyimpan barang-barang di tempatnya masing-masing, sehingga mudah ditemukan. Saya selalu mencatat hal-hal yang akan saya lakukan hari ini, atau barang yang akan saya beli. Saya juga sering latihan menghitung uang tanpa kalkulator, mengingat tanggal-tanggal dan nomor-nomor telepon yang penting tanpa melihat catatan. Setiap pagi saya bangun lebih pagi dari alarm ponsel saya dan mulai menghafal surat-surat pendek di Al Quran.

Sedikit banyak hal-hal tersebut mengurangi kepikunan saya walaupun tidak serta merta melenyapkannya. Kayaknya otak saya bekerja di luar kendali saya, dia memilih apa yang ingin dia ingat dan apa yang ingin dilupakan. Lucunya yang harus diingat malah dilupakan, yang gak seharusnya diingat malah disimpan.. 😀

Kalau menurut berbagai sumber terpercaya (mbah Google lagi), ada beberapa tips agar kita tidak mudah lupa, yaitu:

  • Aktif secara mental.
    Mungkin maksudnya adalah mengasah otak. Seperti membaca buku, mengisi TTS, main catur, membaca buku atau mengerjakan sesuatu yang membuat kita mengoptimalkan fungsi otak kita.
  • Rutin bersosialisasi.
    Dengan rutin bersosialisasi mungkin akan membantu kita untuk lebih terbuka dengan sekitar dan mengurangi stres dengan cara berbagi dan berkomunikasi dengan orang-orang di sekeliling kita
  • Jadilah terorganisasi.
    Hal ini sama dengan yang sudah saya lakukan. Menyimpan barang di tempat yang sama, mencatat berbagai hal yang mudah kita lupa, dan menata barang-barang sesuai urutan agar mudah kita ingat.
  • Tidur yang cukup.
    Kalau soal ini saya jagonya. Saya hobi tidur. Jadi di antara semua tips, tips yang satu ini mungkin yang paling mudah saya lakukan. Tidurlah paling tidak 7 jam sehari agar otak kita cukup beristirahat dan kembali optimal saat bangun nanti.
  • Olahraga Secara Rutin.
    Olahraga secara rutin akan membuat aliran darah dan oksigen menuju otak lancar. Katanya, suplai oksigen yang cukup ke otak akan membantu mengoptimalkan fungsi otak dan membantu pertumbuhan sel-sel baru dalam otak

Sepertinya selain yang sudah saya lakukan, saya juga harus mulai mengikuti tips-tips yang saya tulis ulang di atas. Bayangan kalau tua nanti saya tiba-tiba nyasar dan nggak bisa pulang ke rumah sendiri selalu membuat saya takut. Saya nggak kebayang kalau masih umur segini saya udah pikun bagaimana waktu tua nanti. Saya nggak mau jadi pikun seumur hidup. Dan semoga setelah tulisan ini penyakit lupa saya sedikit demi sedikit berkurang dan semakin membaik. Biar nantinya nggak lupa lagi kalau punya blog yang harus selalu diisi, ngakunya blogger tapi jarang ngeblog, hehe..

Aamiin Allahumma Aamiin… 🙂

Advertisements

Hijrah

Selamat Tahun Baru Hijriah..

Hehe,
Iya, ini postingan pertama saya setelah berbulan-bulan lamanya vakum. Alasan utamanya males (hehe), alasan lainnya karena saya lebih aktif di dunia nyata dan di sosial media lain termasuk di blog saya yang satu lagi, yang memang diperuntukkan untuk curhatan-curhatan alay saya yang tidak disarankan untuk dikonsumsi publik demi terjaganya keseimbangan dunia (apaan sih… :p).

Ini jujur ya, saya sebenernya niat banget mau nulis di blog ini, tapi tiap buka laptop saya selalu berhasil dibelokkan ke situs-situs lain. Dan sekarang, mumpung malesnya lagi absen nih, saya sempet-sempetin mampir untuk nulis lagi. Selain itu ada satu topik yang sangat-sangat ingin saya bahas yang kebetulan juga momennya bertepatan dengan tahun baru Hijriah (walalupun sudah masuk tengah bulan Muharram hitungannya masih tahun baru lah ya…)

Untuk yang beragama Islam pasti tahulah cerita turun menurun tentang sejarah tahun Hijriah. Cerita tentang proses hijrahnya umat muslim di Mekah menuju ke Madinah untuk menyelamatkan orang-orang Mekah yang muslim dari kekejaman kaum kafir Quraisy.

hijrah /hij·rah /1n perpindahan Nabi Muhammad saw. bersama sebagian pengikutnya dari Mekah ke Medinah untuk menyelamatkan diri dan sebagainya dari tekanan kaum kafir Quraisy, Mekah; 2v berpindah atau menyingkir untuk sementara waktu dari suatu tempat ke tempat lain yang lebih baik dengan alasan tertentu (keselamatan, kebaikan, dan sebagainya);

Berdasarkan kutipan arti hijrah dari KBBI di atas, hijrah bisa juga berarti berpindah dari suatu tempat ke tempat lain yang lebih baik. Belakangan, kata hijrah juga digunakan sebagai istilah untuk menyebut perubahan sikap dan penampilan seorang muslim menjadi lebih syar’i. Intinya, hijrah adalah suatu keadaan di mana seseorang berpindah dari hal yang kurang baik menuju atau menjadi hal yang lebih baik, wallahu’alam.

Ngomong-ngomong soal berubah, beberapa bulan lalu dunia maya dan hiburan cukup heboh atas perubahan seorang artis perempuan muda yang sebelumnya berhijab menjadi tidak berhijab lagi setelah bercerai dengan suaminya, tidak usah saya sebut namanya ya, saya yakin pasti semua tahulah siapa, hehe. Di lain sisi, ada seorang aktor sinetron yang merubah penampilannya 180 derajat menjadi seorang ikhwan bercelana cekak dan berjenggot tebal. Nggak perlu sebut nama juga ya, pasti tahulah… 🙂

Dan, bisa diprediksi betapa gaduhnya dunia maya setelah perubahan pada kedua orang tersebut. Di Instagram artis perempuan yang tak lagi berhijab itu, bisa kita baca komentar-komentar yang pedasnya berlevel, mulai level sopan yang halus, sampai level penuh sensor yang brutal. Kadang saya yang cuma baca saja ikutan merinding. Lalu bagaimana dengan aktor sinetron yang sekarang jadi ikhwan itu? Saya kira saya akan baca komentar yang sedikit berbeda di instagram aktor tersebut, ternyata sama saja. Ada yang komentar aktor tersebut kenal aliran sesat lah, terlalu fanatik lah, sampai ada yang menyebut kata teroris. Subhanallah ya, repot sekali jadi selebriti, serba salah. Tapi, ya begitulah efek penyalah gunaan media sosial, banyak orang yang merasa media sosial adalah tempat mereka berpendapat tanpa batas bahkan melewati batas kesopanan karena mereka nggak bertemu orang yang mereka komentari secara langsung.

Kembali ke soal hijrah, kalau menurut Anda, dari perubahan yang dialami aktor dan artis itu, mana yang termasuk kategori hijrah berdasarkan definisi hijrah yang sebelumnya saya sebutkan?

Pasti semua menjawab, perubahan aktor sinetron itulah yang termasuk kategori hijrah. Karena saya pun berpendapat seperti itu. Berarti perubahan si artis perempuan bukan hijrah dong? Berarti si artis tersebut tidak berubah menjadi lebih baik?

Menurut saya yang awam dan terbatas ini, selama itu didefinisikan manusia batasan baik dan buruk itu tipis, cuma soal persepsi. Hanya Allah yang Maha Tahu yang mampu menunjukkan mana yang baik dan buruk. Dan saya nggak mau bilang perubahan si artis perempuan itu adalah perubahan yang tidak baik. Karena setiap perubahan seseorang pasti melalui proses pemikiran yang panjang dan pertimbangan yang matang, dan setiap proses pasti memiliki cerita yang nggak semua orang mampu dan mau memahaminya. Kita nggak tahu, apa yang membuat si artis perempuan itu sampai berani melepas hijabnya dan berpenampilan seperti dulu sebelum ia berhijab. Soal ini, saya punya cerita tentang tetangga saya yang diceritakan Ibu pada saya. Bahkan sampai sekarang kalau Ibu saya ketemu dengan beliau Ibu saya selalu menyesal.

Jadi ceritanya, tetangga saya tersebut seorang muslim. Entah bagaimana ceritanya beliau menikah dengan laki-laki Tionghoa yang non muslim dan memiliki anak. Sampai suaminya meninggal dan anaknya dewasa, si Ibu tetangga saya ini tetap beragama Islam, meskipun anaknya mengikuti agama Bapaknya. Singkat cerita, Ibu ini memiliki masalah ekonomi yang cukup berat, sampai ia harus berhutang ke sana sini, keluarganya tidak banyak membantu karena mereka pun juga tergolong tidak mampu. Sedangkan keluarga suaminya pun tidak mungkin dimintai tolong karena ketika suaminya menikah dengan beliau, keluarga besarnya tidak pernah mengganggap beliau sebagai bagian dari mereka. Mungkin karena terlalu beratnya masalah ini untuk ditanggung sendiri beliau datang ke rumah, mengunjungi Ibu saya untuk sekedar ngobrol dan mencari solusi. Kebetulan saat itu rumah saya sedang dibangun, jadi Ibu saya tidak pernah fokus ketika tetangga saya tersebut datang ke rumah untuk sekedar curhat. Mungkin karena melihat Ibu saya yang sedang repot, beliau mendatangi salah satu tokoh agama di tempat saya tinggal. Tokoh agama di tempat saya ini orangnya unik, kalau boleh saya mengibaratkan nih, karakter tokoh agama tersebut mirip karakter Haji Muhiddin di sinetron Tukang Bubur Naik Haji. Nah, bisa dibayangkan kan reaksi apa yang didapatkan tetangga saya yang sedang mencari solusi dari tokoh agama di tempat saya tinggal tersebut. Berminggu-minggu kemudian, Ibu saya tidak pernah lagi mendengar kabar dari tetangga saya itu. Ibu saya kira masalahnya sudah selesai. Ternyata beberapa bulan kemudian, tetangga saya tersebut sudah berpindah agama mengikuti agama mendiang suaminya. Usut punya usut, ketika masa galau, salah seorang tetangga saya yang non muslim mendatangi beliau dan menawarkan dirinya untuk menjadi teman curhat. Tetangga yang non muslim ini bahkan mengajak teman-teman satu tempat peribadahannya untuk membantu Ibu itu lepas dari masalahnya. Merasa berhutang budi pada tetangga non muslim saya dan teman-temannya serta teringat pada kebaikan suaminya dulu, Ibu itupun berpindah agama. Mendengar kabar tersebut, Ibu saya langsung menyesal, kenapa ia tidak terlalu peduli saat Ibu itu meminta bantuan pada beliau. Ibu saya juga bercerita, saat masa-masa kegalauannya, Ibu itu pernah mengungkit kalau ia ingin balas budi pada suaminya, tapi ia tidak ingin berpindah agama hanya karena balas budinya tersebut. Ibu saya menyesal, seharusnya ia lebih tanggap dan segera merangkul Ibu itu untuk meringankan masalahnya.

Inti cerita saya di atas sih kurang lebih seperti ini. Sebelum menghakimi perubahan seseorang ada baiknya kita lihat dulu proses berubahnya orang tersebut. Setiap orang pasti memiliki cerita di balik perubahan drastis mereka. Seperti artis perempuan dan tetangga saya yang berpindah keyakinan itu. Bisa saja, proses perubahan tersebut terjadi justru karena kita, orang-orang di sekeliling mereka yang tahunya hanya berkomentar dan menghakimi. Saya juga memiliki satu contoh lagi berubahnya seseorang karena kurangnya empati orang-orang di sekitarnya.

Ceritanya kurang lebih sama dengan si artis perempuan di atas. Salah satu teman saya di Facebook yang juga seorang penulis dan anak dari penulis novel-novel Islami, tiba-tiba merubah penampilannya dari yang dulu berhijab menjadi tidak berhijab. Dari status-status, puisi, cerpen dan novel yang dia tulis (kebetulan saya salah seorang penggemar tulisannya), terlihat betapa rapuhnya dia. Rapuh di sini bukan lemah atau tak berdaya ya, lebih ke kondisi psikis dan mentalnya. Apalagi dia tumbuh di keluarga broken home dan juga menjadi korban kekerasan Ayah kandungnya. Sebelum melepas hijabnya, di laman media-media sosialnya ia banyak mendapat kritikan dan hujatan tentang pakaian dan tulisannya yang tidak se-syar’i pakaian dan tulisan Ibunya yang kebetulan berjibab panjang dan lebar. Akhirnya, karena satu dan lain hal, ia memutuskan melepas hijabnya. Keputusan yang tentunya banyak mengundang komentar-komentar yang lebih “menghancurkan” lagi. Sebagai pembaca tulisan-tulisannya saya ikut patah hati. Meskipun saya tahu, ia mungkin lebih bahagia tanpa hijab karena menjadi dirinya sendiri, tapi tetap saja. Kadang saya berharap saya ada untuk jadi teman curhat dia bahkan sebelum pikiran untuk melepas hijab itu terlintas di pikirannya, siapa tahu saya bisa membuat dia berubah pikiran. Tapi apa daya, saya cuma penggemar tulisan-tulisannya. Dan saya cuma berharap yang terbaik saja untuk dia.

Terakhir, “Hijrah” juga bisa berarti meninggalkan segala macam bentuk kemaksiatan dan kemungkaran, baik dalam perasaan, perkataan dan perbuatan.Sudahkan kita berhijrah? Mulai dari yang kecil saja. Berhenti berfikir dan berkomentar buruk terhadap orang lain misalnya. Entah itu si aktor sinetron, artis perempuan, tetangga yang berpindah keyakinan, atau bahkan penulis favorit saya. Mereka semua mengalami perubahan yang melewati proses berpikir dan menimbang. Perubahan itu mungkin tidak sesuai dengan apa yang kita yakini, tapi bukan berarti kita memiliki hak untuk melontarkan komentar yang tidak pantas. Setiap orang memiliki kesempatan untuk berubah dan berkembang menjadi lebih baik lagi. Beberapa harus mundur beberapa langkah untuk bisa berubah menjadi lebih baik lagi. Beberapa bisa langsung berubah tanpa harus melewati fase tersebut. Wallahu’alam bish shawab.

Semoga tahun ini kita menjadi pribadi yang lebih baik dari tahun lalu, aamiin Allahumma aamiin…

Ingat Mati

Kata orang Maut, Jodoh dan Rezeki adalah rahasia Allah yang telah ditentukan waktunya sejak sebelum kita dilahirkan. Kalau Jodoh dan Rezeki masih bisa diusahakan dan diubah, lain halnya dengan kematian, datangnya pasti dan tak bisa diubah, waktunya? Hanya Allah yang tahu, kapan waktunya ajal menjemput kita. Yang bisa kita lakukan hanyalah berdoa, agar saat kematian menjemput kita nantinya, kita sedang dalam keadaan yang baik, di tempat yang baik dan sedang melakukan hal yang baik, sehingga kita bisa dijemput dalam keadaan khusnul khotimah, dan meninggalkan kebaikan untuk orang-orang yang kita tinggalkan. Aamiin Allahumma aamiin…

Sebab saya membahas kematian adalah karena cerita dari salah seorang Bunda di sekolah yang tadi pagi saya dengar. Jadi, Bunda yang saya sebut sebelumnya ini, tidak biasanya pagi ini datang terlambat. Ketika saya bertanya kok tumben beliau datang terlambat, beliau bercerita bahwa salah seorang saudara sepupu suaminya yang kebetulan tinggal di Malang juga mendadak meninggal sebelum shalat Subuh. Penyebab kematiannya diduga akibat serangan jantung, padahal saudara Bunda tersebut tidak memiliki riwayat penyakit jantung sama sekali. Beliau ditemukan pingsan di kamar mandi oleh istrinya yang saat itu sedang menunggu suaminya untuk shalat Subuh berjamaah. Berhubung suaminya tak juga keluar dari kamar mandi, sang istri pun langsung membuka paksa pintu kamar mandi dan menemukan suaminya dalam keadaan tak sadarkan diri. Inna lillahi wa inna ilaihi raaji’un…

Siangnya, cerita ini kami bahas lagi setelah selesai mengajar. Kami semua tertegun. Terutama para Bunda yang sudah memiliki suami. Masing-masing mengkhawatirkan dan membayangkan jika kejadian tersebut menimpa mereka, ditinggal meninggal suami tiba-tiba, padahal tidak sakit dan tidak mengalami kecelakaan. Apalagi, Bunda yang saudaranya meninggal tadi bercerita anak istri almarhum yang ditinggalkan shock dan terguncang atas kepergian almarhum yang tiba-tiba tersebut. Saya yang mendengar cerita tersebut ikut terharu dan merinding, merinding dalam artian membayangkan seandainya saya berada di posisi keluarga almarhum yang ditinggalkan tiba-tiba tersebut. Saya nggak tahu apa saya bisa melewati itu, walaupun sebelumnya saya pernah dihadapkan pada sebuah kejadian yang serupa tapi bedanya saya yang menjadi perantara malaikat maut (suatu saat nanti, kisah ini akan saya ceritakan di blog kalau saya sudah siap mental). Tapi tetap saja, setiap kematian pasti meninggalkan keharuan dan kesedihan pada kisahnya. Pun dari cerita kematian almarhum saudara salah satu Bunda di sekolah tempat saya mengajar ini, dari cerita ini kami kembali menyadari betapa pentingnya posisi keluarga kami yang ketiadaannya akan menciptakan lubang di hati kami masing-masing.

Datangnya maut seseorang di sekitar kita sebenarnya adalah pembelajaran dari Allah untuk orang-orang yang masih hidup di sekitarnya? Lho kok bisa? Iya, dari kematian seseorang kita tahu, bahwa maut tidak bisa kita prediksi datangnya, begitu waktunya tiba, sampai ke lubang semut pun kita tak mampu menghindarinya. Saya jadi kepikiran, sedang apakah saya saat kematian menjemput saya nanti, apakah saya dalam keadaan khusnul khotimah, dan apa saja yang sudah saya berikan pada orang-orang di sekitar saya sebelum kematian menjemput saya? Apakah saya meninggalkan manfaat, atau malah aib? Apa yang akan saya alami setelah orang-orang meninggalkan saya sendirian berkalang tanah? Tanpa lampu, dan tanpa apapun. Apa saya mampu menjawab pertanyaan Munkar dan Nakir? Entah kenapa pertanyaan-pertanyaan tersebut senantiasa muncul setiap saya mendengar berita kematian seseorang.

Sebenarnya pertanyaan tersebut tidak akan muncul jika seseorang siap menghadapi kematian. Berarti saya belum siap dong? Iya, betul, saya belum siap mati, karena setelah saya hitung-hitung, dosa saya masih lebih banyak daripada kebaikan yang sudah saya lakukan, hehe. Lalu, apa yang harus kita lakukan agar kita siap menghadapi kematian yang setiap saat bisa tiba-tiba datang menjemput kita? Kalau pertanyaan ini boleh saya jawab, jawabannya cuma satu, jangan takut pada kematian, tapi takutlah pada Allah yang memiliki kematian itu. Kalau kita takut pada Allah, secara otomatis kita akan senantiasa melakukan semua hal yang diperintahkan oleh Allah dan menjauhi setiap hal yang dilarang Nya. Kalau itu semua sudah kita lakukan, maka hilanglah rasa takut kita pada kematian malah kita akan menyambut kematian dengan tangan terbuka dan penuh keihklasan. Itu kata saya, kalau kata orang lain yang lebih meyakinkan dari segi pengalaman dan keilmuan daripada saya (hehe) bagaimana? Izinkan saya mengutip penuh artikel yang saya baca di sini. Menurut artikel yang saya baca tersebut, ada 4 cara agar kita bisa ikhlas menjemput datangnya maut, yaitu :

1. Mempunyai bekal akhirat yang banyak
Inilah salah satu cara agar Anda bisa mudah menjemput kematian dengan ikhlas. Orang yang punya bekal, ia akan siap bila dijemput kapanpun, sebaliknya orang yang tak punya bekal dan persiapan, ia akan selalu mengalami rasa ketakutan. Oleh sebab itu, dunia merupakan ladang tempat bercocok tanam pahala dan amal perbuatan. Akhirat setelah kita mengalami kematian merupakan tempat kita memanen hasil dari apa yang sudah kita tanam tersebut.

2. Menyelesaikan segala urusan di dunia
Jangan banyak perkara dengan hubungan sesama manusia yang berdampak pada perbuatan dosa dan kemaksiatan, terlebih yang hubungannya dengan silaturahim, karena itu akan membuat Anda sulit menjemput kematian dengan ikhlas. Setiap kita dianjurkan untuk menjadi seorang pemaaf serta selalu membiasakan diri minta maaf atas kesalahan-kesalahan. Dengan demikian diharapkan saat ajal menjemput kita, ajal itu datang menjemput dengan mudah dan ikhlas, tanpa ada beban kesalahan dengan orang lain.

3. Meningkatkan keimanan dan ketakwaan
Kunci utama untuk bisa menjemput kematian dengan mudah adalah terletak pada kekuatan keimanan yang kita miliki kepada Allah dan Rasul-Nya. Keimanan yang kuat akan melahirkan sifat diri yang mantap dan selalu percaya bahwa Allah Sang Maha dari segala Maha. Kita hanya lah makhluk yang lemah dan selalu berada di bawah kehendak yang Maha Kuasa.

4. Memiliki keluarga yang sakinah
Anak yang shaleh serta keluarga yang memiliki nilai keimanan yang kuat akan membuat kita bisa menjemput kematian dengan ikhlas. Tak ada yang perlu kita khawatirkan jika telah meninggalkan anak-anak dan istri sholehah. Keluarga sakinah yang selalu menjaga nilai-nilai robbani perlu Anda bangun untuk kebahagiaan Anda, baik di dunia maupun akhirat. Inilah aset warisan paling berharga yang akan kita rasakan manfaatnya meskipun kita sudah meninggal.

Cara lain agar kita bisa menjemput kematian dengan keihlasan adalah dengan senantiasa mengingat kematian tersebut. Alkisah, suatu hari sahabat Umar bin Khattab duduk bersama Rasulullah SAW. Kemudian datanglah seorang sahabat Anshar. Seraya memberi salam ia berkata: “Wahai Rasulullah, mukmin yang seperti apa yang paling utama?”. Beliau menjawab:”Yang paling baik akhlaknya”. Sahabat itu bertanya lagi: “Mukmin seperti apakah yang paling cerdas?” Beliau menjawab: “Muslim yang paling cerdas adalah yang paling banyak mengingat kematian dan yang paling baik mempersiapkan diri untuk sesudah kematian itu, mereka itulah orang-orang yang cerdas” (diriwayatkan oleh Imam al-Qurtubi dalam al-Tadzkirah fi Ahwal al-Mauta wa Umuri al-Akhirah). Tujuan mengingat kematian adalah agar kita berfikir ulang ketika akan melakukan suatu hal yang nantinya justru akan mempersulit kita menjawab pertanyaan Munkar dan Nakir. Rasulullah SAW bersabda: “Perbanyaklah olehmu mengingat-ingat kepada sesuatu yang melenyapkan segala macam kelazatan, yaitu kematian.” (HR. Turmudzi). Menurut Imam al-Qurtubi, hadist Nabi SAW tersebut merupakan nasihat sekaligus peringatan. Bahwasanya mengingat mati itu perintah, sebab orang yang teringat kematian dengan sebenarnya pasti akan mengurangi sifat-sifat tamaknya terhadap dunia dan mencegah manusia berangan-angan yang tak berujung dan melakukan hal yang sia-sia. Wallahu a’lam bish shawwab.

Jadi, sudah siapkah kita menghadapi kematian? Kalau saya, belum. Hehe. Tapi setelah menulis dan memposting tulisan ini, saya harus siap dan harus menyiapkan diri. Karena bukan kematian yang menunggu kita, kitalah yang menunggu kematian.

“The fear of death follows from the fear of life. A man who lives fully is prepared to die at any time.”
(Mark Twain)