Hijrah

Selamat Tahun Baru Hijriah..

Hehe,
Iya, ini postingan pertama saya setelah berbulan-bulan lamanya vakum. Alasan utamanya males (hehe), alasan lainnya karena saya lebih aktif di dunia nyata dan di sosial media lain termasuk di blog saya yang satu lagi, yang memang diperuntukkan untuk curhatan-curhatan alay saya yang tidak disarankan untuk dikonsumsi publik demi terjaganya keseimbangan dunia (apaan sih… :p).

Ini jujur ya, saya sebenernya niat banget mau nulis di blog ini, tapi tiap buka laptop saya selalu berhasil dibelokkan ke situs-situs lain. Dan sekarang, mumpung malesnya lagi absen nih, saya sempet-sempetin mampir untuk nulis lagi. Selain itu ada satu topik yang sangat-sangat ingin saya bahas yang kebetulan juga momennya bertepatan dengan tahun baru Hijriah (walalupun sudah masuk tengah bulan Muharram hitungannya masih tahun baru lah ya…)

Untuk yang beragama Islam pasti tahulah cerita turun menurun tentang sejarah tahun Hijriah. Cerita tentang proses hijrahnya umat muslim di Mekah menuju ke Madinah untuk menyelamatkan orang-orang Mekah yang muslim dari kekejaman kaum kafir Quraisy.

hijrah /hij·rah /1n perpindahan Nabi Muhammad saw. bersama sebagian pengikutnya dari Mekah ke Medinah untuk menyelamatkan diri dan sebagainya dari tekanan kaum kafir Quraisy, Mekah; 2v berpindah atau menyingkir untuk sementara waktu dari suatu tempat ke tempat lain yang lebih baik dengan alasan tertentu (keselamatan, kebaikan, dan sebagainya);

Berdasarkan kutipan arti hijrah dari KBBI di atas, hijrah bisa juga berarti berpindah dari suatu tempat ke tempat lain yang lebih baik. Belakangan, kata hijrah juga digunakan sebagai istilah untuk menyebut perubahan sikap dan penampilan seorang muslim menjadi lebih syar’i. Intinya, hijrah adalah suatu keadaan di mana seseorang berpindah dari hal yang kurang baik menuju atau menjadi hal yang lebih baik, wallahu’alam.

Ngomong-ngomong soal berubah, beberapa bulan lalu dunia maya dan hiburan cukup heboh atas perubahan seorang artis perempuan muda yang sebelumnya berhijab menjadi tidak berhijab lagi setelah bercerai dengan suaminya, tidak usah saya sebut namanya ya, saya yakin pasti semua tahulah siapa, hehe. Di lain sisi, ada seorang aktor sinetron yang merubah penampilannya 180 derajat menjadi seorang ikhwan bercelana cekak dan berjenggot tebal. Nggak perlu sebut nama juga ya, pasti tahulah… 🙂

Dan, bisa diprediksi betapa gaduhnya dunia maya setelah perubahan pada kedua orang tersebut. Di Instagram artis perempuan yang tak lagi berhijab itu, bisa kita baca komentar-komentar yang pedasnya berlevel, mulai level sopan yang halus, sampai level penuh sensor yang brutal. Kadang saya yang cuma baca saja ikutan merinding. Lalu bagaimana dengan aktor sinetron yang sekarang jadi ikhwan itu? Saya kira saya akan baca komentar yang sedikit berbeda di instagram aktor tersebut, ternyata sama saja. Ada yang komentar aktor tersebut kenal aliran sesat lah, terlalu fanatik lah, sampai ada yang menyebut kata teroris. Subhanallah ya, repot sekali jadi selebriti, serba salah. Tapi, ya begitulah efek penyalah gunaan media sosial, banyak orang yang merasa media sosial adalah tempat mereka berpendapat tanpa batas bahkan melewati batas kesopanan karena mereka nggak bertemu orang yang mereka komentari secara langsung.

Kembali ke soal hijrah, kalau menurut Anda, dari perubahan yang dialami aktor dan artis itu, mana yang termasuk kategori hijrah berdasarkan definisi hijrah yang sebelumnya saya sebutkan?

Pasti semua menjawab, perubahan aktor sinetron itulah yang termasuk kategori hijrah. Karena saya pun berpendapat seperti itu. Berarti perubahan si artis perempuan bukan hijrah dong? Berarti si artis tersebut tidak berubah menjadi lebih baik?

Menurut saya yang awam dan terbatas ini, selama itu didefinisikan manusia batasan baik dan buruk itu tipis, cuma soal persepsi. Hanya Allah yang Maha Tahu yang mampu menunjukkan mana yang baik dan buruk. Dan saya nggak mau bilang perubahan si artis perempuan itu adalah perubahan yang tidak baik. Karena setiap perubahan seseorang pasti melalui proses pemikiran yang panjang dan pertimbangan yang matang, dan setiap proses pasti memiliki cerita yang nggak semua orang mampu dan mau memahaminya. Kita nggak tahu, apa yang membuat si artis perempuan itu sampai berani melepas hijabnya dan berpenampilan seperti dulu sebelum ia berhijab. Soal ini, saya punya cerita tentang tetangga saya yang diceritakan Ibu pada saya. Bahkan sampai sekarang kalau Ibu saya ketemu dengan beliau Ibu saya selalu menyesal.

Jadi ceritanya, tetangga saya tersebut seorang muslim. Entah bagaimana ceritanya beliau menikah dengan laki-laki Tionghoa yang non muslim dan memiliki anak. Sampai suaminya meninggal dan anaknya dewasa, si Ibu tetangga saya ini tetap beragama Islam, meskipun anaknya mengikuti agama Bapaknya. Singkat cerita, Ibu ini memiliki masalah ekonomi yang cukup berat, sampai ia harus berhutang ke sana sini, keluarganya tidak banyak membantu karena mereka pun juga tergolong tidak mampu. Sedangkan keluarga suaminya pun tidak mungkin dimintai tolong karena ketika suaminya menikah dengan beliau, keluarga besarnya tidak pernah mengganggap beliau sebagai bagian dari mereka. Mungkin karena terlalu beratnya masalah ini untuk ditanggung sendiri beliau datang ke rumah, mengunjungi Ibu saya untuk sekedar ngobrol dan mencari solusi. Kebetulan saat itu rumah saya sedang dibangun, jadi Ibu saya tidak pernah fokus ketika tetangga saya tersebut datang ke rumah untuk sekedar curhat. Mungkin karena melihat Ibu saya yang sedang repot, beliau mendatangi salah satu tokoh agama di tempat saya tinggal. Tokoh agama di tempat saya ini orangnya unik, kalau boleh saya mengibaratkan nih, karakter tokoh agama tersebut mirip karakter Haji Muhiddin di sinetron Tukang Bubur Naik Haji. Nah, bisa dibayangkan kan reaksi apa yang didapatkan tetangga saya yang sedang mencari solusi dari tokoh agama di tempat saya tinggal tersebut. Berminggu-minggu kemudian, Ibu saya tidak pernah lagi mendengar kabar dari tetangga saya itu. Ibu saya kira masalahnya sudah selesai. Ternyata beberapa bulan kemudian, tetangga saya tersebut sudah berpindah agama mengikuti agama mendiang suaminya. Usut punya usut, ketika masa galau, salah seorang tetangga saya yang non muslim mendatangi beliau dan menawarkan dirinya untuk menjadi teman curhat. Tetangga yang non muslim ini bahkan mengajak teman-teman satu tempat peribadahannya untuk membantu Ibu itu lepas dari masalahnya. Merasa berhutang budi pada tetangga non muslim saya dan teman-temannya serta teringat pada kebaikan suaminya dulu, Ibu itupun berpindah agama. Mendengar kabar tersebut, Ibu saya langsung menyesal, kenapa ia tidak terlalu peduli saat Ibu itu meminta bantuan pada beliau. Ibu saya juga bercerita, saat masa-masa kegalauannya, Ibu itu pernah mengungkit kalau ia ingin balas budi pada suaminya, tapi ia tidak ingin berpindah agama hanya karena balas budinya tersebut. Ibu saya menyesal, seharusnya ia lebih tanggap dan segera merangkul Ibu itu untuk meringankan masalahnya.

Inti cerita saya di atas sih kurang lebih seperti ini. Sebelum menghakimi perubahan seseorang ada baiknya kita lihat dulu proses berubahnya orang tersebut. Setiap orang pasti memiliki cerita di balik perubahan drastis mereka. Seperti artis perempuan dan tetangga saya yang berpindah keyakinan itu. Bisa saja, proses perubahan tersebut terjadi justru karena kita, orang-orang di sekeliling mereka yang tahunya hanya berkomentar dan menghakimi. Saya juga memiliki satu contoh lagi berubahnya seseorang karena kurangnya empati orang-orang di sekitarnya.

Ceritanya kurang lebih sama dengan si artis perempuan di atas. Salah satu teman saya di Facebook yang juga seorang penulis dan anak dari penulis novel-novel Islami, tiba-tiba merubah penampilannya dari yang dulu berhijab menjadi tidak berhijab. Dari status-status, puisi, cerpen dan novel yang dia tulis (kebetulan saya salah seorang penggemar tulisannya), terlihat betapa rapuhnya dia. Rapuh di sini bukan lemah atau tak berdaya ya, lebih ke kondisi psikis dan mentalnya. Apalagi dia tumbuh di keluarga broken home dan juga menjadi korban kekerasan Ayah kandungnya. Sebelum melepas hijabnya, di laman media-media sosialnya ia banyak mendapat kritikan dan hujatan tentang pakaian dan tulisannya yang tidak se-syar’i pakaian dan tulisan Ibunya yang kebetulan berjibab panjang dan lebar. Akhirnya, karena satu dan lain hal, ia memutuskan melepas hijabnya. Keputusan yang tentunya banyak mengundang komentar-komentar yang lebih “menghancurkan” lagi. Sebagai pembaca tulisan-tulisannya saya ikut patah hati. Meskipun saya tahu, ia mungkin lebih bahagia tanpa hijab karena menjadi dirinya sendiri, tapi tetap saja. Kadang saya berharap saya ada untuk jadi teman curhat dia bahkan sebelum pikiran untuk melepas hijab itu terlintas di pikirannya, siapa tahu saya bisa membuat dia berubah pikiran. Tapi apa daya, saya cuma penggemar tulisan-tulisannya. Dan saya cuma berharap yang terbaik saja untuk dia.

Terakhir, “Hijrah” juga bisa berarti meninggalkan segala macam bentuk kemaksiatan dan kemungkaran, baik dalam perasaan, perkataan dan perbuatan.Sudahkan kita berhijrah? Mulai dari yang kecil saja. Berhenti berfikir dan berkomentar buruk terhadap orang lain misalnya. Entah itu si aktor sinetron, artis perempuan, tetangga yang berpindah keyakinan, atau bahkan penulis favorit saya. Mereka semua mengalami perubahan yang melewati proses berpikir dan menimbang. Perubahan itu mungkin tidak sesuai dengan apa yang kita yakini, tapi bukan berarti kita memiliki hak untuk melontarkan komentar yang tidak pantas. Setiap orang memiliki kesempatan untuk berubah dan berkembang menjadi lebih baik lagi. Beberapa harus mundur beberapa langkah untuk bisa berubah menjadi lebih baik lagi. Beberapa bisa langsung berubah tanpa harus melewati fase tersebut. Wallahu’alam bish shawab.

Semoga tahun ini kita menjadi pribadi yang lebih baik dari tahun lalu, aamiin Allahumma aamiin…