Sedikit Demi Sedikit Lama-Lama Menjadi Bukit

Pernah dengar pepatah di atas? Kalau nggak pernah dengar, kebangetan deh, hehe. Kita semua yang lahir dan besar di bumi Indonesia tercinta ini pasti sering atau paling tidak, pernah mendengar pepatah tersebut sejak kita masih anak-anak. Kata orang, anak-anak itu seperti spon, mereka mudah menyerap apa yang mereka lihat dan dengar. Mungkin karena itu juga sejak kecil kita sudah mendengar pepatah di atas dari para orang tua dan guru kita. Harapannya, kalau kita besar nanti kita akan jadi manusia yang hemat dan rajin menabung. Pertanyaannya, apakah harapan orang tua dan guru-guru kita sudah kita wujudkan?

Dalam kasus saya, hemmm… agak gagal sepertinya, hehe. Untuk dibilang boros, menurut saya, saya tidak terlalu boros juga. Malah aya kadang suka mikir lama di depan rak barang di supermarket hanya karena membandingkan berapa banyak isi dan seberapa murah harga sebuah barang yang ingin saya beli. Misalnya, walaupun biasanya saya memakai produk sampo A, ketika belanja saya bisa saja membeli produk sampo B hanya karena isinya lebih banyak dibanding A yang berharga sama, atau ada selisih harga yang meskipun tipis menurut saya ttetap berarti di antara kedua sampo tersebut. Lebih ke pelit sebenarnya ya? hehe. Jangan salahkan saya, ini hasil didikan Ibu saya. Tapi, untuk dibilang hemat, saya juga tidak masuk kategori tersebut. Karena saya sering sekali membeli barang hanya karena tergiur diskon padahal saya tidak benar-benar membutuhkannya. Dan seringkali, setiap sepulang belanja saya selalu menekuri kebodohan saya, walaupun suatu saat nanti hal itu saya lakukan lagi. Maklum, manusia, kapoknya kapok sambal, hehe. Meskipun hemat tidak, boros pun tidak, saya tetap orang yang paling tidak bisa membiarkan uang nganggur lama-lama di dompet saya apalagi kalau harus ditabung. Padahal waktu kecil, Ibu saya sering membelikan saya celengan. Tapi, celengan tersebut tidak pernah bertahan lama, 2 atau 3 bulan selanjutnya saya selalu punya alasan untuk memecah atau membelah celengan-celengan saya.

Kebiasaan malas menabung ini saya lalui selama hampir 24 tahun kehidupan saya. Sampai tahun lalu saya mengalami hal yang membuat saya mengerti betapa pentingnya memiliki tabungan. Saya mengalami kecelakaan lalu lintas, walaupun bukan saya yang terluka, tetapi orang tua saya harus mengeluarkan banyak uang karena peristiwa kecelakaan tersebut. Waktu itu saya menyesal, kenapa uang-uang yang pernah saya dapat sejak dulu tidak pernah sekalipun saya tabungkan, kalau saya ada tabungan, meskipun sedikit, paling tidak saya bisa bantu orang tua saya. Yang membuat saya bersyukur sekaligus terharu, meskipun saya tidak pernah menyimpan uang, ternyata diam-diam Ibu saya menyisihkan sebagian uang belanjanya dan disimpan secara khusus untuk biaya pernikahan saya kelak. Dan, uang itulah yang digunakan untuk menutup biaya kecelakaan dan peristiwa-peristiwa pahit yang mengikutinya. Sejak itu saya sadar betapa pentingnya memiliki tabungan. Walaupun agak terlambat, saya pun mulai menabung tahun lalu. Sebenarnya saya sudah lama memiliki sebuah rekening di Bank. Tapi, karena ada ATM nya, fungsi rekening itu tak ubahnya seperti dompet untuk saya. Uang yang ada di dalamnya jarang menginap lebih dari 1 bulan, hehe. Jadi, saya memilih menabung dengan cara kuno, yaitu memakai celengan, dan ikut koperasi. Dan selama setahun belakangan, saya benar-benar merasakan manfaat memiliki tabungan. Prioritas hidup saya lebih terarah, dan saya pun lebih bijak dalam menggunakan uang yang saya dapatkan. Yah, hitung-hitung mempersiapkan bekal menghadapi hari tua.

Kalau dikasih tua sih, kalau besok mati gimana?
Kebetulan nggak sengaja saya baca kutipan yang menurut saya cukup menohok di bawah ini,

Pertanyaan lagi nih, sudah siapkah bekal untuk akhirat kita nanti?

Kalau pertanyaan ini saya tanyakan ke diri saya sendiri, jawabannya pasti masih di awang-awang. Mana pede saya dengan bekal sesedikit ini menghadap Allah dan mempertanggung jawabkan kinerja saya sebagai manusia di hadapan Nya. Tapi maut bukan kita yang tentukan, siap tidak siap, suka tidak suka, kita harus punya bekal untuk menghadapi Allah di akhirat nanti. Menabung di dunia memang penting, tetapi yang paling penting adalah menabung untuk bekal kita di akhirat nanti. Caranya? Ya, seperti yang bisa kita baca dari kutipan di atas, yaitu dengan beramal dan beribadah. Kelihatannya sepele ya? Tapi kedua itu belum tentu bisa kita lakukan sepenuhnya. Saya sendiri, jujur saja suka mikir panjang kalau mau sedekah. Bahkan mikir untuk beli komik aja lebih cepat daripada mikir untuk sedekah atau tidak. Don’t try this at home ya pemirsa, sifat kikir itu namanya, hehe.

Narsis Sebelum Berangkat

Sebagai guru TK yang baik, sudah menjadi kewajiban saya untuk mengenalkan aktivitas menabung dan sedekah sejak dini kepada anak didik saya. Harapannya sih, jangan sampai gedenya kayak saya, pelit dan kikir. Dan kebetulan hari ini, sekolah saya mengadakan kegiatan bakti sosial ke sebuah panti asuhan untuk mengenalkan pentingnya menyisihkan uang kita untuk orang-orang yang lebih membutuhkan  ke anak-anak. Apalagi beberapa hari lalu kota tetangga saya ikut terkena dampak bencana letusan Gunung Kelud. Jadi dalam bulan ini ada dua kegiatan bakti sosial yang mereka ikuti. Namanya anak-anak, kegiatan apapun, asal itu keluar sekolah pasti selalu menumbuhkan semangat lebih di dalam diri mereka. Dan sejak beberapa minggu lalu mereka nggak berhenti bertanya tentang kapan kami semua akan mengunjungi panti asuhan. Melihat antusiasme anak-anak, saya jadi malu, kenapa saya masih mikir panjang kalau mau bersedekah atau beramal.

مَّثَلُ الَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنبُلَةٍ مِّاْئَةُ حَبَّةٍ وَاللهُ يُضَاعِفُ لِمَن يَشَآءُ وَاللهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ {261}

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Mahaluas (karuniaNya) lagi Maha Mengetahui.” (Al-Baqarah; 261)

Padahal, dalam Al Quran dan hadits, Allah sudah menjanjikan banyak kebaikan pada orang-orang yang rajin beramal dan bersedekah. Tapi, kenapa ya, kok rasanya masih ada rasa enggan untuk mengeluarkan sedekah. Kalau mau dilihat secara ilmu ekonomi, uang yang kita sedekahkan sebenarnya nggak hilang. Suatu saat nanti uang itu akan kembali lagi pada kita, entah dalam bentuk pahala atau bentuk uang lagi, yang jelas Allah akan melipat gandakan uang kita lebih dari yang kita butuhkan. Kalah canggih deh Mbah-Mbah dukun yang hobi iklan di Majalah Posm* itu, hehe.

Tapi, itu kalau kita ikhlas beramalnya, kalau tidak? Wallahu’alam..

Kita pasti sering dengar tentang kisah-kisah keajaiban sedekah kan? Dari kisah-kisah tersebut saja sebenarnya kita bisa belajar. Salah satu yang saya lihat dan tahu sendiri adalah kisah tetangga saya yang kebetulan sekarang menjabat sebagai Walikota di kota saya. Jadi ceritanya, beliau terlahir dari keluarga miskin, sehingga sejak kecil beliau sudah terbiasa bekerja apa saja demi mendapat sesuap nasi. Suatu ketika beliau mencoba berbisnis tetes tebu yang jaman dulu belum begitu dimanfaatkan banyak orang. Karena keuletannya akhirnya perusahaan beliau menjadi salah satu perusahaan tetes tebu tersukses di kota saya. Sejak menjadi orang kaya dan berpunya, bukannya lupa, beliau malah hobi bersedekah. Dan wallahu’alam, meskipun se Malang Raya tahu sekaya apa beliau dan sesering apa beliau bersedekah, banyak orang yang heran bagaimana bisa beliau tetap kaya meskipun sedekahnya bisa samppai milyaran dalam sebulan. Dari kisah yang saya ceritakan saja kita bisa tahu, bahwa dengan bersedekah bukannya miskin, kita malah tambah kaya, entah itu kaya harta atau pahala. Yang jelas hidup kita akan terasa lebih bermakna.

Kesimpulannya. Entah itu untuk bekal di hari tua atau bekal untuk akhirat kita, mari mulai membangun bukit kita sedikit demi sedikit. Mulai tentukan prioritas, dan Insya Allah, dengan itu semua kita bisa jadi manusia yang sukses dunia dan akhiratnya, aamiin Allahumma aamiiin… 🙂

Advertisements