Liburan Berarti…

1. Beberes Aksesoris dan Kamar

102_0192

Namanya perempuan. Kadang saya hobi pakai aksesoris, entah itu saya pakai di jari, tangan atau saya kaitkan ke kerudung sebagai hiasan. Setiap pakai saya selalu lupa mengembalikan ke tempatnya dan hanya saya letakkan di cawan-cawan keramik yang ada di meja rias saya. Biasanya sebulan sekali baru akan saya bereskan. berhubung libur akhir tahun kali ini lumayan panjang, sudah dua bulan lebih aksesoris-aksesoris itu sengaja saya biarkan berserakan di atas meja. Karena memang setiap liburan saya hobi beres-beres kamar dan aksesoris saya. Padahal sebenarnya nggak harus nunggu liburan untuk beberes kan ya? Tapi, saya merasa waktu yang saya punya lebih banyak untuk membereskan itu semua pada saat liburan walaupun sebenarnya kurang dari setengah jam juga sudah selesai dirapikan semua kalau saya mau. Mungkin dasarnya emang males, jadi harus menunggu liburan untuk membereskan semua, hehe.

2. Nonton Film Bajakan

cats

Harus saya akui saya lebih suka mengunduh film-film terbaru dari internet daripada melihatnya langsung di bioskop. Bukannya tidak menghargai karya orang lain, saya yakin ada banyak cara lain untuk mengungkapkan apresiasi saya terhadap sebuah karya film, seperti mengulasnya di blog saya atau ikutan voting di forum-forum dan ajang penghargaan film online, selain harus nonton langsung film-film tersebut di bioskop. Hehe, alasan yang mengada-ada memang. Mohon maaf nih, alasan utamanya sih lebih karena kadar kantong saya.. hehe. Dan biasanya, saya selalu menonton film-film yang saya unduh itu ketika liburan, selain untuk mengisi waktu, untuk hiburan juga. Karena kalau hari biasa saya malas nonton film dan lebih suka mengerjakan hal lainnya, seperti, tidur misalnya… 😀

3. Mewarnai

102_0204

Akhir-akhir ini saya lagi punya hobi baru yaitu mewarnai. Penyebabnya agak kekanakan sebenarnya. Beberapa bulan lalu ekstra mewarna yang sudah lama vakum sejak akhir tahun ajaran kemarin akhirnya diaktifkan lagi di tempat saya mengajar. dan setiap ada kegiatan ekstra mewarnai saya selalu iri sama anak-anak di kelas saya yang diajari bagaimana cara mengaplikasikan warna dan bermain dengan berbagai gradasi warna pada sebuah gambar oleh guru mewarna mereka, sejak itu saya membeli seperangkat krayon untuk saya pakai kalau ada ekstra mewarnai. Iya, saya ikutan mewarna juga seperti anak-anak. Dan liburan kali ini rencananya saya mau latihan mewarna untuk melengkapi gambar-gambar hasil mewarnai yang saya tempel di tembok kamar sebagai hiasan. Mungkin karena dulu waktu kecil hobi saya main di luar rumah, baru sekarang saya tahu senangnya mewarnai. Jadi nyesel deh kenapa nggak dari dulu saya hobi mewarnai, hehe.

4. Membaca Ulang Koleksi Buku dan Novel

102_0209

Membaca termasuk hobi lama saya selain hobi baru saya yang lain seperti nonton film dan mewarnai. Jadi sejak lulus SMA dan mampu beli komik dan buku sendiri, saya mulai koleksi buku-buku dan komik-komik favorit saya. Biasanya, kalau liburan panjang seperti ini saya suka membaca ulang komik dan novel-novel koleksi saya. Walaupun sebenarnya saya sudah tahu akhir dan jalan ceritanya, tapi nggak tahu kenapa, membaca ulang buku-buku itu selalu jadi aktivitas menyenangkan dan menenangkan. Saya ini tipe orang yang kalau sedang membaca bisa lupa segalanya. Jadi kalau orang lain butuh meditasi untuk berkonsentrasi dan mengosongkan pikiran, saya hanya butuh membaca. Dijamin, saya jadi orang paling budek sedunia kalau sedang membaca, hehe..

5. Ke Bromo

Mengunjungi gunung Bromo dan melihat pemandangan matahari terbitnya sudah jadi impian saya sejak kelas 3 SMP. Penyebabnya sepele hanya gara-gara tetangga saya pamer foto-foto dia dan keluarganya saat berkunjung ke Bromo, dan sejak melihat itu saya punya imajinasi saya sendiri tentang betapa indahnya Bromo. Sudah beberapa kali sebenarnya saya mendapatkan kesempatan untuk berlibur ke salah satu tempat wisata terkenal di Jawa Timur itu. Tapi selalu ada banyak hal yang membuat saya tidak jadi ke sana. Harapan saya sih, liburan ini saya bisa ke sana bersama keluarga atau teman. Tapi sepertinya impian saya akan kandas lagi karena liburan akhir tahun ini cuma saya saja yang liburan panjang, teman-teman dan keluarga saya memiliki kesibukan masing-masing yang membuat liburan mereka hanya sebentar. Yah, mungkin tahun depan, sama keluarga saya sendiri alias suami, hehe.. Aamiin.

Inti liburan sebenarnya istirahat. Apalagi liburan akhir tahun seperti ini, harusnya lebih banyak introspeksi tentang tahun yang akan ditinggalkan dan beresolusi untuk tahun yang akan datang. Tapi nggak ada salahnya juga sedikit menghibur dan menyegarkan fikiran setelan setahun bekerja. Kalau saya pribadi sih lebih ke pemulihan otak, hati, dan jiwa setelah berbagai drama yang terjadi di tahun ini. Apapun itu, pastikan liburan kita bermanfaat bagi kita lebih bagus lagi untuk orang-orang di sekitar kita. Baidewei, selamat berlibur temans… 🙂

A systemic cleansing and detox is definitely the way to go after each holiday. It is the key to fighting high blood pressure, heart disease, cancer, and other health-related illnesses.

Lee Haney-

Teologi Islam, Aliran-Aliran, Sejarah Analisa Perbandingan

teologi islam

  • Judul Buku : Teologi Islam, Aliran-Aliran, Sejarah Analisa Perbandingan
  • Penulis : Dr. Harun Nasution
  • Penerbit : UI-Press
  • Cetakan : V, 1986
  • Tebal : xv+155 halaman

Harun Nasution dilahirkan di Pematangsiantar pada tanggal 23 September 1919. Ia dilahirkan dari keluarga ulama. Ayahnya bernama Abdul Jabbar Ahmad yang seorang ulama sekaligus pedagang sukses. Dalam dunia kecendikiawanan Harun Nasution dikenal sebagai tokoh dengan pemikiran-pemikirannya yang cenderung liberal. Beliau juga telah menerbitkan banyak karya baik berupa buku maupun artikel. Dan buku “Teologi Islam, Aliran-Aliran, Sejarah Analisa Perbandingan” ini adalah salah satu dari hasil karyanya yang cukup memberikan kontribusi ilmu teologi di Indonesia .
Bagian pendahuluan dalam buku ini menyebutkan betapa pentingnya pengetahuan tentang teologi bagi umat Islam terutama bagi mereka yang berpendidikan barat dan merasa tidak yakin pada keyakinan yang selama ini mereka anut. Buku ini tidak hanya membahas Islam dari sudut hukum dan fikihnya saja, tetapi juga dari sisi lain yaitu keberadaan aliran-aliran teologi baik tradisional maupun liberal yang pernah mewarnai dunia Islam dengan ajarannya, yang beberapa bahkan memicu kontroversi di kalangan umat Islam sendiri. Teologi sendiri adalah ilmu tentang ajaran-ajaran dasar dari suatu agama, dalam Islam teologi disebut sebagai al Ilm al Kalam. Harun Nasution, membagi buku ini ke dalam 2 bagian. Bagian pertama membahas tentang macam-macam aliran teologi yang pernah ada dalam Islam, ajarannya, sejarah, dan uraian-uraian lainnya. Sedangkan dalam bagian kedua Dr. Harun Nasution membeberkan perbedaan dan menganalisa ajaran-ajaran tiap aliran-aliran teologi yang ada. Dalam bukunya ini Harun Nasution menyatakan bahwa memperkenalkan Islam melalui tinjauan teologi sangatlah penting agar umat Islam terutama Indonesia tidak hanya mengenal satu aliran saja yang menurutnya benar, setidaknya mereka bisa berfikir lagi dan membandingkan apa yang mereka yakini dengan apa yang diyakini aliran lainnya.

Seperti yang telah disebutkan di atas bagian pertama buku ini membahas tentang aliran-aliran teologi yang pernah dan masih ada sampai kini dalam Islam serta sejarahnya. Pada bagian ini penulis mengajak kita kembali ke masa lalu dimana sejarah menuturkan banyak peristiwa yang memicu munculnya masalah teologi. Semua dimulai pada masa Nabi Muhammad SAW yang mulai menyiarkan ajaran Islam di Mekah. Selanjutnya kita akan membaca beberapa peristiwa yang memicu dan mengiringi fase perkembangan teologi di dunia Islam. Dalam buku ini juga disebutkan, bahwa setelah Nabi wafat masyarakat Madinah pada saat itu sibuk mencari pengganti Nabi untuk mengepalai negara. Hal ini karena Islam pada saat itu berperan ganda selain sebagai sistem agama juga sebagai sistem politik, sehingga pada saat itu selain menjadi Nabi, Rasulullah juga menjadi ahli negara (R. Strothmann).

Sejarah menyebutkan setelah Nabi wafat kita mengenal Khulafa’u Rasyidin yaitu: Abu Bakar, Umar Bin Khatab, Utsman Bin Affan, dan Ali Bin Abi Thalib. Gejolak politik dan perebutan kekuasaan mewarnai setiap periode pemerintah para khalifah ini. Seperti pemerintahan Utsman yang kontroversial dan menimbulkan perpecahan karena hampir semua pejabat pemerintahan terpilih saat itu adalah keluarga Utsman sendiri, setelah itu timbullah pemberontakan-pemberontakan yang berujung pada pembunuhan Utsman. Selanjutnya Ali menggantikan Utsman sebagi khalifah. Pemerintahan Ali juga menimbulkan tentangan-tentangan dari tokoh-tokoh terkemuka seperti Aisyah –istri Nabi– dan Muawiyyah yang masih ada hubungan saudara dengan Utsman. Sama seperti Utsman, peristiwa ini juga berujung pada wafatnya Ali yang selanjutnya digantikan Mu’awiyah; dan peristiwa-peristiwa di ataslah yang memicu munculnya persoalan-persoalan teologi. Aliran pertama yang muncul disebut Khawarij, aliran ini mengajarkan mana yang pantas disebut berdosa mana yang tidak. Aliran kedua adalah Murji’ah, diikuti oleh kemunculan Qadariah-Jabariah, Mu’tazilah yang liberal, dan banyak aliran lainnya yang muncul setelah mundurnya aliran sebelum mereka. Dalam bab ini Harun menunjukkan pada kita betapa sebuah persoalan politik bisa berkembang menjadi persoalan teologi. Dalam menulis buku ini penulis juga menggunakan pendekatan historis untuk menuturkan peristiwa-peristiwa bersejarah dengan timeline yang memudahkan kita memahami sejarah. Selain diajak menelusuri sejarah, kita juga diajak berfikir tentang aliran-aliran teologi dan ajarannya.

Dalam bagian kedua buku ini, Harun Nasution membandingkan ajaran beberapa aliran dengan memunculkan permasalahan-permasalahan agama yaitu: mengetahui Tuhan dan kewajiban mengetahui Tuhan, mengetahui soal baik dan jahat serta kewajiban mengerjakan perbuatan baik dan kewajiban menjauhi perbuatan jahat. Semua permasalahan di atas berkaitan dengan akal dan wahyu. Harun menuturkan, tiap aliran memiliki jawabannya masing-masing. Mu’tazilah misalnya, mereka berpendapat bahwa pengetahuan dapat diperoleh lewat akal, sedangkan kewajiban-kewajiban dapat diketahui dengan pemikiran yang dalam. Sedangkan Asy’ariyah menolak pendapat Mu’tazilah itu. Mereka berpendapat bahwa kewajiban hanya dapat diketahui melalui wahyu, sedangkan akal tidak bisa membuat sesuatu menjadi wajib, dan mengerjakan yang baik serta menjauhi yang buruk adalah kewajiban bagi manusia. Masih dalam bab ini, Harun mengajak pembaca menganalisa suatu ajaran dengan cara membandingkannya dengan pendapat para tokoh-tokoh aliran mereka atau bahkan membandingkannya dengan aliran lainnya. Harun mengajak kita memandang dari banyak sisi agar kita mengenal banyak pendapat dan ajaran yang nantinya akan membantu kita memperkuat keimanan atau bahkan menjawab semua keraguan yang ada pada keyakinan kita. Harun mengungkapkan bahwa pada dasarnya semua aliran teologi sama-sama mempergunakan akal dan wahyu dalam menyelesaikan masalah-masalah umat saat itu. Perbedaan mereka mungkin terletak pada perbedaan mengintepretasikan ayat Al Qur’an atau perbedaan dalam menafsirkan ayat-ayat Al Qur’an. Sebagaimana yang telah diuraikan sebelumnya, bahwa Mu’tazilah adalah salah satu aliran yang berpandangan liberal, kebanyakan ajaran mereka menggunakan rasio untuk menyelesaikan masalah yang ada. Dari aliran seperti inilah lahir teolog-teolog liberal. Kebanyakan dari mereka berfikir dan berlaku sebagaimana kaum terpelajar, pembahasan mereka juga filosofis sehingga bagi sebagian orang awam hal ini sulit dimengerti. Sedangkan para teolog tradisional cenderung berpegang teguh dalam penafsiran ayat Qur’an dan hadits yang terbatas pada harfiahnya saja dan kadang tidak menggunakan logika, hal ini kurang sesuai jika dibandingkan dengan keadaaan saat ini dimana kini telah lahir banyak pemikir yang berfikir secara logika dan kritis. Dalam bagian terakhir bab ini penulis menulis tentang keberadaan Tuhan, menurut mu’tazilah yang liberal Tuhan bersifat immateri, tidak mempunyai badan dan tak tampak pada alam semesta ini dan ayat-ayat Al Qur’an yang selama ini menyebutkan keberadaan tuhan dan singgasananya –Arsy– harus diberi interpretasi lain secara logika. Sedangkan Asy’ariyah juga tidak menyetujui jika Tuhan bersifat jasmani sebagaimana manusia –Anthropomorphisme–, tetapi mereka setuju pada penjelasan Al Qur’an tentang Tuhan yang memiliki mata, tangan, kaki dan anggota tubuh lainnya mereka juga percaya bahwa Tuhan akan tampak ketika mereka di akhirat nanti. Perbedaan-perbedaan pemikiran dan aliran inilah yang memperkaya khazanah teologi agama Islam. Dalam buku ini, Harun memang sangat tersosialisasi dalam tradisi intelektual dan akademis barat. Tapi, sesungguhnya hampir sepenuhnya dia mewarisi dasar-dasar pemikiran Islam abad pertengahan.

Membandingkan Harun dengan pemikir-pemikir teologi islam dari Barat, Montgomerry Watt misalnya. Adalah seperti membandingkan 2 sisi mata uang. Berbeda tetapi masih dalam satu ide pemikiran. Keduanya juga seorang yang berfikiran liberal dan cenderung orientalis, perbedaannya adalah Harun berbicara tentang teologi islam dari kacamata seorang muslim sendiri, sedangkan Watt dari kacamata orientalis barat. Tetapi bagaimanapun juga, kontribusi kedua penulis tersebut sangatlah penting bagi perkembangan ilmu teologi Islam di Indonesia khususnya, dan di dunia pada umumnya.
Sebenarnya setiap aliran yang disebut di atas tidak pernah keluar dari Islam, mereka semua tetap Islam. Sedangkan kita sebagai umat Islam di ajak penulis untuk menentukan sikap, aliran manakah yang sebenarnya cocok dengan keyakinan kita selama ini. Tidak ada yang salah dengan perbedaan, karena setiap perbedaan memiliki keunikannya masing-masing sehingga dapat melengkapi satu sama lainnya. Seperti yang diungkapkan penulis, bahwa Nabi Muhammad pernah berucap,

Perbedaan faham di kalangan umatku membawa rahmat

Sehingga bukan karena aliran atau ajaran mana yang kita anut kita menjadi berbeda, tapi dari sudut pandang kitalah kita berbeda. Jika kita bisa menyamakan sudut pandang kita, bahwa semua manusia sama dan sederajat maka kita akan menemukan dunia yang serasi, selaras dan seimbang; dan Dr. Harun Nasution telah menguraikan teologi yang bagi kita mungkin sulit ini menjadi hal-hal kecil yang sebenarnya mudah untuk dipahami. Buku ini sebenarnya buku lama yang kebetulan jadi buku acuan ketika saya kuliah dulu. Meskipun mungkin buku ini sedikit menawarkan pemikiran yang ekstrim bagi beberapa orang. Tapi, saya jamin, buku ini akan membawa kita pada wawasan baru tentang aliran-aliran yang ada dalam Islam. Kalau buat saya pribadi, buku ini justru membuat saya semakin yakin pada apa yang saya yakini, yaitu Al Quran dan As Sunnah.

Selamat membaca… 🙂