#Day 29 : Laron

Jangan ditanya kemana #Day 28, jawaban saya sama dengan penjelasan saya di sini, hehe. Mari kita move on.. 😀

 

Sudah seminggu belakangan, setiap jam 2 siang ke atas, daerah tempat tinggal saya selalu diguyur hujan, Karena hujan sudah mulai rutin itulah akhirnya saya memutuskan memperbaiki jas hujan saya yang robek, karena sampai detik ini saya masih malas untuk membeli jas hujan baru, hehe. Nah, karena hujan yang berturut-turut inilah populasi laron di tempat tinggal saya meningkat. Laron atau yang dikenal dengan anai-anai dalam Bahasa Indonesia, memang dikenal selalu muncul saat pergantian musim datang, biasanya laron akan muncul di awal musim hujan. Laron yang keluar di awal musim hujan ini merupakan salah satu siklus hidup dari rayap yaitu serangga dari ordo Orthoptera, dan laron yang kita kenal merupakan fase dewasa dari kasta reproduktif si rayap ini. Rayap biasanya tinggal di dalam tanah dan hidup dari memakan kayu-kayu kering atau kayu yang sudah mati untuk menjaga keseimbangan ekosistem. Tapi bagi manusia, rayap dikenal sebagai hama yang merugikan karena sering memakan kayu-kayu yang menjadi bahan bangunan atau perabot rumah tangga lainnya. Di rumah saya sendiri, sudah berkali-kali kusen pintu, jendela, dan rangka atap yang terbuat dari kayu direnovasi. Penyebab utamanya adalah rayap dan keluarganya yang kebetulan bertempat tinggal di bawah tanah rumah saya. Laron biasanya keluar pada waktu senja atau malam hari. Kebiasaan laron adalah berkerumun dan berterbangan di sekitar lampu atau benda yang mengeluarkan cahaya yang terang. Kebiasaan buruk laron inilah yang membuat rumah saya berubah menjadi perternakan laron setiap musim hujan. Bukan hanya itu, bangkainya yang bertebaran di teras rumah menarik perhatian koloni lainnya, yaitu semut sekeluarga yang dari dulu keberadaannya di rumah ini sudah sangat saya tentang.

Munculnya laron setiap awal musim hujan ini jelas sangat amat mengganggu, bahkan saat menulis ini, saya menulis dalam kegelapan karena kalau lampu di atas kepala saya dinyalakan, akan ada ribuan laron yang berusaha mengrumuninya. Apa ya yang menyebabkan laron begitu menyukai cahaya lampu? Apa karena laron dulunya adalah seekor rayap yang sejak lahir hidup di dalam tanah, begitu tumbuh dan memiliki sayap dia haus akan cahaya sehingga sangat amat tertarik dengan terangnya lampu di rumah-rumah manusia?

Barusan adik saya nyeletuk waktu saya mengajukan pertanyaan ini ke dia.
” Iya mbak ya, kenapa mereka nggak tertarik dengan cahaya bulan yang lebih terang daripada cahaya lampu rumah kita?” Saya pun menjawab tanpa berfikir,
“Laron tahu diri Fik, mereka tahu mereka nggak mungkin sampai ke bulan. Nggak kayak kita manusia nggak tahu diri, yang mimpinya ketinggian sampai bulan.”
Iya, jawaban saya memang cenderung skeptis untuk menjawab rasa penasaran adik saya. Salah dia juga kenapa tanya-tanya waktu orang lagi ngeblog sambil kibas kanan kiri supaya tidak ada laron yang mendekat ke layar laptop, hehe. *ngeles*

Penyebab kenapa laron begitu menyukai cahaya dan mengerumuninya ternyata memiliki penjelasan ilmiah. Seperti yang sudah saya sebutkan di atas, laron merupakan fase dewasa dari kasta reproduktif rayap. Begitu siap dan memiliki sayap, rayap yang sudah berubah menjadi laron ini akan keluar dari tanah dan mencari cahaya yang terang. Tujuan mereka mencari cahaya yang terang adalah untuk menarik dan menemukan jodoh, karena itu momen ini juga dikenal sebagai pesta cari jodoh. Pada saat mengerubungi cahaya, laron akan bertemu dengan puluhan bahkan ratusan laron lainnya. Di sana mereka akan saling menarik perhatian lawan jenisnya. Begitu mendapatkan jodoh, laron akan melepaskan sayapnya dan menjadi rayap kembali. Setelah itu mereka akan turun ke tanah dan memulai masa bulan madu mereka di dalam tanah untuk selanjutnya bereproduksi dan menciptakan koloni rayap yang baru. Bagi yang kurang beruntung, mereka akan mati dimangsa predator-predator mereka seperti cicak, katak, dan kadal. Yang lain, yang bertahan hidup dari predator-predator tersebut, akan mati dengan sendirinya setelah mereka melepas sayap-sayap mereka sendiri saat fajar menyingsing. Umur laron memang pendek, hanya berkisar sekitar satu hari saja, jika mereka mendapatkan pasangan, umur mereka akan lebih panjang lagi.

Banyak yang bilang hidup itu harus seperti laron. Dalam hidupnya laron hanya memiliki satu misi, menemukan cahaya. Begitu mereka mendapatkan sayapnya, mereka akan berbondong-bondong berterbangan mencari cahaya. Karena itulah laron selalu terbang saat malam hari, karena pada saat itu mereka bisa membedakan mana gelap dan mana terang. Sedangkan saat siang hari semuanya tampak terang sehingga mereka tidak dapat menemukan dan membedakan sumber cahaya. Saat terbang, laron tahu berbagai macam resiko yang akan mereka hadapi. Sayap mereka yang rapuh hanya bisa menerbangkan mereka tapi tidak bisa menghindarkan mereka dari para predator. Meskipun begitu, laron tidak patah arang untuk mencapai tujuan seumur hidup mereka, yaitu mencari cahaya lampu.

Salah satu tokoh sufi terkenal, Fariduddin Attar, pernah berkisah. Pada suatu malam, sekelompok laron berkumpul bersama. Mereka bercerita tentang kerinduan yang menyiksa; keinginan untuk bergabung dengan cahaya sebuah lilin. Semua berkata, “Kita harus temukan seekor laron yang dapat menceritakan lilin yang amat kita dambakan itu.” Salah seekor laron lalu pergi ke sebuah puri dan melihat seberkas cahaya lilin di dalamnya. Ia kembali dan bercerita tentang apa yang ia telah lihat. Tapi seekor laron yang bijak, pemimpin kelompok itu, hanya berkata, “Ia tak punya berita yang sesungguhnya tentang lilin itu.” Seekor laron yang lain pergi menuju puri itu dan terbang mendekati cahaya lilin, bergerak ke arahnya, dan menyentuh sedikit nyala api dengan sayapnya. Setelah itu, ia kembali ke kelompoknya dan menjelaskan tentang penyatuan dirinya dengan lilin itu. Tapi si laron bijak lalu berkata lagi, “Penjelasanmu tak lebih berarti dari penjelasan laron sebelum kamu.” Laron ketiga bangkit, dan melemparkan dirinya ke arah nyala lilin. Ia mendorong dirinya ke depan lilin dan mengarahkan sungutnya kepada api. Begitu seluruh tubuhnya dilalap api, tubuhnya menjadi merah menyala seperti api itu sendiri. Si laron bijak memandang dari kejauhan dan melihat bahwa lilin itu telah menerima seekor laron tadi sebagai bagian dari dirinya dan memberikan kepada laron itu cahayanya. Si laron bijak berkata, “Seekor laron itu telah mengetahui apa yang ia capai. Sesuatu yang takkan diketahui laron-laron lainnya.” Fariduddin Attar menutup kisah ini dengan berkata,

Sebenarnya, hanya orang yang telah meninggalkan pengetahuan akan keberadaan dirinya, yang dapat memiliki pengetahuan akan eksistensi Sang Tercinta. Selama kau masih memperdulikan jiwa dan ragamu, bagaimana kau mampu mengenal Dia yang kau cinta?

Saya pribadi mengagumi kehidupan laron yang menurut saya luar biasa. Dengan umurnya yang pendek, laron tetap berusaha mencari cahaya tanpa keraguan sedikitpun, ia juga rela menghadapi berbagai macam resiko demi mencapai impian seumur hidupnya itu. Tapi, kita manusia bukan laron. Dalam hidup, kita harus memiliki banyak tujuan dan mimpi agar umur yang dianugerahkan Allah secara cuma-cuma pada kita ini tidak kita habiskan dengan sia-sia. Sebelum benar-benar meninggalkan dunia ini, kita juga harus mewariskan banyak hal yang bermanfaat untuk orang-orang yang kita tinggalkan. Tidak seperti laron yang hanya mampu meninggalkan sayapnya yang rapuh yang justru dianggap sampah bagi manusia. Tapi, dalam hal keteguhan dan keuletan dalam mencapai tujuan hidup. Kita harus berkaca pada laron, dengan sayap rapuhnya, ia tetap berusaha mencari sumber cahaya, meskipun ia tahu akan ada banyak hal yang menghadang ia untuk mencapai keinginannya.

Tulisan ini disponsori event :
novemberngeblog

 

 

 

Advertisements

5 thoughts on “#Day 29 : Laron

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s