#Day 27 : If You Really Knew Me

Friendship with oneself is all important, because without it one cannot be friends with anyone else in the world.
– Eleanor Roosevelt –

Dulu, saya ini tipe orang yang mudah sakit hati dengan komentar orang lain tentang saya. Anehnya, saya nggak pernah mengungkapkan rasa ketidak sukaan saya itu, saya cuma bisa senyam-senyum ketika orang mencela saya, entah itu yang benar-benar mencela atau sekedar bercanda. Tapi setelah itu, celaan tersebut akan benar-benar mempengaruhi saya yang membuat saya depresi diam-diam, saya sebut depresi diam-diam karena rasa tertekan itu muncul lewat jerawat dan tingkah laku saya ke keluarga saya. Iya, daripada marah-marah di luar atau langsung kepada orang yang mencela saya, saya lebih suka menumpahkan kekesalan saya ke keluarga terutama adik-adik saya (Maafin mbak ya nduk, le…). Suatu hari, saya pernah melihat sebuah acara talkshow Korea Selatan yang saya unduh dari internet. Dalam acara tersebut, seorang penyanyi muda Korea yang sedang naik daun kebetulan menjadi narasumber. Ketika para pembawa acara bertanya apakah ia tidak terpengaruh dan tersinggung dengan komentar-komentar para netizen Korea yang mencela dia di forum-forum internet karena wajahnya tidak secantik penyanyi-penyanyi lainnya terutama para anggota girl group yang saat itu sedang naik daun. Dengan senyuman lebar dan penuh kebanggaan, dia menjawab,

“Kenapa saya harus tersinggung, saya memang tidak cantik. Tapi saya menarik.”

Saat para pembawa acara kembali bertanya apa yang membuat dia bisa sepositif itu membaca setiap komentar yang mencela dia. Dengan penuh keyakinan penyanyi muda itu menjawab,

“Satu-satunya cara untuk selalu berfikir positif saat kita dicela adalah dengan berdamai dengan diri kita sendiri. Karena saya tidak cantik, kenapa saya harus tersinggung? Saya mempunyai daya tarik lain dari diri saya, yaitu suara saya.”

Penyanyi muda itu bernama Lee Ji Eun, atau dikenal dengan nama panggung IU yang populer lewat single Good Day beberapa tahun silam.

Sejak itu saya jadi berfikir, mungkin selama ini penyebab ketersinggungan saya pada celaan orang-orang adalah karena saya menyadari bahwa saya memiliki kekurangan tersebut, tapi saya tidak mau mengakui kekurangan saya itu, dan tidak suka jika orang lain menunjuk-nunjuk kekurangan saya. Sejak itu juga, saya memutuskan untuk berdamai dengan diri saya sendiri dan mengakui segala kekurangan yang saya miliki. Toh, semua orang juga pasti memiliki kekurangan, namanya manusia, kalau sempurna namanya Barbie, hehe. Karena itulah, pada postingan kali ini, saya mau menuliskan semua kekurangan yang saya miliki. Karena nggak semua orang tahu, bahkan orang terdekat saya pun belum tentu tahu, siapa saya sebenarnya. Postingan ini juga terinspirasi oleh tulisan Cassey Patton, Corey dan Jenni, salah tiga dari blogger-blogger favorit saya.

Selalu berusaha meraih mimpi semungil buah sukun, hehe

Saya dan Buah Sukun :p

Saya itu,

Cemen dan penakut. Takut sama banyak hal, dan beberapa orang, termasuk Ibu saya, hehe.

# Selalu tidur dengan lampu menyala. Kata Ayah saya dulu, “Kalau nggak mau terus takut sama setan. Lampu kamar dimatikan saja waktu tidur, karena waktu gelap kita bisa lihat setan tapi setan nggak bisa lihat kita. Kalau nyala, setan yang bisa lihat kita, tapi kita nggak kelihatan setan, jadi dia bisa nakut-nakutin kita.” Entah darimana Ayah saya dapat teori tersebut, yang jelas sejak itu saya makin takut sama gelap dan tidak pernah mematikan lampu saat tidur, saya lebih milih nggak bisa lihat setan daripada bisa lihat setan walaupun si setan ngak bisa lihat saya saat gelap, *ketok-ketok meja*

# Nggak bisa keluar rumah tanpa kacamata. Sejak kelas 1 SMA saya tahu saya rabun jauh, sejak itu saya dan kacamata-kacamata saya adalah sahabat sejati. Pernah suatu ketika kacamata saya pecah, dan saya harus memperbaikinya saat itu juga, berangkatlah saya ke optik lalu meninggalkan kacamata saya di sana. Bodohnya, saya lupa membawa kacamata cadangan saya. Alhasil, saya harus pulang mengendarai motor tanpa kacamata saya, mana hujan deras pula. Saat itu saya benar-benar menyadari, kalau saya bukan apa-apa tanpa kacamata saya. Dunia saya serasa abu-abu semua, nggak jelas, hiks…

# Suka naik motor keliling kota sendirian kalau lagi stres. Kebiasaan ini sudah jarang saya lakukan lagi karena satu dan lain hal. Dulu, saya sering sekali keliling kota setelah Maghrib kalau saya lagi pusing dan bingung memikirkan kuliah dan hal remeh lainnya. Saya suka melihat kerlip lampu di taman-taman kota, orang-orang yang bersliweran di kanan kiri jalan, dan suka teriak-teriak di jalan besar yang sepi sambil melaju di kecepatan 80 km/jam (jangan ditiru ya adik-adik…). Rasanya lega kalau sudah teriak-teriak begitu, hehe.

# Punya tinggi badan dan berat badan yang nggak seimbang. Ini yang membuat saya kelihatan gemuk dan besar. Bentuk tubuh saya seperti buah pir, dimana bagian atas tubuh saya lebih kecil daripada bagian bawahnya. Semua lemak saya lari ke bagian pinggang ke bawah, sementara pinggang ke atas seolah-olah punya sistem metabolisme yang lebih maju dan modern daripada bagian tubuh lainnya. Ini pertama kalinya saya menyebutkan tinggi dan berat badan saya, jangan kaget ya, tinggi saya 161 cm (kalau timbangnya di puskesmas bisa sampai 163 cm), dan berat saya, ehmm.. 65 kg. Bisa dibayangkan kan betapa tidak proposionalnya saya.

# Paling suka dengan sambal dan bawang goreng. Apapun makanannya rasanya nggak afdol kalau tidak ditambahkan dua hal itu. Kalu tidak ada sambal, biasanya saya akan memetik cabai rawit di belakang rumah, memotongnya kecil-kecil, lalu menaburkannya di atas makanan saya. Setelah itu, setidak enak apapun masakan tersebut, pasti akan sedap kalau sudah diberi sambal dan bawang goreng.

# Suka pura-pura main sinetron. Kalau sedang sendirian di rumah, atau tidak ada siapapun di dekat saya, saya suka berakting seolah-olah saya sedang main sinetron. Misalnya, saat sedang cuci piring saya kadang berakting sebagi menantu yang ditindas mertuanya, bahkan saya pernah sampai meneteskan air mata. Saya juga suka ngobrol sendiri saat sedang naik motor, bahkan pernah ada anak SMP yang mentertawakan saya waktu dia sedang naik angkot yang berhenti di depan motor saya saat jalanan macet, gara-garanya dia melihat saya ngobrol dan ketawa sendirian di tengah jalan. Kalau orang lain lihat, mungkin saya dikira orang tidak waras. Tapi kalau saya pikir-pikir sekarang, kayaknya saya memang tidak waras, hehe.

# Penggemar berat mie ayam dan bakso. Kegemaran saya ini sampai pada kadar, kalau alam, kantong, dan Ibu saya mengizinkan, saya mau sehari 3 kali makan mie ayam dan bakso seumur hidup saya.

# Masih suka baca komik Detektif Conan dan Shanaou Yoshitsune. Kalau dulu alasannya karena saya suka dengan ceritanya. Sekarang alasannya lebih karena saya penasaran sama akhir cerita dua komik tersebut, terutama Conan. Yang dari saya SD sampai seumur ini tetap jadi anak kecil terus, nggak selesai-selesai masalahnya.

# Suka nonton Running Man sejak 2 tahun lalu. Saya suka sekali sama acara reality dari Korea Selatan ini. Karena konsepnya jarang saya lihat di TV-TV Indonesia. Tapi, sekarang katanya sudah ada salah satu stasiun televisi Indonesia yang membuat acara serupa. Bagaimanapun, seruan  yang asli, hehe.

# Lagi senang mewarnai gambar. Beberapa hari lalu saya baru membeli krayon isi 18 yang biasa dipakai anak TK, biarpun nggak selengkap yang dipakai murid-murid saya tapi variasi warnanya lumayan banyak. Kegemaran baru saya ini muncul karena rasa iri saya waktu lihat anak-anak mewarna, saya nyesel, kenapa waktu kecil dulu hobi saya main layangan bukan mewarna. 😀

# Suka melihat segala jenis film. Mungkin saya salah satu penyebab kenapa pembajakan film merajalela di dunia ini. Saya hobi mengunduh film-film dari internet. Dan saya nggak terlalu peduli apa jenis filmnya, siapa pemainnya, atau siapa sutradaranya. Saya suka acak kalau mengunduh. Sehingga saya baru tahu bagus tidaknya film sebuah film, ketika saya selesai menontonnya, kalau nggak bagus biasanya saya malas meneruskan sampai akhir. Prosesnya menyenangkan, semacam iseng-iseng berhadiah gitu.

# Ingin bisa main biola, piano klasik atau cello. Minimal bisa melihat ketiga alat musik itu dari dekat. *udik alert*

# Tidak terlalu suka bola, tapi kalau nggak sengaja nonton bola bisa lebih heboh dari penggemar bola.

# Mempunyai tingkat kesabaran level 0. Teman-teman saya yang mengenal saya di dunia nyata pasti bilang saya bohong kalau saya mengatakan saya bukan orang sabar. Mereka nggak tahu saja kalau saya lagi sebal sama mereka saya teriak-teriak di tengah jalan, hehe. saya paling benci disuruh menunggu, disuruh diam mendengarkan mereka curhat hal nggak penting, disuruh nurut waktu mereka suruh saya diam, dimarahi waktu nagih hutang padahal yang punya hutang siapa yang dihutangi siapa, diklakson tanpa sebab di jalan, disalip kendaraan yang pengendaranya nggak pintar menghitung jarak, dan banyak hal lainnya.

# Saya gampang ge-er. Karena itu saya nggak suka orang-orang yang gampang memuji, buat saya pujian bukannya memotivasi malah melemahkan saya. Kalau saya ge-er, saya sering salah tingkah sendiri di hadapan orang tersebut. Padahal orang tersebut juga nggak sebegitu pedulinya sama keberadaan saya, jadi salah tingkah saya itu sebuah kerugian besar. 😀

# Selalu pakai jam tangan. Sampai-sampai kulit tangan saya yang tertutup jam tangan berbeda jauh warnanya dengan bagian yang lain. Kalau jam saya rusak, saya suka pakai gelang, supaya belang di tangan saya itu tertutup.

# Hobi membeli aksesoris. Saya paling suka lihat-lihat dan belanja aksesoris kalau lagi jalan-jalan di pusat perbelanjaan. Karena itu barang yang paling murah, hanya Rp. 10.000 bisa dapat 3 jenis aksesoris seperti gelang, cincin, atau bross. Tapi karena saya orangnya simpel dan malas macam-macam, nasib aksesoris tersebut berakhir di kotak penyimpanan saja karena jarang saya pakai.

# Mudah hafal dan melupakan surat-surat pendek di Al Quran. Saya ingin sebelum mati, paling tidak saya sudah hafal juz 30. Mungkin karena banyak dosa, dan jarang mengamalkannya, saya gampang lupa sama hafalan saya. Semoga saya masih punya banyak kesempatan lagi. Aamiin…

Sepertinya itu saja hal-hal yang bisa saya ceritakan tentang siapa saya sebenarnya. Walaupun, sebenarnya ada beberapa hal lagi, tapi biarlah hal tersebut hanya saya dan Allah yang tahu. Ternyata menyenangkan juga bisa menulis tentang diri kita sendiri sambil mengingat-ingat siapa kita sebenarnya. Berdamai sama diri sendiri ternyata bisa jadi terapi terbaik untuk menerima segala kekurangan yang kita miliki.

Jadi, boleh saya tahu siapa kalian sebenarnya? 🙂

 

 

Tulisan ini disponsori event :
novemberngeblog

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s