#Day 26 : Sawang Sinawang

Kalau ada yang bertanya kemana postingan #Day 25, sebelumnya saya mohon maaf sebesar-besarnya. Kemarin saya pulang kesorean dan kehujanan. Hasilnya, setelah shalat Maghrib saya tepar tak berdaya dan baru bangun jam 3 pagi. Mau liat laptop juga sudah nggak mood, karena punggung saya cenat-cenut akibat beberapa hari ini pulang pergi selalu bawa raport anak-anak, padahal enggak dikerjain juga kalau lagi nganggur di rumah, hehe. Saya emang sok sibuk, biar kelihatan kayak wanita karir gitu. 😀

Sudah beberapa tahun belakangan ini Ibu saya dipercaya Dharma Wanita di Fakultas tempat Ayah saya bekerja untuk mengelola sebuah kantin mahasiswa. Karena Ibu saya istri seorang dosen dan mengelola kantin, banyak yang mengira Ayah saya adalah orang yang berpengaruh di Universitas tempat ia bekerja. Banyak orang yang minta tolong soal ini itu ke Ibu saya. Suatu hari, salah seorang teman dari temannya Ibu saya pernah menemui Ibu untuk menitipkan anaknya agar anaknya bisa diterima sebagai pegawai di Fakultas. Ibu saya cuma bisa senyum waktu mendengar permintaan tersebut, dan mengatakan bahwa Ayah saya hanya seorang dosen biasa, bukan seseorang yang memiliki jabatan penting di kampus. Tetapi orang tersebut terus memaksa dan mengatakan, “Yang penting kan dosen bu, pasti mudah memasukkan orang…” Menanggapi pernyataan tersebut, Ibu saya cuma bisa geleng-geleng miris. Kata Ibu,

“Anaknya sendiri saja nggak mau ikut Ayahnya dan memilih jadi guru TK, anak orang kok malah maksa minta dimasukkan dengan gampang, dikiranya Ayahmu rektor mungkin.”

Saya cuma senyum ketika Ibu saya cerita hal ini, karena sepertinya itu suara hati beliau, hehe. saya juga pernah mengalami hal yang sama. Saat itu saya baru saja membaca pengumuman SPMB. Saat ujian, pilihan pertama saya adalah Jurusan Sastra Inggris di Universitas tempat Ayah saya mengajar, sedangkan pilihan kedua saya memilih kampus tempat saya lulus 3 tahun lalu. Saat itu seorang tetangga mampir ke rumah untuk menemui Ibu, entah mendapat kabar dari mana kalau saya baru saja lulus SPMB, beliau mengucapkan selamat, senang dong saya diberi ucapan selamat, yang bikin sebel embel-embel di belakang ucapan selamatnya, beliau berkata,

” Enak ya bisa masuk situ (menyebut nama kampus tempat Ayah bekerja) dengan gampang, Ayahnya dosen sih…”

Saya cuma senyum kebingungan menanggapi ocehan sinis beliau. Karena sebenarnya saya diterima di Universitas lain, bukan Universitas tempat ayah saya bekerja. Dalam budaya Jawa, asumsi-asumsi tidak berdasar seperti yang orang-orang sematkan kepada saya sekeluarga pada 2 cerita di atas itu, dikenal dengan istilah “Sawang Sinawang,” kalau dalam bahasa Indonesia mungkin hampir mirip dengan istilah “Rumput tetangga lebih hijau daripada rumput di pekarangan sendiri.” Secara harafiah, sawang sinawang berarti saling melihat pada diri sendiri dan orang lain. Secara istilah, sawang sinawang berarti kehidupan orang lain selalu terlihat lebih menyenangkan dan membahagiakan dari pada hidup kita sendiri. Waktu kecil, saya selalu menganggap para bule Amerika dan Eropa, adalah orang-orang pintar dan kaya. Semakin bertambah umur saya semakin tahu, sebenarnya orang bule itu sama seperti kita. Mereka juga ada yang hidup miskin dan tidak berpendidikan (ya, saya selugu itu hehe). Mungkin pikiran tersebut diwariskan nenek moyang saya yang selama 350 tahun dijajah Belanda. Sehingga banyak orang Indonesia yang merasa dirinya lebih inferior dari pada orang orang Barat. Padahal kenyataanya ya… seperti yang saya ungkapkan di atas. Mereka sama saja dengan kita, manusia biasa yang juga memiliki masalah dan ketidak bahagiaan dalam hidup mereka.

Kata orang Jawa dulu,

Urip iku mung sawang sinawang, Seneng nyawang enake uwong, lali penake dewe. Seneng duwene uwong, lali duwene dewe.

Artinya, hidup itu saling melihat satu sama lain. Senang melihat kebahagiaan orang lain, tapi lupa dengan kebahagiaan kita sendiri. Senang dengan milik orang lain, tapi lupa dengan apa yang dimilikinya. Padahal, Allah menciptakan manusia dengan segala kesusahan dan kebahagiaannya masing masing. Bisa saja kita melihat kehidupan seseorang begitu bahagia tanpa cela, rumahnya besar, mobilnya mewah, isterinya cantik, anaknya pintar, dan pekerjaannya bagus. Kita tidak pernah tahu bahwa mungkin sebenarnya hidup orang tersebut tidak sebahagia yang kita lihat. Bisa saja rumahnya yang besar hasil korupsi, mobil mewahnya atas nama supir, isteri cantiknya mantan penyanyi dangdut yang hanya tahu terima uang dari suami saja tanpa tahu darimana uang suaminya berasal, dan anaknya seorang pengguna narkoba (ketahuan deh yang biasanya nonton infotainment, hehe). Sebenarnya apa yang terlihat baik di mata kita belum tentu juga baik seperti yang kita lihat, dan apa yang kita rasakan buruk, mungkin untuk orang lain hal itu tak seburuk yang kita kira. Karena terlalu sibuk sawang sinawang inilah kita lupa bahwa hakikat dari sebuah kehidupan adalah tentang bersyukur. Sebanyak apapun harta yang kita miliki kalau kita lupa bersyukur dan lalai dalam menjaga apa yang kita punya, dan kita terlalu sibuk mengejar yang orang lain miliki, pada akhirnya kita tidak akan memiliki apa-apa. Begitu pun jika kita terlalu sibuk bermuram durja dan menggalau ria tanpa sadar bahwa kitatelah  memiliki lebih banyak hal yang menyenangkan daripada yang menyedihkan disekitar kita.

Envy, after all, comes from wanting something that isn’t yours. But grief comes from losing something you’ve already had.
– Jodi PicoultPerfect Match –

Meskipun saya berceramah panjang lebar seperti di atas, sebenarnya saya seseorang dengan sifat sawang sinawang sejati. Saya selalu membandingkan hidup saya dengan orang lain, terutama Dian Sastrowardoyo. Bahkan sampai sekarang pun saya selalu ingin memiliki wajah secantik Mbak Dian. Saya juga sudah berhasil mencuci sebagian otak murid-murid saya agar mereka berfikir bahwa saya secantik Dian Sastro (minta ditimpuk, haha). Tapi walaupun begitu saya tahu diri. Bagaimanapun, saya dan Mbak Dian lahir dari orang tua yang berbeda dan tidak mungkin saya bisa memiliki wajah yang sama persis dengan wajah Mbak Dian. Kecuali saya operasi plastik di Korea Selatan yang mana hal itu tidak mungkin saya lakukan, pulsa saja saya ngutang, hehe. Hidup juga begitu, kita diciptakan Tuhan dengan segala perbedaan dan kehidupan kita masing-masing. Karena itu kita tidak bisa membandingkan kehidupan kita dengan kehidupan orang lain. Setiap orang memiliki takdir  dan cara mereka dalam menjalani hidup mereka masing-masing. Dan, setiap orang pasti memiliki masalah yang mungkin bagi kita tampak sebagai sebuah kebahagiaan yang membuat kita iri. Meskipun begitu, sawang sinawang sebenarnya juga bisa bermakna positif ketika kita membandingkan kehidupan kita dengan orang lain, tapi setelah itu kita justru termotivasi untuk memiliki kehidupan yang sama atau bahkan lebih baik dari pada orang tersebut.
Intinya sih, jadi diri sendiri saja dan tetap bersyukur serta yakin bahwa Allah Maha mengabulkan do’a orang-orang yang senantiasa bersyukur, berusaha dan ber do’a kepada-Nya. Be positive! 🙂
Tulisan ini disponsori event :
novemberngeblog
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s