#Day 24 : Seleb Sehari (hari)

Only on the Internet can a person be lonely and popular at the same time.
– Allison BurnettUndiscovered Gyrl –

Suatu siang yang terik, teman saya sms dengan nada khawatir (tahu kan maksud saya?), di smsnya teman saya itu menulis, bahwa salah seorang teman lain, sebut saja Mbak Bunga, yang sedang sakit. Saya diminta untuk menanyakan lewat sms bagaimana keadaan Mbak Bunga itu, karena teman saya mengajak saya untuk menjenguk dia kalau memang sakitnya parah. Lalu, saya sms balik teman saya itu untuk menanyakan tahu darimana dia kalau si Mbak Bunga sedang sakit. Teman saya bilang, dari status Mbak Bunga di Facebook. Dan, saya sms dong si Mbak Bunga, menanyakan sakit apa yang ia derita dan mendoakan agar ia cepat sembuh. Beberapa menit kemudian dia sms,

“Nggak po2 van, cm ngelu mau kenek panas (Nggak apa-apa van, hanya pusing tadi kena panas matahari).”

Setelah baca sms balasannya saya cuma melengos. Saya sih bersyukur ternyata sakit teman saya nggak terlalu parah, yang bikin sebel itu status dia yang bikin teman-temannya khawatir. Waktu saya buka Facebook untuk melihat status si Mbak Bunga yang membuat teman-temannya khawatir itu, saya cuma bisa geleng-geleng kepala, ya wajar teman saya bingung dan khawatir sama Mbak Bunga, lha di statusnya dia nulis,

“Kambuh lagi dan Bed Rest untuk hari ini..”

Besoknya, soal ini jadi bahan bahasan forum (maklum perempuan, apapun dibahas, hehe), dan salah seorang teman saya nyeletuk, bahwa jaman sekarang hal biasa jadi lebay kalau dijadikan status. Sebuah pernyataan yang saya amini dan tepuk tangani. Bener pakai banget itu mah! Sebenarnya fenomena ini sudah saya alami sejak saya mengenal dan menggunakan Facebook. Tahun-tahun pertama saya hobi sekali memperbaharui status saya dan membaginya. Seolah-olah ingin pamer sama semua orang soal kegiatan dan di mana saya berada sekarang. kadang pakai acara dilebih-lebihkan demi mendapatkan komentar atau paling tidak sekedar like dari teman-teman se-Facebook saya. Bahkan saya pernah bohong di Twitter kalau saya sedang sakit  pencernaan dan harus diet sayuran selama 1 minggu, tujuannya cuma show off  saja, kalau saya sedang sakit. Padahal kenyataannya nggak se lebay itu. Saya hanya sedang mengikuti sebuah program pembersihan toksin dalam tubuh yang mengharuskan saya makan ekstrak sayuran selama seminggu, hehe, mohon maaf yang merasa tertipu. Berkat kebohongan saya itu, banyak orang menyampaikan simpati bahkan doanya, setelah baca komentar-komentar mereka saya jadi merasa bersalah. Dan sejak itu saya lebih berhati-hati lagi saat membuat status baik di Facebook maupun Twitter. Menurut Ustadz Felix Siauw, sama halnya dengan ucapan atau tindakan kita,  hal-hal yang kita tulis di jejaring sosial suatu saat nanti akan dipertanggung jawabkan kepada kita di akhirat. Nah lho, Vani…

Adanya sosial media membuat pergaulan yang dulunya ramai di pelataran stasiun radio lokal, di alun-alun atau taman kota, di pinggir jalan dan bahkan di masjid (saya kan anak TPQ), kini berpindah tempat ke dalam sebuah ponsel, gadget, laptop atau tablet. Mungkin karena lebih efisien, hemat dan praktis, jejaring sosial populer sebagai wadah untuk sekedar ngobrol, curhat atau bahkan nggosip. Makanya, nggak heran bila banyak banget penggila jejaring sosial ini yang hobi update status atau upload foto di manapun mereka berada. Dan ketika status atau fotonya mendapatkan banyak komentar, para pengguna jejaring sosial merasa bahwa eksistensinya di dunia maya mulai diperhitungkan. Dari sinilah sindrom selebriti jejaring sosial muncul. Setiap saat kita selalu ingin mengabadikan hal di sekitar kita dan membaginya lewat status atau foto demi menjaga eksistensi kita sebagai penghuni dunia maya. Seolah-olah kalau nggak aktif di dunia maya, orang tersebut juga hilang dari dunia nyata. Soal ini saya punya cerita. Sejak 2 tahun lalu, saya nggak lagi terlalu aktif di Facebook. Karena waktu itu saya sedang hobi Twitter-an dan ngeblog. Meskipun saya nggak pernah absen untuk sekedar melihat apakah ada pesan atau pemberitahuan baru di akun Facebook saya, tapi saya sudah hampir jarang memperbaharui status saya. Hanya sesekali saya update status, itu pun sekedar kutipan atau celetukan. Suatu hari, teman kuliah saya mengirim pesan dinding menanyakan kabar saya, dia juga bertanya kemana saja saya karena lama tak terdengar kabar tentang saya di Facebook. Waktu baca itu saya cuma senyum pahit. Bagian ironisnya, saya sering sms teman saya tersebut, mungkin karena ponsel teman saya terlalu canggih, sms saya jarang nyampainya. Selain itu, teman saya juga punya nomer saya, jadi sewaktu-waktu dia sms pasti saya balas meskipun kadang saya lemot kalau balas sms (sms jam berapa dibalasnya 2 jam kemudian). Saya sih aneh saja, padahal saya ya di sini-sini saja, nggak kemana-mana. Seolah-olah kalau nggak update status di Facebook berarti saya sedang pergi ke negeri antah berantah atau pedalaman yang nggak ada sinyal internetnya.

Selain itu, penyebab banyak munculnya “seleb” dadakan di sosial media adalah karena salah satu sifat rasa ingin tahu manusia yang sangat besar alias kepo. Karena minimnya pengetahuan dan pembinaan di awal-awal munculnya jejaring sosial, banyak orang yang sekedar mengikuti tren tidak tahu atau mungkin tidak mau tahu tentang pentingnya menjaga privasi di dunia maya. Nah, karena mudahnya seseorang berbagi segala hal lewat jejaring sosial tanpa memperdulikan pentingnya ranah privasi mereka pribadi, dari akun jejaring sosial mereka, kita akan tahu di mana mereka, sedang apakah mereka, apa yang mereka lakukan, atau untuk yang hobi stalking, kita jadi tahu apakah seseorang sedang galau atau bahagia, apakah kehidupannya susah atau bahagia, dan banyak hal lainnya bisa kita ketahui dengan mudah. Meskipun sebenarnya itu bukan urusan kita, tapi paling tidak kita bisa memenuhi rasa penasaran kita dan punya bahan bahasan baru. Kayak status teman saya di atas. Kabar tentang sakitnya tersebar begitu cepat secepat berita gosip yang ditulis wartawan infotainment. Jadilah teman saya itu seleb sehari, karena jadi topik utama pembahasan kami hari itu. Kita juga sering mendengar berita tentang seseorang yang berkomentar atau menulis status yang sedikit kontroversial, lalu mendadak ia menjadi selebriti di dunia maya dan jadi korban cuber bullying umat dunia maya. Kalau yang tahu diri pasti akan menutup akunnya, buat yang muka batu, hal ini justru merupakan kesempatan bagus untuk memperkokoh eksistensinya sebagai selebriti dunia maya.

Saya pribadi sih nggak begitu keberatan dengan fenomena selebriti dunia maya, lagian kalau saya keberatan juga nggak ada pengaruhnya, hehe. Setiap orang punya hak penuh untuk jadi terkenal dan dikenal, bagaimanapun jalannya. Siapa sih yang nggak mau jadi orang terkenal? Saya saja mau, hehe. Yang saya sayangkan cuma satu, kurang bijaksananya kita dalam memanfaatkan jejaring sosial. Nggak semua hal harus kita bagi di jejaring sosial dan dilebih-lebih kan, demi mendapat komentar dari penduduk dunia maya. Kita harus benar-benar memfilter mana yang bisa kita bagi, dan mana yang harus kita simpan sendiri. Karena, nggak semua orang berfikir dan memandang suatu hal seperti kita berfikir dan memandang suatu hal. Kecuali kalau kita tipe selebriti sejati yang cuek dengan apapun pendapat orang tentang kita di jejaring sosial, dan siap dibully umat dunia maya. Kayak Tante Syahrini, hehe..

 

Tulisan ini disponsori event :
novemberngeblog

 

 

Advertisements

2 thoughts on “#Day 24 : Seleb Sehari (hari)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s