#Day 22 : Apa yang Kamu Rindukan?

Nothing is ever really lost to us as long as we remember it.
– L.M. MontgomeryThe Story Girl –

Tadi sore saya jalan-jalan lagi sama teman-teman SMA saya. Akhir-akhir ini kami memang semakin sering jalan-jalan, penyebabnya, karena salah satu teman saya sebentar lagi akan ikut suaminya ke Jakarta dan tinggal di sana. Dan, sebelum dia benar-benar pergi, paling tidak kami ingin mengukir beberapa memori yang sedikit banyak bisa selalu mengingatkan ia pada teman-temanya di Malang. Hal yang menyenangkan dari berkumpul dengan teman-teman lama adalah ketika kita berusaha mengingat cerita-cerita lucu dan manis saat kita masih sekolah dulu, menertawakannya, dan saling mengingatkan tentang hal-hal yang mungkin kita lewatkan dan tidak kita ingat lagi. Nostalgia bahasa Indonesianya, hehe. Setiap kami bernostalgia, kami jadi ingat hal-hal apa saja yang membuat kami kembali rindu pada masa-masa ketika kami sekolah dulu, dari yang paling konyol, sampai yang benar-benar membuat kami menangis haru dan menyadari, ternyata hal-hal tersebut telah lama berlalu.

Kalau lagi sendirian di kamar, dan membuka foto-foto lama saya juga sering berfikir, betapa cepatnya waktu berlalu. Bertahun-tahun lalu, kamar saya selalu dipenuhi tumpukan buku dan kertas yang baru saya bereskan ketika saya akan berangkat sekolah. Sekarang, jangankan buku, kertas penuh tulisan pun jarang saya lihat, ada juga kertas bon dan kuitansi, hehe. Meskipun sepele, hal tersebut kadang saya rindukan, buku-buku dan kertas yang berserakan itu seperti sebuah kenangan tersendiri bagi saya, sebuah bagian dalam memori saya yang membuat saya ingat masa-masa sekolah dan kuliah saya dulu, masa di mana saya belajar mati-matian, dan hasilnya, nilai saya tetap pas-pas an… *curhat*

Di dunia ini, ada banyak hal yang saya rindukan. Meskipun menurut beberapa orang hal-hal tersebut mungkin adalah hal yang sepele, tapi bukankah setiap orang punya hal yang dirindukan, yang mungkin hal tersebut tidak bisa kita dapatkan atau temui lagi.

Dari kecil saya sering menaiki angkot ketika berangkat dan pulang sekolah. Hal ini merupakan didikan Ibu saya agar saya menjadi pribadi yang mandiri. Alasan lainnya, karena saat itu Ayah saya sedang kuliah lagi di kota lain, dan Ibu saya terlalu sibuk dengan urusan rumah tangga dan mengurusi adik saya yang masih bayi, apalagi kondisi keuangan kami waktu itu nggak terlalu bagus untuk menyewa mobil antar jemput sekolah. Jaman dulu, masih jarang penculikan, lagipula mana ada yang mau menculi anak hitam, ceking, dan banyak makan seperti saya. Karena itulah Ibu saya tega membiarkan anaknya berangkat dan pulang sendiri. Alhasil, sejak kelas 1 SD, saya sudah terbiasa naik angkot ketika berangkat dan pulang sekolah. Hal yang paling saya rindukan saat menaiki angkot adalah ketika saya duduk di pojok belakang angkot di dekat jendela dan tertiup angin. Angin sejuk yang berhembus dari jendela ketika angkot berjalan itu seolah-olah membuat rasa lelah saya akibat jalan kaki di tengah terik matahari menuju jalan raya untuk mencegat angkot hilang. Saat itu sekolah saya cukup jauh dari jalan besar. Karena angin yang sejuk itu juga, saya sering ketiduran dan baru bangun di terminal terakhir, untung jarak rumah saya dan terminal cukup dekat. Jadi ada beberapa Bapak angkot yang  bersedia mengantarkan saya ke rumah. Mungkin karena saya sering ketiduran setiap naik angkot, salah satu sopir angkot yang hafal sama muka saya, selalu membangunkan saya ketika angkot  sampai di depan gang rumah. Untung sopir-sopir angkot tersebut baik, kalau nggak, mungkin saat ini saya sudah jadi kernet Bus antar pulau :D. Sekarang, saya nggak bisa naik angkot lagi. Bukannya sombong, tapi saya cepat mabuk kalau naik kendaraan, jenis apapun itu, jangankan naik kendaraan, naik lift saja saya pusing. Kayaknya saya nggak bakat jadi orang kaya, karena kendaraan yang membuat saya nggak mabuk hanya kereta, sepeda, sepeda motor, gerobak, becak, dan bendi, hehe.

Saya juga rindu makan sepiring nasi hangat, lodeh terong, ikan pindang goreng, sambal terasi uleg, dan tempe goreng buatan Ibu saya yang sering saya makan ketika sekolah dulu. Paduan menu tersebut sudah lama tidak saya nikmati semenjak saya lulus kuliah, dan Ibu saya sibuk di Kantin di kantornya, Jujur, kalau disuruh masak menu-menu tersebut sendiri saya nggak bisa, jadi saya selalu ngiler setiap membayangkan menu tersebut. Bahkan ketika menulis ini, lidah saya seperti merasakan gurihnya kuah santan lodeh dan pedasnya sambal terasi yang berpadu dengan nasi hangat. Menu tersebut selalu mengingatkan saya pada laparnya perut saya sepulang sekolah. Dulu, saya bersekolah di sebuah Madrasah Aliyah di dekat rumah saya, karena jaraknya hanya 300 meter dari rumah, saya selalu berjalan kaki setiap berangkat dan pulang sekolah. Mungkin karena dasarnya saya suka makan, jarak 300 meter saja sudah cukup membuat perut saya lapar. Dan saya selalu kalap setiap melihat menu kece tersebut tersaji di atas meja makan, rasanya Allah seperti sedang memberi saya hidangan dari surga sebagai hadiah karena saya menghindari makan Mie Ayam di sekolah (Fyi, saya penggemar berat Mie Ayam) bersama teman-teman, dan lebih memilih makan bersama keluarga saya di rumah. Meskipun sebenarnya, alasan saya makan di rumah adalah karena uang saku saya seminggu habis gara-gara membeli pulsa. Maklum, waktu itu HP barang baru, jadi saya cukup boros menggunakan pulsanya. 😀

Hal lain yang saya rindukan adalah ketika berangkat ke masjid bersama teman-teman sekamar waktu saya kuliah dulu. Dulu, saya berkuliah di sebuah Universitas Islam Negeri di Malang, yang kebetulan mewajibkan mahasiswanya untuk tinggal di ma’had (asrama) selama setahun untuk memperdalam ilmu agama. Setiap sebelum subuh, kami sudah dibangunkan Mbak-Mbak pengurus, dan antri berwudhu di tengah dinginnya kota Malang. Yang paling membuat kangen adalah ketika terhipnotis dengan hamparan bintang di pagi buta yang saya lihat begitu saya keluar dari pintu asrama saat akan berangkat ke masjid bersama teman-teman saya. Seperti taburan berlian, bintang-bintang di langit tersebut seperti memayungi kami, anak-anak manusia yang memenuhi panggilan Tuhan sementara yang lain masih lelap dalam tidurnya. Sepanjang jalan dari ma’had ke masjid, kepala saya nggak berhenti mendongak ke atas. Teman saya yang hafal dengan kelakuan udik saya itu, selalu menuntun saya, agar saya tidak kesandung kerikil atau batu. Tidak hanya waktu subuh, saat Maghrib juga selalu saya rindukan. Saat di mana kami bergegas menuju masjid sambil menghitung sudah berapa kali kidung Asmaul Husna dilantunkan muadzin sebagai panduan kapan iqomah dikumandangkan. Kalau iqomah berkumandang dan kami masih di jalan, kami spontan mengangkat bawahan mukena kami, dan setengah berlari menuju masjid di tengah hiruk pikuk mahasiswa yang baru pulang kuliah. Saya juga rindu melewati Bulan ramadhan di ma’had. Rindu pada mie instan setengah matang yang dimasak dengan air termos untuk santapan sahur karena kami malas ke luar. Juga pada seporsi lalapan ayam bakar atau ayam krispi, yang hampir setiap buka kami makan karena tidak ada pilihan yang lebih baik dan lebih murah lagi. Dan pada kantuk yang rajin menyerang kami saat kami mengkuti ta’lim (kajian) setiap sehabis shalat subuh di masjid.

Dulu, saya selalu bilang, masa-masa SMA saya adalah masa yang paling menyenangkan dan tidak terlupakan dari masa yang pernah saya miliki seumur hidup saya. Tapi, kalau dipikir-pikir sekarang, setiap masa dalam hidup saya ternyata punya bagian-bagian yang tidak bisa saya lupakan karena terlalu indah atau pahitnya. Dan, bagian-bagian itulah yang selalu mengingatkan saya pada masa lalu dan sejarah kehidupan saya.

Jadi, hal apakah yang paling kamu rindukan saat ini? 🙂

Buat, kamu yang sedang merindukan masa kecil kamu, sepertinya kutipan di bawah pas banget. Enjoy…

 

 

Tulisan ini disponsori event:

novemberngeblog

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s