#Day 21 : Be with You : 6 Minggu Penuh Keajaiban

Be With You (いま、会いにゆきます Ima, Ai ni Yukimasu), adalah film Jepang yang dirilis pertama kali pada tahun 2004 di Festival Film Internasional Tokyo yang ke 17. Film ini diadaptasi dari sebuah novel berjudul sama yang ditulis oleh Takuji Ichikawa. Be with You, adalah salah satu film bergenre drama romantis yang paling mengharukan yang pernah saya lihat. Meskipun bergenre drama romantis, film ini tidak setragis film-film drama yang diadaptasi dari novel-novel Nicholas Sparks atau se-membingungkan film-film Woody Allen yang idealis dan nyeni. Saya nggak bilang film-film Woody Allen atau yang diadaptasi Nicholas Sparks jelek lho ya, saya pun sebenarnya penggemar mereka dan hampir semua film-filmnya pernah saya lihat. Menurut saya, Be with You punya pesonanya sendiri, dengan efek yang sederhana, latar belakang pedesaan yang cantik serta latar belakang waktunya yang mengambil waktu ketika musim hujan, film ini mampu membawa para penontonnya untuk lebih menghayati jalan ceritanya, dan membuat penonton yang telah melihat film ini berharap mereka akan memiliki paling tidak sepenggal kisah yang sama seperti kisah tokoh utamanya. Pakem yang  menurut saya harus dimiliki setiap film bergenre drama romantis.

Film ini dibuka dengan dengan menampilkan sebuah rumah kecil di pedesaan yang hijau, di mana seorang pengantar kue mengantarkan kue ulang tahun kepada seorang anak muda bernama Yuji. Selanjutnya, kita dibawa ke masa lalu Yuji kecil saat ia berumur 6 tahun, di mana setahun lalu ia baru saja kehilangan Ibunya yang meninggal karena sakit. Berdua bersama Ayahnya, mereka hidup dengan saling mendukung dan menguatkan, karena keduanya belum benar-benar bisa menerima kematian Ibu dan istri mereka. Ditambah sebelum meninggal, Ibunya yang bernama Mio pernah berjanji bahwa ia akan kembali setahun setelah kematiannya dan akan tinggal bersama mereka selama musim hujan. Sejak itu, Yuji selalu memasang boneka pemanggil hujan, agar musim hujan datang lebih cepat sehingga ia segera bertemu Ibunya.

Saat musim hujan tiba, Yuji dan Ayahnya memutuskan untuk berjalan-jalan ke dalam hutan unutk mengunjungi sebuah reruntuhan gedung tua tempat yang biasa mereka datangi bersama Ibu mereka saat ia masih hidup. Lalu sebuah peristiwa ajaib pun terjadi, di salah satu sudut gedung tua tersebut, Yuji dan ayahnya melihat seorang perempuan yang mirip dengan Ibunya meringkuk kedinginan dengan gaun putihnya yang kuyup. Saat itu Takumi merasa takjub dan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, tapi karena besarnya rasa kerinduannya pada san istri, Takumi mendatangi perempuan tersebut dan memanggilnya “Mio.” Si perempuan yang kebingungan menanyakan pada Takumi, apakah Mio merupakan namanya? Dari situ Takumi dan Yuji tahu, perempuan tersebut tidak mengenal mereka. Sejak itu, Mio tinggal bersama Takumi dan Yuji, selama tinggal di sana Mio banyak melihat album-album foto dan video yang pernah dibuat Takumi dan istrinya ketika ia masih hidup. Mio juga membantu Takumi membereskan rumah, dan mulai berperan sebagai Ibu dan istri yang baik untuk Takumi dan Yuji. Pertemuan kembali Yuji dan Takumi dengan Mio juga membuat hidup mereka lebih ceria lagi, Takumi tak lagi murung saat bekerja, Yuji juga makin senang menggantung boneka pemanggil hujan agar musim hujan tak pernah selesai. Selama 6 minggu bersama, Mio banyak belajar tentang bagaimana mencintai suaminya lagi, sebagaimana yang pernah ia alami saat pertama kali bertemu dengan suaminya. Makin lama hubungan keluarga ini pun makin erat dan harmonis karena Mio mulai menyayangi Yuji dan Takumi seperti anak dan suaminya sendiri.

Sepanjang film, saya dibuat bertanya-tanya, apakah memang benar Mio kembali dari surga hanya untuk menemui keluarganya? Atau apakah ia hidup kembali demi memenuhi janji pada keluarganya? Atau bahkan semua ini hanya mimpi dan imajinasi Takumi dan Yuji karena terlalu merindukan Ibu dan istri mereka?  Jawabannya bisa kita ketahui pada 20 menit terakhir film ini. Akhir yang tak terduga tapi dikemas dengan rapi dan runut membuat saya makin terhanyut dalam pesona film ini. Saya makin dibuat simpati terhadap setiap tokoh utamanya. Dan karena saya cenderung melankolis dan emosional, film ini benar-benar membawa saya larut ke dalam setiap emosi yang saya miliki, mereka sedih saya ikut terharu, mereka bahagia saya ikut tersenyum, mereka jatuh cinta saya pun ikut merasakan kupu-kupu berterbangan di dalam perut saya. Akting yang natural dan mumpuni dari para aktor dan aktrisnya pun benar-benar membuat saya betah nonton film ini tanpa sedikitpun memgalihkan pandangan saya. Ditambah tekhnik pengambilan gambar yang cantik dan musik yang tepat, menurut saya film ini pantas masuk sebagai film drama romantis terbaik dalam 10 tahun terakhir. Bintang 5/5 dari saya pribadi, hehe.

 

 

Tulisan ini disponsori event :
novemberngeblog

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s