#Day 19 : (Fiksi Mini) Hujan di Luar Terlalu Deras

Hujan di luar terlalu deras,
Anginnya tak bersahabat…
Aku ditemani sahabat lamaku;
Secangkir latte, dan seiris pai apel.

 Hujan di luar terlalu deras,
Hawanya dingin…
Aku bermesraan di atas bangku kayu;
Masih dengan secangkir latte, dan seiris pai apel.

Hujan di luar terlalu deras,
Aku jadi ingat jagung dan singkong di ladang,
Dulu, ketika aku masih ditemani kopi tubruk;
Aku berteman dengan mereka saat hujan,

Kadang kubakar, atau ku rebus. Hangat.

Hujan di luar terlalu deras,
Aku rindu… Kopi tubrukku,
Jagung bakar atau singkong rebus.

Secangkir latte dan seiris pai apel ku,
Tak lagi nikmat.

 Hujan di luar semakin deras…

Dingin. Hujan di luar semakin deras, ku seruput secangkir latte yang baru ku pesan, ku lihat jam tanganku yang kini menunjukkan angka 2. itu berarti sudah satu jam aku menunggu di sini, aku masih dengan gaun amethyst ku menunggu kedatangannya di sini. Di tempat kami pertama kali bertemu 10 tahun lalu. Lusa, di email yang ia kirimkan padaku ia menulis akan datang ke kota ini dan bertemu denganku di café tempat kami biasa bertukar fikiran. Ini hari kedua aku menunggunya di sini, masih dengan gaun amethyst warna favoritnya, dan secangkir latte favoritku.

Dingin. Sudah dua cangkir latte ku minum tapi ia belum datang. Hujan di luar semakin deras saat ponselku berbunyi tanda pesan masuk, ku buka pesan itu. Aku tersenyum pahit, di ponselku tertulis 

Ma’af amethyst, aku tak bisa menemuimu hari ini. Istriku melahirkan, semoga kau tak marah. Sudikah menunggu lagi besok?

Ya! Apa ia datang saat aku melahirkan anaknya yang hasil perselingkuhan itu? Apa ia datang saat aku bekerja membanting tulang hanya untuk mencari sesuap nasi? Apa ia datang ketika aku di jual ke lokalisasi? Apa ia datang ketika anak kami mati tertabrak kereta saat bekerja?

Ia hanya ada untuk istrinya, bukan untukku, gundiknya. Walau kini aku bukan lagi pelacur. Aku masih simpanan yang patut untuk di sembunyikan menurutnya. Aku menyeruput cangkir latte terakhirku. Ku tinggalkan dua lembar seratus ribuan di atas meja, dan beranjak keluar, menembus hujan dan membiarkan gaun amethyst ku kuyup.

Aku masih amethyst mas, amethyst mu yang nista.

 

 

P.S
Ya, saya tahu. Saya sedang benar-benar macet ide hari ini ditambah dari tadi saya nggak berhenti mengetik karena dikejar target dari sekolah. Saya sebenarnya sudah berusaha menulis sesuatu dengan bersemedi di depan laptop sejak sore, blogwalking ke sana sini, dan membaca banyak artikel. Tapi apa daya, otak saya lagi beku. Tapi saya tipe orang yang menepati janji pada diri saya sendiri, sekalipun hanya sebuah cerpen dari folder lama saya yang berdebu, yang penting saya kan posting sesuatu hari ini, hehe. Saya janji (terutama pada diri saya sendiri) saya nggak akan mengulangi hal ini lagi. Maaf… 🙂

Tulisan ini disponsori event:

novemberngeblog

Advertisements

2 thoughts on “#Day 19 : (Fiksi Mini) Hujan di Luar Terlalu Deras

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s