#Day 16 : Mama

Ibu saya (saya manggilnya Mama), adalah seorang Ibu-Ibu yang paling heboh yang pernah saya kenal. Segala hal yang menurut kami semua kecil, selalu jadi hal besar yang membuat dunia seolah-olah kiamat buat beliau. Semua orang yang kenal beliau pasti tahu betul sifat heboh beliau ini. Satu contoh, bertahun-tahun lalu, saat kami masih tinggal di kampung belakang perumahan tempat kami tinggal sekarang, Mama pernah buat heboh sekampung karena mencari adik laki-laki saya yang saat itu berusia 5 tahun yang tak kunjung pulang, berbagai spekulasi pun mencuat, ada yang bilang diculik, dijual, makin heboh lah mamah saya saat itu. Lucunya, tepat adzan Isya’ dengan wajah lugunya, adik saya pulang dengan wajah bingung karena banyak orang di depan rumah, ternyata, selama ini dia cuma main PS di rumah temannya yang beda satu gang dengan rumah kami. Jadilan semalaman adik saya diceramahi dari A-Z. Dan kalau penceramahnya Mamah, bisa dipastikan dia nggak bisa tidur dengan tenang. Ya, peristiwa di atas memang patut dihebohkan.ย Tapi, ada banyak kisah lain selama 24 tahun hidup saya ini yang lebih absurd tapi membuat Mama heboh setengah mati. Contoh lain, tahun lalu, ketika saya menerima gaji pertama saya, dengan entengnya adik bungsu saya bercerita ke Mama kalau saya baru saja menghabiskan satu juta rupiah lebih untuk sebuah HP yang baru saya beli, padahal HP tersebut hanya berharga 200 ribuan. Tanpa bertanya Mama langsung bereaksi heboh dan menceramahi saya, padahal waktu itu adik saya sedang bercanda. Setelah beliau tenang baru saya jelaskan yang sebenarnya. Mungkin inilah kenapa penyakit darah tinggi beliau kambuh, hal-hal kecil selalu dipikirkan, bahkan hal gak penting seperti jalan cerita sebuah sinetron pun selalu beliau hebohkan. Segala hal selalu beliau hadapi dengan kehebohan.

Mamah dan Ayah in action ๐Ÿ˜€

Saya juga punya cerita lain yang lebih lucu tentang kehebohan Mama saya ini. Bulan lalu, rumah saya dilanda kehebohan lagi, aktor utamanya tidak lain tidak bukan adalah ayam jago peliharaan Mama yang terobsesi untuk jadi burung. Ayam ini unik, sekalipun tidak bisa terbang, dia selalu mencoba meluncur dari atap kandangnya dan mengepakkan sayapnya, hasilnya sudah jelas, mana ada ayam bisa terbang. Nah, barusan, ayam ini mulai bereksperimen lagi, kali ini dari atap saung di belakang rumah kami. Tapi sayang, belum sempat ia mengepakkan sayapnya, Mama saya langung mengusir dia agar kembali ke kandang. Mungkin karena kaget, bukannya kembali ke ke kandang si jago malah meluncur (atap saung kami menurun) terbang melewati pagar beton dan hilang entah kemana. Yang pertama kali terlintas di pikiran Mama, ayam itu pasti hanyut di sungai, karena tepat di belakang rumah kami ada sebuah sungai kecil yang alirannya cukup deras, jadilah seisi rumah heboh karena teriakan Mama yang menginstruksikan kami mencari si jago ke kebun singkong tetangga di sebelah rumah, sungai, bahkan ke kampung seberang. Tetangga sebelah kami bahkan sampai bingung dan ikut membantu karena kehebohan Mama yang buat rame sekomplek. Ternyata, si jago ditemukan di kebun singkong sebelah rumah. Alhamdulillah, pada akhirnya si jago berhasil kembali dikandangkan setelah 30 menit lebih di kepung 5 orang.

Ya, bahkan seekor jago pun bisa buat Mama heboh seperti kehilangan anaknya. Kalo saya, akan saya biarkan saja si jago terbang kemanapun yang ia mau, entar kalau lapar juga balik ke rumah, kalau nggak balik, ya beli lagi. Masih banyak hal lain yang lebih pantas untuk dipikirkan daripada si jago yang baru 2 bulan menghuni rumah kami.ย Mama saya sebenarnya orang yang logis dan berfikir kritis, beliau juga mengajarkan anak-anaknya untuk tidak memandang orang dengan sebelah mata sebanyak apapun kekurangan mereka. Satu kelemahan beliau hanyalah emosinya yang labil. Bahkan biarpun banyak yang bilang Mama saya cerewetnya tingkat dewa, tapi sifat yang itu saya kategorikan sebagai kelebihan beliau. Percaya nggak percaya, karena kecerewetan Mamah, kantin beliau di kampus justru ramai dan banyak pelanggannya. Mungkin itu daya tarik Mama saya. hehe

Karena emosinya yang labil inilah dari kecil saya nggak pernah akur sama beliau. Setiap bulan ada saja yang membuat beliau “murka” sama saya dan yang membuat saya ngambek ngomong sama beliau. Kalau dilihat, saya sama beliau memang tidak seperti Ibu dan anak kebanyakan. Meskipun dari lahir beliau tidak pernah absen dalam merawat dan membesarkan saya, tapi sikap kaku beliau dan kegengsian saya membuat hubungan kami tidak semesra hubungan Ibu-anak yang dimiliki orang lain. Saya jarang sekali memeluk dan mencium tangan beliau sejak saya lulus SD. Paling sering setahun sekali, hanya saat lebaran saja, hehe. Saya memang anak durhaka.

A mother is the truest friend we have, when trials heavy and sudden fall upon us; when adversity takes the place of prosperity; when friends desert us; when trouble thickens around us, still will she cling to us, and endeavor by her kind precepts and counsels to dissipate the clouds of darkness, and cause peace to return to our hearts.

–ย Washington Irvingย –

Tapi selama 6 bulan belakangan ini, banyak sekali kejadian yang membuat saya menyadari arti Mamah yang sebenarnya untuk saya. Lagi-lagi, hehe, beberapa bulan lalu saya mendapatkan musibah yang benar-benar memutar balikkan dunia saya. Waktu sesaat setelah kejadian saya sempat nangis sekencang-kencangnya (itu tangisan terkencang dalam hidup yang pernah saya alami *serius*) di depan ICU. Saat itu hanya ada Mamah di samping saya, tanpa babibu beliau langsung memeluk saya dan mendekap tubuh saya yang berguncang. Beliau tak henti mengusap kepala saya sambil berkata “nggak apa-apa… nggak apa-apa.” Itu pelukan pertama kami sejak saya meninggalkan bangku SD. Meskipun pada waktu itu saya merasa dunia saya akan runtuh, tapi pelukan ibu saya seperti tangan kekar Atlas yang berusaha sekuat tenaga menyangga atap bumi agar tidak runtuh, saya merasa aman dan terlindungi, saya merasa ada kekuatan besar yang menyangga tubuh saya saat itu. Beberapa minggu kemudian, setelah shalat maghrib berjamaah, saya sungkem dan meminta maaf pada beliau. Hal yang nggak pernah saya lakukan kecuali pada saat lebaran saja.

Sejak itu, hubungan kami membaik. Meskipun ya, namanya Ibu sama anak perempuannya, kami masih sering berargumen dan berdebat, hehe. Tapi saya nggak berani sekurang ajar dahulu. Karena saya tahu, di lubuk hati Mama yang terdalam beliau punya kasih dan maaf yang tak terhitung jumlahnya untuk anak dan keluarganya. Saya nggak mau menyakiti beliau lagi, setelah segala hal yang telah beliau lakukan untuk saya selama ini. Jadi ingat peribahasa klasik yang dulu sering saya dengar saat saya masih sekolah,

Kasih anak sepanjang galah, kasih Ibu sepanjang jalan

10 jempol untuk pembuat peribahasa itu. Tapi buat saya, kasih Mama saya tidak hanya sepanjang jalan, karena ada yang namanya jalan buntu. Buat saya, kasih Mama saya sepanjang hidup, dunia akhirat, bahkan mungkin kalau setelah akhirat ada kehidupan lagi, kasih sayang Mama saya sepanjang kehidupan itu dan kehidupan-kehidupan berikutnya. Tak terbatas.

Tulisan ini disponsori event :

novemberngeblog

Advertisements

2 thoughts on “#Day 16 : Mama

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s