#Day 14 : Modus Anomali : Keanomalian Sebuah Liburan

Cerita bermula ketika seorang lelaki (Rio Dewanto) tiba-tiba terbangun di sebuah hutan, tubuhnya dipenuhi tanah akibat dikubur di sebuah liang lahat yang dangkal. Lelaki tersebut linglung dan jatuh bangun, ia hanya menemukan sebuah ponsel yang ia gunakan untuk menghubungi nomor darurat, ketika operator tersebut bertanya siapa namanya, ia menyadari ia tidak tahu siapa dirinya dan kenapa ia bisa berada di tengah hutan antah berantah. Ketika berlari kebingungan ke sana kemari mencari petunjuk, ia menemukan sebuah pondok kecil yang  di dalamnya terdapat televisi dan kamera video berlabel “Press Play.” Dalam video tersebut ia menyaksikan seorang pria bertopeng membunuh seorang wanita hamil dengan cara menyayat perutnya, lelaki tersebut terkejut lalu tersandung, ia baru menyadari ternyata di belakangnya ada mayat seorang wanita hamil (Hannah Al Rasyid) yang tadi dia lihat dalam video tersebut.

Lelaki tersebut lalu kembali masuk ke hutan ketika ia menemukan sebuah kartu identitas bertuliskan “John Evans” dan sebuah foto keluarga di mana di dalamnya terdapat gambar perempuan hamil yang dibunuh dan dua anak remaja. Dibaliknya ia mendapati tulisan “We Love you John” yang membuat ia sadar bahwa itu adalah foto keluarganya. Malam harinya, John memutuskan untuk berlindung di sebuah gudang di mana ia mendengar suara-suara yang mencurigakan. John berasumsi suara itu adalah berasal dari orang yang menyerang keluarganya dan membunuh istrinya. Ia lalu bersembunyi di dalam sebuah bagasi mobil di mana ia justru dikurung dan hampir mati dibakar hidup-hidup, beruntung ia dapat menendang pintu bagasi tersebut dan kabur kembali ke pondok dan melihat kembali video-video keluarganya.

Di sisi lain hutan, dua orang kakak beradik, laki-laki dan perempuan bersembunyi dan berharap dapat bertemu Ayahnya hidup-hidup. Sang kakak perempuan terus meyakinkan adiknya agar tidak menghubungi polisi demi keselamatan Ayahnya. Lalu sang kakak memutuskan untuk mencari ayahnya dan memberikan sebilah pisau pada sang adik dan memintanya untuk tetap bersembunyi. Sementara itu, John menyiapkan sebuah jebakan untuk membunuh orang yang membunuh istrinya. Sayangnya, si kakak perempuan yang justru menjadi korban dan terbunuh karena jebakan tersebut. John terpukul karena kejadian tersebut, lalu pergi meninggalkan jebakan dan mayat perempuan remaja itu. Setelah kepergfian Jhon,  si adik menemukan mayat kakaknya, dan memutuskan untuk mencari pembunuh kakaknya.

Jhon yang masih berduka merasa ada seseorang yang mengikuti ia dari belakang. Di tengah gelapnya hutan tanpa cahaya, ia berputar-putar sambil menyabet-nyabetkan parangnya. Sialnya, parang tersebut justru menebas leher si adik yang mencoba mendekati Jhon. Jhon memeluk anak laki-laki yang sudah tidak bernyawa itu dan menyesali perbuatannya. Di tengah kegalauan dan kebingungannya, John makin masuk ke dalam hutan. Tiba-tiba, ia mendengar suara alarm jam, ia lalu berlari mencari sumber suara tersebut dan menggali sebuah gundukan tanah di mana di dalamya ia menemukan sebuah jam dan mayat seorang laki-laki yang di perutnya terukir tulisan “go back to the beginning.”

Awalnya, saya kira film ini kurang lebih sama dengan Cabin in the Wood karena latar belakang tempatnya sama yaitu sebuah pondok kecil di tengah hutan dan karena kedua film tersebut dirilis dalam waktu yang bersamaan. Tapi ternyata, kedua film ini benar-benar berbeda meskipun genrenya sama. Joko Anwar, seperti biasanya berhasil membuat para penonton filmnya bertanya-tanya akan dibawa kemana alur film tersebut. Sama seperti penggemar film thriller atau horor lainnya, ketika menonton film semacam ini saya selalu berusaha menbak-nebak alur cerita film tersebut, tapi kali ini tebakan saya salah saudara-saudara. Hal yang sama yang juga saya alami ketika menonton film-filmnya M. Night Shyamallan. Akhir fimnya yang tidak terduga benar-benar membuat para penonton tertipu. Dan Joko Anwar sukses membuat saya tertipu.

Sayangnya, film ini menggunakan Bahasa Inggris dalam dialognya (saya kira player saya yang rusak, ternyata memang film ini menggunakan Bahasa Inggris, hehe). Dan mungkin karena rata-rata pemainnya asli Indonesia, dialog berbahasa Inggris ini justru mengurangi kadar ketegangan yang saya dapat dari film ini, feel  dan chemistry nya nggak saya rasakan. Tapi tetap, saya acungkan kelima jempol saya (yang satu minjem tetangga) untuk akting Rio Dewanto, hampir setengah film dia hanya bermain dengan ekspresi dan gerak tubuh tanpa banyak melakukan dialog, nggak semua aktor bisa begitu kan? Dan beruntunglah Joko Anwar karena memilih pemeran utama yang tepat.

Lalu, bagaimana akhir fim ini? Saya nggak mau cerita ah… 🙂

Saya sarankan, untuk Anda yang belum pernah melihat film ini, jangan pernah membaca ulasan atau sinopsis tentang film ini sebelum menontonnya. Biarkan imajinasi Anda ikut bermain dan ikut dibodohi oleh Joko Anwar. *cari temen ceritanya* 😀

 

 

Tulisan ini disponsori event :
novemberngeblog

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s