#Day 12 : Ih Kamu, Genit Deh…

Tadi siang, selesai mengajar, salah seorang Bunda di tempat saya mengajar mengajak kami semua berdiskusi tentang hal yang menurut saya cukup membuat saya senyum-senyum kegelian. Jadi ceritanya, tadi pagi Bunda tersebut mendapat kunjungan dari salah seorang wali murid. Wali murid tersebut ternyata curhat tentang anak perempuannya yang belakangan mendadak murung dan tidak seceria biasanya. Waktu ditanya oleh Ibunya, anak tersebut menjawab bahwa di kelas ada salah seorang teman laki-lakinya yang senang mencium pipinya, dan hal tersebut membuat dia malu karena teman sekelasnya mengejek mereka berdua dan mengatakan kalau mereka berdua pacaran. Ibunya khawatir hal tersebut dapat mempengaruhi kondisi psikologis anaknya, karena anaknya sering mendengar berita tentang pelecehan seksual dan sebagainya. Jadi si Ibu meminta tolong pada Bunda kelasnya agar memberikan pengertian kepada anak-anak. Sebagai sesama guru, saya tahu perasaan teman saya yang dicurhati begitu, apalagi Ibu si anak tersebut cenderung kritis. Dan jujur, curhatannya memang sedikit menohok kami, walaupun cerita tersebut sempat membuat kami senyum dan geleng-geleng nggak percaya karena memikirkan betapa cepatnya anak jaman sekarang menjadi dewasa. Cerita soal kegenitan anak didik saya terhadap teman perempuannya ini kalau boleh dianggap remeh sebenarnya tidak terlalu mengkhawatirkan, malah lucu menurut saya. Tapi mengingat banyaknya berita tentang pelecehan seksual, dan tidak terbatasnya informasi yang beredar saat ini, saya mengerti kekhawatiran wali murid saya itu. Kalau saya ada di posisi beliau mungkin saya akan berbuat hal yang sama.

Nah, yang menjadi bahan diskusi dan sumber kebingungan teman saya itu adalah, bagaimana caranya memberi pengertian pada anak-anak tentang batasan hubungan lawan jenis. Teman saya takut, kalau salah ngomong dikit anak-anak malah akan bertanya hal-hal sensitif lainnya, yang takutnya malah akan menyesatkan pikiran mereka. Hal itu juga pernah saya alami di rumah. Waktu itu kami semua sedang menonton berita di televisi, saat itu adik saya masih berumur 5 tahun. Berita yang kami tonton itu kebetulan berita kriminal tentang perkosaan, mungkin karena baru mendengarkan istilah yang asing di telinganya, adik saya langsung bertanya pada Ibu saya apa arti kata “diperkosa.” Saat itu Ibu saya cuma diam lalu memindahkan acara televisi ke program lainnya dan mengalihkan perhatian adik saya. Saya jadi kepikiran, apa yang harus saya lakukan ketika saya punya anak nanti dan dia mulai bertanya hal-hal yang jawabannya tidak mampu saya sampaikan pada dia, seperti yang dialami teman dan Ibu saya di atas. Saya takut, kalau saya tidak bisa memberi jawaban, dia akan mencari jawaban itu di tempat lain. Apalagi sekarang internet sudah sangat mudah didapatkan dan saya nggak mau anak saya mendapatkan jawaban atas rasa penasaran dia dari tempat lain. Iya kalau jawaban yang ia dapatkan tepat, kalau menyesatkan? *ketok-ketok meja*

Saya sering baca di berbagai media elektronik, cetak, maupun buku, bahwa pendidikan seks untuk anak itu penting dan harus diterapkan sejak dini. Tapi, sebagai orang timur terutama Jawa yang rasa sungkannya lebih tinggi daripada rasa khawatirnya. Menurut saya seks adalah hal tabu yang sulit untuk dijelaskan kepada anak-anak. Saya tidak tahu harus mulai dari mana untuk menjelaskan tentang batasan hubungan lawan jenis ini. Meskipun begitu, suatu saat nanti, ketika saya menjadi orang tua, saya ingin menjadi orang tua yang mampu mendidik dan mengajari anak saya dalam berbagai hal, termasuk soal pendidikan seks. Karena bagaimanapun, orang tua dan keluarga adalah sekolah pertama tempat belajar terbaik yang dimiliki anak-anak. Sebab anak-anak cenderung menirukan dan mengimitasi hal yang mereka lihat dan dengar dari sekitar mereka, dalam hal ini orang tua dan keluarga. Dari pengalaman pribadi nih, ada beberapa poin yang harus kita perhatikan ketika memberikan pendidikan seks kepada anak dari dini, yaitu :

1.) Jangan menghindar atau bahkan diam ketika anak bertanya

Hal yang pernah dilakukan Ibu saya ini seringkali justru membuat anak makin penasaran dan mencari-cari jawaban atas pertanyaan yang ia ajukan. Kalau anaknya kayak adik saya yang sedikit saja dialihkan perhatiannya sudah lupa sih enak, tapi kalau anak tersebut cenderung kritis, bisa jadi dia malah mendapatkan jawaban dari tempat lain yang justru menyesatkan dan menjerumuskan. Sebisa mungkin, kita harus mencoba menjawab pertanyaan yang mereka ajukan dengan jawaban yang sesuai dengan umur mereka.

2.) Biasakan mengajak anak bercerita tentang hal-hal yang dia alami di sekolah atau di luar rumah

Hal ini kita lakukan sebagai tindakan penanggulangan agar anak-anak terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan. Jika anak-anak sudah terbiasa kita ajak ngobrol, mereka akan dengan senang hati menceritakan segala hal yang mereka alami. Dan, dari ceritanya kita tahu apa saja yang dia lakukan, yang dia pelajari, dan dengan siapa dia berteman, apakah temannya membawa pengaruh yang buruk atau malah sebaliknya.

3.) Tunjukkan perbedaan laki-laki dan perempuan sejak dini

Dari kecil anak-anak sudah harus dibiasakan untuk memahami bahwa di dunia ini ada dua jenis kelamin, yaitu laki-laki dan perempuan. Dan karena perbedaan tersebut ada hal-hal yang harus dibatasi, seperti mana yang boleh disentuh dan mana yang tidak. Kita juga harus menyisipkan pendidikan moral dan agama ketika menjelaskan hal ini, agar anak-anak memiliki dasar pengetahuan mana yang baik ia lakukan dan mana yang tidak.

Lalu, bagaimana cara menyampaikan pendidikan seks kepada anak secara tepat tanpa merusak cara berfikirnya yang lugu? Kalau boleh nyontek dari artikel yang pernah saya baca di sini, menyampaikan pendidikan seks untuk anak-anak harus disesuaikan dengan umurnya agar pengertian yang ia dapatkan pun sesuai dengan tahapan umur dan tingkat kematangan yang ia lalui.

  • Umur 2-5 Tahun : Pada rentang umur ini, saatnya mengajarkan mengenai organ tubuh dan fungsi masing-masing organ tubuh, jangan ragu juga untuk memperkenalkan alat kelamin si kecil. Saat yang paling tepat untuk mengajarkannya adalah di saat Anda sedang memandikannya. Mulailah dengan menamakan bagian kelamin mereka dengan benar, sesuai dengan nama yang sebenarnya, seperti “penis” dan “vagina.” Menggunakan kata lain dan julukan untuk alat kelamin anak akan membingungkan mereka.
  • Umur 6-9 Tahun : Di rentang umur ini, si kecil diajarkan mengenai apa saja yang harus dilakukan untuk melindungi dirinya sendiri. Orang tua bisa mengajarkan anak menolak untuk membuka pakaian bahkan jika ada imbalan sekalipun atau menolak diraba alat kelaminnya oleh temannya. Anak Anda harus diajarkan untuk berteriak sekencang mungkin meminta pertolongan dan melapor ke orang tua jika orang dewasa yang berada di sekitar mereka mengancam untuk memberikan hukuman atau mengintimidasi mereka di saat mereka menolak untuk melakukan hal-hal yang menurut anak tidak nyaman untuk dilakukan.
  • Umur 9-12 Tahun : Berikan informasi lebih mendetail apa saja yang akan berubah dari tubuh si anak saat menjelang masa puber yang cenderung untuk berbeda-beda di setiap individu. Ajarkan kepada anak bagaimana menyikapi menstruasi ataupun mimpi basah yang akan mereka alami nanti sebagai bagian normal dari tahap perkembangan individu. Pada umur 10 tahun, sebelum menjelang masa puber, Anda sudah bisa memulai topik mengenai kesehatan alat kelamin. Pastikan juga pada anak Anda, jika dia mengikuti semua peraturan kesehatan ini, maka mereka tak perlu banyak khawatir.
  • Umur 12-14 Tahun : Dorongan seksual di masa puber memang sangat meningkat, oleh karena itu, orang tua sebaiknya mengajarkan apa itu sistem reproduksi dan bagaimana caranya bekerja. Penekanan terhadap perbedaan antara kematangan fisik dan emosional untuk hubungan seksual juga sangat penting untuk diajarkan. Beritahukan kepada anak segala macam konsekuensi yang ada dari segi biologis, psikologis, dan sosial jika mereka melakukan hubungan seksual. Beritahukan juga kepada anak remaja (khususnya perempuan) bahwa menolak berhubungan seksual dengan pacar bukan menandakan bahwa dia tidak mencintai pacarnya. Justru sebaliknya, jika pacar memaksa berhubungan seksual dan marah saat tidak dituruti, itu artinya pacar si anak yang tidak mencintai si anak.

Yang paling penting dari pendidikan seks adalah menanamkan nilai moral dan agama kepada anak-anak. Bagi yang muslim, kita bisa menanamkan sejak dini pada anak-anak bahwa setiap laki-laki dan perempuan ada batasan-batasan tubuhnya atau aurat yang harus ditutupi. Dari artikel yang pernah saya baca di sini, menurut Islam, ada beberapa aspek yang harus kita terapkan ketika menyampaikan pendidikan seks untuk anak sejak dini, yaitu :

  1. Menanamkan rasa malu pada anak.
  2. Menanamkan jiwa maskulinitas pada anak laki-laki dan jiwa feminitas pada anak perempuan.
  3. Memisahkan tempat tidur mereka.
  4. Mengenalkan waktu berkunjung (meminta izin dalam 3 waktu).
  5. Mendidik menjaga kebersihan alat kelamin.
  6. Mengenalkan mahram-nya.
  7. Mendidik anak agar selalu menjaga pandangan mata.
  8. Mendidik anak agar tidak melakukan ikhtilât.
  9. Mendidik anak agar tidak melakukan khalwat.
  10. Mendidik etika berhias.

Penjelasan lebih lengkapnya bisa dibaca di artikel tersebut. Kalau saya tulis semua namanya menjiplak bukan mengutip, hehe. Orang tua manapun pasti ingin yang terbaik untuk anaknya, terutama dalam pendidikan seks. Jika kita masih merasa kurang mampu dan pengetahuan, ada baiknya kita berkonsultasi kepada yang lebih ahli, seperti psikolog atau guru anak yang bersangkutan. Tidak ada salahnya juga jika kita rajin memperkaya diri kita akan ilmu pengetahuan tentang pendidikan seks untuk anak usia dini, jangan sampai kita menjadi orang tua yang lalai yang justru menyesatkan anak kita karena ketidak tahuan kita akan suatu hal.

Wallahu’alam bish shawwab.. 🙂

 

 

 

Tulisan ini disponsori event :

novemberngeblog

Advertisements

2 thoughts on “#Day 12 : Ih Kamu, Genit Deh…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s