#Day 10 : Generasi Patah Hati

Selamat hari pahlawan Indonesia!

68 tahun lalu pada hari ini, terjadi pertempuran besar antara Indonesia dan Belanda yang pertama sejak kemerdekaan Indonesia diproklamasikan. Pada saat itu, tentara sekutu mengeluarkan ultimatum kepada rakyat Indonesia di Surabaya untuk menyerahkan diri dan sejata mereka pada sekutu paling lambat jam 06.00 pagi pada tanggal 10 November 1945 sebelum sekutu menghancurkan kota Surabaya. Ultimatum ini dikeluarkan Belanda sebagai bentuk kemarahan mereka atas kematian salah satu Jenderal mereka bernama A.W.S Mallaby karena pertempuran sebelumnya. Mendengar ini, bukannya gentar, masyarakat Indonesia justru marah dan merasa terhina. Pada 10 November pagi, tentara sekutu yang diboncengi Belanda pun melancarkan serangan yang diawali dengan meledakkan gedung-gedung pemerintahan di Surabaya lewat serangan udara, sebanyak 30.000 tentara, infanteri, tank, dan kapal terbang dikerahkan untuk meluluh lantakkan Surabaya. Rakyat yang geram kotanya diserang ikut bergabung bersama tentara, petani, buruh, santri dan para kyai untuk bersatu mempertahankan kota Surabaya. Perlawanan rakyat yang semula tak teratur, semakin lama semakin terkoordinasi di bawah kobaran semangat yang tak hentinya disuntikkan para tokoh muda seperti Bung Tomo dan para kyai seperti KH. Hasyim Asyari. Meskipun akhirnya Surabaya jatuh ke tangan sekutu, tetapi pertempuran yang semula diperkirakan hanya akan berlangsung selama 3 hari oleh tentara sekutu itu, ternyata menghabiskan waktu selama 3 minggu. Pertempuran besar ini sampai sekarang diperingati sebagai hari pahlawan untuk mengenang perjuangan para tentara, rakyat sipil, pemuda dan para santri yang tewas pada pertempuran tersebut.

Sumber

   Sumber

Sejarah lengkapnya bisa dibaca di sini. Saya sempat meneteskan air mata ketika membaca kembali sejarah perjuangan rakyat Indonesia pada saat itu, karena membayangkan bagaimana rakyat Indonesia di tengah permasalahan yang mereka hadapi setelah Indonesia memutuskan merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945 justru bersemangat dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia dengan segala kebatasan yang mereka miliki. Membaca dan berkaca lagi pada sejarah kemerdekaan bangsa dan membandingkan dengan keadaan masyarakat Indonesia pada saat ini membuat saya pesimis dan patah hati. Kalau dulu para pemuda berbondong-bondong berjuang mempertahankan negara mereka, pemuda sekarang malah berbondong-bondong mengikuti tawuran demi ego dan eksistensi mereka sendiri. Kalau dulu para santri dan kyai sibuk mengobarkan api semangat perjuangan masyarakat Indonesia. Santri dan kyai sekarang terlalu sibuk mengkafirkan saudara sesama muslim dan nggak berhenti bersengketa soal siapa yang pertama kali melihat hilal awal dan akhir Ramadhan. Dan, kalau dulu para buruh bersatu bahu membahu dalam mempertahankan kota Surabaya bersama tentara Indonesia, buruh jaman sekarang malah bahu membahu dalam merazia buruh lain yang nggak mau ikut berdemo menuntut kenaikan upah yang lebih tinggi dari PNS golongan III D. Belum soal korupsi yang bukannya mati malah bertumbuh sumbur seperti lumut di musim hujan, soal anggota DPR yang nggak habis-habisnya terlibat dalam skandal, kemiskinan yang merajalela, pendidikan yang tidak merata, pembangunan yang tidak teratur, jalanan yang macet, impor yang nggak masuk akal, ekonomi yang kembang kempis, perkosaan, perampokan, pembunuhan, dan sederet permasalahan lainnya yang setiap pagi sudah disajikan pada kita dalam bentuk berita di media-media cetak dan elektronik. Kalau dipikir-pikir, nasib negara kita ibarat telur di ujung tanduk di atas pohon kelapa yang tumbuh di tepi jurang Grand Canyon. Siap-siap saja untuk terjun bebas.

Pernah dengar lagu “Generasi Patah Hati” nya Sheila on 7? Lirik lagu tersebut benar-benar menggambarkan perasaan saya dan mungkin juga perasaan banyak orang yang peduli sama nasib bangsa ini di masa yang akan datang. Kalau ada yang belum pernah dengar, liriknya kurang lebih seperti ini,

Tawa lepasmu adalah tangisanku
Kelakuanmu adalah deritaku
Kebodohan ini harus segera diakhiri
Sebelum aku benar-benar mati

Aku generasi yang patah hati
Terlahir dengan kondisi dunia yang seperti ini
Aku generasi yang patah hati
Aku harus belajar tersenyum sebelum
Membunuh sebelum membunuh rasa takutku

Perut buncitmu kurusnya bayi mereka

Rumah mewahmu keringat mereka
Kebodohan ini harus segera diakhiri
Sebelum kita benar-benar mati

Aku generasi yang patah hati
Terlahir dengan kondisi dunia yang seperti ini
Aku generasi yang patah hati
Aku harus belajar tersenyum sebelum membunuh
Sebelum membunuh rasa takutku

Ku bekerja siang dan malam
Agar istriku bahagia
Smoga kelak anak kita hidup selayaknya
Aku siap tuk lupakan mimpi ego mudaku
Aku siap tuk lupakan
Aku akan perjuangkan masa depan anakku
Aku akan perjuangkan

Miris kan? Tapi jangan sampai kita jadi generasi yang patah hati lalu move on dari permasalahan bangsa ini dan membiarkan bangsa kita terpuruk lebih dalam lagi. Walaupun sekarang kita hidup di era modern dan bermartabat, di mana perang bukan lagi satu-satunya solusi untuk menciptakan perdamaian, kita tetap bisa berjuang untuk menjadikan Indonesia tempat yang lebih nyaman lagi bagi anak cucu kita nanti. Caranya? Banyak. Dimulai dari hal-hal yang kecil saja. Misalnya,

  1. Tepat Waktu 
    Saya sering dengar celetukan “Biasalah jam karet, Indonesia gitu,” yang sering saya dengar jika saya sedang menunggu sesuatu. Harusnya hal seperti ini bukan hal yang bisa dimaklumi apalagi dibanggakan. Meskipun sepele dan sering diabaikan, mengghargai waktu sama halnya dengan menghargai diri kita sendiri, karena berarti kita telah memanfaatkan waktu yang kita miliki dengan sebaik-baiknya sehingga segala tugas dan kewajiban yang kita punya dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Coba lihat Jepang, Amerika, atau Inggris. Negara-negara tersebut terkenal dengan kebiasaan mereka dalam menghargai waktu. Hasilnya, negara tersebut kita kenal dengan julukan negara maju bahkan adidaya.
  2. Mentaati peraturan lalu lintas 
    Meskipun bisa dikategorikan juga sebagai hal yang sepele, hal ini juga sering sekali kita abaikan. Dari pengalaman pribadi saya saja nih. saya sering sekali menemui anak muda (anak tua juga sih, hehe) yang tidak memakai helm tapi berani keliaran di jalan, belum cara mereka mengendarai kendaraan seolah-olah jalanan adalah sirkuit pribadi mereka. Kalau mereka sendiri yang jadi korban sih masalah mereka, tapi kalau orang lain? Percaya sama saya, nabrak orang itu nggak enak, dunia akhirat panjang urusannya. Dan, tahukah Anda berapa kecepatan maksimal kendaraan jika berkendara di dalam kota? 40 km/jam. Iya segitu, yang lucu  saya sering kena klakson dan makian gara-gara berkendara tidak lebih dari 40 km/jam, padahal mereka yang salah karena berkendara di atas 40 km/jam. Mentaati peraturan ada hubungannya juga lho dengan memajukan bangsa, karena dari kedisiplinan kita dalam mentaati peraturan, kita akan terlatih untuk berdisiplin dalam hal lainnya, termasuk dalam belajar dan bekerja. Karena disiplin itu sifat dasar yang butuh dilatih setiap saat dan setiap waktu.
  3. Membuang Sampah di Tempatnya
    Hal ini juga sering diabaikan, hanya karena malas dan enggan mencari tempat sampah, kita kadang membuang sampah di sembarang tempat. Padahal, dari kebiasaan kecil ini, dampak yang ditimbulkan bisa sangat besar dan merugikan. Lihat banjir di Jakarta, keruhnya sungai di dekat tempat tinggal Anda, kotornya jalanan yang Anda lewati. Itu semua berawal dari satu sampah kecil yang dibuang banyak orang secara berjamaah. Padahal kalau banjir siapa yang rugi? Tapi kita sibuk menyalahkan pemerintah yang katanya kurang peduli lah, kurang respon lah dan hal-hal omong kosong lainnya. Kalau kita ingin bangsa kita maju, mulai sekarang buanglah sampah pada tempatnya. Kalau nggak menemukan tempat sampah, masukkan sampah ke dalam kantong atau tas untuk sementara, begitu menemukan tempat sampah baru dibuang deh, sederhana.
  4. Cinta Produk dalam Negeri
    Entah kutukan atau anugerah, kita ini terlahir sebagai bangsa yang begitu menghargai suatu barang jika ada label tulisan asing bertengger di atasnya. Apakah itu tas, sepatu, baju, mobil, perhiasan, parfum sampai beras pun selalu akan berharga lebih mahal daripada produk lokal yang kualitasnya sama atau bahkan lebih baik, jika produk tersebut berasal dari luar negeri. Mungkin karena kebiasaan turun menurun bangsa kita ini, produk palsu dan KW justru merajalela di negeri ini. Padahal di Jepang, yang terkenal dengan kekuatan ekonominya, produk lokal berharga lebih mahal jika dijual di negeri sendiri, kok begitu? Karena mereka begitu menghargai produk negara mereka sendiri. Pernah dengar merek Lea, Polygon, Polytron, Tomkins, Bucherri, Excelso, Casablanca dan CFC (California Fried Chicken)? Tahukah Anda kalau produk-produk yang saya sebutkan itu adalah produk asli Indonesia? Keren kan? 🙂

Dan masih banyak lagi hal kecil lainnya yang bisa kita lakukan untuk negeri ini. Nggak perlu lah kita ngajak Amerika perang atau tiba-tiba kita menyerang Malaysia untuk menunjukkan rasa cinta kita pada bangsa ini. Mulai dari diri sendiri saja lalu mulai dari hal-hal kecil di sekitar kita. Yang pelajar, mulai belajar yang rajin, kurangi tawuran. Yang Mahasiswa mulai inovatif dan mandiri, kurangi demo dan pacarannya. Yang sudah bekerja, selalu disiplin dalam segal hal, jangan gampang ngeluh atau putus asa. Yang duduk di pemerintahan, jangan sampai terlena apalagi sampai khilaf, jabatan nggak dibawa mati, amalan semasa hidup yang kita bawa. Dan yang hidup, jangan patah semangat, mari kita berjuang untuk para pahlawan yang sudah meninggalkan kita untuk selama-lamanya. Jangan sampai perjuangan mereka menjadi sia-sia hanya karena kita menjadi generasi patah hati yang pesimis akan nasib bangsa kita di masa depan.

Oh iya, satu lagi. Untuk mas-mas dan mbak-mbak jurnalis yang hobi menulis berita tentang kebobrokan bangsa ini. Coba deh cari berita lain yang lebih memotivasi, seperti prestasi-prestasi anak muda Indonesia, atau program-program pemerintah yang sudah berhasil, untuk mengimbangi berita-berita nggak enak yang beredar. Jangan malah ikut-ikutan jadi penyebab munculnya generasi patah hati. Bisa terjun bebas negara kita, naudzubillahi min dzaliik…

 

Inilah Negaramu. Hargai kekayaan alamnya, hargai sumberdaya alamnya, hargai sejarah dan romantisme masa lalunya sebagai sebuah warisan suci, untuk anak dan cucumu. Jangan biarkan manusia-manusia egois dan serakah menguasai negaramu, menguliti kecantikannya, kekayaannya atau keromantisannya.
– Theodore Roosevelt –

 

 

Tulisan ini disponsori event :

novemberngeblog

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s