#Day 08 : Panggung Sandiwara Bernama Bumi

Bagi para penggemar acara infotainment, pasti tahu kan berita apa yang lagi heboh akhir-akhir ini. Iyak betul! Akhir-akhir ini, berita tentang Ayu Ting Ting yang menangis ketika menyanyikan lagu “Lumpuhkan Ingatanku” milik Geisha di salah satu acara talk show, jadi bahan perbincangan banyak orang. Saya tahu berita ini dari status dan tweet yang bertebaran di timeline Facebook dan Twitter saya hari ini. Sebenarnya saya sempat lihat tuh acara yang jadi berita itu, kalau nggak salah pembawa acaranya Uya Kuya. Tapi saya nggak sempat lihat sampai selesai, nyesel deh saya, kalau saya tahu kan bisa saya capture tuh gambar Ayu Ting Ting yang lagi nangis waktu nyanyi, hehe *niat busuk*

Dan, hampir seluruh warga negara Indonesia Raya pasti tahu, kenapa tangisan Ayu ketika menyanyikan lagu itu jadi berita terpanas minggu ini. Kalau ada yang belum tahu, baca di sini saja, saya nggak mau cerita, males lebih tepatnya, haha. Yang saya nggak mengerti, kenapa tangisan itu bisa jadi bahasan yang nggak ada habisnya. Bukannya apa, kasihan sama Ayu Ting Ting dan anak yang ada dalam kandungannya, kalau kondisi psikologisnya drop gara-gara berita itu, siapa yang mau tanggung jawab? Feni Rose?

“Tapi dia kan artis, wajar kalau jadi berita, kalau nggak mau jadi berita, jadi babu aja…”

Itu kata salah satu teman saya ketika saya menunjukkan rasa keprihatinan saya. Yah, masuk akal juga sih, namanya publik figur, memang sudah nasib mereka jadi buah bibir di mana-mana. Meskipun begitu, Ayu dan para publik figur lainnya kan juga manusia biasa yang punya hati. Bukan badut atau boneka tali yang harus bertindak sebagaimana yang orang inginkan untuk senantiasa menjadi hiburan bagi orang-orang yang mereka sebut sebagai penggemar dan penonton.

 

Dunia ini, panggung sandiwara,
Ceritanya mudah berubah…

Pernah dengar lirik lagu di atas? Untuk orang-orang yang masa mudanya merasakan tahun 90 an, pasti kenal dengan Nike Ardila dan Nicky Astria yang pernah menyanyikan lagu tersebut. Lirik lagu tersebut bercerita tentang dunia yang sebenarnya adalah sebuah panggung sandiwara, dan semua orang yang hidup di atas dunia ini memiliki peranannya dan kisahnya masing-masing. Lagu tersebut sebenarnya adalah cerminan kehidupan kita di dunia. Lho kok? Iya, menurut saya nih, semua orang yang Allah ciptakan di dunia ini memiliki karakter, sifat, dan ciri khasnya masing-masing sebagaimana para aktor dan aktris yang memiliki peranannya masing-masing. Ada si penjahat, sang pahlawan, si baik, si jahat, si kaya, si miskin, si tampan, si buruk rupa, si cantik, si jelek, sang raja, si rakyat jelata, sang panglima, sang petani, si tukang kayu, dan banyak lagi. Begitupun dengan takdir dan nasib yang kita alami, itu semua adalah skenario hebat dari Sang Maha Hidup, yang khusus ia buat hanya untuk kita. Bedanya dengan para aktor tersebut, kita nggak pernah tahu jalan cerita drama kehidupan kita ini. Bahkan kita juga nggak tahu, siapa dan bagaimana lawan main yang akan kita temui dan hadapi pada adegan berikutnya.

Ayu Ting Ting pun begitu. Dia adalah seorang aktris utama dalam drama tragedinya, di dalamnya dia berperan sebagai seorang biduanita miskin yang mendadak jadi terkenal karena sebuah lagu. Dari adegan tersebut, dia dikenalkan pada dunia baru, panggung baru yang lebih besar dan megah yang sebelumnya tidak pernah ia pijak, di sana ia banyak berinteraksi dengan aktor dan aktris bertopeng yang sebelumnya hanya dia lihat dari panggung kecil yang lusuh di sebelah. Dari adegan dengan para aktris dan aktor tersebut dia mengenal dunia baru dan mulai mengenakan sebuah topeng bernama “selebritis.” Adegan berikutnya dia menjadi sorotan utama lampu besar di tengah panggung, semua yang datang mendekatinya menjadi sorotan utama, pusat perhatian penonton. Bedanya, dia tidak berperan sendiri lagi, ia punya tali-tali tipis yang mengikat tangan dan kakinya, yang menggerakkan semua anggota tubuhnya semau mereka, meskipun sakit, ia bahagia, orang sebut itu tali “ketenaran,” dan “harta.” Dan panggung tersebut pun membuat dia terlena, dia mulai terseok, lalu seorang aktor mulai berani mendorong ia ke sisi panggung, mencoba mencuri sorotan lampu utama, mencari perhatian penonton. Ayu bingung, dia hanya punya satu cara untuk kembali jadi sorotan, mengenakan topeng lamanya, menghiasinya dengan properti dari panggung barunya, dan ber-akting sedramatis mungkin agar semua perhatian penonton kembali padanya, sehingga dia kembali menjadi bintang utama di panggungnya sendiri.

Itulah drama Ayu Ting Ting. Seorang publik figur, kalau kita?

Kalau diibaratkan sinetron, hidup itu seperti sinetron Cinta Fitri dan Tersanjung. Drama kehidupan kita memiliki alur cerita yang maju tapi tak beraturan, konflik dan resolusi datang silih berganti, naik turun seperti halnya roda pedati. Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di depan. Yang kita tahu, kita hanya mengikuti naluri, perasaan, dan logika kita dalam berperan, berekspresi dan berimprovisasi. Sama seperti para aktor, yang terus belajar agar menjadi aktor yang lebih baik lagi. Kehidupan kita disediakan Allah sebagai panggung untuk kita belajar bagaimana menghadapi setiap konflik dan resolusi dalam drama kita. Dan dari setiap episode yang telah kita lewati, seharusnya kita tahu, mengerti dan memahami pola cerita yang Allah sediakan untuk kita, apakah itu tragedi, komedi, dagelan atau satir? Sehingga ketika kita masuk pada adegan berikutnya, kita bisa menjadi aktor dan aktris kawakan yang tahu bagaimana harus berperan di setiap adegan yang Allah sediakan bukannya malah membiarkan aktor dan aktris lain mengikat tangan dan kaki kita, lalu membiarkan mereka menggerakkan dan mendikte bagaimana kita seharusnya memerankan drama kehidupan kita sendiri hanya untuk menghibur mereka.

Drama kehidupan kita mungkin tidak seperti yang kita inginkan, ia punya ceritanya sendiri yang harus kita jalani. Kalau itu yang terjadi, kenapa kita tidak berlatih dan berusaha saja menjadi aktor dan aktris yang sukses memerankan lakon-lakon dalam hidup kita sehingga kita tidak segera dilupakan penonton dan pantas mendapatkan tepuk tangan paling meriah dari mereka saat tirai panggung hidup kita tertutup untuk selama-lamanya. Wallahu’alam bish shawaab…

Soal drama kehidupan Ayu Ting Ting di atas. Mohon maaf nih kalau ada yang melenceng, idenya saya dapat dari berita tentang dia yang saya lihat selama ini, hehe, ketauan deh yang hobi nonton infotainment. Maksud saya untuk pengibaratan saja, jadi kalau ada yang tersinggung, harap maklumnya, jangan dituntut yah… 😀

Oh iya, ada salah satu kutipan William Shakespeare dari dramanya yang berjudul “As You Like it” yang pas sekali sama kehidupan kita yang bak panggung sandiwara ini. Ternyata nggak cuma Ahmad Albar yang berpikiran begitu, Shakespeare juga. *amaze*

All the world’s a stage,
And all the men and women merely players;
They have their exits and their entrances;
And one man in his time plays many parts,
His acts being seven ages. At first the infant,
Mewling and puking in the nurse’s arms;
Then the whining school-boy, with his satchel
And shining morning face, creeping like snail
Unwillingly to school. And then the lover,
Sighing like furnace, with a woeful ballad
Made to his mistress’ eyebrow. Then a soldier,
Full of strange oaths, and bearded like the pard,
Jealous in honour, sudden and quick in quarrel,
Seeking the bubble reputation
Even in the cannon’s mouth. And then the justice,
In fair round belly with good capon lin’d,
With eyes severe and beard of formal cut,
Full of wise saws and modern instances;
And so he plays his part. The sixth age shifts
Into the lean and slipper’d pantaloon,
With spectacles on nose and pouch on side;
His youthful hose, well sav’d, a world too wide
For his shrunk shank; and his big manly voice,
Turning again toward childish treble, pipes
And whistles in his sound. Last scene of all,
That ends this strange eventful history,
Is second childishness and mere oblivion;
Sans teeth, sans eyes, sans taste, sans everything.

– Jaques (Act II, Scene VII, lines 139-166) –

Tulisan ini disponsori event :

novemberngeblog

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s