#Day 07 : The Help : Ketika Para Pembantu Angkat Bicara

Untuk memudahkan saya dalam mengisi event #NovemberNgeblog dan menambah variasi bacaan di blog ini, setiap satu minggu sekali pada bulan ini, saya akan membuat satu ulasan tentang film-film yang pernah saya lihat. Harap maklum, karena kadang otak saya agak macet, jadi saya mencoba mencari bahasan yang nggak terlalu butuh banyak bahan dan sumber. Sebenarnya ini juga bisa dikategorikan alibi atas kemampetan ide saya, hehe. Maaf…

The Help adalah film yang diangkat dari sebuah novel karya  Kathryn Stockett berjudul sama yang terbit pada tahun 2009. Film ini mengambil latar belakang tahun 1960 an pada masa hak sipil di Amerika Serikat. Pada masa itu rasisme dan kesetaraan hak antara kulit hitam dan kulit putih menjadi isu penting dan sensitif. Mengambil latar belakang tempat di sebuah kota kecil bernama Jackson di Missisipi, Amerika Serikat, film ini menunjukkan betapa bagaimana keadaan sosial masyarakant Amerika pada saat itu. Apalagi, di Jackson, orang kulit hitam dan kulit putih hidup berdampingan, tetapi tidak seharmonis yang terlihat. Ketidak adilan dan sikap rasisme masih terlihat jelas, terlihat dari kebanyakan orang kulit hitam yang berprofesi sebagai pembantu dan pengasuh di rumah orang-orang kulit putih.

Film ini bercerita tentang kisah dua orang pembantu berkulit hitam bernama Aibileen Clark (Viola Davis) dan Minny Jackson (Octavia Spencer) yang berteman dan bertetangga. Aibileen adalah seorang pembantu dan pengasuh anak-anak kulit putih yang baru-baru ini kehilangan anak laki-laki satu-satunya. Aibileen bekerja pada seorang wanita kulit putih bernama Elizabeth (Ahna O’Reilly), yang tidak cukup mahir dalam hal menjadi Ibu rumah tangga dan lebih sering mengabaikan anaknya, sehingga anaknya Mae Mobley lebih dekat dengan Aibileen daripada Ibunya sendiri. Sedangkan Manny bekerja sebagai pembantu dan perawat Ibu seorang perempuan yang aktif dalam kegiatan sosial di lingkungannya dan menjadi ketua perkumpulan para perempuan di tempat ia tinggal, bernama Hilly Holbrook (Bryce Dallas Howard). Hilly dikenal sebagai orang yang ambisius, cerewet dan matrealistis, sehingga hanya Minny yang mau bekerja untuknya.

Kisah ini bermula dari kepulangan Eugene Pheelan (Emma Stone), yang baru saja menyelesaikan kuliahnya di Universitas Missisipi. Tidak seperti kebanyakan perempuan di kotanya yang kuliah untuk mencari suami, Eugene yang lebih dikenal dengan nama kecilnya yaitu Skeeter, memilih untuk tetap single dan mengejar karir impiannya untuk menjadi seorang jurnalis di sebuah media besar di New York. Sebagai batu loncatan, ia bekerja di sebuah koran lokal di Jackson, dan mendapat tugas mengisi sebuah kolom tentang “Tanya Jawab Soal Masalah Rumah Tangga” yang ditinggalkan kolumnisnya. Karena satu-satunya pembantu yang dia miliki yang bernama Constantine tidak tinggal lagi di rumahnya, Skeeter memutuskan untuk meminta izin pada Elizabeth, temannya, untuk mengizinkan Aibileen menjawab pertanyaan yang diajukan para pembaca kolomnya. Dari pertemuannya yang intens dengan Aibileen, Skeeter merasakan ketidak adilan dan kesemenaan-menaan yang dilakukan oleh teman-temannya terhadap para pembantu mereka. Dimulai dengan program “Toilet Khusus Pembantu” yang dicanangkan sahabatnya sendiri, Hilly Holbrook. Hilly percaya, program ini akan mencegah penularan penyakit orang kulit hitam ke orang kulit putih dengan cara membuatkan toilet khusus untuk pembantu yang cenderung tidak layak dan sempit. Sejak itu Skeeter memutuskan untuk menulis sebuah buku tentang kehidupan para pembantu yang menghabiskan seumur hidup mereka untuk merawat anak-anak kulit putih.

Awalnya Skeeter mengalami kesulitan dalam mencari narasumber bukunya. Karena kebanyakan pembantu menolak karena takut dipecat dan disiksa jika mereka menceritakan pengalaman hidup mereka. Aibileen menjadi pembantu pertama yang setuju untuk menjadi narasumber ketika Aibileen mendengar rencana Hilly dan programnya yang cenderung rasis. Aibileen khawatir, anak yang ia asuh akan tumbuh seperti orang tuanya, jika ia tidak berbuat sesuatu. Awalnya Minny juga menolak menjadi narasumber, tetapi ketika ia dipecat Hilly hanya karena ia terpaksa memakai toilet milik majikannya di kala hujan badai sebab toilet yang dibuat khusus untuknya di letakkan di halaman luar, Minny pun memutuskan untuk menceritakan semua pengalaman pahitnya menjadi seorang pembantu. Selain itu, minny juga ingin membalas dendam pada Hilly yang semena-mena dan meracuni fikiran semua orang di lingkungannya agar ia tidak diterima bekerja di manapun, sehingga ia terpaksa mengeluarkan anaknya dari sekolah dan membuatnya bekerja sebagai pembantu. Tapi berkat bantuan Aibileen, Minny pun mendapatkan pekerjaan di rumah Celia Foote (Jessica Chastain) seorang wanita cantik yang naif yang dianggap musuh oleh Hilly hanya karena ia dianggap merebut dan menikahi mantan pacar Hilly.

Skeeter lalu mulai menulis konsep bukunya dengan cerita-cerita Minny dan Aibileen di dalamnya. Ketika ia mengirimkan cerita itu pada editornya di New York, Skeeter diminta untuk menambahkan cerita dari narasumber-narasumber lainnya agar bukunya lebih valid dan layak dibaca. Skeeter kebingungan karena tidak ada satu pun pembantu yang bersedia membagi cerita mereka selain Aibileen dan Manny. Tetapi, karena tertembaknya salah satu aktivis Hak Sipil orang kulit hitam, dan ditangkapnya teman sesama pembantu Manny, karena tidak sengaja menemukan cincin emas milik Hilly di bawah sofa ketika membersihkan rumah dan menjualnya untuk membiayai kuliah anak kembarnya. Banyak pembantu yang menawarkan diri untuk berbagi kisah mereka dan ditulis oleh Skeeter, di mana  kisah-kisah tersebut semakin membuka mata Skeeter pada realitas kehidupan sosial masyarakat kulit hitam dan kulit putih di kotanya. Singkat cerita (dan sengaja nggak saya beritahu detailnya karena nggak seru kalau nggak nonton sendiri), buku yang ditulis Skeeter cukup sukses dan menjadi kontroversi di lingkungannya. Dan, akhirnya Skeeter pun mncapai mimpinya untuk bekerja sebagai seorang jurnalis di New York.

Tadinya saya kira, film ini disadur dari sebuah novel yang benar-benar ditulis pada tahun 1960 an. Tapi ternyata novel ini ditulis di jaman modern di mana rasisme bukan lagi isu sensitif dan kontroversial. Meskipun begitu, Sutradara Tate Taylor berhasil mengemas cerita saduran ini dengan baik dan sederhana. Karena jujur, awalnya saya nggak terlalu tertarik ketika melihat judul dan poster film tersebut, saya kira film ini akan semelankolis the Color Purple (Filmnya sebenarnya bagus, saya aja yang gak suka liat film yang mengekspos penderitaan orang, terlalu kejam, hehe), atau film-film berlatar belakang Era Hak Sipil lainnya. Tapi ternyata, gaya penuturan dan penceritaan yang manusiawi serta sederhananya justru mampu membuat saya betah duduk manis di depan layar selama 146 menit tanpa sedikitpun merasa bosan. Meskipun alurnya lambat dan letoy untuk ukuran penggemar film action atau thriller seperti saya, tapi hal tersebut justru menjadi daya tarik sendiri, karena saya jadi tidak seperti sedang melihat film, tapi seperti sedang membaca buku bergerak. Pesan film ini sederhana, bahwa siapapun, selama mereka memiliki keberanian untuk mengatakan kebenaran. Mereka adalah pahlawan. Meskipun tidak dalam skala besar, tapi paling tidak, mereka adalah pahlawan bagi jiwa mereka sendiri, jiwa yang butuh ditenangkan karena kekalutan akibat keraguan.

Ada satu kutipan yang jadi favorit saya di film ini. Yaitu, kalimat yang diucapkan Constantine (pembantu masa kecil Skeeter) pada Skeeter ketika ia remaja,

Every day you’re not dead in the ground, when you wake up in the morning, you’re gonna have to make some decisions. Got to ask yourself this question: “Am I gonna believe all them bad things them fools say about me today?” You hear me today? “Am I gonna believe all them bad things them fools say about me today? You hear me today?” All right? As for your mama, she didn’t pick her life. It picked her. But you, you’re gonna do something big with yours. You wait and see.
(Setiap hari kamu tidak mati di tanah, ketika kamu bangun di pagi hari, kamu akan harus membuat beberapa keputusan. Tanyakan pada dirimu sendiri pertanyaan ini; “Apa aku akan mempercayai setiap ucapan buruk yang mereka, orang-orang bodoh itu katakan padaku hari ini? Apa aku akan mempercayai setiap ucapan buruk yang mereka, orang-orang bodoh itu katakan padaku hari ini? Kamu mendengarkanku hari ini” Oke? Kalau soal ibumu, dia tidak memilih hidupnya. Hidup yang memilihnya. Tapi kamu, suatu hari nanti, kamu akan melakukan hal yang hebat pada dirimu sendiri. Tunggu dan saksikanlah.)

 

 

 

Tulisan ini disponsori event :

novemberngeblog

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s