#Day 06 : Balada Perut Kaku

Sudah 3 hari belakangan ini, adik saya yang ke 2 menderita muntaber. Hari minggu kemarin, kami memang sempat makan bersama sekeluarga di sebuah rumah makan masakan Jawa di kota saya. Penyebab utamanya diperkirakan EsDegan yang ia pesan ketika kami makan bersama kemarin. Saya yang sempat mencicipi Es Degan yang ia pesan juga sempat diare selama 2 hari. Puncaknya hari ini, sejak pagi perut saya melilit nggak karuan seperti ada yang memeras usus-usus saya. Mengajar pun jadi nggak fokus, karena saya bolak-balik ke toilet. Kalau 2 hari kemarin saya hanya diare. Tadi, saya bahkan sempat muntah, padahal perut saya juga tidak ada isinya karena saya memang sedang tidak nafsu makan. Akibatnya saya sukses jadi pesakitan di UKS sekolah.

Awalnya saya kira hal ini terjadi karena saya sempat mencicipi Es Degan yang dipesan adik saya kemarin. Tapi ternyata, adik saya yang lain pun sempat mencicipi es tersebut, dan tidak terjadi apa-apa sama dia. Saya jadi kepikiran, apa mungkin penyakit muntaber ini menular ya? Karena memang kondisi saya akhir-akhir ini sedang menurun, saya juga baru menyelesaikan sebuah program diet yang menyiksa. Kata teman saya, mungkin ini penyebabnya, kondisi pencernaan saya yang tidak sehat, dan bakteri penyakit muntaber yang disebarkan adik saya.

Menurut artikel yang saya baca di sini, penyebab muntaber adalah adanya peradangan pada usus yang disebabkan oleh bakteri atau parasit lain seperti protozoa, cacing dan jamur. Selain itu, muntaber juga bisa disebabkan oleh keracunan makanan atau minuman yang disebabkan oleh bahan kimia ataupun bakteri. Penyakit bisa mewabah akibat lingkungan hidup yang kurang bersih dan makanan yang telah terkontaminasi oleh bakteri. Selain itu, muntaber juga bisa disebabkan oleh suatu virus yang dinamakan Vibrio Parahaemolyticus.

Untuk mencegah penularan, kita harus senantiasa menjaga kebersihan toilet dan alat makan, terutama jika kita berbagi toilet dan alat makan dengan penderita diare. Caranya sederhana, setiap penderita menyelesaikan urusannya di toilet, selain disiram dengan air, toilet juga harus disiram dengan antiseptik atau pemutih. Tujuannya, agar bakteri tidak bisa hidup dan berkembang, begitu pula dengan alat makan.

Lalu? Apa pertolongan pertama yang harus kita lakukan pada penderita muntaber. Cara ini cukup klasik dan dikenal oleh generasi nenek dan kakek kita. Saya dapat dari kepala sekolah tempat saya mengajar, meskipun hasilnya tidak maksimal, tapi paling tidak dapat mengurangi rasa sakit yang diderita penderita. Caranya adalah dengan meminum segelas teh pahit, teh pahit dipercaya dapat menghentikan diare. Entah karena kandungan kafein atau zat-zat lain di dalamnya, atau mungkin karena sugesti, segelas teh pahit cukup menenangkan perut saya pagi tadi. Cara lainnya sudah sering kita dengar, yaitu minum segelas larutan oralit, cara membuat larutan ini secara sederhana yaitu, menyiapkan 1 sendok teh garam, 8 sendok teh gula, dan 1 liter air putih. Setelah itu, larutkan gula dan garam ke dalam air putih, lalu minumkan pada penderita. Atau bisa juga kita membeli larutan oralit instan yang tersedia di apotik-apotik atau toko obat di mana saja. Kalau penderita masih belum pulih juga, lebih baik di bawa ke dokter, bagaimanapun dokter lebih tahu dan ahli dalam hal penyakit dan obatnya.

Tadinya, hari ini saya nggak yakin bisa posting sesuatu di blog. Karena tadi, untuk duduk saja saya tidak mampu, tapi karena hari ini selain sakit perut saya juga mengalami hal konyol lainnya, saya merasa saya harus posting sesuatu di sini. Bukannya apa, supaya suatu saat nanti, kalau saya baca lagi, saya bisa senyum-senyum sendiri karena ingat kejadian hari ini.

Jadi, tadi siang, selesai mengajar, saya yang terkapar tak berdaya di UKS jadi bahan rapat dadakan Bunda-Bunda disekolah. Rapat ini membahas tentang bagaimana caranya mengantar saya dan motor saya pulang, karena untuk duduk saja saya tidak mampu, apalagi kalau harus dibonceng atau mengendarai motor sendiri. Para Bunda khawatir nantinya terjadi apa-apa. Akhirnya tercetuslah salah satu ide aneh dari KepalaSekolah saya, beliau bilang bagaimana jika meminjam mobil Ambulans milik Yayasan tempat TK saya bernaung. Saya yang mendengar itu cuma bisa ngakak sekaligus menangis karena menahan sakit di perut. Saya nggak bayangin bagaimana kagetnya orang rumah kalau tahu ada Ambulans datang ke rumah tanpa diundang, bisa jantungan Ibu saya, hehe. Tapi karena tidak ada solusi lain, akhirnya mau tidak mau saya setuju. Yang lucu, karena mobil Ambulans tersebut biasa dipakai untuk mengantar jenazah, tidak ada matras atau kasur di dalamnya. Dan atas usul aneh kepala Sekolah saya (lagi), akhirnya kami memutuskan memakai matras bergambar Angry Birds yang biasa dipakai anak-anak untuk loncat-loncatan. Karena, Ambulans yang kami naiki cukup jadul, setiap melewati polisi tidur Ambulans itu akan mengeluarkan suara aneh, bahkan tadi sempat mogok di jalan, ditambah Bunda-Bunda yang nggak berhenti mengeluarkan celetukan konyol. Alhasil bukannya bisa istirahat dengan tenang, sepanjang jalan perut saya malah kaku nggak karuan karena melilit dan ketawa.

What a day… πŸ™‚

Tulisan ini disponsori eventΒ :

novemberngeblog

Advertisements

2 thoughts on “#Day 06 : Balada Perut Kaku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s