#Day 05 : Tersungging eh, Tersinggung

Pagi ini nggak sengaja saya baca berita ini. Sudah lama sih sebenarnya berita itu, tapi karena radar saya sedang pada frekwensi tertajamnya, hehe, saya jadi pingin nulis tentang ini. Jadi, berita tersebut menulis tentang Ibu negara kita tercinta, yang konon sedang hobi banget main Instagram.  Namanya jejaring sosial, pasti banyak orang yang komentar, dan ceritanya Ibu Ani tersinggung dengan salah satu komentar followernya di jejaring sosial tersebut. Sampai-sampai keluar kata “bodoh” dari Ibu negara kita yang terhormat ketika menanggapi komentar followernya itu. Saya cuma bisa nyengir kuda, nggak kebayang bagaimana perasaan Ibu Ani kalau dia baca komentar-komentar tentang suaminya di media-media dan forum-forum internet lainnya. Bisa darah tinggi mungkin beliau.

Seharusnya, ketika kita memutuskan untuk memiliki sebuah akun jejaring sosial di internet, kita juga harus siap dengan segala konsekuensi dan akibat yang mungkin akan kita hadapi. Apalagi kalau kita seorang publik figur yang segala tindak tanduknya jadi bahan omongan orang-orang se Indonesia Raya. Sering loh saya dengar berita-berita semacam ini. Seseorang tersinggung dengan komentar orang lain di jejaring sosial lalu saling melaporkan atas tuduhan pencemaran nama baik, perbuatan tidak menyenangkan, dan lain-lain. Bahkan denger-denger, sebelum Bapak Presiden memutuskan membuka akun Twitter, parlemen kita menelurkan UU tentang pencemaran nama baik presiden, jadi jika presiden diserang dengan komentar-komentar menjatuhkan di Twitter, pelakunya bisa dijerat dengan pasal tersebut (CMIIW).

Jejaring sosial, atau media sosial tidak sama seperti media televisi dan media elektronik lainnya yang sistem komunikasinya berjalan satu arah. Jejaring sosial mempunyai sistem komunikasi dua arah, yang berarti pengguna bisa langsung menanggapi ketika ada orang yang berkomentar di akun jejaring sosialnya. Karena itulah sering muncul perdebatan dari aksi saling komentar ini. Kalau hal ini terjadi di dunia nyata, mungkin akan ada banyak aksi tawuran di luar sana, untungnya hal ini terjadi di dunia maya. Dan mungkin, karena terjadinya di dunia maya, tempat orang yang bercakap-cakap tanpa saling bertatapan muka, komentar-komentar yang dilontarkan pun beragam. Dari yang paling manis, seperti memuji idolanya setinggi langit supaya mention nya di Twitter di balas, sampai yang paling kasar yang menyebut semua nama penghuni kebun binatang untuk mengungkapkan kekecewaannya.

Terus, bagaimana sikap yang bijak untuk mengomentari komentar-komentar di jejaring sosial agar kita tidak terlibat dengan perdebatan panjang lebar yang abadi? hehe. Sebelumnya, kita harus tahu komentar seperti apa yang kita dapatkan, setelah itu kita akan tahu, bagaimana cara yang bijak untuk menanggapi komentar tersebut. Menurut pengamatan saya yang terlalu banyak waktu luang ini, ada beberapa jenis komentar yang banyak dilontarkan di jejaring sosial, yaitu :

  1. Pujian Semanis Madu : Seperti yang sudah saya uraikan di atas, komentar semacam ini biasanya dilontarkan seorang penggemar terhadap idolanya. Tujuannya, agar ia mendapat tanggapan dari idolanya. Untuk kita yang orang biasa, komentar semacam ini biasanya kita dapatkan dari teman, atau gebetan yang sedang dalam fase PDKT. Dalam kasus saya, komentar semacam ini saya dapatkan dari teman yang punya misi khusus terhadap saya, mau ngutang misalnya, hehe. Untuk menanggapi komentar semacam ini cukup mudah. Kita hanya bermodalkan kalimat “Terima kasih…” diikuti emoticon senyuman, atau yang lebih ekstrim lagi, bisa kita tambahkan “I love you too, you are the best!” Untuk tanggapan yang terakhir hanya untuk seleb saja ya, untuk orang biasa semacam saya harus mikir-mikir dulu kalau nggak mau dilempar sandal, hehe
  2. Kritik yang Membangun : Walaupun saya tipe orang yang tidak percaya akan adanya kritik yang membangun. Tapi jenis komentar ini, seringkali kita temui dalam media sosial, terutama jagat per-blog-an. Cara menghadapi komentar semacam ini juga cukup mudah, selain bermodalkan kalimat “Terima kasih,” bisa juga kita tambahkan sedikit pembelaan dari sisi kita, klarifikasi istilah kerennya. Karena biasanya komentar semacam ini cenderung negatif karena memaparkan berbagai kekurangan kita menurut mereka. Kalau setelah kita berkomentar masih dilanjutkan dengan komentar-komentar lain yang cenderung ke arah debat kusir, ada baiknya kita ucapkan lagi “Terima kasih.” Dan menyudahi percakapan tersebut. Bukannya apa, boros pulsa internet bung, hehe.
  3. Salah Sambung : Seringkali kita temui, kita update status apa komen yang kita dapat apa. Biasanya yang melontarkan komentar semacam ini adalah fast reader yang nggak teliti saat membaca, dan beremosi untuk menanggapi tanpa mengerti maksud yang sebenarnya. Untuk menanggapi komentar semacam ini, dibutuhkan kesabaran seluas samudera. Kita harus telaten menjelaskan maksud dari status atau tulisan kita yang sebenarnya, kalau perlu, di awal kalimat bisa juga ditambahkan kata “Maaf,” agar yang berkomentar mau membaca pelan-pelan. Kalau dia masih ngotot juga. Keluarkan jurus andalan kita, mari ketikkan “Terima kasih,” kalau dia manusia pasti ada rasa sungkan untuk melanjutkan perdebatan. Tapi kalau masih ngotot juga, kita patut curiga, jangan-jangan dia spesies baru dalam dunia manusia.
  4. Hujatan Sepahit Pare : Nah, untuk komentar semacam ini, saran saya cuma satu. Tutup browser Anda. Selesai perkara. Karena saya tipe orang yang cinta damai, saya malas menanggapi komentar-komentar yang menghujat, apalagi cenderung SARA. Walaupun ketika dibaca juga bikin sakit hati, tapi kalau saya tanggapi, hal tersebut malah seperti menyiramkan bensin ke api unggun. Makin membara hasrat mereka untuk menghujat. Dan kalau komentar tersebut kita temukan di akun jejaring sosial pribadi kita, malah lebih enak, karena kita punya otoritas penuh untuk menghapus komentar tersebut dan memblokir akun orang yang bersangkutan, agar suatu saat nanti, kalau mood kita lagi jelek tidak akan lagi kita temukan komentar tersebut di akun kita.

Cara paling efektif sebenarnya cuma satu. Tidak terlalu serius dalam menanggapi komentar-komentar di jejaring sosial. Bagaimanapun juga, setiap orang berhak berkomentar apapun yang mereka mau. Jadi sekesal apapun kita, komentar-komentar tersebut akan senantiasa ada, karena di dunia ini, Tuhan menciptakan berbagai macam manusia dengan sifat dan karakternya masing-masing, dan kita nggak bisa berharap semua orang akan senang dengan apa yang kita tulis atau lakukan di akun jejaring sosial kita. Jangan diambil hati, akibatnya ya seperti Ibu Ani di atas. Akan banyak pihak yang tersinggung dan tidak terima. Karena bahasa tulisan dan lisan berbeda, dalam tulisan kita nggak pernah tahu bagaimana ekspresi si penulis ketika mengetik tulisannya. Siapa tahu ketika menulis si penulis sedang ketawa-ketawa ngakak, tapi kita yang membaca menganggap si penulis tersinggung. Terakhir, dari pada menanggapi komentar seseorang dengan komentar lain yang nggak kalah panjangnya, cukup ketikkan emoticon ” 🙂 ” saja.

Kalau saya sih, karena bukan publik figur juga, cuek saja kalau ada orang yang berkomentar tentang saya di jejaring sosial, dunia maya ini, kalau diambil hati malah kita yang rugi. Daripada tersinggung, saya milih tersungging, ehe, maksud saya menyunggingkan senyum selebar-lebarnya dalam menghadapi komentar negatif.  Tapi, emangnya ada ya yang mau berkomentar soal saya? haha *sok seleb*

 

 

 

Postingan ini disponsori event :

novemberngeblog

Advertisements

4 thoughts on “#Day 05 : Tersungging eh, Tersinggung

  1. Gua bukan seorang fast reader, tapi pas eater…. ..boleh tuh komennya di reply pake pujaan semanis madu. ( pasang muka kaya leeminhoo)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s