#Day 04 : Hilangnya Empati

Empathy is really the opposite of spiritual meanness. It’s the capacity to understand that every war is both won and lost. And that someone else’s pain is as meaningful as your own.
– Barbara Kingsolver –

Tadi pagi, TK tempat saya mengajar mengadakan kirab drumband dalam rangka memperingati Tahun Baru Hijriah yang jatuh pada tanggal 5 November besok. Namanya anak-anak, apalagi hampir semuanya berumur di bawah 5 tahun, kirab ini seperti jadi motivator utama mereka untuk bangun pagi, bahkan salah satu anak didik saya yang bernama Abi bilang, kalau dia bangun jam 4 pagi ini, lalu berangkat sekolah pagi-pagi karena takut ditinggal Bunda-Bunda katanya. Lucu… 🙂

Jujur, buat anak-anak hal ini memang menyenangkan, tapi buat kami para Bunda, hal ini menegangkan. Dari rumah saya sudah minum banyak air, karena saya tahu, tanpa mikrofon dan megafone, menemani anak-anak kirab sama halnya dengan konser lagu cadas di hadapan penonton yang pakai headset dan sedang mendengarkan lagu cadas juga, jarang didengarkan, hehe..

Kembali ke soal kirab tadi. Mungkin karena para peserta kirab adalah anak-anak imut nan lucu dengan membawa alat drumband yang kadang lebih besar dari badan mereka sendiri, otomatis kirab tersebut langsung menjadi bahan tontonan menarik bagi para penduduk di sekitar TK saya. Sebagai informasi, letak TK tempat saya mengajar berada di lingkungan perumahan yang notabene pagar rumahnya tinggi-tinggi dan senantiasa sepi. Karena dengan sengaja kirab kami melewati perumahan tersebut, jadilah para penghuninya keluar untuk sekedar melihat bahkan ada yang mengambil gambar. Saya akui, kirab kami memang menarik (narsis, hehe) dan jarang sekali, jadi wajar saja banyak orang yang penasaran melihat tingkah lucu anak-anak. Teorinya sama seperti pepatah ada gula ada semut, di mana ada hal yang menarik, di situ pasti ada keramaian. Kalau soal kirab, pawai, karnaval, konser, atau kampanye yang jadi bahan tontonan sih, saya akui memang hal-hal tersebut memang menarik. Tapi kalau musibah atau bencana?

Saya sering sekali mendengar dan membaca berita, tentang bagaimana lokasi terjadinya musibah atau bencana tidak ubahnya seperti lokasi pariwisata, di mana orang berbondong-bondong melihat dengan alasan penasaran. Masih ingat kan dengan peristiwa jebolnya Tanggul Situ Gintung di Jakarta beberapa tahun lalu? Saat kejadian, saya sedang melihat televisi bersama keluarga dan saya mengetahui kejadian tersebut dari running news sebuah televisi swasta. Paginya, hampir semua saluran televisi menayangkan peristiwa tersebut serta memutar video-video amatir yang didapat pada waktu kejadian. Saya masih ingat betapa bergetarnya hati saya saat itu, perasaan yang sama yang saya rasakan saat melihat video amatir peristiwa Tsunami Aceh dahulu. Yang menyebalkan, beberapa hari setelah kejadian, lokasi bencana di Situ Gintung banyak didatangi orang, hal ini menyebabkan tim relawan dan keluarga korban jengah dan geram, karena bukannya membantu, para “wisatawan” dadakan itu justru menghambat proses evakuasi dan mengambil gambar-gambar yang katanya akan diupload di Facebook (sumber). Begitu pun dengan lokasi bencana Lumpur Lapindo Sidoarjo di Porong. Setiap mudik atau ke luar kota, saya pasti  melewati jalan raya Porong – Sidoarjo, dari jalan tersebut saya bisa melihat langsung tanggul yang senantiasa ditinggikan untuk mencegah luberan lumpur ke jalan raya yang langsung bersisian dengan lokasi. Pernah suatu ketika, ketika saya pulang dari Surabaya pada siang yang terik membara, hehe. Saya melihat sekelompok orang berpayung menaiki tangga tanggul yang dibangun dari pasir dan tanah, saya kira mereka para pekerja yang bertugas meninggikan tanggul, tapi melihat high heels dan baju mentereng mereka, saya jadi tahu mereka itu “turis” dalam negeri yang ingin melihat langsung semburan lumpur Lapindo. Padahal setahu saya, dan kalau tidak salah di sana memang dipasang peringatan, agar para “penonton” tidak berlama-lama berada di sana, karena tanggul buatan tersebut cenderung rapuh. Jadi kalau bisa, tanggul tersebut tidak untuk dilewati. Saya jadi heran, kenapa hal yang menjadi sumber kesedihan orang, menjadi bahan tontonan dan hiburan bagi orang lain? Dimana letak rasa empati mereka, kita, saya?

Soal ini saya pernah mengalami sendiri. Beberapa bulan lalu saya pernah terlibat dalam sebuah kecelakaan mobil di mana korbannya adalah Ibu-Ibu setengah baya. Dalam keadaan kalut dan galau, saya berusaha menolong Ibu tersebut bersama Ibu saya dan seorang Ibu-Ibu lain yang mau berbaik hati menolong. Di tengah rasa panik, perasaan saya makin tidak karuan ketika melihat di sekeliling saya orang-orang terutama Bapak-Bapak hanya bisa melihat dan meneriaki kami, tidak ada seorang pun yang menolong kami bertiga, padahal darah ibu itu tidak berhenti mengalir. Saya bahkan sempat marah dan emosi, ketika seorang perempuan muda hanya bisa berteriak dan menangis tanpa bisa berbuat apa-apa, saya kesal karena hal tersebut hanya akan menimbulkan kepanikan. Waktu itu saya langsung melotot ke perempuan muda itu, karena untuk meneriakinya pun saya nggak mampu. Akhirnya, setelah beberapa mobil yang lewat hanya berlalu saja tanpa mau berhenti menolong kami, datanglah Kakek-Kakek pengendara becak motor yang menolong kami dan membantu saya membawa Ibu tersebut ke rumah sakit terdekat. Perasaaan saya saat itu sama geramnya dengan para korban bencana Situ Gintung ketika melihat orang-orang hanya mengunjungi lokasi bencana tanpa sedikitpun berkontribusi bahakan cenderung menghambat. Kalau hati terdiri atas daging dan darah, saya rasa hati orang-orang tersebut terdiri dari batu dan kerikil. Keras.

Dalam ilmu psikologi, hal ini dikenal dengan istilah desensitisasi (desensitization) atau hilangnya sensitivitas moral-emosional ketika melihat problem sosial, dalam hal ini bencana, musibah dan kecelakaan. Hilangnya sensitivitas kemanusiaan ini muncul dan kian menguat ketika masyarakat terbiasa dihadapkan perilaku menyimpang dan peristiwa kekerasan sehingga terjadi kekebalan dalam perasaannya. Mereka tidak lagi peka melihat penyimpangan dan penderitaan (emotionally and morally insensitive) (sumber).

Saya sih awam soal psikologi. Jadi hal yang saya sebutkan di atas, sama sekali nggak  saya mengerti. Saya pribadi memang cenderung melankolis, saya cepat terharu dan emosional setiap ada teman atau kawan yang bercerita tentang masalahnya. Jangankan begitu, lihat adegan Nobita yang hampir mati di salah satu film Doraemon pun saya menangis. Jadi, saya benar-benar tidak habis pikir bagaimana perasaan orang bisa sekaku itu ketika melihat musibah di hadapannya. Tapi kalau dipikir-pikir, perilaku menyimpang kebanyakan masyarakat kita ini mungkin akibat peristiwa yang banyak terjadi di antara kita juga. Seringkali kita menemukan, orang-orang di luar sana yang senantiasa mengatasnamakan bencana alam untuk menggalang dana besar-besaran, padahal dana tersebut justru tidak digunakan sebagaimana mestinya. Ada juga soal kisah TKW bernama Darsem yang menjadi terpidana mati dan terancam dihukum pancung, setelah selamat dari hukuman tersebut dan kembali ke Indonesia, salah satu TV swasta berhasil mengumpulkan sumbangan untuk Darsem sebesar 1,2 M. Setelah itu muncul berita bahwa Darsem justru berfoya-foya dengan uang sumbangan yang didapatnya, padahal sebelumnya dia pernah berjanji akan menggunakan uang tersebut untuk hal yang bermanfaat. Nah, peristiwa semacam ini nih, yang menjadi sebab hilangnya rasa empati masyarakat kita. Niat baik sebagian orang, disalah gunakan sebagian yang lainnya, akibatnya, rasa kemanusiaan dalam diri manusia pun terkikis dan terjadi kekebalan empati pada perasaannya.

Dan, hal ini nggak boleh kita lestarikan. Bagaimanapun kita, manusia, diciptakan sebagai mahluk sosial, di mana hubungan sosial dengan manusia lainnya memiliki peranan penting. Jangan sampai hilangnya rasa empati dari diri kita, menjadikan kita manusia anti sosial, yang betah hidup sebagai penonton, tanpa mau berbuat sesuatu ketika melihat kemalangan di depannya. Saya pribadi percaya, apa yang kita tanam, hasilnya pun kita sendiri yang merasakan. Jika kita menanam kebaikan, suatu saat nanti, tidak menutup kemungkinan, kita juga akan menerima kebaikan dari orang lain. Jadi, apa kita mau jadi Yue Yue, si gadis cilik asal Cina yang tertabrak truk di jalanan yang ramai, tapi tidak ada seorang pun yang mau menolongnya?

Tulisan ini disponsori oleh event:

novemberngeblog

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s