#Day 03 : Kritik yang Membantai

Siapa yang suka dikritik?

Saya tidak. Buat saya, kritik, apapun bentuknya, ujung-ujungnya hanya meninggalkan luka di hati orang yang mendengarnya. Saya nggak mau munafik, sepositif apapun saya berfikir, ketika dikritik pasti ada sedikit saja bagian dari otak saya yang menolak dan tersakiti oleh kritikan tersebut. Kritik memang kadang membantu kita untuk mengetahui di mana letak kekurangan kita, tapi kritik juga bisa membuat kita menemukan kekurangan kita yang lainnya. Kalau orang lain, mungkin akan berusaha memperbaiki kekurangannya. Kalau saya, hal tersebut malah akan menjerumuskan saya pada fikiran-fikiran negatif yang justru mengecilkan harga diri saya dan membuat saya merasa tidak dihargai.

Pernah dengar istilah kritik yang membangun? Untuk saya istilah itu utopia, nggak nyata, karena pada dasarnya kritik adalah pendapat seseorang yang menunjukkan kekurangan kita pada suatu hal. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kritik adalah:

 1 n kecaman atau tanggapankadangkadang disertai uraian dan pertimbangan baik buruk thd suatu hasil karyapendapat, dsb ;

Dari definisi di atas saja kita bisa melihat, bahwa kritik adalah sebuah kecaman atau tnggapan. Dan kecaman, seperti yang kita tahu, adalah kata yang berkonotasi negatif. Jadi, benar nggak sih, ada sebuah kritik yang membangun? Atau, justru kritik adalah sebuah hal yang bisa membantai diri kita?

Kalau boleh, saya ingin berbagi kisah tentang kritik yang membantai dari sini,

Singkatnya, ada seorang biduanita asal Eropa yang menikah dengan seorang pemusik sekaligus penulis lagu. Setiap sang istri bernyanyi, si suami yang memang seorang yang ahli dalam musik senantiasa mengkritik biduanita tersebut dan menunjukkan kekurangannya. Akibatnya, sang istri pun menjadi minder dan enggan lagi untuk bernyanyi. Suatu ketika, karena suatu hal sang suami yang seorang pemusik itu meninggal. Sang biduanita pun menikah lagi dengan seorang tukang ledeng. Si tukang ledeng bukanlah seorang yang mengerti soal musik, sehingga setiap istrinya bernyayi, sang tukang ledeng tersebut akan selalu memujinya. Yang ia tahu, suara istrinya indah, dan ia senang sekali mendengar istrinya bernyanyi. Karena tanggapan positif dan pujian dari suaminya, si biduanita pun kembali bernyanyi dan memperoleh kembali kepercayaan dirinya.

Dari kisah di atas, kita bisa mendapatkan pelajaran. Bahwa kritik hanya akan menyisakan luka bagi yang mendengarnya. Meskipun kritik tersebut bermaksud baik, tapi kita nggak pernah tahu seberapa besar hati seseorang untuk menerima sebuah kritikan. Untuk sebagian orang, kritik bisa saja menjadi sebuah motivator yang justru memacu mereka untuk menjadi lebih baik lagi, tapi bagi sebagian orang lain, kritik bisa saja justru membunuh kepercayaan diri seseorang dan semakin menenggelamkan mereka ke dalam jurang kegagalan, seperti kisah biduanita di atas.

Menurut Dale Carnegie, dalam bukunya yang berjudul “How to Win Friends and Influence People.” Kritik hanyalah sebuah hal sia-sia, karena hal tersebut menempatkan seseorang yang menerima kritikan dalam posisi defensif dan mempertahankan dirinya. Kritik juga cenderung berbahaya, karena melukai rasa kebanggaan seseorang, melukai perasaan pentingnya dan membangkitkan rasa benci dalam diri seseorang. Seperti sebuah bumerang, kritik yang dilemparkan begitu saja tanpa peduli perasaan orang lain, akan berbalik ke pelemparnya dan bisa saja melukai si pelempar. Lalu bagaimana cara terbaik untuk memberi sebuah kritikan yang membangun, bukan membantai?

Kalau saya menyebutnya bukan kritik yang membangun. Tapi saran. Iya, saran adalah cara terbaik untuk “memperbaiki” seseorang agar menjadi lebih baik lagi. Seperti pendapat seorang psikolog terkenal bernama B. F. Skinner yang telah membuktikan melalui pengalaman pribadinya bahwa bahwa seekor binatang yang diberi hadiah karena tingkah laku baik, akan belajar jauh lebih cepat dan menyimpan apa yang dipelajarinya dengan jauh lebih efektif, dibandingkan dengan seekor binatang yang dihukum karena bertingkah laku buruk. Sama seperti manusia, sebuah saran yang disampaikan dengan baik, akan lebih mengena ke hati pendengarnya, daripada sebuah kritikan tajam yang justru hanya mampu menyakiti dan meninggalkan luka di hati pendengarnya.

Menurut pengalaman saya pribadi sebagai seorang guru TK yang sedang berusaha dan belajar dalam hal mendidik anak-anak nih, hehe, kritikan dan hukuman justru akan membuat seorang anak menjadi rendah diri. Jujur, hal itu pernah saya lakukan pada murid saya karena kekhilafan yang sampai sekarang saya sesali. Waktu itu, salah seorang murid saya moodnya lagi jelek, dan ia jadi enggan untuk melakukan kegiatan mewarna di kelas, akibatnya, ia hanya bisa mencoretkan krayon hitam di atas gambar yang saya berikan padanya. Mungkin karena pengaruh hawa yang panas, saya yang melihat hal tersebut naik darah, saya marahi dia sambil berkata, “Apa ini? jelek itu? Anak Bunda nggak ada yang seperti ini, anak Bunda mewarnanya selalu bagus semua!” (Fyi, di tempat saya mengajar guru disebut Bunda). Hasilnya, murid saya tersebut makin murung dan nggak bernafsu makan ketika jam makan bersama tiba. Saya jadi nggak enak hati, setelah itu saya minta maaf dan memberitahu dia bagaimana seharusnya mewarnai gambar tersebut, dengan cara yang lebih halus tentunya. Lain waktu saya pernah juga menemukan hal yang sama, bedanya, mood saya lagi bagus waktu itu. Jadi ada seorang anak yang enggan menirukan sebuah bentuk yang saya buat di buku tulisnya, ketika hampir semua temannya sudah menyelesaikan tugas mereka, si anak tersebut malah melamun. Saya datangi mejanya, saya beri dia motivasi dengan berkata, “Sudah selesai sayang nulisnya? Bunda lihat, bagusnya… Sebentar lagi selesai ya? Bunda tunggu ya…” Hasilnya? 5 menit kemudian tugas anak tersebut selesai, walaupun selama menulis saya terus berada di sampingnya sambil memuji setiap dia menggoreskan pensilnya, hehe.

Terus, apakah kritik itu buruk?

Tidak juga. Kritik, semenyakitkan apapun itu, adalah sebuah hal yang sudah pasti akan kita terima dimanapun kita berada. Dan untuk menyebut kritik adalah sebuah hal yang buruk, saya nggak berani. Kembali lagi, karena manusia bukan hanya diciptakan untuk berlogika, tapi juga beremosi, yang dapat menimbulkan prasangka, kesombongan, dan kebanggaan yang enggan diusik oleh orang lain. Sehingga, mungkin, di luar sana ada manusia yang memang dilahirkan untuk menjadi kritikus, yang membanggakan dirinya, dan memandang orang lain “berbeda” dengan dirinya, sehingga ia senantiasa melontarkan kritik. Lalu, ketika menghadapi orang seperti itu apa yang haru kita lakukan?

Dari artikel di sini, saya menemukan jawabannya. Berikut adalah 7 langkah penting dalam menghadapi kritikan, yaitu:

1. Mengerti Melalui Pengalaman

Jangan mengkritik apa yang tak kau pahami. Kau tidak akan pernah berada pada posisi orang itu.
– Elvis Presley –

2. Ingatlah Siapa yang Akhirnya Memperoleh Manfaat

Bukanlah kritik yang anda berikan untuk diperhitungkan; bukan orang yang menjatuhkan seseorang yang kuat atau seseorang yang hanya berniat untuk melakukan yang lebih baik namun tidak melakukannya. Manfaat dari kritik akan diterima oleh orang yang sedang berada di arena; yang wajahnya dipenuhi oleh debu, keringat, dan darah, yang berjuang, yang melakukan kesalahan dan gagal berulang kali; karena tidak ada usaha tanpa adanya kegagalan dan kesalahan. Namun manfaat terbesar diterima oleh seseorang yang meraih keberhasilan; seseorang yang memiliki antusiasme, dedikasi, seseorang yang menghabiskan waktu melakukan sesuatu yang berharga; seseorang yang mengetahui bahwa pada akhirnya ia akan memperoleh kemenangan. Dan kalaupun ia gagal, setidaknya ia gagal setelah berusaha dengan sangat keras. Sehingga tempat ia berada bukanlah bersama dengan orang-orang yang negatif dan penakut yang tidak pernah mengenal apa arti kemenangan atau kekalahan.
– Theodore Roosevelt –

3. Fokuslah Pada Hal-Hal Yang Membantu Anda

Seorang artis tidak memiliki waktu untuk mendengarkan kritik. Seseorang yang ingin menjadi penulis membaca ulasan, sementara seseorang yang ingin menulis tidak memiliki waktu untuk membaca ulasan.
– William Faulkner –

4. Jangan Terima Kritik

“Seorang pria menyela kuliah yang diberikan Buddha dengan sejumlah makian. Buddha menunggu sampai pria tersebut selesai lalu bertanya, “Jika seorang menawarkan sebuah hadiah namun hadiah tersebut ditolak; siapa yang menjadi pemilik hadiah tersebut?”

“Milik orang yang menawarkan hadiah tersebut,” kata sang pria.

”Nah,” kata sang Buddha, “Saya menolak makian serta permintaan anda.”

5. Siapa Yang Sedang Anda Bicarakan?

Ketika kita menghakimi atau mengkritik orang lain, kritik tersebut tidak tertuju pada orang yang anda kritik; kritik tersebut mengatakan sesuatu tentang kebutuhan pribadi kita untuk menjadi kritis.
– Anonim –

6. Ada Pilihan Yang Lebih Baik

Saya belum menemukan seorang pun, terlepas dari apapun kedudukannya, yang tidak bekerja dengan lebih baik bahkan memberikan segenap kemampuannya jika ia mendapatkan pengakuan dibandingkan dengan jika ia bekerja dibawah kritik.
– Charles Schwab –

7. Terimalah Fakta Bahwa Kritik Akan Selalu Ada

Kritik bukanlah sesuatu yang bisa kita hindari dengan mudah dengan tidak mengatakan sesuatu, dan tidak menjadi diri anda sendiri.
– Aristoteles –

Jadi, sudah siapkah kita menghadapi kritik, yang membantai? Kalau saya? Belum, hehe. Tolong, kasih saya saran saja ya. Terima kasih… 🙂

Tulisan ini dipersembahkan oleh event :

novemberngeblog

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s