#NovemberNgeblog The Closing

Alhamdulillah, akhirnya kita sampai pada akhir Bulan November juga. Ini artinya event #NovemberNgeblog berakhir pula. Meskipun yah, event ini tidak bisa dikatakan sepenuhnya sukses, karena saya tidak posting apapun pada #Day 25 dan #Day 28, hal yang sangat amat saya sesali sebenarnya, karena saya nggak bisa komitmen sama janji pada diri saya sendiri. Harus saya akui, ngeblog setiap hari itu tidak mudah. Salut deh sama teman-teman blogger yang berkomitmen untuk rutin ngeblog setiap hari, Bravo… 🙂

Selama 30 hari ke belakang, banyak hal yang saya dapat dan pelajari dari #NovemberNgeblog ini,

1.) Manajemen waktu saya lebih baik. Selama 30 hari ke belakang saya benar-benar memaksakan diri untuk mengatur setiap detik yang saya miliki. Di tengah kewajiban-kewajiban saya di dunia nyata, saya juga harus menyempatkan diri untuk ngeblog di sela-sela waktu saya. Hal ini yang membuat hampir tidak ada waktu yang saya lewatkan dengan sia-sia. Kembali lagi, meskipun saya kalah telak sama waktu di hari ke 25 dan 28, hehe. Tapi saya tetap bangga sama diri saya sendiri yang sudah mampu mengatur waktu sedemikian rupa sehingga saya bisa menghabiskan setiap waktu yang saya miliki dengan hal-hal yang bermanfaat. Tepuk tangan untuk saya yang dulunya payah dalam manajemen waktu… 😀 *narsis*

2.) Ingatan saya lebih tajam. Untuk posting sesuatu, saya tidak hanya mengandalkan sumber bacaan dari luar, tapi juga ingatan dan pengetahuan saya pribadi. Nah, #NovemberNgeblog ini membuat saya sering mengasah otak dan ingatan untuk memperkaya isi tulisan saya.

3.) Saya jadi penasaran sama banyak hal. Dalam dunia nyata dan dunia maya yang kita huni ini, banyak hal yang belum kita ketahui dan pelajari. Berkat ngeblog selama 30 hari berturut-turut, ehm, 28 hari berturut-turut lebih tepatnya, saya jadi penasaran sama banyak hal yang membuat saya baca sana-sini dan browsing kesana kemari untuk memenuhi rasa penasaran saya dan bahan tulisan saya. Dan hal ini benar-benar memperkaya pengetahuan saya yang tadinya cuma sekelingking, sekarang jadi setelapak tangan, hehe 😀

4.) Saya jadi tahu ide itu bukan ditunggu datangnya tapi dijemput atau bahkan diculik. Dulu, kalau ingin menulis sesuatu saya selalu menunggu mood dan ide. Tapi karena dalam #NovemberNgeblog saya mewajibkan diri saya sendiri untuk selalu ngeblog, saya jadi sering menjemput dan menculik ide dimanapun dia berada. Ternyata mungkin loh, jadi mulai sekarang nggak ada deh ceritanya nggak ada ide atau nggak mood nulis. Oke vani! 🙂

5.) Terakhir. Saya makin cinta dengan dunia menulis dan ngeblog. Dari dulu hobi saya menulis, tapi dulu, saya selalu nggak pede dengan tulisan saya sendiri. Meskipun saat ini tulisan saya masih jauh dari sempurna. Tapi saya seneng, karena ternyata ada yang mau membaca tulisan-tulisan saya di blog ini. Ini yang membuat saya termotivasi untuk menulis dengan lebih baik lagi dan semakin rajin ngeblog. Harapan saya, suatu saat nanti saya akan jadi penulis dan blogger yang tulisan-tulisannya memberi indpirasi dan manfaat bagi banyak orang. Semoga saya bisa, aamiin.

Meskipun event ini proyek pribadi saya. Tapi secara langsung maupun tidak langsung banyak pihak yang mendukung keberlangsungan #NovemberNgeblog ini. Terimakasih yang pertama untuk adik saya yang rela berbagi internet dan mau mengalah ngenet di kampus agar tugas-tugas onlinenya bisa tetap ia kerjakan dan saya bisa tetap ngeblog, matur tenkyu yo le 🙂 . Yang kedua untuk Mbah Google, para Blogger, dan folder-folder jaman kuliah saya yang sudi membagi artikel, pengetahuan, dan menjadi salah satu sumber ide dan inspirasi tulisan-tulisan saya, terima kasih. Yang ketiga, untuk komunitas-komunitas blogger yang bersedia memberikan tempat untuk saya mempromosikan blog saya, untuk Warung Blogger, BlogCamp, dan Blogger Indonesia. Terima kasih, semoga makin jaya. Terakhir, untuk teman-teman pengunjung blog ini, yang sudi meninggalkan komentar, jejak, atau sekedar berkunjung. Terimakasih, karena berkat kunjungan Anda semua, saya makin termotivasi untuk lebih sering ngeblog dan nulis ke depannya. Semoga Allah membalas dengan pahala dan rizki yang melimpah, aamiin.. 🙂

I write to give myself strength. I write to be the characters that I am not. I write to explore all the things I’m afraid of.
– Joss Whedon –

Tulisan ini disponsori event :
novemberngeblog

Advertisements

#Day 29 : Laron

Jangan ditanya kemana #Day 28, jawaban saya sama dengan penjelasan saya di sini, hehe. Mari kita move on.. 😀

 

Sudah seminggu belakangan, setiap jam 2 siang ke atas, daerah tempat tinggal saya selalu diguyur hujan, Karena hujan sudah mulai rutin itulah akhirnya saya memutuskan memperbaiki jas hujan saya yang robek, karena sampai detik ini saya masih malas untuk membeli jas hujan baru, hehe. Nah, karena hujan yang berturut-turut inilah populasi laron di tempat tinggal saya meningkat. Laron atau yang dikenal dengan anai-anai dalam Bahasa Indonesia, memang dikenal selalu muncul saat pergantian musim datang, biasanya laron akan muncul di awal musim hujan. Laron yang keluar di awal musim hujan ini merupakan salah satu siklus hidup dari rayap yaitu serangga dari ordo Orthoptera, dan laron yang kita kenal merupakan fase dewasa dari kasta reproduktif si rayap ini. Rayap biasanya tinggal di dalam tanah dan hidup dari memakan kayu-kayu kering atau kayu yang sudah mati untuk menjaga keseimbangan ekosistem. Tapi bagi manusia, rayap dikenal sebagai hama yang merugikan karena sering memakan kayu-kayu yang menjadi bahan bangunan atau perabot rumah tangga lainnya. Di rumah saya sendiri, sudah berkali-kali kusen pintu, jendela, dan rangka atap yang terbuat dari kayu direnovasi. Penyebab utamanya adalah rayap dan keluarganya yang kebetulan bertempat tinggal di bawah tanah rumah saya. Laron biasanya keluar pada waktu senja atau malam hari. Kebiasaan laron adalah berkerumun dan berterbangan di sekitar lampu atau benda yang mengeluarkan cahaya yang terang. Kebiasaan buruk laron inilah yang membuat rumah saya berubah menjadi perternakan laron setiap musim hujan. Bukan hanya itu, bangkainya yang bertebaran di teras rumah menarik perhatian koloni lainnya, yaitu semut sekeluarga yang dari dulu keberadaannya di rumah ini sudah sangat saya tentang.

Munculnya laron setiap awal musim hujan ini jelas sangat amat mengganggu, bahkan saat menulis ini, saya menulis dalam kegelapan karena kalau lampu di atas kepala saya dinyalakan, akan ada ribuan laron yang berusaha mengrumuninya. Apa ya yang menyebabkan laron begitu menyukai cahaya lampu? Apa karena laron dulunya adalah seekor rayap yang sejak lahir hidup di dalam tanah, begitu tumbuh dan memiliki sayap dia haus akan cahaya sehingga sangat amat tertarik dengan terangnya lampu di rumah-rumah manusia?

Barusan adik saya nyeletuk waktu saya mengajukan pertanyaan ini ke dia.
” Iya mbak ya, kenapa mereka nggak tertarik dengan cahaya bulan yang lebih terang daripada cahaya lampu rumah kita?” Saya pun menjawab tanpa berfikir,
“Laron tahu diri Fik, mereka tahu mereka nggak mungkin sampai ke bulan. Nggak kayak kita manusia nggak tahu diri, yang mimpinya ketinggian sampai bulan.”
Iya, jawaban saya memang cenderung skeptis untuk menjawab rasa penasaran adik saya. Salah dia juga kenapa tanya-tanya waktu orang lagi ngeblog sambil kibas kanan kiri supaya tidak ada laron yang mendekat ke layar laptop, hehe. *ngeles*

Penyebab kenapa laron begitu menyukai cahaya dan mengerumuninya ternyata memiliki penjelasan ilmiah. Seperti yang sudah saya sebutkan di atas, laron merupakan fase dewasa dari kasta reproduktif rayap. Begitu siap dan memiliki sayap, rayap yang sudah berubah menjadi laron ini akan keluar dari tanah dan mencari cahaya yang terang. Tujuan mereka mencari cahaya yang terang adalah untuk menarik dan menemukan jodoh, karena itu momen ini juga dikenal sebagai pesta cari jodoh. Pada saat mengerubungi cahaya, laron akan bertemu dengan puluhan bahkan ratusan laron lainnya. Di sana mereka akan saling menarik perhatian lawan jenisnya. Begitu mendapatkan jodoh, laron akan melepaskan sayapnya dan menjadi rayap kembali. Setelah itu mereka akan turun ke tanah dan memulai masa bulan madu mereka di dalam tanah untuk selanjutnya bereproduksi dan menciptakan koloni rayap yang baru. Bagi yang kurang beruntung, mereka akan mati dimangsa predator-predator mereka seperti cicak, katak, dan kadal. Yang lain, yang bertahan hidup dari predator-predator tersebut, akan mati dengan sendirinya setelah mereka melepas sayap-sayap mereka sendiri saat fajar menyingsing. Umur laron memang pendek, hanya berkisar sekitar satu hari saja, jika mereka mendapatkan pasangan, umur mereka akan lebih panjang lagi.

Banyak yang bilang hidup itu harus seperti laron. Dalam hidupnya laron hanya memiliki satu misi, menemukan cahaya. Begitu mereka mendapatkan sayapnya, mereka akan berbondong-bondong berterbangan mencari cahaya. Karena itulah laron selalu terbang saat malam hari, karena pada saat itu mereka bisa membedakan mana gelap dan mana terang. Sedangkan saat siang hari semuanya tampak terang sehingga mereka tidak dapat menemukan dan membedakan sumber cahaya. Saat terbang, laron tahu berbagai macam resiko yang akan mereka hadapi. Sayap mereka yang rapuh hanya bisa menerbangkan mereka tapi tidak bisa menghindarkan mereka dari para predator. Meskipun begitu, laron tidak patah arang untuk mencapai tujuan seumur hidup mereka, yaitu mencari cahaya lampu.

Salah satu tokoh sufi terkenal, Fariduddin Attar, pernah berkisah. Pada suatu malam, sekelompok laron berkumpul bersama. Mereka bercerita tentang kerinduan yang menyiksa; keinginan untuk bergabung dengan cahaya sebuah lilin. Semua berkata, “Kita harus temukan seekor laron yang dapat menceritakan lilin yang amat kita dambakan itu.” Salah seekor laron lalu pergi ke sebuah puri dan melihat seberkas cahaya lilin di dalamnya. Ia kembali dan bercerita tentang apa yang ia telah lihat. Tapi seekor laron yang bijak, pemimpin kelompok itu, hanya berkata, “Ia tak punya berita yang sesungguhnya tentang lilin itu.” Seekor laron yang lain pergi menuju puri itu dan terbang mendekati cahaya lilin, bergerak ke arahnya, dan menyentuh sedikit nyala api dengan sayapnya. Setelah itu, ia kembali ke kelompoknya dan menjelaskan tentang penyatuan dirinya dengan lilin itu. Tapi si laron bijak lalu berkata lagi, “Penjelasanmu tak lebih berarti dari penjelasan laron sebelum kamu.” Laron ketiga bangkit, dan melemparkan dirinya ke arah nyala lilin. Ia mendorong dirinya ke depan lilin dan mengarahkan sungutnya kepada api. Begitu seluruh tubuhnya dilalap api, tubuhnya menjadi merah menyala seperti api itu sendiri. Si laron bijak memandang dari kejauhan dan melihat bahwa lilin itu telah menerima seekor laron tadi sebagai bagian dari dirinya dan memberikan kepada laron itu cahayanya. Si laron bijak berkata, “Seekor laron itu telah mengetahui apa yang ia capai. Sesuatu yang takkan diketahui laron-laron lainnya.” Fariduddin Attar menutup kisah ini dengan berkata,

Sebenarnya, hanya orang yang telah meninggalkan pengetahuan akan keberadaan dirinya, yang dapat memiliki pengetahuan akan eksistensi Sang Tercinta. Selama kau masih memperdulikan jiwa dan ragamu, bagaimana kau mampu mengenal Dia yang kau cinta?

Saya pribadi mengagumi kehidupan laron yang menurut saya luar biasa. Dengan umurnya yang pendek, laron tetap berusaha mencari cahaya tanpa keraguan sedikitpun, ia juga rela menghadapi berbagai macam resiko demi mencapai impian seumur hidupnya itu. Tapi, kita manusia bukan laron. Dalam hidup, kita harus memiliki banyak tujuan dan mimpi agar umur yang dianugerahkan Allah secara cuma-cuma pada kita ini tidak kita habiskan dengan sia-sia. Sebelum benar-benar meninggalkan dunia ini, kita juga harus mewariskan banyak hal yang bermanfaat untuk orang-orang yang kita tinggalkan. Tidak seperti laron yang hanya mampu meninggalkan sayapnya yang rapuh yang justru dianggap sampah bagi manusia. Tapi, dalam hal keteguhan dan keuletan dalam mencapai tujuan hidup. Kita harus berkaca pada laron, dengan sayap rapuhnya, ia tetap berusaha mencari sumber cahaya, meskipun ia tahu akan ada banyak hal yang menghadang ia untuk mencapai keinginannya.

Tulisan ini disponsori event :
novemberngeblog

 

 

 

#Day 27 : If You Really Knew Me

Friendship with oneself is all important, because without it one cannot be friends with anyone else in the world.
– Eleanor Roosevelt –

Dulu, saya ini tipe orang yang mudah sakit hati dengan komentar orang lain tentang saya. Anehnya, saya nggak pernah mengungkapkan rasa ketidak sukaan saya itu, saya cuma bisa senyam-senyum ketika orang mencela saya, entah itu yang benar-benar mencela atau sekedar bercanda. Tapi setelah itu, celaan tersebut akan benar-benar mempengaruhi saya yang membuat saya depresi diam-diam, saya sebut depresi diam-diam karena rasa tertekan itu muncul lewat jerawat dan tingkah laku saya ke keluarga saya. Iya, daripada marah-marah di luar atau langsung kepada orang yang mencela saya, saya lebih suka menumpahkan kekesalan saya ke keluarga terutama adik-adik saya (Maafin mbak ya nduk, le…). Suatu hari, saya pernah melihat sebuah acara talkshow Korea Selatan yang saya unduh dari internet. Dalam acara tersebut, seorang penyanyi muda Korea yang sedang naik daun kebetulan menjadi narasumber. Ketika para pembawa acara bertanya apakah ia tidak terpengaruh dan tersinggung dengan komentar-komentar para netizen Korea yang mencela dia di forum-forum internet karena wajahnya tidak secantik penyanyi-penyanyi lainnya terutama para anggota girl group yang saat itu sedang naik daun. Dengan senyuman lebar dan penuh kebanggaan, dia menjawab,

“Kenapa saya harus tersinggung, saya memang tidak cantik. Tapi saya menarik.”

Saat para pembawa acara kembali bertanya apa yang membuat dia bisa sepositif itu membaca setiap komentar yang mencela dia. Dengan penuh keyakinan penyanyi muda itu menjawab,

“Satu-satunya cara untuk selalu berfikir positif saat kita dicela adalah dengan berdamai dengan diri kita sendiri. Karena saya tidak cantik, kenapa saya harus tersinggung? Saya mempunyai daya tarik lain dari diri saya, yaitu suara saya.”

Penyanyi muda itu bernama Lee Ji Eun, atau dikenal dengan nama panggung IU yang populer lewat single Good Day beberapa tahun silam.

Sejak itu saya jadi berfikir, mungkin selama ini penyebab ketersinggungan saya pada celaan orang-orang adalah karena saya menyadari bahwa saya memiliki kekurangan tersebut, tapi saya tidak mau mengakui kekurangan saya itu, dan tidak suka jika orang lain menunjuk-nunjuk kekurangan saya. Sejak itu juga, saya memutuskan untuk berdamai dengan diri saya sendiri dan mengakui segala kekurangan yang saya miliki. Toh, semua orang juga pasti memiliki kekurangan, namanya manusia, kalau sempurna namanya Barbie, hehe. Karena itulah, pada postingan kali ini, saya mau menuliskan semua kekurangan yang saya miliki. Karena nggak semua orang tahu, bahkan orang terdekat saya pun belum tentu tahu, siapa saya sebenarnya. Postingan ini juga terinspirasi oleh tulisan Cassey Patton, Corey dan Jenni, salah tiga dari blogger-blogger favorit saya.

Selalu berusaha meraih mimpi semungil buah sukun, hehe

Saya dan Buah Sukun :p

Saya itu,

Cemen dan penakut. Takut sama banyak hal, dan beberapa orang, termasuk Ibu saya, hehe.

# Selalu tidur dengan lampu menyala. Kata Ayah saya dulu, “Kalau nggak mau terus takut sama setan. Lampu kamar dimatikan saja waktu tidur, karena waktu gelap kita bisa lihat setan tapi setan nggak bisa lihat kita. Kalau nyala, setan yang bisa lihat kita, tapi kita nggak kelihatan setan, jadi dia bisa nakut-nakutin kita.” Entah darimana Ayah saya dapat teori tersebut, yang jelas sejak itu saya makin takut sama gelap dan tidak pernah mematikan lampu saat tidur, saya lebih milih nggak bisa lihat setan daripada bisa lihat setan walaupun si setan ngak bisa lihat saya saat gelap, *ketok-ketok meja*

# Nggak bisa keluar rumah tanpa kacamata. Sejak kelas 1 SMA saya tahu saya rabun jauh, sejak itu saya dan kacamata-kacamata saya adalah sahabat sejati. Pernah suatu ketika kacamata saya pecah, dan saya harus memperbaikinya saat itu juga, berangkatlah saya ke optik lalu meninggalkan kacamata saya di sana. Bodohnya, saya lupa membawa kacamata cadangan saya. Alhasil, saya harus pulang mengendarai motor tanpa kacamata saya, mana hujan deras pula. Saat itu saya benar-benar menyadari, kalau saya bukan apa-apa tanpa kacamata saya. Dunia saya serasa abu-abu semua, nggak jelas, hiks…

# Suka naik motor keliling kota sendirian kalau lagi stres. Kebiasaan ini sudah jarang saya lakukan lagi karena satu dan lain hal. Dulu, saya sering sekali keliling kota setelah Maghrib kalau saya lagi pusing dan bingung memikirkan kuliah dan hal remeh lainnya. Saya suka melihat kerlip lampu di taman-taman kota, orang-orang yang bersliweran di kanan kiri jalan, dan suka teriak-teriak di jalan besar yang sepi sambil melaju di kecepatan 80 km/jam (jangan ditiru ya adik-adik…). Rasanya lega kalau sudah teriak-teriak begitu, hehe.

# Punya tinggi badan dan berat badan yang nggak seimbang. Ini yang membuat saya kelihatan gemuk dan besar. Bentuk tubuh saya seperti buah pir, dimana bagian atas tubuh saya lebih kecil daripada bagian bawahnya. Semua lemak saya lari ke bagian pinggang ke bawah, sementara pinggang ke atas seolah-olah punya sistem metabolisme yang lebih maju dan modern daripada bagian tubuh lainnya. Ini pertama kalinya saya menyebutkan tinggi dan berat badan saya, jangan kaget ya, tinggi saya 161 cm (kalau timbangnya di puskesmas bisa sampai 163 cm), dan berat saya, ehmm.. 65 kg. Bisa dibayangkan kan betapa tidak proposionalnya saya.

# Paling suka dengan sambal dan bawang goreng. Apapun makanannya rasanya nggak afdol kalau tidak ditambahkan dua hal itu. Kalu tidak ada sambal, biasanya saya akan memetik cabai rawit di belakang rumah, memotongnya kecil-kecil, lalu menaburkannya di atas makanan saya. Setelah itu, setidak enak apapun masakan tersebut, pasti akan sedap kalau sudah diberi sambal dan bawang goreng.

# Suka pura-pura main sinetron. Kalau sedang sendirian di rumah, atau tidak ada siapapun di dekat saya, saya suka berakting seolah-olah saya sedang main sinetron. Misalnya, saat sedang cuci piring saya kadang berakting sebagi menantu yang ditindas mertuanya, bahkan saya pernah sampai meneteskan air mata. Saya juga suka ngobrol sendiri saat sedang naik motor, bahkan pernah ada anak SMP yang mentertawakan saya waktu dia sedang naik angkot yang berhenti di depan motor saya saat jalanan macet, gara-garanya dia melihat saya ngobrol dan ketawa sendirian di tengah jalan. Kalau orang lain lihat, mungkin saya dikira orang tidak waras. Tapi kalau saya pikir-pikir sekarang, kayaknya saya memang tidak waras, hehe.

# Penggemar berat mie ayam dan bakso. Kegemaran saya ini sampai pada kadar, kalau alam, kantong, dan Ibu saya mengizinkan, saya mau sehari 3 kali makan mie ayam dan bakso seumur hidup saya.

# Masih suka baca komik Detektif Conan dan Shanaou Yoshitsune. Kalau dulu alasannya karena saya suka dengan ceritanya. Sekarang alasannya lebih karena saya penasaran sama akhir cerita dua komik tersebut, terutama Conan. Yang dari saya SD sampai seumur ini tetap jadi anak kecil terus, nggak selesai-selesai masalahnya.

# Suka nonton Running Man sejak 2 tahun lalu. Saya suka sekali sama acara reality dari Korea Selatan ini. Karena konsepnya jarang saya lihat di TV-TV Indonesia. Tapi, sekarang katanya sudah ada salah satu stasiun televisi Indonesia yang membuat acara serupa. Bagaimanapun, seruan  yang asli, hehe.

# Lagi senang mewarnai gambar. Beberapa hari lalu saya baru membeli krayon isi 18 yang biasa dipakai anak TK, biarpun nggak selengkap yang dipakai murid-murid saya tapi variasi warnanya lumayan banyak. Kegemaran baru saya ini muncul karena rasa iri saya waktu lihat anak-anak mewarna, saya nyesel, kenapa waktu kecil dulu hobi saya main layangan bukan mewarna. 😀

# Suka melihat segala jenis film. Mungkin saya salah satu penyebab kenapa pembajakan film merajalela di dunia ini. Saya hobi mengunduh film-film dari internet. Dan saya nggak terlalu peduli apa jenis filmnya, siapa pemainnya, atau siapa sutradaranya. Saya suka acak kalau mengunduh. Sehingga saya baru tahu bagus tidaknya film sebuah film, ketika saya selesai menontonnya, kalau nggak bagus biasanya saya malas meneruskan sampai akhir. Prosesnya menyenangkan, semacam iseng-iseng berhadiah gitu.

# Ingin bisa main biola, piano klasik atau cello. Minimal bisa melihat ketiga alat musik itu dari dekat. *udik alert*

# Tidak terlalu suka bola, tapi kalau nggak sengaja nonton bola bisa lebih heboh dari penggemar bola.

# Mempunyai tingkat kesabaran level 0. Teman-teman saya yang mengenal saya di dunia nyata pasti bilang saya bohong kalau saya mengatakan saya bukan orang sabar. Mereka nggak tahu saja kalau saya lagi sebal sama mereka saya teriak-teriak di tengah jalan, hehe. saya paling benci disuruh menunggu, disuruh diam mendengarkan mereka curhat hal nggak penting, disuruh nurut waktu mereka suruh saya diam, dimarahi waktu nagih hutang padahal yang punya hutang siapa yang dihutangi siapa, diklakson tanpa sebab di jalan, disalip kendaraan yang pengendaranya nggak pintar menghitung jarak, dan banyak hal lainnya.

# Saya gampang ge-er. Karena itu saya nggak suka orang-orang yang gampang memuji, buat saya pujian bukannya memotivasi malah melemahkan saya. Kalau saya ge-er, saya sering salah tingkah sendiri di hadapan orang tersebut. Padahal orang tersebut juga nggak sebegitu pedulinya sama keberadaan saya, jadi salah tingkah saya itu sebuah kerugian besar. 😀

# Selalu pakai jam tangan. Sampai-sampai kulit tangan saya yang tertutup jam tangan berbeda jauh warnanya dengan bagian yang lain. Kalau jam saya rusak, saya suka pakai gelang, supaya belang di tangan saya itu tertutup.

# Hobi membeli aksesoris. Saya paling suka lihat-lihat dan belanja aksesoris kalau lagi jalan-jalan di pusat perbelanjaan. Karena itu barang yang paling murah, hanya Rp. 10.000 bisa dapat 3 jenis aksesoris seperti gelang, cincin, atau bross. Tapi karena saya orangnya simpel dan malas macam-macam, nasib aksesoris tersebut berakhir di kotak penyimpanan saja karena jarang saya pakai.

# Mudah hafal dan melupakan surat-surat pendek di Al Quran. Saya ingin sebelum mati, paling tidak saya sudah hafal juz 30. Mungkin karena banyak dosa, dan jarang mengamalkannya, saya gampang lupa sama hafalan saya. Semoga saya masih punya banyak kesempatan lagi. Aamiin…

Sepertinya itu saja hal-hal yang bisa saya ceritakan tentang siapa saya sebenarnya. Walaupun, sebenarnya ada beberapa hal lagi, tapi biarlah hal tersebut hanya saya dan Allah yang tahu. Ternyata menyenangkan juga bisa menulis tentang diri kita sendiri sambil mengingat-ingat siapa kita sebenarnya. Berdamai sama diri sendiri ternyata bisa jadi terapi terbaik untuk menerima segala kekurangan yang kita miliki.

Jadi, boleh saya tahu siapa kalian sebenarnya? 🙂

 

 

Tulisan ini disponsori event :
novemberngeblog