Mental Bacem

Don’t give in to your fears, if you do, you won’t be able to talk to your heart.

Paulo Coelho – The Alchemist

Sejak kecil saya dikenal sebagai penakut ulung. Iya, saya terlahir sebagai orang tercemen sedunia. Menurut cerita Ibu saya, waktu kecil saya mudah takut pada banyak hal. Waktu balita saya pernah takut pada banci. Setiap melihat banci saya selalu menangis dan menjerit, karena hal ini Ibu saya sempat nggak berani pakai lipstick selama beberapa tahun, sebab lihat orang pakai lipstick saja saya sudah menangis. Saya juga pernah takut pada badut, tidak hanya pada badut berwajah putih dan berhidung merah saja, tapi semua jenis badut. Padahal seharusnya anak seumur saya waktu itu justru senang kalau melihat badut, saya sebaliknya, saya bisa lari menangis ketakutan kalau ada orang yang memakai kostum badut. Konyol memang, tapi mau gimana lagi, namanya takut. Untungnya, seiring bertambahnya umur, ketakutan saya pada banci dan badut mulai hilang. Tapi sebagai gantinya, saya jadi ketakutan dengan hal-hal nggak penting lainnya, seperti takut kucing, takut gelap, takut hantu, takut ketemu banyak orang, takut berbicara di depan banyak orang, dan banyak lagi. Yah, begitulah saya… *menghela nafas panjang*

Menurut ilmu Psikologi, ketakutan muncul karena adanya satu pemicu atau peristiwa yang menimbulkan trauma pada diri kita. Sehingga, jika kita bersinggungan dengan hal tersebut kita akan mengalami gejala-gejala fisik yang mengganggu dan menghambat, yang semacam ini disebut fobia. Di dunia ini, banyak ditemukan kasus-kasus fobia mulai dari yang wajar, aneh, sampai yang tidak wajar. Bahkan saya pernah dengar ada orang yang fobia sama uang atau dikenal juga dengan crematophobia . Saya nggak kebayang bagaimana hidup orang itu. Untuk kita yang nggak pernah takut sama suatu hal, fobia semacam ini mungkin terdengar nggak masuk akal dan hanya orang-orang bermental tempe saja yang mengalami. Kalau dilihat dari sudut pandang kerasionalan, memang tidak masuk akal, seperti yang saya fikirkan ketika tahu ada orang yang takut pada uang, apa sih hal yang menakutkan dari selembar uang? Membahagiakan seharusnya (maklum mata duitan ;p). Tapi, kalau kita tahu latar belakang munculnya fobia tersebut, mungkin kita akan maklum.

Di atas sudah saya singgung kan kalau saya takut sama kucing? Sampai sekarang pun saya masih geli sama hewan yang kata orang imut itu. Bagi para pecinta kucing ketakutan saya ini mungkin nggak masuk akal, bagaimana mungkin hewan seimut dan selucu itu bisa membahayakan dan menakutkan? Kalau harimau mungkin masuk akal, tapi kucing? Tapi kalau mereka tahu kenapa saya takut kucing, mungkin mereka akan sedikit maklum. Jadi, dulu, waktu saya masih bayi sekitar umur 9 bulanan ( Fyi, cerita ini saya dengar dari Ibu saya), saya suka sekali bermain dengan kucing angora milik Ibu saya bernama si Belang. Nah, suatu hari, si Belang sedang tidur pulas, karena Ibu saya sedikit repot, saya dititipkan ke si Belang, lebih tepatnya ditengkurapkan di samping si Belang. Namanya bayi yang terlahir dengan rasa penasaran tingkat dewa, saya main-main sama kumis si Belang, mungkin karena kaget kumisnya dimainin waktu sedang tidur, si Belang langsung berdiri dan mengeong. Kaget dong saya yang masih bayi tanpa dosa itu, dan menangislah saya. Rupaya perasaan kaget dan khawatir si Belang bakal mencakar saya karena sudah mengganggu tidurnya itu yang tertinggal di alam bawah sadar saya. Sehingga setiap melihat kucing saya selalu nervous dan berkeringat dingin. Padahal seharusnya ketakutan itu bisa hilang seiring berjalannya waktu seperti ketakutan saya pada hal-hal lain, apalagi ukuran saya sekarang lebih besar dari kucing, tapi nggak tahu kenapa saya tetap geli tiap melihat kucing.

Buat saya, selama rasa takut itu nggak merugikan diri kita dan orang lain, selama masih wajar, memiliki rasa takut sah-sah saja. Hitung-hitung sebagai bukti kalau kita adalah manusia biasa. Tapi seandainya rasa takut tersebut justru membuat kita senantiasa ragu dan khawatir, atau bahkan menghambat. Suka nggak suka, kita harus hilangkan rasa takut itu. Biasanya seiring bertambahnya umur dan tingkat kedewasaan kita dalam memandang sesuatu, rasa takut kita juga perlahan mulai menghilang. Kalau saya, biasanya saya akan mencoba menganalisa apa penyebab ketakutan saya, kalau saya tahu sebabnya saya juga tahu bagaimana cara melawan dan mengatasi ketakutan tersebut. Misalnya, dulu saya takut sama badut dan banci, tapi seiring bertambahnya umur saya mulai menganalisa kenapa saya (harus) takut sama mereka, apa yang membuat saya takut sama mereka? Dan ketika saya menemukan jawabannya, saya mulai berfikir dari sudut pandang yang lain, bahwa yang membuat saya takut itu sebenarnya tidak semenakutkan itu, dari situ saya mulai bisa mengatasi ketakutan saya dan rasa takut pada banci dan badut itupun semakin lama semakin menghilang. Saya juga orang yang takut jika harus berbicara di depan banyak orang. Dulu waktu sekolah, setiap ditunjuk guru untuk berbicara di depan, saya selalu berkeringat dingin, kaki saya lemas, perut saya kram, sampai otak dan mulut saya nggak kompak, hal ini terjadi karena saya tipe orang yang tidak suka menjadi pusat perhatian, Tetapi ketika saya menganalisa apa yang menyebabkan saya se-nervous itu setiap berbicara di depan banyak orang, saya jadi tahu, penyebab ketakutan itu adalah karena saya kurang siap dan percaya diri. Dan setelah itu, setiap akan berbicara di depan banyak orang, saya selalu menetapkan hati saya dan mempersiapkan semuanya dengan matang. Yah, meskipun kadang saya masih nervous kalau harus maju ke depan, paling tidak saya tidak segugup dan setakut dahulu. Yang paling penting nih. Jangan biarkan rasa takut memperbudak kita. Walaupun sampai detik ini saya masih takut sama kucing. Tapi nggak akan saya biarkan rasa takut saya pada kucing membuat saya menjadi mahluk paling cemen se-jagat raya. Sekarang, kalau ketemu kucing, daripada lari dan ketakutan, saya lebih memilih menjaga jarak sejauh mungkin, sambil memalingkan muka, biar kucing itu nggak tahu kalau saya takut sama dia, bisa gede kepala dia nanti.

Kalau ada yang bilang, orang yang mudah takut pada suatu hal itu adalah orang-orang yang bermental tempe, cuek saja, namanya orang pendapat, hak mereka. Tapi jangan mau jadi tempe biasa, jadilah tempe bacem, yang meskipun berbahan dasar tempe, tetapi lebih enak untuk dinikmati. Boleh-boleh saja memiliki fobia, tapi tunjukkan pada dunia kalau fobia kita adalah salah satu keunikan yang kita miliki. Jarang lho, ada orang yang takut kucing. Dan saya bangga menjadi salah satu dari orang-orang tersebut, itu berarti saya termasuk mahluk langka. Haha (nggak penting)

Advertisements

2 thoughts on “Mental Bacem

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s