What’s in a Name?

What’s in a name? That which we call a rose by any other name would smell as sweet.

William Shakespeare

Kutipan di atas sudah pasti hampir semua orang pernah mendengarnya. Apalah arti sebuah nama? Kalau mau dibahas panjang lebar, mungkin pembahasan tentang penting tidaknya sebuah nama bisa menghabiskan sisa umur hidup saya (lebay.. ;p). Tapi, saya tetap ingin membahas ini, hehe.. agak maksa memang, mumpung ada tajuk berita keren di beberapa media cetak  yang berkaitan dengan ini jadi sekalian saja saya manfaatkan.

Beberapa hari yang lalu, saya tidak sengaja (terpaksa lebih tepatnya) melihat pidato presiden SBY yang berapi-api, agak kaget juga, karena setahu saya presiden kita ini tipe orang kalem yang ibaratnya mau ada tsunami di depan beliau juga mungkin beliau cuma akan berkata “Saya prihatin…” (ini cuma ibarat lho ya, no offense pak, peace, jangan tuntut saya, hehe..). Nah, konon katanya, penyebab presiden berapi-api seperti itu adalah karena kesaksian Luthfi Hasan di persidangan yang menyebutkan nama seseorang yang konon dekat dengan presiden dan berpengaruh dalam proses reshuffle kabinet beliau. Bunda Putri namanya, ada yang bilang, dia anak seorang pejabat, istri seorang pejabat, sampai beliau sendiri adalah pejabat di lingkaran terdalam kepresidenan. Presiden kita yang merasa tidak mengenal nama itu jelas marah, karena merasa namanya dicatut dan dijual kepada para elit politik untuk melancarkan keinginan mereka. Berita lengkapnya bisa dibaca di sini.

Terus, apa hubungannya dengan arti sebuah nama?

Ada. Karena sangat pentingnya arti sebuah nama kejadian catut mencatut nama ini nggak cuma terjadi sekali. Kita juga pasti sering mendengar berita tentang sebuah mobil mewah yang menerobos jalur busway, lalu ketika petugas menghalangi jalan mobil tersebut, si pengendara menyebut nama seorang jenderal dan menggunakan nama tersebut untuk mengintimidasi para petugas. Padahal belum tentu petugas tersebut mengenal nama jenderal yang disebut. Saya juga punya cerita lucu tentang catut mencatut nama ini. Jadi, dulu, ketika baru lulus kuliah saya berencana untuk mengikuti tes CPNS di salah satu departemen pemerintahan, syarat untuk mendaftar tes tersebut salahsatunya adalah dengan melampirkan SKCK atau surat kelakuan baik yang dikeluarkan POLSEK atau POLRES setempat. Proses membuat SKCK sebenarnya panjang, dimulai dari RT RW, lalu kelurahan, kecamatan, dan terakhir kepolisian. Setelah selesai di tingkat RT dan RW otomatis saya ke kelurahan dong. Dengan membawa fotokopi berkas-berkas yang diperlukan berangkatlah saya ke kelurahan, sampai di sana saya diberitahu kalau pak Lurah sedang tidak ada di tempat, dan saya diminta untuk datang 3 jam kemudian. Karena saya butuh, saya balik lagi ke rumah dan berencana kembali 3 jam kemudian. Di rumah ternyata ada seorang kurir yang sedang dimintai tolong Ayah saya untuk menguruskan surat-surat untuk izin nikah Bulik (tante) saya yang dari kecil ikut tinggal sama saya, jelek-jelek begitu Ayah saya cukup terkenal di kecamatan tempat saya tinggal, jadi banyak orang yang menawarkan bantuannya untuk menguruskan izin pernikahan Bulik saya. Padahal UUD (ujung-ujungnya duit) semua, hehe. Tiga jam kemudian, saya pergi lagi ke kelurahan, sampai di sana ternyata pak Lurah sudah datang dan saya diminta antri. Lucunya di sini, setelah beberapa menit mengantri, saya bertemu lagi dengan kurir yang tadi saya lihat di rumah. Dengan membawa berkas, dia langsung mendatangi salah satu petugas kelurahan dan berkata,
” Pak Lurah ada, ini adik Pak M (sengaja saya samarkan nama ayah saya) mau menikah, butuh tanda tangan..”
Tanpa babibu, petugas yang mendengar nama Ayah saya disebut langsung mempersilahkan kurir tersebut masuk. Saya yang duduk dekat dengan tempat kejadian perkara cuma bisa nyengir, dan membatin dalam hati. Saya yang anaknya Pak M saja mengantri, situ yang cuma dimintai tolong saja kok berani-beraninya bawa nama Ayah saya dan langsung ketemu pak Lurah tanpa mengantri. Tapi setelah itu saya berfikir positif saja, mungkin karena dia nggak mau ribet juga, jadi dia bawa-bawa nama Ayah saya supaya “diistimewakan” petugas. Saya jadi sadar, ternyata nama Ayah saya cukup berpengaruh, walaupun cuma tingkat kecamatan, hehe..

Jadi, what is in name?

Banyak. Nama adalah sebuah identitas, penanda, dan bukti keberadaan kita di dunia ini. Nggak mungkin kan seumur hidup kita hanya dipanggil “hey” atau “heh” atau “hem”? Nama adalah hadiah pertama yang diberikan orang tua kepada kita begitu terlahir ke dunia ini, sebuah penghargaan yang di dalamnya ada doa dan harapan dari orang tua kita masing-masing. Kalau boleh sedikit berargumen tentang kutipan Shakespeare di atas. Menurut saya, mawar akan tetap seperti itu, tetap berduri, harum dan indah, meskipun namanya bukan “mawar.” Karena, esensi sebuah nama bukanlah pada nama tersebut, tetapi pada si pembawa nama tersebut. Mungkin Shakespeare memang tidak sedang mempersoalkan arti sebuah nama. Tetapi,  ia sedang mengajak orang yang membaca kutipannya merenungkan esensi, keaslian, atau hakikat sebuah materi, apapun namanya. Dan siapapun nama kita, bagaimanapun indah atau jeleknya nama kita, kitalah yang menentukan apa nama kita akan harum atau busuk ketika kita meninggalkan dunia ini selamanya.

Advertisements

2 thoughts on “What’s in a Name?

  1. Sayangnya, gua liat jaman sekarang banyak orang tua yg seneng kasih nama aneh2 ke anaknya tanpa berpikir bahwa mungkin saja kelak nama itu akan jadi penyebab sang anaknya dikucilkan dalam pergaulan…>_<

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s