Pink Lipstick

“I’ll grant your wishes…”

Dengan rangkaian bunga dan wajah penuh senyum Radit menyapaku lugu begitu aku buka pintu apartemenku. Aku melongo total, benar-benar tidak menyangka dia kembali ke kota ini, bahkan berada di hadapanku, di depan pintu apartemenku. Aku yang masih dengan piyama dan sandal tidurku hanya terdiam, takjub, ia melambaikan tangannya di depan wajahku,
   “Hello… Sleeping beauty, kamu nggak lagi mimpi loh… Di luar dingin, aku masuk ya…”
Dia langsung menerobos masuk dan membiarkan aku membeku takjub di dekat pintu, sedetik kemudian aku sadar, ini bukan mimpi, ku tutup pintu merah apartemenku, dan mengikuti dia yang dengan angkuhnya duduk di sofa oranye mungil kado darinya dulu.
   “Sofa ini masih ada, aku kira sudah kamu buang…”
   “Tadinya iya, tapi karena warnanya cocok sama warna pintu aku taruh saja di situ.” Ujarku pendek, aku menatap matanya tajam-tajam sambil berkacak pinggang, dia hanya tersenyum lebar,
   “Ngapain ke sini, masih ada hutang apa aku sama kamu?”
   “Weitss, lihat tuh keriput, mau nambah lagi?” Ujarnya dengan senyum nakal. Aku menghela nafas panjang. Berandal ini, benar-benar membuat orang darah tinggi. Aku meninggalkannya dan berdiri di dekat jendela, kami sama-sama terdiam,
   “aku rindu…” ucapnya memecah keheningan, aku melirik dan menghela nafas lagi. Apa aku harus peduli.
   “Ayo, kita pergi, kemana saja, ke tempat yang kamu mau…”
   “Perancis?” Jawabku asal,
   “Perancis pun oke, ayo…”
   “Kamu mau ngapain sebenarnya?” Kali ini kesabaranku sudah sampai ubun-ubun.
   “Ayolah….”
Dia langsung menarikku tanpa membiarkan aku berontak, mengunci pintu apartemenku dan mendorongku masuk lift. Aku hanya diam bahkan ketika dia mengoceh panjang lebar sepanjang lantai 30 sampai lantai 1. Ia lalu membukakan pintu mobilnya, mempersilahkan aku masuk,
   “Aku masih pakai piyama tolol…”
   “Nanti kita beli baju, sekarang masuk dulu, mari tuan putri…” Aku hanya menyengir sinis.
Sepanjang perjalanan dia kembali berceloteh tanpa arah, aku tak mendengar apapun yang dia katakan, fikiranku terlalu penuh dengan prasangka-prasangka tentang apa yang terjadi hari ini, aku rasa hari ini bukan hari ulang tahunku ataupun April mop, tidak ada yang sedang menipuku kan, tidak ada yang sedang mengerjaiku kan? Aku menghela nafas panjang,
   “Ke butikku saja, aku ada baju yang sengaja kutinggal di sana untuk jaga-jaga…”
   “Oke bos.” Ujarnya dengan wajah ceria yang entah kenapa justru membuatku muak.
Begitu sampai, aku langsung berlari kecil memasuki butikku, Rani pegawaiku yang melihatku keluar dari mobilnya memandangku dengan tatapan “Lho kok?” aku membalasnya dengan tatapan “Nanti aku ceritakan,” Setelah selesai mengganti baju dan memoleskan sedikit gincu merah muda di bibirku aku keluar. Masih dengan tatapan yang sama Rani menatapku dalam-dalam, aku menepuk pundaknya,
   “Aku tahu, aku tahu, aku nggak akan jatuh di lubang yang sama.” ujarku tersenyum.
Ku buka pintu mobilnya, ia menyambutku dengan senyuman yang semakin cerah dengan binar-binar di matanya,
   “Cantik…” ujarnya pelan lalu menyalakan mesin mobil. Sepanjang jalan aku hanya diam, dia pun tak lagi memiliki cerita untuk dikatakan. Kami sama-sama terdiam.
   “This is it…”
Aku tersentak dari lamunanku,
   “Stasiun? Ngapain kita di sini?”
Tanpa menjawab pertanyaanku dia menarikku keluar dari mobil dan memasuki stasiun. Dia melihat papan tujuan keberangkatan dengan muka serius.
   “Enaknya kemana ya?”
Aku hanya melongo, dan mulai berfikir dia akan menculikku, membunuh lalu membuangku di tempat asing. Aku ingin berlari, tapi kaki dan otakku sepertinya sedang tidak saling berkompromi.
   “Oke, kita ke Cirebon!”
Dia menarik tanganku, membeli tiket, dan langsung menaiki kereta. Ake seperti terhipnotis, tak mampu memberontak.
Kami berdua lalu duduk berhadapan, aku menatap matanya dalam-dalam,
   “Apa ini?”
   “It’s not we want to run away, it’s just we want to take a rest for a while, just to try what it’s like to be alone in a strange place.” Ia tersenyum, “Let’s go to the strange place, but I won’t let you alone…”
Aku melongo, seperti tak percaya ia mengatakan itu,
   “Kamu baca bukuku?”
   “Ya, dan itu kisah favoritku, aku kan inspirasinya…” Ujarnya menggoda. Aku membuang muka,
   “Bagus kalau nyadar, tahu kan? Tokoh utama prianya aku buat meninggal dengan tragis.”
Aku tersenyum sinis, dia tetap tersenyum. Aku mengalihkan pandanganku ke luar jendela. Kami berdua lalu terdiam, aku dengan pikiranku, dia pun begitu, kami hanya sama-sama menatap jendela, memandang deretan ladang yang dilewati kereta api kami, sesekali melihat kepala kereta yang berkelok-kelok seperti ular sawah.
   “Maafkan aku.” Ujarnya memecah keheningan.
   “Tidak ada yang perlu dimaafkan.” Ujarku pendek.
Kami kembali terdiam, lalu dia mengeluarkan kotak kardus kecil berhias kupu-kupu kertas warna indigo dan meletakkannya di pangkuanku.
   “Apa ini?”
   “Saatnya kamu untuk terbang tinggi, kamu punya hak untuk tidak terus terbelenggu dengan perasaanmu.”
   “Aku..aku… Enggak kok…”
   “Jangan sok tegar, aku kenal kamu luar dalam, aku tahu siapa kamu, dan bagaimana kamu, aku baca blogmu, buku-bukumu, semua yang kamu tulis…”
   “Aku…”
   “Sudah saatnya kamu terbang tinggi Respati, dan tidak membiarkan bayangku mengikutimu terus, jangan biarkan kenanganku membelenggu kebahagiaanmu, kamu perempuan kuat Respati, kamu tahu itu, kamu pasti mampu memulai lagi hidupmu…”
   “Ka.. Kamu ngomong apa sih..”
Kereta kami lalu berhenti di sebuah stasiun kecil.
   “Aku turun di sini, jaga dirimu ya…”
Ia menepuk pundakku, seluruh badanku kaku, bahkan bibirku pun tak mampu mengucapkan sepatah kata melihat kepergiannya. Ketika kereta mulai berjalan ia melambai dari peron, air mataku tiba-tiba mengalir deras. Semakin lama, sosoknya semakin tak tampak lagi. Tiba-tiba semua hening, aku hanya mampu mendengar isakku yang tertahan.
   “Kriingggg…..” dering ponsel terdengar dari sakuku, aku tertegun karena merasa tidak membawa apapun ketika berangkat tadi. Layar ponsel menunjukkan nama dan nomor Rani,
   “Ran…”
   “Mbak kemana aja sih, dari tadi aku telfon nggak diangkat?”
   “Aku…”
   “Mbak, aku khawatir sama mbak, tadi mbak datang ke butik kayak orang linglung sambil bawa-bawa foto Mas Radit, aku tarik, tapi mbak malah ngamuk-ngamuk, aku ikutin mbak, tapi aku telat karna mbak udah naik kereta, aku coba ngejar-ngejar tapi nggak kekejar. Mbak dimana sekarang? Mau kemana? Aku jemput ya?”
Kata-kata Rani seperti berondongan peluru yang menusuk kepalaku, aku mencoba mencerna kata-kata Rani, mencoba mengerti apa yang ia maksudkan, pandanganku tertuju pada kotak kecil yang Radit berikan tadi, membukanya dan menemukan sebuah lipstick merah muda kado setahun pernikahanku dengan Radit. Tiba-tiba otakku seperti memutar sebuah film, aku melihat pernikahanku, wajah cerah Radit, pantai, gunung, pertengkaran kami, wajah cerah Radit, rumah mungil, gaun putih, wajah cerah Radit, mobil ringsek, genangan darah, wajah cerah Radit, rumah sakit, jas hitam, wajah cerah Radit. Air mataku semakin tak terbendung, kupeluk erat-erat foto Radit yang ternyata dari tadi ada di genggamanku.
   “Mbak.. Mbak.. Mbak Res, halo… Mbak…” Panggilan Rani dari seberang telfon menghentikan film yang berputar di kepalaku.
   “Aku nggak apa-apa Ran, cuma lagi pengen menyepi, jangan khawatir, nanti sore aku pulang.”
Langsung kutekan tombol putus di ponselku tanpa membiarkan Rani bertanya lebih jauh. Aku menghela nafas dan menghapus air mata yang belum berhenti mengalir. Mataku menerawang jauh ke ladang hijau di luar kereta. Fikiranku masih melayang-layang mencari pembenaran atas hal yang baru saja aku alami. Dan aku sampai pada satu kesimpulan, aku rindu, terlalu rindu malah.Malang, 28 Juni 2012

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s