Nama Saya Vani, dan Saya Seorang Guru TK

Menjadi guru TK sebenarnya tidak pernah menjadi bagian dalam mimpi dan cita-cita saya. Dulu, saat kecil, impian saya termasuk mainstream dan umum di kalangan anak-anak. Saya dulu ingin menjadi dokter. Alasannya, karena saya ingin dibilang keren ketika orang-orang bertanya tentang ingin jadi apa saya kelak. Tapi impian saya untuk menjadi dokter ini lama kelamaan memudar seiring dengan bertambahnya umur saya. Saat sekolah saya menyadari, saya amat lemah dalam mata pelajaran Matematika, Fisika, dan Kimia, sedangkan untuk menjadi dokter, kemampuan dalam bidang Sains amat sangat dibutuhkan. Lalu, sejak belajar Bahasa Inggris, impian saya berubah lagi, saya bercita-cita ingin menjadi diplomat atau duta besar yang kerjanya keliling dunia. Saya juga sempat ingin jadi penulis karena hobi saya adalah membaca dan menulis. Karena itu ketika kuliah saya mengambil jurusan Sastra Inggris.

Saat kuliah impian saya berubah lagi ketika saya mengikuti mata pelajaran Translation. Ditambah sebelum lulus saya sudah banyak mendapat orderan terjemahan baik dari dalam maupun luar negeri, saya pun tergoda untuk menjadi Translator atau penerjemah. Karena menurut saya pekerjaan ini bisa dilakukan di mana saja, sehingga nanti, ketika sudah berumah tangga saya bisa tetap melihat perkembangan anak saya. Selain itu, honor yang saya dapat dari profesi ini lumayan banyak, hehe..

Tapi namanya hidup. Nggak seru kalau lempeng-lempeng saja, nggak ada tantangannya. Begitu lulus kuliah, hidup saya jauh berbeda dari apa yang saya harapkan. Saya merasakan betul naik turunnya hidup saya yang seperti roda berputar ini, bedanya roda kehidupan saya roda mobil balapnya Michael Schumacer. Terlalu cepat berputarnya. Semua mimpi saya seolah-olah menjadi tidak “berpintu,” berbagai jalan menuju tercapainya mimpi saya sepertinya tertutup dan terhalang. Order terjemahan saya semakin hari semakin sepi seiring populernya software-software dan situs-situs penerjemah. Untuk menjadi diplomat juga tidak ada harapan, karena lolos seleksi administrasi saat CPNS Deplu tahun lalu pun saya tidak. Di tengah kegalauan saya (jiaahh), tawaran dan kesempatan yang datang justru untuk mengajar. Padahal dari dulu, saya begitu menghindari profesi guru, karena saya merasa belum mampu mendidik diri saya sendiri, apalagi kalau harus mendidik orang lain.

Ada yang bilang, manusia bisa berencana tapi Tuhan yang menentukan. Dan, itulah yang saya alami. Karena kegagalan menggapai mimpi-mimpi saya, saya pun berusaha realistis. Kalau dunia tidak seideal seperti yang kita bayangkan, sayalah yang harus meng-idealkan diri agar mendapat tempat di dunia ini. Sejak gagal dalam CPNS, saya mulai menyebarkan lamaran ke sekolah-sekolah untuk menjadi guru meskipun saya bukan berasal dari Fakultas Pendidikan. Mau bagaimana lagi, saya harus bekerja untuk hidup (oke, ini agak lebay, hehe.. Maaf..).

Dalam masa-masa penantian menunggu panggilan kerja, datanglah sebuah panggilan kerja dari tempat yang nggak pernah saya bayangkan saya akan menjadi bagian di dalamnya. Panggilan itu datang dari sebuah Taman Kanak-Kanak tempat saya bekerja sekarang. Sebenarnya saat memasukkan lamaran ke sekolah ini saya cuma iseng, jadi saya agak kaget ketika mendapat panggilan, dan lucunya, dari semua tempat dimana saya memasukkan lamaran saya, hanya sekolah ini yang memanggil saya. Ini mungkin yang orang sebut kalau jodoh nggak kemana, hehe.

Awal-awal menjadi guru TK, saya merasa minder setiap orang-orang di sekitar saya bertanya di mana saya bekerja. Saat itu saya merasa profesi saya kurang necis dan mentereng dibanding kebanyakan teman saya yang bekerja di Bank. Selain itu, Ibu saya sendiri juga kurang setuju saya bekerja di TK. Saya mengerti perasaan Ibu saya, mungkin beliau juga minder, anaknya yang sudah disekolahkan tinggi-tinggi ini hanya bisa menjadi seorang guru TK, tidak seperti anak teman-temannya yang rata-rata berprofesi “lebih sukses” daripada profesi saya. Tetapi, lama-kelamaan saya justru merasa beruntung bisa bekerja di sini. Saya mendapat banyak ilmu, dan banyak belajar dari rekan-rekan kerja saya. Bahwa ternyata, kebahagiaan dan kebanggaan tidak hanya datang dari gaji yang banyak atau pekerjaan yang keren. Bahkan dari kesederhanaan menjadi guru TK pun saya mendapat kebahagiaan dan kebanggaan yang lebih bermakna daripada yang didapatkan teman-teman saya yang bekerja di Bank.

Setiap bertemu teman-teman lama saya, saya sering dicurhati betapa melelahkan dan membosankannya pekerjaan mereka. Karena mereka merasa hal yang mereka kerjakan bukan hal yang mereka sukai. Belum jika mereka diharuskan memenuhi target yang ditetapkan perusahaan supaya tidak dipecat. Saya selalu berkaca pada diri saya sendiri setiap dicurhati seperti itu. Betapa beruntungnya saya, meskipun gaji yang saya dapatkan tidak sebanyak mereka, tapi hari-hari yang saya lewati tidak se-melelahkan dan se-membosankan itu. Namanya menghadapi anak-anak yang aktifnya luar biasa, saya pasti pernah merasakan lelah, tetapi setiap melihat tingkah atau celetukan lucu dan lugu murid-murid saya, saya jadi lupa sama rasa lelah saya. Dan setiap rasa bosan muncul, saya selalu menemukan hal baru yang semakin memperbesar rasa cinta saya pada pekerjaan saya ini. Kata guru saya dulu, kita harus tulus dan ikhlas ketika mengerjakan sesuatu, sehingga ketika mengerjakan hal tersebut kita nggak akan merasa lelah atau bosan, karena kita melakukan hal yang kita sukai. Mungkin itu juga yang sedang saya rasakan.

Dan sekarang, setiap orang-orang bertanya di mana saya bekerja. Dengan senyum terlebar, termanis dan penuh kebanggaan saya mengatakan,
“Saya guru TK.”
Kenapa harus minder, saya bukan maling, apalagi koruptor, hehe.

Postingan ini diikut sertakan dalam Lomba Artikel CineUs Book Trailer Bersama Smartfren dan Noura Books

New-Andromax-U2-250x250-JPEG

Advertisements

18 thoughts on “Nama Saya Vani, dan Saya Seorang Guru TK

  1. Tulisan yang inspiratif, Mbak Vani. Sesuatu yang dikerjakan dengan semangat dan cinta kasih akan membuahkan hasil yang tidak ternilai rasanya. saya juga pernah mengajar anak-anak, memang melelahkan tapi menyenangkan dan setiap hari mendapat suntikan ilmu baru. Asal dijalani dengan ikhlas, insyaAllah akan datang imbalan lebih baik selain pahala tentunya. Zaman sekarang tak perlu malu atau jaga gengsi hanya karena kita berbeda profesi dengan teman atau orang lain yang lebih tinggi. Kita sendiri yang merasakan beban atau kesenangan hidup kok, bukan orang lain. Pahit getir, susah senang perjuangan kita sendirilah yang mengalaminya.

    Menjadi guru TK sangat tidak mudah karena anak-anak begitu dinamis dan kadang demanding. Salut untuk Anda. Pendidikan tinggi justru sangat bagus untuk menyelami dan mendekati jiwa anak-anak. Inilah salah kaprah di negeri kita di mana mengajar anak-anak hanya dipandang sebelah mata sehingga gurunya tak perlu pandai, cukup lulusan SMA saja. Ada juga kok teman yang tadinya studi S2 ke Australia namun sekarang jadi ibu rumah tangga. Namun tentu saja anak-anak hasil didikannya akan jauh berbeda dari anak yg dididik oleh ibu kurang terdidik.

    So, teruskan perjuangan Anda menyiapkan generasi pemimpin masa depan. Salut dan tetap semangat. Menjadi penerjemah toh masih bisa kan dikerjakan di waktu lain. Semoga sukses selalu, termasuk dalam kontes ini. Salam kenal dari Kota Hujan 😀

  2. Guru TK kan susah euy hehehe. Jauh lebih berat daripada jadi dosen di universitas paling ternama sekali pun ;). Salam kenal ya.

    • Hehe, semuanya ada susah senangnya, Alhamdulillah, kebetulan saya dapat senangnya terus, tapi kalau ada susahnya ya dibikin seneng juga, hehe… Salam kenal, terimakasih sudah meninggalkan jejak.. 🙂

  3. hehe…beda tipis ma kisah saya…
    i always feel being blessed for being a kindergarten teacher ..its like in the university of life
    Alhamdulillah, we r the chosen one..hehe

  4. Waaaah, saya malah pengen jadi guru TK mbak. Cerita Mbak Vani inspiratif sekali.. kalo boleh, mau tanya2 banyak (hehe) dan kenalan lebih dalam dong Mbak, terutama mengenai dunia anak2 ini. Mohon dijawab via email saya ya Mbak. Terima kasiiiih 🙂

    • Alhamdulillah, kalau sy bisa menginspirasi mbak, padahal kenyataannya sy jauh dr menginspirasi, menghancurkan lebih tepatnya. hehe.. terima kasih mbak sudah berkunjung, langsung sy email nanti.. 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s