Mengemis

Beberapa hari yang lalu saya iseng-iseng berselancar di dunia per-Kaskus-an. Dan, saya menemukan satu thread unik, yang bikin hati saya ber-nano-nano ria (note : ini bukan iklan permen, hehe). Jadi, di thread ini, si TS (istilah Kaskus untuk penulis thread), mengutip sebuah berita yang dia ambil dari sini. Berita tersebut berisi tentang tuntutan segerombolan pengemis dan anak jalanan yang berdemo menentang kebijakan Wali Kota Bandung yang mengeluarkan peraturan daerah baru tentang dilarangnya keberadaan pengemis dan anak jalanan di kota Bandung. Pemerintah memberikan solusi dengan menyediakan lapangan pekerjaan bagi para pendemo yang kebanyakan penghasilan utamanya berasal dari mengemis itu. Nah, di sini bagian paling lucu sekaligus menyebalkannya. Salah satu juru bicara para pendemo menolak kebijaksanaan tersebut dan menuntut gaji yang (menurut saya gak masuk akal) lebih layak untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari mereka. Jelas, tuntutan ini ditolak pemerintah Kota Bandung. Bagaimana tidak, untuk pekerjaan sebagai tukang sapu jalanan yang ditawarkan pemerintah, mereka menuntut upah dari 4 hingga 10 juta sebulan karena menurut mereka biaya hidup mereka memerlukan uang sebanyak itu.

Saya cuma bisa nyengir kuda ketika membaca thread tersebut. Saya jadi membayangkan sebesar apa rumah mereka, semewah apa perabotan mereka, berapa tarif listrik dan PDAM yang harus mereka bayar sebulan, kendaraan apa yang mereka naiki sehari-hari, sekolah macam apa tempat mereka dan anak-anak mereka bersekolah, jenis pakaian apa yang mereka pakai, dan makanan apa yang mereka konsumsi sehari-hari, sehingga mereka butuh 10 juta sebulan untuk biaya hidup? Sampai-sampai terlintas dalam pikiran saya, kalau sampai tuntutan itu dipenuhi, saya mau pindah ke Bandung dan jadi tukang sapu saja. Hehe

Sepertinya orang-orang semacam ini yang membuat negara kita dari jaman VOC sampai era SBY ini nggak pernah maju. Mental pemalas dan pengemis yang mungkin muncul akibat terlalu lamanya kita dijajah Belanda. Begitu kan? Kalau dipikir-pikir, pekerjaan mengemis adalah pekerjaan paling mudah, tinggal modal muka dan baju lusuh saja, ditambah properti bayi sakit, atau lengan dan kaki (pura-pura) buntung, dan sedikit suara parau memelas ketika meminta, kita sudah bisa dapat recehan. Nggak usah susah-susah nyangkul ladang di bawah terik matahari, atau ber-bau-bau ria di tumpukan sampah demi mencari botol plastik bekas. Dan mungkin, karena sangat mudahnya mengemis, populasi pengemis di Indonesia semakin tahun semakin meningkat. Beberapa tahun lalu saya juga pernah membaca sebuah berita tentang ‘bos’ pengemis yang sukses karena mengemis di sebuah media cetak nasional (berita juga bisa dibaca di sini). Alkisah, ada seorang laki-laki yang berasal dari Madura, Cak To namanya, yang mengadu nasib di Ibu Kota Jawa Timur, Surabaya. Harapannya, ia bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih layak di Surabaya. Tapi harapannya tinggal angan. Surabaya ternyata tidak seramah kota asalnya, karena kebutuhan hidup, ia akhirnya memutuskan untuk menjadi pengemis profesional. Keputusannya menjadi pengemis ini yang justru mengantarkan ia menuju kesuksesan, bertahun-tahun menjadi pengemis ia mulai bisa membangun rumah di tempat asalnya, dan membeli rumah di Surabaya. Bahkan ia bisa mengajak kerabat dan saudara-saudaranya ke Surabaya untuk mengemis dan menjadi karyawannya. Sejak memiliki banyak karyawan ia tidak lagi mengemis dan hanya menerima setoran hasil mengemis karyawan-karyawannya, sehingga sampai sekarang dia menjadi salah satu bos pengemis terkemuka di Jawa Timur. (Abaikan cara bercerita saya yang lebay, maklum, sejak kecil saya berhasrat menjadi penulis novel stensilan, haha).

Nah, mungkin, karena terlalu mudahnya profesi pengemis ini. Para pendemo tersebut jadi enggan beralih profesi dan menuntut hal-hal yang tidak masuk akal.

Terus, apa menjadi pengemis salah dan berdosa?

Salah dan berdosa sih tidak. Tapi alangkah baiknya, kalau kita mau sedikit lebih berusaha lagi dalam mencari rezeki yang halal bagi kita dan keluarga. Seperti sebuah riwayat dalam hadits di bawah ini,

Seorang yang membawa tambang lalu pergi mencari dan mengumpulkan kayu bakar lantas dibawanya ke pasar untuk dijual dan uangnya digunakan untuk mencukupi kebutuhan dan nafkah dirinya maka itu lebih baik dari seorang yang meminta-minta kepada orang-orang yang terkadang diberi dan kadang ditolak.
(Mutafaqun Alaih)

Kenapa dalam hadits di atas disebutkan orang yang bekerja (mencari kayu lalu dijual ke pasar) lebih baik dari orang yang meminta-minta? Jawabannya jelas, karena Allah ingin senantiasa memuliakan umatnya. Di mana-mana orang yang mau berusaha akan lebih dihargai daripada orang yang bermalas-malasan. Bahkan dalam hadits yang lain, Allah mengumpamakan orang yang bekerja keras seperti mujahid (orang-orang yang berjuang di jalan Allah).

Sesungguhnya Allah suka kepada hamba yang berkarya dan terampil (professional atau ahli). Barangsiapa bersusah-payah mencari nafkah untuk keluarganya maka dia serupa dengan seorang mujahid di jalan Allah Azza wajalla.
(HR. Ahmad)

Selain itu dengan bekerja keras, berarti kita lebih menghargai diri dan badan yang dianugerahkan Allah kepada kita. Mungkin beberapa orang masih ada yang meremehkan profesi pemulung, loper koran atau petani yang lebih memilih bersusah payah mencari uang daripada meminta-minta, tapi dalam hal menghargai diri kita sendiri, bukankah lebih terhormat jika kita mau bersusah payah memanfaatkan raga dan pikiran kita untuk mencari uang daripada merendahkan diri kita dihadapan orang lain, meminta-minta untuk mendapatkan uang? Wallahu’alam.

Oh iya, saya punya cerita lucu tentang pengemis. Lebih tepatnya orang maksa minta uang, alias narget, hehe. Jadi ceritanya, waktu saya lagi belanja di dekat rumah, saya dicegat seorang Ibu-Ibu yang minta uang Rp. 3000 untuk naik angkot. Karena uang saya habis dipakai belanja, saya bilang saya cuma punya Rp. 2000, si Ibu itu bilang, nggak apa-apa. Lalu saya ambil Rp. 2000 dari saku saya dan memberikannya ke Ibu tersebut sambil mengucapkan hati-hati. Eh, kemarin saya ketemu lagi sama Ibu tersebut, tapi beda tempat, saya ketemu dia di dekat tempat kerja Ayah saya yang jaraknya 1km dari rumah saya. Dari jauh saya lihat Ibu tersebut berjalan ke arah saya, saya yang lagi sibuk sms-an agak gak peduli meskipun sedikit penasaran juga kenapa si Ibu ada di daerah sini. Begitu berdiri di depan saya, dengan nada sedikit memaksa dia bilang, “Mbak, minta uang Rp. 3000 aja, buat naik angkot.” Karena, saya lagi buru-buru, dan saya jadi tahu kalau dia bohong, saya bilang, “Maaf, enggak..” sambil ngeloyor pake motor. Sialnya, si Ibu sempat pegang tangan saya, trus dia cubit tangan saya ambil bilang, “Huuhh.. Peliit…”. Saya cuma bisa nyengir kesakitan sambil maki-maki dalam hati, asem.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s