#NovemberNgeblog : The Prelude, Day 0

novemberngeblog

 

Saya sebenarnya sedang heran sama diri saya sendiri yang akhir-akhir ini jadi rajin nge-blog, apa karena efek menang Giveaway-nya Keven ya? Haha. Harapannya sih, semangat semacam ini nggak pernah akan pudar. Kalau boleh jujur nih, saya sebenarnya sudah terjun di dunia per-blog-an sejak tahun 2007 awal. Waktu itu saya mainnya (ciehhh, main dia bilang, togel kali..) di Multiply (May he rest in peace T.T) dan Blogspot. Tapi, waktu itu tulisan saya masih acakadut dan hanya saya pengunjung tetap blog saya (sampai sekarang juga sih, hehe). Mood saya juga naik turun, jadi selama 4 tahun ngeblog di Multiply hanya beberapa tulisan saja yang sukses saya posting. Begitu Multiply tewas, lalu saya tutup akun Blogspot saya (karena kalau dibaca-baca lagi isinya bikin malu sendiri), saya buka akun WordPress ini, dan saya mulai rajin nge-blog lagi. Saya kadang iri sama teman-teman blogger yang aktif dan hampir nggak pernah absen seharipun dari kegiatan per-blog-an. Kayak tadi siang, saya nggak sengaja mampir ke sebuah blog dari seseorang yang baru nge-blog selama 10 bulan tapi sudah menghasilkan lebih dari 200 tulisan, keren kan? Semangatnya luar biasa sekali.

Sebenarnya penyebab kemalasan saya untuk ngeblog ini sederhana. Hanya malas, tapi alasan malas itu selalu saya tutupi dengan alasan-alasan klasik lainnya seperti nggak ada waktu lah, takut nggak ada yang baca, takut tulisannya jelek, atau postingannya lebay dan berjuta alasan lainnya. Biasanya semangat saya muncul kalau saya lagi ada ide untuk menulis suatu hal, dan untuk mempertahankan semangat ini, saya harus terus penasaran sama segala hal agar ada bahan untuk ditulis. Tapi semangat semacam ini munculnya setiap 10 purnama sekali, jarang banget. Dan akhir-akhir ini, biar tetap eksis di dunia per-blog-an, saya mencoba berfikir sebaliknya. Saya mikir cuek aja. Ini blog saya, tulisan saya, dan buah fikiran saya, selama yang saya tulis nggak menyakiti dan merugikan orang lain, saya akan terus nge-blog. Perkara orang nggak suka tulisan saya itu pilihan mereka, dunia maya ini, kecil kesempatan saya akan bertemu mereka di dunia nyata. Kalau mereka nggak suka, tinggal klik “X” saja, selesai perkara. Hehe

Rencananya, untuk mempertahankan api semangat ngeblog yang sedang membara dalam diri saya (jiahhh…), saya mau menantang diri saya sendiri untuk berkomitmen memposting paling tidak 1 tulisan setiap harinya mulai tanggal 01 November besok, sampai 30 hari ke depan. Tantangan ini terinspirasi dari event #JuliNgeblog nya Mbak Okke Sepatu Merah dan 30 hari ngeblog nya blogdetik.com.

Kenapa harus bulan November?

Beberapa bulan belakangan saya sedang ditimpa musibah yang benar-benar merubah cara pandang saya akan hidup. Saya juga merasa saya bukan Vani Laila Fitriani yang saya kenal dulu, karena terlalu banyaknya sifat dasar saya yang berubah. Dan Insya Allah, di akhir bulan November nanti permasalahan saya akan selesai, karena itu saya ingin melakukan sesuatu untuk memperingati nya, sebagai sebuah memoar juga, walaupun saya nggak ada niat untuk membuat tulisan tentang musibah yang saya alami itu, tapi paling tidak, ketika suatu saat nanti saya baca tulisan-tulisan saya di event #NovemberNgeblog, saya akan ingat, oh karena peristiwa itu loh saya berubah dan saya nggak boleh jatuh ke lubang yang sama lagi sekalipun lubang tersebut adalah guru terbaik yang pernah saya temui dalam hidup. Selain itu, tanggal 20 November nanti adalah hari ulang tahun saya yang ke-25. Harapannya sih event #NovemberNgeblog ini juga bisa jadi ajang mengeksploitasi hal-hal apa saja yang telah saya alami selama 25 tahun hidup saya, hehe.

Intinya, saya ingin terus menulis, karena menulis adalah salah satu cara saya untuk memulihkan “sakit jiwa” saya.. hehe. Semoga saya berkomitmen dan selalu ada ide untuk bahan tulisan saya selama event #Novemberngeblog ini. Doakan saya ya folks.. 🙂

Oh iya, yang tertarik dan mau ikutan juga boleh. Nggak maksa dan nggak mewajibkan juga, dibawa nyantai aja, siapa tahu kalau ikutan event #NovemberNgeblog ada yang bisa jadi rajin ngeblog juga, ehemm… *colek teman saya yang di Cilacap* ;p

Advertisements

Terlanjur Basah

He who is best prepared can best serve his moment of inspiration.

Samuel Taylor Coleridge

Beberapa hari lalu, kota tercinta saya, kota Malang, mendapatkan hujan pertamanya di awal musim penghujan tahun ini. Rasanya? Senang sekaligus sebal. Senangnya, setelah beberapa bulan belakangan hawa di kota saya baik siang maupun malam, akibat musim kemarau menjadi panas dan kering, akhirnya sekarang udara sejuk bisa saya nikmati lagi. Yang menyebalkan, kenapa justru di awal-awal musim penghujan begini, pemerintah di kota saya justru sedang giat-giatnya menggali gorong-gorong dan membangun jalanan. Padahal musim kemarau kemarin lumayan panjang, kenapa pekerjaan tersebut justru dilakukan di saat musim hujan begini. Akibatnya setiap hujan deras, jalanan yang gorong-gorongnya digali akan banjir, becek, dan penuh lumpur. Hal-hal tersebut sering menimbulkan kemacetan, karena semua orang berhati-hati, takut motornya mogok karena banjir, atau roda kendaraannya nyelip karena lumpur. Mungkin, pemerintah di kota saya baru ingat rencana mereka untuk membenahi fasilitas publik ketika hujan turun. Sedangkan saat kemarau kemarin mereka menunda-nunda karena merasa kemarau masih panjang, mungkin…

Pernah dengar pepatah “Sedia payung sebelum hujan?” Sepertinya pepatah ini pas dengan kondisi kota saya saat ini. Pas dengan kondisi saya juga sih, hehe. Makna dari pepatah tersebut adalah, agar kita senantiasa menyiapkan segala sesuatu sebelum melakukan sesuatu atau sebelum terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Misalnya, kalau tidak ingin basah dan kehujanan, sediakanlah payung, sekalipun saat itu sedang tidak hujan. Jangan seperti saya.. hehe

Jadi ceritanya jas hujan saya sudah pada berlubang dan sobek sejak musim hujan tahun lalu. Dan saya berencana akan membeli sebuah jas hujan baru sebelum musim hujan tahun berikutnya datang. Karena saya hobi menunda-nunda sesuatu (sifat yang sebenarnya harus saya hilangkan T.T) dan karena saya merasa musim kemarau masih panjang, sampai detik ini saya belum juga membeli jas hujan baru. Padahal kemarin, gara-gara hobi saya ini, saya terpaksa harus kehujanan sepulang kerja. Walaupun sebenarnya ini karena kesalahan saya sendiri, tapi karena kehujanan saya jadi badmood seharian, akibatnya serumah jadi korban uring-uringan saya. Benar-benar menyebalkan ya saya? Hehe.

Sebenarnya, pepatah yang saya sebut di atas sudah sering kita dengar sejak kita menerima mata pelajaran Bahasa Indonesia waktu Sekolah Dasar dulu. Tapi, kenapa susah sekali untuk mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari ya? Atau cuma saya saja yang merasa begitu sih? Padahal, untuk mengamalkan pepatah tersebut kita cuma perlu satu hal. Persiapan. Tapi rata-rata dari kita baru menyadari pentingnya sebuah persiapan ketika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Seperti kejadian di lingkungan rumah saya beberapa hari lalu. Biasanya, ditempat saya tinggal senantiasa ada petugas keamanan yang berjaga di pos disetiap RT. Tapi hari Jumat minggu lalu, petugas keamanan yang biasa berjaga di lingkungan RT tempat saya tinggal mendadak sakit. Karena tidak ada pengganti yang bisa menggantikan Bapak tersebut, sedangkan petugas yang kebagian shift malam juga tidak bersedia mengisi kekosongan tersebut sebab beliau memiliki pekerjaan lain di siang hari. Akhirnya pos keamanan pun dibiarkan kosong. Hal ini sebenarnya hal yang biasa terjadi di lingkungan kami, karena memang Bapak yang bertugas berjaga di sing hari sudah cukup tua dan sering sakit-sakitan. Jadi, kami semua tidak terlalu terganggu dengan kekosongan pos jaga tersebut, apalagi lingkungan tempat saya tinggal cukup aman. Tapi rupanya kelalaian dan ketidak siapan kami ini menjadi peluang jahat bagi orang lain. Salah satu tetangga saya dirampok oleh sekelompok laki-laki ber-helm dan bersenjata tajam di siang bolong. Bayangkan, di siang bolong, di saat banyak orang terjaga, perampokan justru terjadi. Untung saja tidak ada korban nyawa, meskipun si empunya rumah menderita kerugian materi yang cukup banyak. Sejak kejadian itu, tingkat kekhawatiran kami meningkat dan kami menjadi waspada. Meskipun tidak ada petugas yang berjaga, setiap hari akses masuk menuju lingkungan kami ditutup dan diportal. Agar ketika hal yang sama terulang kembali, paling tidak kami bisa menangkap pelaku pencurian dan perampokan.

Ini lho yang saya maksud. Meskipun tidak hujan, paling tidak jika kita membawa payung berarti kita telah berusaha untuk melindungi diri kita dari fenomena kehujanan. Meskipun nantinya hujan tidak jadi turun, paling tidak kita telah mempersiapkan diri kita. Daripada terlanjur basah, rugi dua kali kita, sudah kehujanan, kena flu pula.

Mempersiapkan diri kita untuk menghadapi sesuatu yang belum kita hadapi itu penting, bukan karena kita ketakutan dan paranoid ya. Tapi lebih karena kita memang harus mewajibkan diri untuk senantiasa waspada dan siap dalam menghadapi segala hal yang akan kita hadapi nantinya. Tidak semua dari kita mampu memperkirakan dan memprediksi suatu hal, dan nggak semua dari kita terlahir sebagai dukun kan? hehe. Karena kita nggak mampu memprediksi apa yang akan terjadi, satu-satunya yang bisa kita lakukan adalah bersikap waspada. Paling tidak, sikap waspada kita dapat memperkecil resiko yang akan kita dapatkan nantinya. Lagipula, kerugian macam apa yang kita dapatkan jika kita bersikap waspada dan mempersiapkan segala sesuatu? Rugi apa kita kalau kita membawa payung, padahal tidak hujan? Bukankah payungnya bisa kita pakai untuk menghindar dari sinar matahari kalau panas.  Atau bisa juga, payungnya kita pakai untuk membela diri, siapa tahu di jalan ada orang usil, kita getok deh pakai payung, efektif bukan? 🙂

Pada Saatnya Nanti

Pada saatnya nanti,
kita akan berjalan bersisian,
saling mengisi ruang di antara jari masing-masing,
memandang lepas pantai tempat kita berpisah,
aku dan kamu,
hanya kita dan dua pasang jejak di pasir putih,

Pada saatnya nanti,
ruang fikiran kita akan saling menyatu mimpi,
dan saat kita bermimpi,
akan ada ribuan bunga menghampar,
menyediakan ruang untuk kita tersenyum,
hanya kita,
dan harum di sekeliling yang menghiasi.

Pada saatnya nanti,
aku dan kamu tak lagi asing,
akan kita ulangi lagi kisah bodoh yang lalu,
akan kita ceritakan lagi senyum pahit dan manis yang dulu,
akan kita katakan lagi semua yang sempat dilupa,
kita akan sama-sama tergelak,
menertawakan kecanggungan yang lalu,
kita akan sama-sama mengisak,
kisah yang tak berawal tapi berakhir itu,
kita akan menguntai,
setiap sisi-sisi tak terucap dahulu.

Pada saatnya nanti,
hanya ada kita,
aku dan kamu,
dan kisah singkat kita.

Sampai ombak menghapus jejaknya,
sampai angin meniup harumnya.
Sampai saat itu,
ya, akan aku teruskan,
sampai saat itu, bahkan setelah itu,
ya, aku tetap sama, begitupun hatiku.
Jaga baik-baik…