Piring Terakhir

Ini piring terakhir yang kucuci hari ini. Setelah ini, aku akan menutup warung. Ku sibak tirai yang memisahkan dapur dan warung, masih terlihat satu orang lagi di warung, aku nyengir kuda. Cak Man selalu jadi yang terakhir, dan piring di depannya selalu menjadi piring tempat ia makan ketika di warungku, piring keramik hadiah sabun mandi

***

Namanya Suhermanto, orang sekitar warungku yang kebanyakan orang jawa memanggilnya Cak Man. Lelaki berumur hampir 70, berperawakan kurus, berwajah tirus dan badannya tak terurus itu itu suka berlama-lama di warungku. Bahkan ketika aku sudah mencuci semua piring, memisahkan makanan sisa untuk aku dan suamiku makan, membereskan semua yang ada di warung hingga warung siap untuk ditutup pun ia belum beranjak pergi kalau suamiku yang bekerja sebagai satpam di sebuah pabrik tekstil belum pulang. Karena hanya Mas Hendra, suamiku, yang tega menyuruh Cak Man pulang secara halus.

Seperti biasanya ia akan berceloteh ngalor ngidul, mulai dari meluapnya sungai Bengawan Solo tempat ia menghabiskan masa kecilnya bermain di sana, sampai tentang pilkada yang selalu rusuh. Dari masalah penggusuran PKL sampai masalah perang Israel dan Palestina. Saat ia berceloteh aku hanya tersenyum sembari terus membereskan warungku. Terkadang di sela celotehannya keluar komentar – komentar yang lugas tentang isu yang tengah ia bicarakan. Tapi itulah uniknya Cak Man.

Satu hari ia bertanya padaku setelah mengkritik bobroknya sistem pendidikan.
“ Kamu pernah kuliah Sri? “ Aku hanya nyengir dan mengangguk pelan. Malu.
“ Selesai?”
“ Inggih Cak” Ku jawab masih sembari nyengir.
“ Hendra?” Aku mengangguk pelan. Terlalu pelan malah.
“ Ndak apa-apa Sri, toh kalian berdua ndak nganggur. Walau cuma jadi satpam dan punya warung. Sekarang itu banyak sarjana nganggur.”
Aku tersenyum. Cak Man lalu menghela nafas panjang.
“ Kayak anakku Sri. Capek-capek aku sekolahin sampai jadi sarjana, gara-gara kenal sama pergaulan nggak bener sekarang jadi bandar narkoba. Buron.”
Mata tua itu menerawang, memandangi langit-langit warung yang bocor kalau hujan deras.
“ Yang satu lagi, Solfia namanya. Anakku yang satu itu dulu ku bangga-banggakan. Juara tilawatil se-Blora, cantik. Dulu dari anak Kiai sampai anak tengkulak melamar dia, tapi di tolak semua. Sekalinya nikah Sri, dapatnya residivis yang nggak kapok-kapok masuk penjara. Kemarin aku ketemu dia di stasiun, aku ajak pulang dia malah lari. Anakku cah ayu…… dia jadi perempuan nggak genah Sri, jadi pelacur!”

Mata tua itu kini mengeluarkan air, aku menjumput selembar tisu dan ku berikan padanya. Solfia, aku mengenalnya sebagai teman bermainku saat remaja, gadis cantik dengan kerudung yang selalu menutupi rambut hitamnya, Solfia… aku tak menyangka ia berubah seperti ini.

Aku jadi ingat cerita ibu padaku sebelum beliau meninggal. Kata ibu Cak Man dulunya adalah seorang wartawan. Aku hanya tetawa geli saat ibu bercerita tentang riwayat pak tua di hadapanku ini. Waktu itu aku tak percaya. Kini aku percaya, setelah hampir setiap hari selalu mendengar ocehan-ocehannya. Cak Man kini menjadi salah satu panutan dalam hidupku setelah Ibu. Lelaki tua yang kata orang-orang itu agak stress, bagiku ia bersahaja dan berwibawa.

***

Malam semakin larut. Aku masih belum bisa memejamkan mata. Peristiwa tadi siang masih terngiang di kepalaku, Cak Man menangis.

“ Aku berdosa Sri…” Begitu datang ia langsung mengadu. Aku menatapnya dalam-dalam.
“ Anakku yang buronan itu di tembak polisi saat berusaha kabur, waktu mayatnya mau ku bawa pulang dokter melarang katanya mau di otopsi. Dikiranya aku bodoh. Mana ada mayat penjahat mati kena tembak polisi di otopsi. Pasti anakku mau di jadikan cadaver. Cah bagus… sial betul nasib kamu sudah mati masih di otak-atik.”

Aku memberinya segelas air, ku tepuk pundaknya pelan.

“ Solfia lebih parah, dia di bunuh orang gila yang ada di koran itu Sri…”
Aku mengangguk pelan, aku ingat koran yang dimaksud. Di dalamnya ada berita tentang psikopat yang senang memutilasi korban-korbannya yang kebanyakan wanita malam.
“ Aku benar-benar ndak becus jadi bapak. Padahal dulu aku di kenal sebagai wartawan handal Sri, dari tulisanku bandar narkoba tertangkap, skandal korupsi terungkap. Dan hebatnya lagi aku selalu di awasi intel. Tapi cuma jadi bapak aja aku ndak becus. Duh Ajeng… maafkan suamimu yang tolol ini……”

***

Aku melirik lagi ke arah pintu masuk warungku. Tidak biasanya sampai sesiang ini Cak Man belum menunjukkan batang hidungnya. Piring yang ia gunakan kemarin masih teronggok manis di ember, belum sempat ku cuci karena aku sibuk mengurus hajatan RW. Aku melirik lagi, biasanya jam segini ia akan berceloteh tentang macam-macam. Tiba-tiba aku rindu celotehannya. Entah ia akan berceloteh tentang apa hari ini.
Aku masih membungkus nasi ketika mas Hendra datang dengan nafas terengah-engah, aku memandangnya heran.
“ Cak Man… Cak Man … jadi korban tawuran pelajar, dia mau melerai malah dia yang kena tusuk, sekarang…”
Lama-lama suara Mas Hendra tak kudengar lagi, semuanya menjadi gelap.

Aku ingat malam terakhirnya di warungku.

“ Sri… aku kok ya sering dapat piring ini? Aku ingat karena kamu cuma punya satu yang kayak gini kan?”
Aku tersenyum simpul.
“ Iya Cak. Untuk sampeyan khusus, soalnya waktu pagi saja bisa saya cuci, jadi yang dapat pertama kali ya sampeyan. Peyan kan selalu jadi pelanggan pertama dan terakhir di warung saya.”
Dia mengangguk,
“ Ya sudah Sri. Berarti piring ini jangan kamu kasih ke orang lain ya…”
Aku tersenyum.

***

Aku mencuci piring yang terakhir digunakan Cak Man, sebuah peninggalan tak bernyawa, tapi ialah saksi bisu celotehan-celotehan lugas Cak Man. Yah, setidaknya ia meninggal ketika sedang membela kebenaran, walau hanya melerai pelajar yang tawuran. Ia pasti bahagia. Bagaimanapun ia tetap pahlawan bagiku, karena menurutku ia memang terlahir sebagai pembela kebenaran. Mas Hendra memelukku dari belakang,
“ Ia pahlawan kita semua Sri, pahlawanku dan pahlawanmu”.
Aku tersenyum,
“ Dan pahlawan Hendra kecil kita.”
Mas Hendra mentapku bingung, aku hanya mengerling dan pergi ke dapur, melanjutkan memasak dan bersiap menutup warungku.

 

Malang, 6 Maret 2008

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s