Mencoba Semua Sepatu

Kita semua pasti setuju dan menyepakati. Bahwa Tuhan menciptakan setiap manusia dengan keunikan dan keberagamannya masing-masing. Karena itulah kita sering dengar cerita-cerita tentang perbedaan, ada perbedaan yang menyatukan berbagai manusia, dan ada perbedaan yang justru menimbulkan perpecahan. Saya pernah dengar seseorang berkata, saya lupa siapa dan di mana tepatnya, bahwa mungkin, dunia ini akan lebih harmonis dan aman jika semua orang sama, tidak berbeda, baik warna kulit, bahasa, bangsa, maupun agamanya. Saya hanya bisa tersenyum ketika mendengar itu, saya nggak bisa membayangkan apa jadinya kalau di dunia ini hanya ada satu warna, satu macam, satu rupa. Pasti sangat amat membosankan, nggak ada tantangannya. Misalnya semua orang diciptakan dengan kepribadian yang baik, nggak ada profesi penegak keadilan, sebaliknya, kalau semua orang jadi penjahat, dunia ini mungkin sudah hancur sejak jaman dulu kala.

Terus, apa dengan adanya perbedaan, dunia juga bisa menjadi senyaman yang kita inginkan? Kalau saya yang ditanya, ya nggak gitu-gitu juga. Tergantung dari bagaimana sikap kita dalam menyikapi perbedaan. Salah satu cara untuk menyikapi perbedaan adalah dengan bertoleransi. Ada yang masih ingat mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan? (Terakhir saya sekolah namanya PPKN, atau Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan, dulu namanya PMP, saya lupa singkatan dari apa) Kalau ingat, kita juga pasti ingat apa saja materi yang diajarkan dalam mata pelajaran tersebut. Salah satunya adalah tentang toleransi. Sebenarnya mata pelajaran ini sudah pasti kita terima sejak Sekolah Dasar sampai Perguruan Tinggi. Tapi entah kenapa, kita masih belum mampu juga menerapkan sikap tersebut dalam kehidupan kita, bahkan dari hal yang terkecil sekalipun. Seringkali di jalan raya kita menemukan orang-orang yang tak mampu bertoleransi dan bertenggang rasa, dengan semena-mena mereka mengklakson kendaraan di depan mereka tanpa peduli bahwa di depan lampu lalu lintasnya masih merah, atau jalanannya memang sedang macet. Saya suka ikutan darah tinggi kalau ketemu orang-orang semacam itu. Seolah-olah kalau mereka terus menerus mengklakson, lampu lalu lintasnya bisa berubah jadi hijau, atau jalanan mendadak lancar.

Kembali ke soal toleransi,  berapa banyak sih dari kita yang tahu arti toleransi sebenarnya? Kalau boleh mencontek dari KBBI atau Kamus Besar Bahasa Indonesia nih, kata TOLERANSI berasal dari kata TOLERAN yang berarti :

to·le·ran a bersifat atau bersikap menenggang (menghargai, membiarkan, membolehkan) pendirian (pendapat, pandangan, kepercayaan, kebiasaan, kelakuan, dsb) yg berbeda atau bertentangan dng pendirian sendiri

(Sumber)

Bahasa sederhananya, saling menghargai dan mengerti pendapat, posisi, dan keadaan masing-masing, satu sama lainnya. Kelihatannya sih mudah ya, tapi kenyataannya, nggak semua orang bisa melakukannya. Padahal kunci dari bertoleransi sebenarnya hanya satu, pengertian. Ada yang pernah dengar salah satu pepatah barat yang bunyinya,

Always put yourself in other’s people shoes. If you feel that it hurts you, it probably hurts the person too

(Anonymous)

Kalau diartikan ke Bahasa Indonesia, kurang lebih artinya, “Cobalah untuk selalu menempatkan diri di sepatu orang lain, jika kamu merasa tidak nyaman memakai sepatu itu, maka pemakainya pun akan merasakan hal yang sama.” Ini yang nggak pernah kita terapkan dalam hidup kita. Mencoba mengerti dan memahami perasaan orang lain.

Saya punya cerita tentang hal ini. Jadi dulu saya pernah punya seorang kenalan yang lebay-nya nggak ketulungan. Dia merasa hidupnya paling dramatis dan menyedihkan sejagat raya, di dunia ini dia merasa seolah-olah dia diciptakan untuk menderita dan merana. Saya yang nggak terlalu dekat dengan dia tapi “terpaksa” harus berteman dengan dia karena dia adalah temannya teman sekamar saya (ribet? hehe), merasa gerah dengan ke-lebay-annya itu. Usut punya usut, ternyata Ayahnya meninggal ketika dia masih remaja, Ibunya terpaksa menjadi tulang punggung keluarga, adiknya harus bekerja dan dia harus putus kuliah. Ke-lebay-annya ternyata adalah akibat dari kurangnya kasih sayang yang ia terima dari keluarga. Meskipun mungkin, Ibu dan keluarganya yang lain masih hidup dan menyayanginya, tapi kehilangan sosok Ayah membuat jiwanya terguncang yang berakibat pada kondisi psikologisnya. Sebelum saya tahu kisah sedihnya itu, saya sering il-feel dengan kelakuannya, apalagi ketika dia diputuskan pacarnya, saya seperti sedang dicurhati Fitri Tropica, lebay-nya ampun-ampunan (Hehe). Setelah tahu ceritanya, saya jadi melihat dia dengan cara yang berbeda. Saya jadi simpatik sama dia yang tetap bisa bertahan meskipun keluarganya kehilangan kepala keluarga. Saya nggak kebayang kalau harus berada di posisinya, bukan lebay lagi, mungkin saya langsung gila dan gantung diri.

Seperti itu, kadang untuk mengerti dan bertoleransi dengan sikap, fikiran, dan perasaan orang lain kita harus mencoba memposisikan diri kita sebagai orang tersebut. Setelah mengerti, kita akan mulai memaklumi dan menganggap hal yang kita hadapi bukanlah sebuah perbedaan yang harus kita kontra-i (maafkan kosa kata saya). Orang bisa begitu terlihat cantik dan anggun saat memakai sepatu stiletto, tapi kita nggak pernah tahu rasa sakit dan pegal yang dialami kakinya ketika memakai sepatu itu, atau kita menganggap semua yang bersandal jepit lebih rendah levelnya dari kita, padahal kita nggak tahu betapa nyaman dan bersahajanya hidup mereka. Begitulah, saat kita mulai sebal, kesal, dan marah pada orang lain karena sikap dan cara berfikirnya, saat itu kita harus belajar menempatkan diri kita dan melihat dari sudut pandang mereka. Seperti yang saya sebutkan di atas, saya kadang masih kesel dengan kelakuan para pengendara yang hobi klakson sana-sini, padahal saya juga bayar pajak, tapi kalau saya berada di posisi mereka, mungkin saya akan melakukan hal yang sama, saya mikir positif saja, siapa tahu yang pada hobi klakson-klakson itu memang sedang terburu-buru karena istrinya mau melahirkan semua, hehe.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s