Teori VS Praktek

Dan, tiba-tiba saja, di siang yang panas ini saya bernafsu untuk posting sesuatu.

Jadi, sebelum pulang tadi saya sempat mengalami perdebatan panjang kali lebar tentang mana yang lebih bagus, teori atau praktek. Sebagai catatan, bukan saya yang berdebat. Saya mana punya nyali debat sama orang, saya tipe orang yang bisa dibilang senantiasa menghindari perdebatan, bahasa kasarnya pengecut a.k.a cemen, hehe. Kalau keberatan dengan suatu hal saya lebih suka memendam lalu cuap-cuap di Twitter atau blog pribadi saya, lebih seringnya, saya menggerutu di belakang. Mungkin karena itu para jerawat betah nangkring di muka saya.

Kembali soal debat yang panas itu. Alkisah, ada si A (saya sebut si A saja walaupun sebenarnya saya tahu nama aslinya, hehe) yang merasa konsep yang ia gunakan dalam mengajar selama ini dilabeli sebagai konsep yang “keras dan tidak mendidik” oleh si B yang mengaku mempunyai konsep yang lebih baik dalam mengajar karena kebetulan beliau baru saja lulus sebagai sarjana Psikologi salah satu Universitas swasta di kota saya. Nah, si A, yang sudah berpengalaman mengajar selama bertahun-tahun dan pernah menemui banyak anak dengan banyak karakter ini merasa tersinggung karena ia merasa konsep mengajar yang ia terapkan, berdasarkan pengalamannya, cukup fleksibel, karena menyesuaikan dengan karakter masing-masing anak. Sedangkan si B merasa, konsep si A terlalu keras, karena menurut teori yang dipelajarinya, anak-anak tidak boleh dididik dengan kekerasan baik verbal maupun fisik karena hal tersebut berpengaruh pada proses perkembangan kepribadian si anak. Saya, sebagai pendengar dan penonton perdebatan sengit yang baik jadi ikutan mikir. Mana ya yang lebih bagus? teori atau praktek?

Pertanyaan yang sepanjang jalan menuju rumah menghantui (eeeaaa…) saya ini membuat saya bergegas dan langsung menghubungi Mbah Google begitu sampai di rumah. Ternyata, bukan saya saja yang penasaran tentang hal ini, terbukti dengan munculnya 1.040.000 hasil pencarian begitu saya menekan tombol enter.

Pada dasarnya sih, 2 hal tersebut sama-sama penting dan bagus. Sebuah teori harus melalui perjalanan panjang melewati berbagai percobaan, observasi, pengalaman, dan praktek sebelum bisa di terapkan dan disebut sebagai sebuah teori. Sedangkan praktek atau penerapan yang tidak berpedoman pada teori atau pembelajaran juga tidak bisa menghasilkan suatu hal secara maksimal. Misalnya, saya mau mudik ke rumah nenek saya di Bandung, secara teori kalau saya mau ke Bandung dari rumah saya di Malang seharusnya saya menuju barat, karena Bandung letaknya di bagian barat pulau Jawa. Tapi saya nggak bisa terus menerus menuju Barat, karena menurut pengalaman, jalur Utara pulau Jawa lebih efisien untuk dilewati karena kondisi jalan dan rambu lalu lintasnya lebih baik dan jelas daripada jika saya terus saja melewati kota-kota di bagian barat kota saya yang notabene kota-kota kecil dengan kondisi jalan dan rambu penunjuk arah yang kurang baik. Dengan menggabungkan teori dan praktek, perjalanan saya menuju rumah nenek saya lebih efisien daripada saya terus menerus melihat peta tanpa memperhatikan kondisi jalan, atau terus menerus mengikuti insting berdasarkan pengalaman tanpa mencari tahu apakah jalan yang akan saya lewati masih layak, tidak macet atau sedang mengalami perbaikan.

Nah, jadi mana yang lebih baik, praktek atau teori?

Menurut saya, teori dan praktek adalah 2 hal yang berbeda tergantung pada situasi dan kondisi yang kita alami. Secara teori, jarak tempuh kota Malang dan Surabaya memakan waktu 2 jam. Sedangkan prakteknya, dari Malang ke Surabaya bisa memakan waktu sampai 5 jam karena kemacetan di daerah Porong, Sidoarjo yang terkena bencana Lumpur Lapindo. Ini yang saya maksud. Kita tidak bisa terus menerus meng-kaku-kan (kosa kata apa ini…) diri kita dan berpaku pada teori tanpa melihat keadaan di sekitar. Sedangkan jika kita melakukan suatu hal tanpa belajar atau bersandar pada suatu teori, kita akan tersesat dan tidak bisa mencapai suatu hal dengan maksimal. Jadi, kesimpulannya (eeeaaa…), baik teori maupun praktek sama penting dan baiknya. Untuk mencapai suatu hal yang kita inginkan kita perlu belajar dan bersandar pada teori-teori, dan agar teori tersebut berdampak maksimal, kita perlu mengaplikasikan dan mempraktekkannya di kehidupan kita sehingga kita tahu mana yang tepat dan mana yang tidak tepat untuk kita terapkan dalam kondisi kehidupan kita masing-masing yang berbeda satu sama lainnya. Pendeknya, teori tanpa praktek itu seperti sayur tanpa garam, hambar dan sulit kita cerna. Sedangkan praktek saja tanpa teori seperti berjalan di kegelapan tanpa cahaya, kita nggak tahu kemana kita melangkah dan apa yang akan kita hadapi di depan.

Intinya?

Seimbang. Segala sesuatu di dunia ini bisa tetap bertahan dan bekerja dengan baik karena hukum keseimbangan. Ada salah ada benar, ada gelap ada terang, ada siang ada malam, ada panas ada hujan, ada saya ada kamu, :p (ahemm…)

Oh iya, soal debat yang saya sebut di atas, hasilnya seri. Yang menang saya (Lho kok?). Iya, karena saya sempat kabur sebelum dua orang tersebut menumpahkan darah masing-masing. hehe…

P.S
Ada kutipan lucu tentang teori yang saya dapat dari sini

Before I got married I had six theories about raising children; now, I have six children and no theories.

-John Wilmot-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s