Saya Bodoh, Kamu?

Saya lagi kesel.

Kata orang, kalau lagi kesal, emosi, dan marah lebih baik menghindari percakapan dengan orang lain. Jaga-jaga, daripada salah ngomong, maksud hati ingin curhat, entar malah jadinya perang emosi jiwa, dan batin (menurut pengalaman pribadi, hehe). Jadi, nge-bloglah saya. Setidaknya, kalau nulis di blog kita masih bisa “menyaring” mana kata-kata yang pantas untuk ditulis, mana yang tidak, jadi nggak ada yang tersakiti karena tulisan kita, harapan saya sih begitu… ;p

Yang mau saya tulis juga sebenarnya berhubungan dengan komentar-komentar dan kata-kata tajam dari mulut-mulut tak bertanggung jawab yang sudah bikin saya sakit hati hari ini. Jadi, hari ini Kepala Sekolah di tempat saya bekerja curhat. Tadi pagi, salah satu Mama murid saya datang mengadu ke beliau. Katanya, dia minder karena baru saja mendengar omongan-omongan nggak enak dari Mama-Mama lain yang biasanya ngerumpi di depan sekolah. Katanya lagi, Mama-Mama tersebut bilang bahwa kelas yang ditempati anaknya sekarang adalah kelas yang dikhususkan untuk anak-anak yang “goblok” (Jawa : Bebal). Iya, mereka pakai kata “goblok” yang bagi Orang Jawa saja kasar, bukan “bodoh” atau “tidak pintar” (kata “goblok” saya kutip penuh dari Kepala Sekolah yang dicurhati). Sebagai wali kelas anak yang bersangkutan jelas saya kaget. Meskipun Kepala Sekolah saya sudah menjelaskan langsung pada sang Mama bahwa pemilihan kelas tidak didasarkan pada kepintaran sang anak, tetapi secara acak. Justru di kelas saya rata-rata umur anaknya lebih matang daripada kelas lain. Tapi tetap saja, saya jadi kepikiran sampai detik ini, karena nggak habis pikir bagaimana bisa seorang dengan jumlah umur sebanyak mereka dan dengan tingkat kedewasaan yang matang bisa beropini sesempit itu.

Rasanya pengin teriak, “Halooo, ini TK Ibu-Ibu… Bukannya Universitas…”

Kepintaran semacam apa sih yang kita harapkan dari seorang anak TK? Apa mereka harus sudah bisa membaca koran dengan cepat? Atau apa mereka harus bisa menyelesaikan operasi hitung perkalian dan pembagian dengan lancar tanpa kalkulator?
tsk….

Lucunya. Yang mereka bilang kelas anak “goblok” itu adalah kelas A (jaman dulu istilahnya nol kecil), dan bulan ini mereka baru memasuki bulan ke 3 sebagai murid kelas A, dipotong libur puasa dan lebaran, secara tekhnis mereka baru belajar selama 6 minggu saja. Terus, “kepintaran” macam apa yang harus mereka lakukan?

(Tarik nafas dalam-dalam…)

Saya akui, anak-anak di kelas saya memang bodoh semua. Tapi bukankah kita terlahir ke dunia ini dalam keadaan bodoh ya? Coba angkat tangan Anda, kalau begitu lahir Anda langsung bisa berjalan atau bahkan berlari? Nggak ada kan. Segala hal yang kita lakukan berawal dari sebuah kebodohan. Sejak lahir kita diciptakan untuk senantiasa belajar dari sekitar kita, begitu sedikit besar kita belajar dari Ibu kita, sedikit besar lagi kita belajar dari sekolah dan lingkungan, begitu dewasa kita masih belajar dari banyak hal bahkan dari takdir dan kehidupan yang kita alami. Itu proses yang mau tidak mau, suka tidak suka memang harus kita lewati. Mana ada sih ilmuwan yang lahir langsung membuat rumus, astronot yang begitu lahir langsung ke bulan, atau pujangga yang begitu lahir bukannya menangis malah mendeklamasikan sebuah puisi tentang rasa terima kasih pada Ibu yang telah melahirkannya, nggak ada kan? Kalau ada, berarti bayi itu bayi ajaib, bayinya jin (Jadi ingat film The Omen dan Bayi Ajaib, hehe).

Saya pribadi adalah tipe orang yang benci mengelompokkan seseorang dalam prasangka-prasangka yang tak berdasar seperti si “pintar” dan si “bodoh.” Kenapa saya bilang begitu, karena nggak ada satuan ukuran-pun yang mampu mengukur hal-hal semacam itu. Bisa saja seseorang “bodoh” di bidang eksak tapi dalam bidang lain dia justru pintar atau bahkan jenius. Barometer setiap orang dalam segi kepintaran berbeda satu sama lainnya. Sebagai contoh, saya punya murid yang dalam hal motorik halus seperti tulis menulis, mewarna dan berhitung tidak begitu pintar, tetapi dalam hal fisik motorik dan hafalan dia bisa dikategorikan jenius, karena sekali mendengarkan lagu atau surat-surat pendek saja dia sudah mengingatnya dengan baik.

Apa yang begitu masih disebut “bodoh” juga?

Nggak heran akhir-akhir ini banyak kasus anak kecil yang mati bunuh diri karena alasan-alasan sepele. Dunia terlalu menekan dan mengharapkan mereka menjadi “sempurna.” Saya sendiri bukan seseorang yang pintar dalam akademik. Waktu SMA, nilai-nilai ujian matematika saya nggak pernah lebih dari angka 5, itu juga nilai belas kasihan dari guru Matematika saya karena saya masih sudi menghitung rumus-rumus yang ruwet itu dan menuliskan hasilnya di atas kertas ujian sekalipun jawaban saya salah kaprah, jadi secara tekhnis sebenarnya nilai saya nol, hehe. Tapi, saya masih bisa hidup sampai sekarang, masih lulus meskipun dengan nilai pas-pas-an, dan masih bisa menghitung uang dengan baik meskipun nilai Matematika saya di ambang jurang. ;p

Jadi, siapa yang “bodoh”?
Kita yang berbicara tanpa berfikir kalau ucapan kita itu dapat “membunuh” seseorang. Atau mereka yang belajar begitu keras demi memenuhi hasrat orang-orang dewasa di sekitar mereka.

Saya masih kesel.

Tetapi. Kekesalan ini justru memotivasi saya. Saya ingin membuktikan pada Mama-Mama bermulut pahit manis itu dan semua orang kalau anak-anak tersebut tidak se-“goblok” yang mereka kira. Saya akan bentuk budi pekerti mereka sedemikian rupa sehingga nantinya, ketika besar nanti, mereka tidak akan menjadi generasi yang membodoh-bodohkan orang lain dan bertindak semena-mena. Hehe..

By the way, harapan saya diatas lebih seperti obsesi daripada resolusi ya? Semoga saya mampu, aamiin…

Children are great imitators. So give them something great to imitate.

-Anonymous-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s