Lautan Maaf dari Jeng R

Saya tipe orang yang percaya setiap orang, seiring dengan bertambahnya umur dan pengalaman mereka, akan berubah menjadi pribadi yang lebih bijaksana dari sebelumnya. Beberapa orang bahkan bisa berubah 180 derajat lebih baik dari ia yang dulu. Pun saya. Sekalipun saya akui beberapa sifat dasar yang saya miliki masih belum bisa juga berubah, paling tidak cara berfikir saya dan cara saya memandang suatu masalah mengalami sedikit perubahan ke arah yang lebih baik.

Saya yang dulu (mungkin karena pengaruh darah muda juga) adalah seseorang dengan gengsi, keegoisan, dan kecemburuan tingkat tinggi. Memang hal-hal yang sebut itu tidak saya tunjukkan secara gamblang pada orang-orang sekitar saya, tapi perasaan-perasaan seperti itu sering sekali saya alami dan jujur saja, benar-benar membuat hati saya cepat mendidih dan cenderung bermuram durja. Alkisah, ada seorang teman sebut saja namanya R. Entah darimana awal kisah ini bermula, yang saya tahu, selepas saya lulus kuliah, sikap saya pada R benar-benar bisa dikategorikan sikap terkejam yang pernah saya terapkan pada teman saya. R dan saya sama-sama mengagumi (bahasa ABG-nya naksir, hehe) seorang teman seangkatan kami. Fakta ini baru saya ketahui setelah kami lulus kuliah. Saya dengan jiwa kompetitif saya saat itu tentu merasa kalah telak dengan R. Bagaimana tidak, saat itu saya seorang pengangguran, dengan aktivitas serabutan yang penghasilannya tak tetap. Sedangkan R memiliki nasib yang lebih beruntung, begitu lulus ia langsung diterima kerja di sebuah Bank swasta asing di Jakarta. Saya merasa ia mendapatkan semua hal yang saya impikan dulu ketika masih kuliah, hidup dan bekerja dengan penghasilan tinggi di Jakarta. Ya, sifat saya memang kekanakan sekali waktu itu. Saya bahkan menge-blok akun FB si R karena hati saya panas setiap membaca status-statusnya yang membuat saya semakin iri pada kehidupannya. Ditambah selera kami yang sama dalam hal cinta, jadilah si R saat itu “musuh” nomor 1 yang paling menyebalkan bagi saya.

Seiring berjalannya waktu, perasaan saya terhadap R dan lelaki yang kami taksir itu berubah. Saya tak lagi seambisius dulu, dan tak lagi membenci R sedahsyat dahulu. Tapi karena sifat gengsi saya yang ada pada level puncak, untuk memulai lagi lembaran baru, dan meminta maaf pada R rasanya sulit sekali.

Allah Maha Baik. Tiga hari sebelum lebaran, saya yang sedang berbelanja bersama Ibu saya tiba-tiba mendapat telfon. Begitu saya lihat layar HP saya, saya terkejut, cemas, sekaligus malu. Saya melihat nama R terpampang nyatah di layar HP saya (hehe). Ternyata R memberitahu saya bahwa ia mengundang saya dan teman-teman seangkatan lainnya yang kebetulan sedang berada di Malang untuk berbuka bersama, meskipun tidak langsung mengiyakan ajakannya, tapiย saat ituย saya berjanji pada diri saya bahwa saya akan menanggalkan semua rasa yang membebani saya dan memenuhi undangan buka bersama R.

Dan tibalah hari itu, ini pertemuan pertama kami sejak lulus 3 tahun lalu. Tanpa kata dan lewat senyumnya yang lepas saya tahu sikap R pada saya tidak pernah berubah. Saat itu saya sadar, bahwa selama ini saya tidak pernah “berperang” dengan dia, kebencian saya pada dia bertepuk sebelah tangan. Bahkan mungkin sebenarnya saya sedang berperang dengan diri saya yang merasa bahwa R adalah musuh yang harus saya taklukkan. Saya merasa malu sekaligus menjadi pecundang paling menyedihkan di dunia ini. Beberapa hari berikutnya, R kembali meng-add saya sebagai temannya di FB. Saat itu saya merasa inilah saat yang tepat untuk mengibarkan bendera putih setinggi-tingginya dan melembutkan hati saya selembut-lembutnya. Karena ternyata, lautan maaf itu ada di depan saya, saya saja yang terlalu sombong, takut dan pengecut untuk menyelaminya.

Sekarang, kalau dipikir-pikir saya benar-benar mahluk paling menyebalkan. Hanya karena seorang laki-laki (yang mungkin sekarang sudah melupakan nama saya), saya berani berbuat sejahat itu. Drama banget, hehe. Seperti kata salah satu tagline iklan deterjen, “Nggak belajar kalau nggak ada noda.” Dan saya benar-benar mendapatkan banyak pelajaran dari ketololan dan kesalahan saya ini. Saya juga sangat amat bersyukur bisa mengenal R yang sebaik itu. Saya berjanji pada diri saya sendiri, saya tidak akan pernah lagi memutus tali silaturahmi dengan siapapun, karena saya nggak pernah tahu, bagaimana saya berakhir nanti, yang jelas saya nggak mau meninggalkan dunia ini tanpa satupun teman di samping saya yang mendoakan saya.

Untuk R, in case you read this, maaf lahir batin ya Jeung… You are the best! ๐Ÿ™‚

ู‚ูŽุงู„ูŽ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู – ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… – : ุฃูŽู„ุงูŽ ุฃูŽุฏูู„ูู‘ูƒูู…ู’ ุนูŽู„ูŽู‰ ุฃูŽูƒู’ุฑูŽู…ู ุฃูŽุฎู’ู„ุงูŽู‚ู ุงู„ุฏูู‘ู†ู’ูŠูŽุง ูˆูŽุงู„ุขุฎูุฑูŽุฉูุŸ ุชูŽุนู’ูููˆ ุนูŽู…ูŽู‘ู†ู’ ุธูŽู„ูŽู…ูŽูƒูŽ ูˆูŽุชูุนู’ุทูู‰ ู…ูŽู†ู’ ุญูŽุฑูŽู…ูŽูƒูŽ ูˆูŽุชูŽุตูู„ู ู…ูŽู†ู’ ู‚ูŽุทูŽุนูŽูƒูŽ

Nabi saw bersabda : “Maukah kalian aku tunjukkan akhlak yang paling mulia di dunia dan diakhirat? Memberi maaf orang yang mendzalimimu, memberi orang yang menghalangimu dan menyambung silaturrahim orang yang memutuskanmuโ€ (HR. Baihaqi)

Postingan ini diikut sertakan dalam Giveaway 4th anniversary Emotional Flutter”
giveaway4

Advertisements

10 thoughts on “Lautan Maaf dari Jeng R

  1. Kisah yg sangat sederhana tapi inspiratif. Memang punya musuh itu ga enak ya, dan yg namanya kebencian itu sama dengan memegang sebuah besi panas…pada akhirnya tangan kita sendiri yg akan terluka >_<

    Anyway, thanks udah ikutan giveaway Emotional Flutter ya =)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s