Sepenggal Malam Takbiran

Mohon maaf lahir batin folks…

Saya dan adik-adik saya (yang bermuram durja karena mobil kami masih betah ngendon di  kantor polisi, hehe) baru saja menghabiskan malam takbiran di sebuah Mall di kota kami. Benar-benar cara “modern” untuk menghabiskan malam takbiran. Saya jadi ingat jaman saya kecil dulu, setiap malam takbiran kaki-kaki kecil saya dan teman sebaya berlarian menuju masjid untuk mengikuti takbir keliling dengan membawa obor dan senyum termanis kami. Sepanjang jalan dengan hati riang kami akan meneriakkan takbir mengikuti pukulan bedug yang ditarik dengan gerobak. Anak jaman sekarang mungkin jarang melihat yang seperti itu.

Sepanjang jalan dari rumah menuju mall, saya banyak melihat berbagai macam orang dengan berbagai macam kegiatan mereka dalam melewati malam takbiran. Ada mas-mas yang duduk makan nasi goreng di pojokan jalan sendirian, sepertinya dia mahasiswa perantauan yang mungkin tidak bisa pulang kampung atau kehabisan tiket untuk pulang kampung. Ada juga sepasang suami istri dengan motor yang sebelah kanan dan kiri joknya dihiasi karung goni, sementara istrinya memunguti sampah plastik dan botol, sang suami dengan setia menunggui barang “temuan” mereka. Ada lagi kumpulan anak muda iseng yang nggak bertanggung jawab bermain petasan di pinggir jalan, dan mengagetkan setiap pengendara yang lewat. Dan banyak lagi…

Untuk kebanyakan orang, malam ini mungkin salah satu malam istimewa mereka. Karena hari ini mereka akan mengkhiri ibadah puasa mereka dan esoknya mereka akan menyandang gelar sebagai pemenang dalam melawan rasa lapar, haus dan hawa nafsu mereka sendiri. Tapi bagi sebagian yang lain, malam ini menjadi salah satu malam yang menyedihkan, karena mereka harus berpisah dengan bulan Ramadhan sementara mereka tidak tahu apakah tahun depan mereka dapat bertemu Ramadhan lagi. Kira-kira, masuk golongan manakah saya, kita? Hanya Allah yang tahu.

Apapun makna malam takbiran bagi kebanyakan orang-orang itu, untuk saya malam ini selalu memiliki arti yang istimewa, karena  setiap akhir Ramadhan saya selalu belajar hal baru, mengalami hal baru, dan menjadi pribadi yang baru. Seperti yang saya dapat malam ini, dari mas-mas yang menyantap sepiring nasi goreng sendirian, sepasang suami istri pemulung yang romantis, dan anak-anak yang bermain petasan itu. Bahwa, selalu ada hal untuk disyukuri, dalam keadaan sesulit apapun.

Taqoballallahu minna wa minkum,
Semoga lebaran kali ini kita benar-benar menjadi pemenang dan pribadi yang lebih baik lagi, aamiin Allahumma aamiin…

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1434 H 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s