Pemenang

Horeeeeee…… (alay alert)

Sebelumnya terimakasih banyak kepada Keven karena memilih tulisan saya yang ini sebagai pemenang Giveaway Emotional Flutternya. Masih nggak nyangka, karena selama ini saya merasa hanya diri saya sendiri yang bilang tulisan-tulisan saya bagus, maklum kenarsisan saya ada pada level akut yang mengkontaminasi seluruh organ tubuh saya. Tapi ternyata ada juga orang khilaf yang menganggap tulisan saya layak dibaca dan diapresiasi, hehe. Terimakasih sekali lagi, karena lomba ini membuat saya lebih termotivasi untuk rajin ngeblog dan nulis apapun yang saya mau..

Ngomong-ngomong tentang pemenang. Jujur, ini kali pertama dalam hidup saya, saya ikut lomba dan menang. Saya tipe orang yang mudah menyerah dan patah arang. Jadi saya jarang mengikuti kompetisi yang mengharuskan saya mengadu kemampuan saya dengan orang lain. Apalagi kalau hasil akhir kompetisi tersebut tidak sesuai dengan yang saya inginkan. Mental tempe memang. Padahal sebenarnya, jauh dalam diri kita, ada jiwa seorang pemenang yang menunggu untuk dibangkitkan dari tidur panjangnya, seperti kata salah satu potongan lirik laguย Hero-nya Mariah Carey

There’s a hero, when you look into your heart…

Guru saya pernah berkisah tentang bagaimana kita, semua manusia, sejatinya adalah pemenang. Karena dari ribuan sel sperma yang berlomba menuju indung telur di rahim Ibu kita, hanya satu sel saja yang berhasil sampai dengan selamat di sana. Dan itulah cikal bakal kehidupan kita. Dari situ saja kita telah memenangkan kompetisi pertama dalam hidup kita. Setelah itu kita lahir ke dunia dan dihadapkan dengan kompetisi-kompetisi lain yang semakin tinggi tingkat kesulitannya sejalan dengan bertambahnya umur kita. Dan kalau sampai detik ini kita masih bertahan, tidak menjadi gila atau stress atau bahkan mati konyol karena bunuh diri, berarti sampai detik ini juga kita (masih) adalah pemenang.

Jadi kenapa harus menyerah ketika menghadapi suatu masalah dalam hidup kita, bukan kah sebelumnya kita telah melewati banyak hal dan berhasil melalui semua itu dengan baik? Tetap berjuang dan jadilah pemenang. Selalu.. ๐Ÿ™‚

PS: Tulisan ini sayaย tulis sebagai pengingat bagi diri saya sendiri.

Advertisements

Lautan Maaf dari Jeng R

Saya tipe orang yang percaya setiap orang, seiring dengan bertambahnya umur dan pengalaman mereka, akan berubah menjadi pribadi yang lebih bijaksana dari sebelumnya. Beberapa orang bahkan bisa berubah 180 derajat lebih baik dari ia yang dulu. Pun saya. Sekalipun saya akui beberapa sifat dasar yang saya miliki masih belum bisa juga berubah, paling tidak cara berfikir saya dan cara saya memandang suatu masalah mengalami sedikit perubahan ke arah yang lebih baik.

Saya yang dulu (mungkin karena pengaruh darah muda juga) adalah seseorang dengan gengsi, keegoisan, dan kecemburuan tingkat tinggi. Memang hal-hal yang sebut itu tidak saya tunjukkan secara gamblang pada orang-orang sekitar saya, tapi perasaan-perasaan seperti itu sering sekali saya alami dan jujur saja, benar-benar membuat hati saya cepat mendidih dan cenderung bermuram durja. Alkisah, ada seorang teman sebut saja namanya R. Entah darimana awal kisah ini bermula, yang saya tahu, selepas saya lulus kuliah, sikap saya pada R benar-benar bisa dikategorikan sikap terkejam yang pernah saya terapkan pada teman saya. R dan saya sama-sama mengagumi (bahasa ABG-nya naksir, hehe) seorang teman seangkatan kami. Fakta ini baru saya ketahui setelah kami lulus kuliah. Saya dengan jiwa kompetitif saya saat itu tentu merasa kalah telak dengan R. Bagaimana tidak, saat itu saya seorang pengangguran, dengan aktivitas serabutan yang penghasilannya tak tetap. Sedangkan R memiliki nasib yang lebih beruntung, begitu lulus ia langsung diterima kerja di sebuah Bank swasta asing di Jakarta. Saya merasa ia mendapatkan semua hal yang saya impikan dulu ketika masih kuliah, hidup dan bekerja dengan penghasilan tinggi di Jakarta. Ya, sifat saya memang kekanakan sekali waktu itu. Saya bahkan menge-blok akun FB si R karena hati saya panas setiap membaca status-statusnya yang membuat saya semakin iri pada kehidupannya. Ditambah selera kami yang sama dalam hal cinta, jadilah si R saat itu “musuh” nomor 1 yang paling menyebalkan bagi saya.

Seiring berjalannya waktu, perasaan saya terhadap R dan lelaki yang kami taksir itu berubah. Saya tak lagi seambisius dulu, dan tak lagi membenci R sedahsyat dahulu. Tapi karena sifat gengsi saya yang ada pada level puncak, untuk memulai lagi lembaran baru, dan meminta maaf pada R rasanya sulit sekali.

Allah Maha Baik. Tiga hari sebelum lebaran, saya yang sedang berbelanja bersama Ibu saya tiba-tiba mendapat telfon. Begitu saya lihat layar HP saya, saya terkejut, cemas, sekaligus malu. Saya melihat nama R terpampang nyatah di layar HP saya (hehe). Ternyata R memberitahu saya bahwa ia mengundang saya dan teman-teman seangkatan lainnya yang kebetulan sedang berada di Malang untuk berbuka bersama, meskipun tidak langsung mengiyakan ajakannya, tapiย saat ituย saya berjanji pada diri saya bahwa saya akan menanggalkan semua rasa yang membebani saya dan memenuhi undangan buka bersama R.

Dan tibalah hari itu, ini pertemuan pertama kami sejak lulus 3 tahun lalu. Tanpa kata dan lewat senyumnya yang lepas saya tahu sikap R pada saya tidak pernah berubah. Saat itu saya sadar, bahwa selama ini saya tidak pernah “berperang” dengan dia, kebencian saya pada dia bertepuk sebelah tangan. Bahkan mungkin sebenarnya saya sedang berperang dengan diri saya yang merasa bahwa R adalah musuh yang harus saya taklukkan. Saya merasa malu sekaligus menjadi pecundang paling menyedihkan di dunia ini. Beberapa hari berikutnya, R kembali meng-add saya sebagai temannya di FB. Saat itu saya merasa inilah saat yang tepat untuk mengibarkan bendera putih setinggi-tingginya dan melembutkan hati saya selembut-lembutnya. Karena ternyata, lautan maaf itu ada di depan saya, saya saja yang terlalu sombong, takut dan pengecut untuk menyelaminya.

Sekarang, kalau dipikir-pikir saya benar-benar mahluk paling menyebalkan. Hanya karena seorang laki-laki (yang mungkin sekarang sudah melupakan nama saya), saya berani berbuat sejahat itu. Drama banget, hehe. Seperti kata salah satu tagline iklan deterjen, “Nggak belajar kalau nggak ada noda.” Dan saya benar-benar mendapatkan banyak pelajaran dari ketololan dan kesalahan saya ini. Saya juga sangat amat bersyukur bisa mengenal R yang sebaik itu. Saya berjanji pada diri saya sendiri, saya tidak akan pernah lagi memutus tali silaturahmi dengan siapapun, karena saya nggak pernah tahu, bagaimana saya berakhir nanti, yang jelas saya nggak mau meninggalkan dunia ini tanpa satupun teman di samping saya yang mendoakan saya.

Untuk R, in case you read this, maaf lahir batin ya Jeung… You are the best! ๐Ÿ™‚

ู‚ูŽุงู„ูŽ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู – ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… – : ุฃูŽู„ุงูŽ ุฃูŽุฏูู„ูู‘ูƒูู…ู’ ุนูŽู„ูŽู‰ ุฃูŽูƒู’ุฑูŽู…ู ุฃูŽุฎู’ู„ุงูŽู‚ู ุงู„ุฏูู‘ู†ู’ูŠูŽุง ูˆูŽุงู„ุขุฎูุฑูŽุฉูุŸ ุชูŽุนู’ูููˆ ุนูŽู…ูŽู‘ู†ู’ ุธูŽู„ูŽู…ูŽูƒูŽ ูˆูŽุชูุนู’ุทูู‰ ู…ูŽู†ู’ ุญูŽุฑูŽู…ูŽูƒูŽ ูˆูŽุชูŽุตูู„ู ู…ูŽู†ู’ ู‚ูŽุทูŽุนูŽูƒูŽ

Nabi saw bersabda : “Maukah kalian aku tunjukkan akhlak yang paling mulia di dunia dan diakhirat? Memberi maaf orang yang mendzalimimu, memberi orang yang menghalangimu dan menyambung silaturrahim orang yang memutuskanmuโ€ (HR. Baihaqi)

Postingan ini diikut sertakan dalam Giveaway 4th anniversary Emotional Flutter”
giveaway4

Sepenggal Malam Takbiran

Mohon maaf lahir batin folks…

Saya dan adik-adik saya (yang bermuram durja karena mobil kami masih betah ngendon di ย kantor polisi, hehe) baru saja menghabiskan malam takbiran di sebuah Mall di kota kami. Benar-benar cara “modern” untuk menghabiskan malam takbiran. Saya jadi ingat jaman saya kecil dulu, setiap malam takbiran kaki-kaki kecil saya dan teman sebaya berlarian menuju masjid untuk mengikuti takbir keliling dengan membawa obor dan senyum termanis kami. Sepanjang jalan dengan hati riang kami akan meneriakkan takbir mengikuti pukulan bedug yang ditarik dengan gerobak. Anak jaman sekarang mungkin jarang melihat yang seperti itu.

Sepanjang jalan dari rumah menuju mall, saya banyak melihat berbagai macam orang dengan berbagai macam kegiatan mereka dalam melewati malam takbiran. Ada mas-mas yang duduk makan nasi goreng di pojokan jalan sendirian, sepertinya dia mahasiswa perantauan yang mungkin tidak bisa pulang kampung atau kehabisan tiket untuk pulang kampung. Ada juga sepasang suami istri dengan motor yang sebelah kanan dan kiri joknya dihiasi karung goni, sementara istrinya memunguti sampah plastik dan botol, sang suami dengan setia menunggui barang “temuan” mereka. Ada lagi kumpulan anak muda iseng yang nggak bertanggung jawab bermain petasan di pinggir jalan, dan mengagetkan setiap pengendara yang lewat. Dan banyak lagi…

Untuk kebanyakan orang, malam ini mungkin salah satu malam istimewa mereka. Karena hari ini mereka akan mengkhiri ibadah puasa mereka dan esoknya mereka akan menyandang gelar sebagai pemenang dalam melawan rasa lapar, haus dan hawa nafsu mereka sendiri. Tapi bagi sebagian yang lain, malam ini menjadi salah satu malam yang menyedihkan, karena mereka harus berpisah dengan bulan Ramadhan sementara mereka tidak tahu apakah tahun depan mereka dapat bertemu Ramadhan lagi. Kira-kira, masuk golongan manakah saya, kita? Hanya Allah yang tahu.

Apapun makna malam takbiran bagi kebanyakan orang-orang itu, untuk saya malam ini selalu memiliki arti yang istimewa, karena ย setiap akhir Ramadhan saya selalu belajar hal baru, mengalami hal baru, dan menjadi pribadi yang baru. Seperti yang saya dapat malam ini, dari mas-mas yang menyantap sepiring nasi goreng sendirian, sepasang suami istri pemulung yang romantis, dan anak-anak yang bermain petasan itu. Bahwa, selalu ada hal untuk disyukuri, dalam keadaan sesulit apapun.

Taqoballallahu minna wa minkum,
Semoga lebaran kali ini kita benar-benar menjadi pemenang dan pribadi yang lebih baik lagi, aamiin Allahumma aamiin…

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1434 H ๐Ÿ™‚