Bahagia

Akhir-akhir ini Ibu saya, entah kesambet apa, tiba-tiba saja sering bercerita tentang kesuksesan anak-anak koleganya yang sebaya dengan saya. Ada yang sedang melanjutkan kuliahnya di Jerman, ada yang mendapat beasiswa di Jepang, ada yang sudah mampu menyicil rumah di Ibu Kota, ada pula yang sudah menikah dengan jutawan dan sekarang hidup nyaman di rumah megah milik suaminya di Surabaya.

Sebenarnya saya paham betul kemana arah dan tujuan Ibu saya bercerita tentang kesuksesan anak-anak koleganya itu, dan saya tahu, apa yang diinginkan Ibu saya. Setiap orang tua pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya, dan pasti ingin melihat anak-anaknya menjadi orang sukses dan membanggakan. Pun Ibu saya, bukan hanya bercerita tentang kesuksesan anak-anak koleganya, bahkan beberapa waktu belakangan beliau sedang gencar-gencarnya memotivasi saya untuk menjadi dosen, katanya,”Mumpung ayahmu di sana, gampang kalau mau jadi dosen…”

Ya, seperti itulah Ibu saya. Saya bukannya cuek atau mengabaikan kemauan dan cita-cita Ibu saya terhadap saya, tapi saya merasa sudah cukup bahagia dengan pekerjaan saya yang sekarang, menjadi guru TK. Saya sangat amat tahu, gaji sebulan saya mungkin hanya cukup untuk menyicil sepeda motor bukan rumah, tunjangan akhir tahun saya hanya cukup untuk ditabung bukan untuk melanjutkan kuliah ke luar negeri, saya juga tidak pintar dalam hal tebar menebar pesona sehingga sampai detik ini belum juga ada jutawan yang mau melamar saya. Tapi bukan berarti saya tidak bisa menjadi orang sukses sesukses anak-anak kolega Ibu saya.

Definisi bahagia saya berbeda dengan yang dipahami Ibu saya. Untuk saya, pekerjaan adalah suatu hal yang kita lakukan dengan senang hati, nyaman dan ikhlas. Dari kenyamanan, kesenang hatian dan keikhlasan itu akan muncul kebahagiaan. Tapi sepertinya Ibu saya belum bisa memahami apa yang saya rasakan. Sedangkan untuk menjelaskan secara panjang lebar kenapa saya merasa bahwa pekerjaan saya yang sekarang adalah pekerjaan yang tepat dan membahagiakan untuk saya, saya juga masih belum bisa, karena nantinya pasti akan muncul perdebatan panjang lebar yang nggak ada ujungnya. Seandainya Ibu saya tahu apa yang telah saya alami sebelum mendapatkan pekerjaan ini, pengalaman spiritual apa yang saya rasakan, dan pergulatan batin yang benar-benar merubah pola pikir saya yang dulu sempit menjadi luas. Seandainya…

P.S : Maaf kalau saya jadi curhat di sini, karena hanya di sini saya bisa curhat tanpa menimbulkan konflik, hehe, Terima kasih.. 🙂