Gelar

Beberapa hari yang lalu, saya dan teman-teman sepengajaran (teman-teman sesama guru maksudnya, hehe) yang sedang menikmati liburan kami mendadak mendapat panggilan dari kepala sekolah tempat kami mengajar, belakangan alasan pemanggilan kami adalah karena kami pada hari itu juga diwajibkan untuk mengisi blangko validasi NUPTK yang harus dikumpulkan hari itu juga. Singkat cerita, saya yang sedang khusyuk online di ruang kepala sekolah tiba-tiba diusik dengan keributan para Bunda (di TK tempat saya mengajar, guru-guru disebut Bunda) di ruang depan. Usut punya usut, keributan bermula dari salah satu Bunda yang menuliskan gelarnya di kotak pengisian nama padahal jelas tertulis bahwa penulisan nama ditulis sesuai dengan KK tanpa gelar. Ya, hal sesepele ini juga sudah membuat para Bunda di TK kami heboh. Maklum, kalau beberapa perempuan yang biasa bergaul dengan balita berkumpul dalam satu ruangan, bisa Anda banyangkan sendiri kan kehebohannya, hehe, itulah kami.

Kembali ke laptop, eh, soal gelar tadi. Masalahnya bukan sekedar salah tulis, Bunda yang menulis gelarnya di blangko tadi memang terkenal bangga dengan latar belakang pendidikannya yang lulusan sarjana S 1 Pendidikan dari salah satu Universitas terkemuka di Jawa Timur itu. Bukan sekali ini Bunda tersebut menulis nama beserta gelarnya dengan lengkap. Di buku penghubung siswa di mana seharusnya dia hanya menulis namanya saja, dia menulis nama lengkap beserta gelarnya, menurutnya, “Rugi dong kuliah 4 tahun kalau gelarnya nggak dipakai.” Saya cuma tersenyum.

Sebelum mengenal Bunda tersebut, saya telah banyak mengenal berbagai macam manusia dengan berbagai macam keunikan mereka. Saya bahkan pernah mengenal seseorang yang lebih akut penyakit kebanggaannya akan gelar daripada Bunda tersebut. Untung saja gelarnya memang panjang dan memang patut “dihargai.”

Saya sendiri bukan tipe orang yang membawa gelar saya kemana-mana, lupa lebih tepatnya. Saat mengisi blangko di Bank, atau di instansi-instansi lainnya, saya malah seringkali diingatkan petugas di sana untuk menuliskan gelar saya. Bukannya apa, nama saya sendiri sering saya singkat, kalau harus ditambah gelar yang cuma dua huruf itu saya merasa durhaka pada nama yang saya singkat itu, hehe (lebay). Otak dan fikiran saya nggak pernah sampai pada logika orang-orang tersebut, betapa mereka bisa sangat amat bangga pada gelar yang mereka sandang, yang mungkin banyak orang telah menyandang gelar yang sama. Lucunya, saya pernah melihat ada orang yang bisa sangat marah ketika orang lain salah atau lupa menuliskan gelarnya.

Apa sih hakikat sebuah gelar?

Mari kita bahas (gubrak). Sederhana saja, gelar yang disandang seseorang kebanyakan didapatkan dari kerja keras dan usaha mereka dalam mencapai atau meraih sesuatu. Gelar diberikan kepada seseorang sebagai bentuk penghargaan orang lain kepada dirinya atak kerja keras dan usahanya. Jadi intinya, gelar hanyalah sebuah simbol keberhasilan, inti sebuah keberhasilan terletak pada kerja keras seseorang tersebut dalam mempertahankan dan mengembangkan hasil yang mereka peroleh sebagai bukti bahwa mereka pantas menyandang gelar tersebut. Versi gampangnya, kalau ada seseorang yang belajar bertahun-tahun agar bisa menjadi dokter dan mengabdi untuk membantu orang banyak, selanjutnya ia berhasil menyandang gelar dokter, tetapi ketika telah mendapat gelar sebagai dokter ternyata ia malah menjadi seseorang yang oportunis yang hanya mau menyembuhkan orang-orang yang mau membayarnya, apa yang tersebut masih pantas menyandang gelar sebagai dokter. Tidak. Enak aja, apa bedanya sama mantri coba? Mantri saja masih ada yang mau nolong tanpa dibayar.

Mungkin, Anda-Anda yang kebetulan membaca tulisan saya ini bingung kemana arah saya menulis. Maklum, amatir. Intinya, saya cuma ingin menyampaikan pendapat saya, apa sih artinya sebuah gelar?

Toh, pada akhirnya nanti, bukan gelar yang kita bawa mati, tapi ilmu pengetahuan, dan amal ibadah kita yang kita dapatkan dan lakukan ketika hidup di dunia. Kalaupun  ada gelar yang kita bawa sampai mati, mungkin gelar itu adalah “Alm.” atau “Almh.” Hehe..

 

Note: Tulisan ini hanya pendapat pribadi, mohon maaf lahir batin.. 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s