Motherhood : Antara Menjadi Ibu dan Perempuan

Kategori                  : Film
Genre                       : Drama komedi
Sutradara               : Katherine Dieckman
Pemain                    : Uma Thurman, Minnie Driver, Anthony Edwards
Penulis                    : Katherine Dieckman
Rumah Produksi : iDeal Partners Film Fund
Durasi                     : 90 Menit
220px-Motherhoodposter093746

Eliza Welsh (Uma Thurman) adalah seorang Ibu rumah tangga yang tinggal di Manhattan bersama kedua anaknya Clara dan Lucas dan suaminya Avery McKendrick (Anthony Edwards). Filem ini berkisah tentang kegiatan Eliza pada tanggal 25 Mei yang merupakan hari ulang tahun anaknya, di tengah kesibukannya mempersiapkan pesta ulang tahun ke 6 anaknya ia dihadapkan dengan sejuta “tanggung jawab” dan “kewajiban” seorang ibu rumah tangga yang juga merawat tetangganya yang pikun. Film ini menyorot pada kegiatan Eliza yang mungkin juga dialami oleh kebanyakan ibu rumah tangga di Amerika, dari mempersiapkan sekolah anaknya, memasak sarapan, belanja kebutuhan sehari-hari dan untuk pesta ulang tahun anaknya, mengajak anjing dan anaknya jalan-jalan ke taman seraya menyelesaikan tulisannya di sebuah blog, dan mengejar waktu agar tulisannya bisa sempat ia kirim ke kontes menulis tentang “ibu.” Uma Thurman sangat bagus memerankan seorang ibu dengan jadwal hariannya yang padat sementara ia harus menghadapi suami yang cuek dan berbagai masalah yang tak diduga seperti memindahkan mobilnya jauh dari apartemen tempat tinggalnya karena lingkungan apartemennya digunakan untuk syuting sebuah film, menghadapi sesama Ibu rumah tangga yang sedikit gila, bertengkar saat antri di supermarket, berdebat dengan penjaga toko kue karena salah menulis nama anaknya, dan membawa banyak barang belanjaan dengan sepeda yang bocor karena mobilnya diderek.

Eliza yang terlanjur stres lalu bertemu seorang kurir di depan apartemennya. Perlakuan kurir yang bernama Mikesh itu membuat Eliza merasa diperlakukan sebagai seorang perempuan yang kecantikannya tertutup oleh gurat-gurat kelelahan seorang Ibu rumah tangga, ia merasa dihargai. Tetapi, “penderitaan” Eliza ternyata tidak berakhir begitu saja. Eliza justru semakin tertekan ketika sahabatnya marah karena nama aslinya dicantumkan di dalam blog, ia pun merasa semakin frustasi, ia lalu memutuskan pergi ke luar kota dan menggugat cerai suaminya. Akhir cerita ini tentu saja bahagia, Eliza tidak jadi menceraikan suaminya dan kembali mencintai kehidupannya sebagai seorang ibu rumah tangga dan Perempuan.

Motherhood mungkin sama dengan kebanyakan film komedi keluarga lainnya, tapi menurut saya film ini menggambarkan pergulatan batin Eliza Welsh yang merasa “terjebak” di dalam kehidupan yang dulu ia inginkan, ia merasa tidak mampu mengekspresikan dirinya sebagai seorang perempuan yang independen, yang melakukan segala hal yang dia inginkan bukan karena ia harus melakukannya tetapi karena memang ia ingin melakukannya. Dari film ini kita tahu bahwa menjadi Ibu rumah tangga tidak hanya berkutat pada urusan dapur, kasur dan sumur, lebih dari itu. Bahkan menurut hadits yang pernah saya baca, perempuan atau seorang Ibu adalah madrasah bagi anak-anaknya.

Film ini menjadi salah satu film favorit saya karena di sini Eliza Welsh digambarkan seorang feminis yang rajin menuangkan buah fikirannya di blog miliknya, ini seperti menunjukkan sisi lain seorang feminis yang tidak mengabaikan kewajiban dan kebutuhannya sebagai seorang Ibu dan perempuan. Eliza menunjukkan, menjadi seorang feminis tidak serta merta menghilangkan sisi keibuan kita, dan begitupun sebaliknya menjadi seorang ibu tidak serta merta menjadikan kita seorang perempuan yang kehilangan eksistensinya sebagai seorang manusia yang berhak menentukan seperti apa seharusnya ia dipandang.

Selamat menonton.

Note: Ulasan ini pernah ditulis di “almarhum” myeve.multiply.com pada 04 April 2011  11:07 PM

Midnight in Paris: Saat Masa Lalu Begitu Memikat

Kategori    : Film
Genre         : Komedi Romantis
Sutradara : Woody Allen
Pemain      : Owen WilsonRachel McAdamsMarion CotillardKathy BatesAdrien BrodyCarla BruniMichael SheenTom Hiddleston
Penulis      : Woody Allen
Studio        : Sony Pictures Classic
Durasi        : 94 Menit

 

215px-Midnight-in-Paris-Poster8d5f

Kemarin saya baru menonton sebuah film drama romantis berjudul Midnight in Paris. Sebagaimana judulnya, film ini berlatar belakang tempat di kota yang berjulukan “The Thousand Loves City” atau kota seribu cinta, Paris, Perancis. Untuk Anda pecinta Paris dan berharap bisa kesana suatu hari nanti (saya pun), film ini merupakan film “wajib” untuk Anda tonton karena di awal film Anda akan dimanjakan dengan lanskap-lanskap kota Paris dari berbagai sisi beserta landmark-nya yang legendaris seperti Louvre, Champ de Elyse, Eiffel dan banyak lagi termasuk kafe-kafe pinggir jalannya dan yang paling penting Paris saat Hujan. Entah kenapa Paris saat hujan tampak begitu romantis. Walaupun mungkin kenyataannya Paris tidak seromantis yang kita lihat di TV ataupun gambar-gambar majalah, tetapi Paris tetap memiliki daya tariknya tersendiri untuk para pecintanya.

Cukup tentang Paris. Film ini berkisah tentang seorang penulis skenario sukses Amerika bernama Gil Pender (Owen Wilson) yang sedang berlibur ke Paris bersama tunangannya Inez (Rachel Mc Adams). Gil Pender sejak dulu selalu ingin membuat novel, karena itu kedatangannya ke Paris ia manfaatkan untuk mencari inspirasi kelanjutan novel pertamanya yang tengah ia garap. Karena Gil Pender tahu, banyak sastrawan dan seniman terkenal hidup dan tinggal di Paris pada masa kejayaannya. Tapi keinginannya untuk menikmati keromantisan kota Paris tidak sejalan dengan tunangannya Inez yang menganggap liburan mereka ke Paris hanya sekedar liburan dan belanja, ditambah calon mertua yang membencinya dan teman lama Inez, Paul Bates (Michael Seen), yang secara tidak sengaja bertemu dengan mereka di sebuah restoran, yang ternyata menyebalkan, sok tahu dan merusak rencana liburannya, Gil pun menjadi murung. Suatu malam setelah makan malam bersama orang tua dan teman lama Inez, Gil Pender terlalu mabuk, sehingga ia memutuskan untuk tidak mengikuti Inez ke tempat selanjutnya dan berjalan sendirian di malam hari menyusuri Kota Paris. Gil lalu menemukan dirinya tersesat dan saat akan bertanya kepada orang tidak ada yang mengerti Bahasa Inggris, setelah terdengar bunyi lonceng jam sebanyak 12 kali tiba-tiba ada sebuah mobil tua dari tahun 20an yang berhenti di depan Gil dan penumpangnya (yang juga berpakaian kuno) mengajak Gil untuk naik mobil dan bergabung dengan mereka. Lalu, mobil mereka berhenti di sebuah Bar dan di sana Gil bertemu dengan banyak orang yang sebagian di antara mereka adalah seniman dan sastrawan seperti Alice Toklas, Cole Porter, Josephine Baker, F. Scott Fitzgerald (Tom Hiddleston), Zelda Fitzgerald, bahkan Ernest Hemingway (Corey Stroll). Saat bertemu Hemingway, Gill pun menceritakan tentang novel pertamanya yang sedang berusaha ia kerjakan, ia ingin Hemingway mengkritisinya. Tetapi Hemingway menolak, karena ia juga penulis dan khawatir pendapatnya subyektif, sehingga Hemingway pun menyarankan agar Gil menyerahkan novelnya pada Gertrude Stein, seorang tokoh sastra terkenal pada tahun 20an. Saat meninggalkan bar Gil sadar ternyata dirinya baru saja melewati waktu dan terdampar di tahun 20an.

Esoknya Ia menceritakan hal itu pada Inez dan bermaksud mengajak Inez menemaninya bertemu Gertrude Stein (Kathy Bates). Tetapi saat menunggu mobil yang membawa Gil kemarin lewat, Inez tidak sabar lalu meninggalkan Gil dan menganggapnya gila. Setelah lonceng jam berbunyi 12 kali, mobil kuno yang ditunggu Gil akhirnya datang dan di dalamnya sudah menunggu Ernest Hemingway, mereka pun di bawa ke rumah Gertrude Stein dan di sana Gil dikenalkan kepada Pablo Picasso dan selingkuhannya Adriana (Marion Cotillard) yang kecantikannya membuat Gil tertarik. Sejak itu setiap malam ia menghabiskan malamnya di tahun 20an, hal ini membuat ayah Inez curiga karena calon menantunya tidak pernah datang saat makan malam, ia pun menyewa detektif untuk mengikuti Gil setiap malam. Saat perjalanannya ke tahun 20an, Gil bertemu dengan banyak tokoh seperti pelukis Salvador Dali (Adrien Brody), Man Ray dan Luis Bunuel. Karena sering bertemu dengan Adriana, Gil pun menjadi tertarik untuk mengenal ia lebih dalam.

Suatu malam, Gil menghadiahkan Adriana sepasang anting-anting, saat mereka berciuman tiba-tiba ada sebuah kereta berkuda berhenti di depan mereka dan penumpangnya yang berpakaian ala Victorian Era mengajak mereka bergabung. Ternyata kereta tersebut membawa mereka ke Era Belle Epoque di tahun 1890an, sebuah era yang dikagumi Adriana. Di sebuah bar mereka bertemu dengan Henri de Toulouse-Lautrec, Paul Gauguin, dan Edgar Desas. Gil lalu bertanya pada mereka saat apakah masa keemasan Perancis, mereka menyebut Renaissance, tetapi Adriana membantah dan menyebut Belle Epoque lah yang terbaik, sedangkan menurut Gil tahun 20an tempat Adriana berasal adalah masa keemasan Perancis. Karena ditawari pekerjaan mendesain kostum balet dan kecintaannya pada Belle Epoque Adriana memutuskan tetap tinggal di tahun 1890an dan mengajak Gil untuk tinggal bersamanya, tetapi Gil menolak walaupun masa nostalgia begitu memikat ia menganggap ia tetap harus menikmati kenyataan yang ia alami di abad ke 21. Sehingga mereka pun memutuskan untuk berpisah dan Gil pun kembali ke waktu asalnya abad 21.

Saat kembali Gil memutuskan untuk berpisah dengan Inez karena mengetahui bahwa Inez telah berselingkuh dengan Paul, teman lamanya. Gil pun memutuskan untuk tinggal di Paris dan tidak lagi kembali ke Amerika. Saat sedang menyusuri sungai Seine ia bertemu dengan Gabriella, seorang gadis penjaga kedai barang loak yang ia kenal saat berbelanja dengan Inez. Gil lalu menawarkan diri mengantar Gabriella pulang, tiba-tiba hujan turun, dan mereka berdua pun tahu, ternyata mereka sama-sama menyukai berjalan kaki di saat Paris hujan.

Lalu bagaimana nasib detektif yang mengikuti Gil ke tahun 1920an? Saya tidak akan menceritakannya, silahkan Anda cari tahu sendiri. Film ini mungkin sedikit membosankan bagi Anda yang menyukai film beralur multi konflik, tapi film ini pantas untuk dinikmati di saat hujan atau disaat kita sedang berdua dengan suami atau istri kita. Saya pribadi awalnya tertarik pada judulnya saja yang mencantumkan nama Paris, saya kira film ini akan bergenre horor atau misteri, ternyata saat menonton film ini makin membuat saya ingin mengunjungi Paris suatu hari nanti.

Selamat menonton.. 🙂

Note: Ulasan ini pernah ditulis di “almarhum” myeve.multiply.com pada 26 Februari 2012  9:08 PM