Rumput Tetangga (Masih) Lebih Hijau

rumput-hijau penerbit imtiyaz

Saya tipikal orang yang gampang berubah suasana hatinya, pagi ini saya bisa saja begitu bahagia, membanjiri halaman twitter saya dengan ayat, hadits dan kata-kata motivasi, seolah-olah ingin menunjukkan pada seluruh dunia bahwa saya adalah orang yang senantiasa berfikir positif. Tapi beberapa jam kemudian, suasana hati saya bisa berubah 180 derajat karena suatu hal, yang mungkin sangat amat remeh tapi begitu mampu merubah suasana hati saya menjadi mendung berawan seharian penuh. Orang bilang ini pengaruh golongan darah, tapi kalau dipikir-pikir, golongan darah O (golongan darah saya) adalah salah satu golongan darah yang umum dan banyak dimiliki orang, apa iya semua orang bergolongan darah O seplin-plan saya, bisa kacau dong dunia :D. Ada pula yang bilang, ini pengaruh rasi bintang di bulan kelahiran saya, dan banyak spekulasi lainnya. Buat saya, sifat saya ini, ME-NYE-BAL-KAN!

Seperti hari ini, pagi ini saya bangun dengan senyum lebar karena libur saya diperpanjang dari yang dijadwalkan kalender akademik. Bahagia dong saya, sampai saya sudah menyiapkan satu film Conan terbaru yang saya download kemarin untuk saya lihat dengan sebuah jagung rebus buatan Ibu saya semalam. Rencana liburan yang sederhana memang, tapi buat orang yang jarang liburan seperti saya, ini hebat, hehe. Lalu saya ngetweet hal-hal menyenangkan, bahkan hari sebelumnya, saya ngetweet betapa saya mencintai hidup saya. Intinya saya over bahagia hari ini dan kemarin. Dan, sampailah saya pada halaman Facebook di mana di sana banyak bertebaran foto-foto yang merubah suasana hati saya hari ini. Ada foto pernikahan, anak bayi lucu, foto kesuksesan teman-teman, keberhasilan mereka (yang ditunjukkan dari cara mereka berpakaian), foto-foto dari instagram (yang membuktikan hape mereka jauh lebih canggih dari hape generasi ke 2 saya), dan banyak foto lainnya yang membuat saya berfikir, ah… saya bukan apa-apa, dibanding mereka, gaji saya tak sebanyak mereka, nasib saya tak seberuntung mereka, Dan, ditambah siang ini adik laki-laki saya cari masalah sama saya, jadilah suasana hati saya yang semula warna-warni seperti pelangi menjadi semuram TV hitam putih jaman kakek buyut saya. Saya jadi berfikir ulang, apa secinta itu saya pada hidup saya?

Rumput tetangga kenapa selalu terlihat lebih hijau dibanding rumput di pekarangan saya?

Pertanyaaan itu tiba-tiba terngiang di otak mungil saya. Nggak peduli seberapa giatnya saya menyiram, memberi pupuk, bahkan mengawasi setiap lembar daunnya agar tidak ada yang dimakan ulat, saya masih saja merasa rumput tetangga-tetangga di sekitar saya selalu terlihat  jauh lebih hijau dan segar.

Allah Maha Baik. Saya nggak dibiarkan lama-lama merenungi hidup saya yang (menurut saya) sedramatis tokoh Indah di sinetron Tersanjung 1-7 (Sial banget kan si Indah? Sampai session 7 masih saja tersiksa). Sore ini, salah satu anak didik saya (les privat) kebetulan akan ulangan pelajaran Qur’an Hadits besok, karena materinya tentang surat Al Kautsar dan kandungan di dalamnya, jadilah saya ustadzah dadakan yang berceramah tentang Al Kautsar dan isinya (walaupun masih nyontek LKS sih, hehe). Dan ketika berceramah, saya tertegun sendiri pada apa yang saya baca,

1. Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak.
2. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah.
3. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu (Muhammad) dialah yang terputus.

Pada saat menerangkan kandungan ayat pertama pada murid saya, saya dengan lancarnya menerang betapa baiknya Allah karena telah memberi semua manusia, bahkan yang masih belum beriman, nikmat yang banyaknya tidak bisa dihitung dan dibayangkan akal manusia. Bahkan udara yang kita hirup, yang tidak bisa kita lihat, yang hanya bisa kita rasakan, adalah salah sedikit dari Banyak nikmat yang  Allah berikan. Bayangkan, dengan sekali ucapah udara ini diambil, apa yang bisa kita, para manusia lakukan? Kita bukan apa-apa, di hadapan Allah. Dan Allah tidak minta apa-apa, Allah hanya ingin kita bersyukur dengan senantiasa mendirikan Shalat dan berkurban, sebagaimana yang dijelaskan ayat ke 2.

Selesai menjelaskan, saya merasa tertohok dengan ucapan saya sendiri. Ya, saya nggak pernah sadar, bahwa udara yang saya hirup, detak dan denyut yang masih bisa saya rasakan ditubuh saya, bahkan uban yang perlahan muncul di rambut saya adalah pertanda, betapa Allah masih sudi melimpahkan nikmatnya pada saya yang sering durhaka dan mengeluh ini. Dia bahkan masih sudi membiarkan rumput di halaman saya tetap hijau meskipun saya tidak pernah puas dengan rumput saya sendiri. Astaghfirullahhaladzim…

Rumput tetangga-tetangga saya, sampai detik ini memang lebih hijau. Tapi saya nggak pernah melihat rumput-rumput itu sedekat saya melihat rumput saya, saya nggak pernah tahu bagaimana beratnya mereka merawat rumput mereka agar tampak lebih hijau, saya juga nggak pernah tahu kendala apa saja yang mereka alami demi melestarikan rumput hijau mereka. Yang saya tahu, saya nggak lebih bersyukur terhadap rumput saya, sebagaimana mereka dan senyum-senyum mereka di laman Facebook bersyukur terhadap rumpt yang mereka tanam sendiri. Bersyukur. Satu kata mudah, tapi sulit diaplikasikan. Semoga kita semua termasuk golongan orang-orang yang senantiasa bersyukur agar Allah tak bosan memberi kita nikmat. Aamiin, Allahumma aamiin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s