Sepotong Senja

Dan di sinilah aku. Menanti senja di tepi tebing tempat kita biasa bertemu dulu. Aku cinta senja. Bahkan terobsesi. Kamu tau itu. Ingatkah kamu saat kita berdua ke Bali, ketika sampai di hotel aku dan kamu baru sadar, semua barang yg kubeli berwarna merah kekuningan. Seperti langit senja. Langit senja itu misterius. Ia telan matahari pelan-pelan lalu meninggalkan semburat merah kekuningan seperti darah. Indah. Eksotis. Itu yang selalu kamu katakan bukan? Ya, aku setuju, karna itu aku begitu amat sangat mencintai langit senja. Tunggu, langit, dan senja.. Bukankah itu nama kita? Kamu Langit, aku Senja, lihatlah! Kita memang serasi, kita memang sehati.

Kamu tau kenapa aku ke tebing ini? Karna dulu di sini kamu pernah bilang aku perempuan tercantik yang pernah kau temui. Pipiku merona seperti warna langit saat itu. Sejak itu kita tak terpisahkan. Semua orang berkata kita ada untuk bersatu. Betapa syahdunya masa lalu.

Hari ini aku kembali lagi ke tempat ini. Memenuhi janjiku 10 tahun lalu. Waktu itu kita berjanji akan kembali bertemu bukan? Di senja, tempat kita menguntai asa. 10 tahun terasa begitu lama bagiku, begitu banyak terjal dan rintang untuk kembali ke tebing ini. Pertunanganmu, perjodohanku, pernikahanmu, pernikahanku, perselingkuhan kita, perceraianku, dan seterusnya dan seterusnya. Tapi aku tetap bisa kembali agar kita kembali bertemu.

Jam tanganku menunjukkan pukul 5, sebentar lagi langit senja akan muncul. Kulihat sekelilingku, tak ada kamu, kamu tak juga muncul. Lalu teleponku berbunyi, kubuka pesan yang masuk. Ah, lagi-lagi, apa kau tulis tadi? Mudah? Frustasi? Baiklah. Jadi diriku saja. Bernafas sepertiku. Melihat dari mataku. Merasa dengan kulitku. Berfikir dengan caraku. Lalu aku akan bertanya. Apa gampang jadi aku? Apa mudah merasa dan berfikir sepertiku? Makanya, jangan bicara frustasi di hadapanku. Aku merasakan lebih dari itu. Ya, kembalilah ke istrimu, bukankah selalu begitu? Meski rela kugugurkan anakku dan suami? Kuceraikan suamiku yg terlampau baik itu demi kamu? Melihat ibuku mati frustasi karna perceraianku. Tidak apa-apa. Toh mencintai kamu rasanya lebih menyakitkan. Seperti senja, tak ada teriakan, tak ada kesakitan, tapi ia membunuh siang setiap hari dan hanya meninggalkan langit yg berlumuran darah merah kekuningan. Katamu indah bukan? Maka kulakukan.

080111
Amethyst Eve

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s